Selasa, Mei 10, 2011

Bangunan dan Tradisi.

Saya tidak tau dari mana memulai menuliskan sejarah arsitektur-arsitektur mega di dunia, yang jelas setiap bangunan mega memiliki tradisinya sendiri baik itu untuk kemaslahatan rakyatnya hingga kemudoratannya. Dalam konteks kekuasaan bangunan dan kemegahannya merupakan simbolic indentitas penguasa—sebagai legitimasi sebuah tradisi dan peradaban besar penguasa, hingga menjadi memoris pasca kematiannya.
Mungkin banyak sejarahwan yang meneliti besarnya bangunan mega—merupakan besarnya kekuasaaan sang raja. Di sini kita akan terjebak dengan pola pikir positifistik—atau itu adalah fakta sejarah yang tak bisa di ingkari lagi. Baik itu, bangunan yang bercorak posmodernisme maupun yang bercorak modernisme.




Minggu, Mei 08, 2011

Historiografi desa

Sejarah adalah sebuah bidang ilmu yang banyak dikembangkan di berbagai negeri oleh berbagai suku bangsa. Orang bergairah mencarinya. Orang kebanyakan atau orang awam ingin mengetahuinya. Orang-orang berpengetahuan dan orang yang kurang berpengetahuan dapat memahaminya. Ini karna dipermukaan sejarah tidak lebih dari dari pada informasi mengenai peristiwa politik, kerajaan dan kejadian pada masa lalu yang di sajikan dengan menarik…di pihak lain, sejarah dalam arti yang lebih dalam berkaitan dengan renungan dan ikhtiar mencari kebenaran, mencari penjelasan yang setepat mungkin tentang sebab-musabab dan asal-usul hal-hal yang ada, dan dengan pengetahuan yang dalam tentang kajian-kajian dari sisi bagaimana dan mengapanya. Sejarah, karena itu, berakar kuat dalam filsafat. Sejara, karena itu, patut di jadikan salah satu cabang filsafat (Ibn Khaldun 1967).
Dalam concise oxford dictionary edisi 1964, sejarah adalah catatan terus-menerus secara sistematis tentang kajian-kajian dalam masyrakat;kajian perkembangan negara;rangkaian kejadian yang berkaitan dengan negara, orang, benda, dan sebagainya atau bahkan sejarah dalam arti yang general “hanya lah peristiwa masa lalu yang sangat multi-interpretatif”. Penulisan sejarah lokal terutama desa sebagai ruang lingkup yang paling kecil dalam space struktur wilyah negara, sangat menarik untuk dikaji. Penulisan sejarah desa, hanya sedikit yang meneliti, penulisan sejarah desa menjadi isu yang sangat minim di tengah kegemaran penulisan sejarah nasional dan sejarah internasional. Saya kira desa dengan pelbagai ragam activitas masyarakatnya, baik yang bertani, berburuh, hingga menjadi pegawai pemerintahan. Desa menjadi sebuah isu yang sangat menarik dengan perubahannya (semi kota), atau bahkan desa yang notabennenya masyarakat seragam yang masih memili berburuh dan menjamu seperti suku-suku yang hingga hari ini masih mempertahankan identitasnya, atau yang sudah ada perubahan pola suku-suku yang ada di indonesia ini (asimilasi) dengan perbauran masyarakat kota—dengan ruang lingkup desa sebagai adsmistratif negara, saya kira suku-suku di Indonesia menjadi ciri khas tersendiri dalam kajian penulisan sejarah. Seperti suku Kubu atau suku Anak Dalam di Jambi, suku Baduwi di Banten, suku Dani, Asmat di Papua, suku Dayak di Kalimantan, suku Aru

ASOE IV

Malam ini di dalam kamar yang berukuran 3X4 meter aku termenung dengan berbagai ragam kejadian yang amat membuatku jijik dengan semua peristiwa yang telah fluid dalam realitas ‘kesadaran’ manusia yang berdisiplin. Ke-jijikan—aku kambinghitamkan kepada buku-buku yang berada didalam kamarku ini. Aku kira bukulah yang paling berpengaruh kepada setiap orang untuk mempertegas dirinya dan memperbudak orang lain—dengan pola fikir kesadaran tak terkecuali wahyu tuhan pun sebagai bentuk legitimasi mereka dalam hal ekploitatif. Malam ini aku memaknai buku hanya lah sekumpulan penulis yang memaksakan pemikirannya kepada orang lain (pembaca) dan pembacapun memaksakan bacaannya tadi ke si yang tidak membaca buku tersebut. Lalu bagaimana dengan wahyu—aku tidak akan membahas kodifikasi wahyu ataupun azbabul nuzulnya karna ini bukan wewenangku. Tapi, aku merumuskan ataupun menarik eksploitasi itu dari si pembaca wahyu (ulama)—yang cendrung mempubliskan kekuatanya dengan wahyu tuhan. Bagiku ini adalah teory baru tentang penjajahan (neokolonialisme)—utuk melegitimasikan eksinya si pembuat pikiran dengan pendukung si pembaca.

ASOE III

Adalah aku mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, banyak ragam yang hari ini tak membuatku puas dengan model pendidikan yang bergaya semi timur atau semi barat atau bahkan antara posmodernisme dan modernisme. Dualisme yang hingga hari tak pernah membuat karakterku eksis di tengah krisis global saat ini. Namun aku tak juga berhak memilih satu diantara dua kebudayaan tersebut, karna kedua budaya ini jalan berdampingan (I don’t know who are I’am). Aku ingin menjawab dilemma ini dengan pendidkan yang aku tempuh sekarang ini. Akan tetapi, pendidikan kita yang justru tidak memiliki sikap (value oriented), apakah pendidian kita menjadi landasan awal yang menentukan kita hingga saat ini—yang tak memeiliki sikap yang jelas dalam ruang kebudayaan. Ntahlah yang jelas kita hari ini masih menikmati kebudayaan “bangsa” yang masih dilemma, sikap enak kitapun tak memiliki klimaks yang berciri khas.
Di Bangsa yang mengkal ini kita melihat para profesor yang belum tau jati diri mereka sendiri, akan tetapi meraka sudah manancapkan kakinya di patung liberty, disini lah ada sebuah transformasi besar yang tak memiliki makna, antara lompatan satu ke dua. Dunia globalisasi yang penuh informasi tapi kita juga belum mendapatkan informasi tentang diri kita sendiri.
Pendidikan yang berratusan juta karakter ini; menjadikan kita seragam dalam beridiology kebodohan. Apakah kita akan kembali ke zaman dark ages ataukah ini adalah pola neo-kapitalisasi kebudayaan, atau bahkan kita memiliki jalan ketiga terhadap persoalan global, ataukah teori besar kita ini hanya menjadi landasan status sosial kita. Kita hanya menjadi manausia paradoks, dilemma, ambivalensi, di tengah kekenyangan materi kelaparan ruhani.
Yang menjadi persoalan setiap masalah global, telah diberikan ruang (space) dimana mereka merangkup dengan disiplin ilmu mereka sendiri—untuk menjawab pertayaan-pertayaan besar dunia. Diantara mereka banyak dengan jawaban yang adil mulai dari merangkak, berjalan, berlari dan bahkan dekonstruksi sekalipun. Semua jawaban yang mereka jawab, mereka diskursus ulang atau beradu sabung ayam untuk mendapatkan Kerbau jantan. Aku tak tau mengapa itu bisa terjadi, kita hanya hidup di dunia retorika (lidah) di dunia praktek (gigi)—hanya sebuah teory yang akan terrealisasi kiamat nanti.
Aku mahasiswa yang bodoh ini menyandarakan “kebudayaanku” dengan pendidikan secara holistik, aku pun hingga hari ini masih mencari kebudayaan yang sengaja dihilangkan dari diriku oleh pihak-pihak tertentu, ini adalah sebuah fakta besar yang tak kelihatan sama sekali oleh manusia yang sadar, aku juga tidak mau mengkambinghitamkan siapa-siapa dalam hal ini, yang jelas keinginanku di mana ruang keterbukaan (openship) itu ada. Bagi ruang pendidikan seperti kelas atau tempat formal maupun non-formal lainnya mesti membawah angin segar bagi si pembayar. Kelas seharusnya sebagai ruang demokrasi bukan lagi tempat idio

ASOE II

Lampu-lampu jalan yang panas berbaur dengan angin malam yang dingin, ku telusuri tapak Jogja dengan berbagai ragamnya. Jalan Malioboro penuh dengan pedagang yang beragam cerita di lontarkan pada pembeli, suara mobil dan motor seakan ikut meramaikan kegiatan tawar-menawar tak terkecuali motor buntutku. Sekitar 30 meter jarak mata kedepan menatap bekas-bekas syekaten—yang amat laten budaya jawa yang hingga hari ini masih mereka semarakkan dengan perkumpulan tawar menawar, permainan anak-anak, remaja dan dewasa yang tetap seperti itu standarnya guna menyambut hari kelahiran Rosulullah; itu lah hidup ada penawar dan menawar ada yang hidup dan mati ada kanan dan kiri dan itu lah dialog. (I believe the power of dialogue). Aku masih saja berlari sambil mendengar dan menatap para marhaen dengan becak lugunya yang menjadi kamar tidur yang ditutupi plastik bening. Kaki kanannya menyongkak keluar dan kaki kirinya tunak menegak di papan nafkah, tidur nyeyak pun setia mendampinginya—mimpi ratu adil—menjadi kenyataan di zaman becak dan Mercedes-Benz. dan tak sedikit becak lugunya menjadi security di kala ia tidur di depan toko-toko dan rukoh di jalan Kusumanegara—menggambarkan negara yang tidur tanpa kasur. Anak perawan yang duduk di samping angkringan pakai celana Jeant pendek (Hotpants) yang paha putihnya selalu berpose melawan dinginnya malam; mungkin kedua orang tuanya juga berpose dengan padi yang gagal panen, mesin jahit yang sedang rusak atau bahkan mengemis kesana ke mari untuk memberi imajinasinya nanti. Lepas tawanya yang lugas—begitu indah malam yang menoton berton-ton tertumpuk waktu dengan ragam Jogja, pak tua itu masih duduk manis di depan gorengan angkringan sambil mengunyah nasi kucing dan segelas teh. Sambil bercerita dengan bapak pemilik angkringan, ntah apa yang ia ceritakan, mungkin cerita SBY yang mau naik gaji, atau ulama yang umroh yang ke-4 kalinya atau bahkan curhat-cuhat kecil tentang anaknya yang mau sekolah—tak jadi gara-gara SPP yang membengkak—seprti penyakit kaki gajahnya.
Untuk apa memikirkan bapak tua bangkah itu;ia juga tak perna memikirkan kita, negara juga tak perna memkirkan kita;untuk apa kita memikirkan negara. Akal yang diberi tuhan untuk berpikir—untuk apa kita saling mikir; mikir hanya orang yang punya akal saja yang berhak mikir. Kita tidak punya akal jadi mutlak kita tidak boleh berpikir….

K

ASOE

Negara yang banyak gizi ini tak henti-henti mengurusi reshuffle kabinet jilid II. Gayus jilid III dan conflik horizontal idiologi jilid....ntah sudah berapa jilid persoalan negara ini yang terkodifikasi dalam hitam atas putih, mungkin sudah milyaran jilid kali ya..hehheheeh. atau bahkan sengaja tak dijilid seperti kasus perdagangan anak, pembunuhan warga ahmadiyah, century,dan kasus Hak azazi lainya (HAM), negara memang tak ada waktu untuk menjilid kasus-kasus kecil itu—yang tak berdampak kepada distabilitas negara. Lalu bagaimana dengan kasus malesyia yang mencuri batik, reog, hingga menyiksa tenaga kerja indonesia (TKI). Itu hanya pencurian dan penyiksaan kecil lupakan saja itu. Kok malah kamu yang sibuk ngurusin negara, emang dirimu sudah benar….!!!!! Ujar calon-calon mentri yang sebentar lagi di jilid.
Ikan-ikan besar (big fish) seperti calon-calon mentri—yang konon mempunyai kemaslahatan bagi orang lain harus cepat di jilid. Karna si raja mau cepat-cepat pakai tenaganya dan mendukung program yang dirancang oleh sang raja; sedangkan ikan kecil (small fish) tak perlu di jilid karna lagi-lagi tidak ada kemaslahatannya bagi orang lain, bahkan mereka sering disebut pengacau negara (trouble maker). Kasar juga ya negara.
“Negara yang kaya dan hanya untuk orang kaya”—memang benar kata Pak Yanto. Yang sering mangkal di samping polsek margansang, dengan gerobak angkringannya—mulai dari jam dua siang hingga jam dua malam. Ia sering bercerita tentang SSP yang acap kali membengkak—bahkan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang bersubsidi, apalagi rumah sakit yang obatnya membukit—sakit mendengarnya.
“Biaya sekolah sudah murah bahkan rumah sakit ada yang gratis apabila masyarakat miskin mendapat kartu raskin (rasa-in lho orang miskin)” kata pak M. Nuh dan buk…selaku mentri pendidikan dan mentri kesehatan.
Lain lubuk lain ikan; lain orang lain arti. Lalu percaya sama siapa ya? Percaya sama tuhan saja kata ustadz yang sering khutbah jum’at di mesjid An-Nur. “Ngapain juga percaya ama ustadz tersebut;percaya sama tuhan saja” .aneh-aneh saja setiap orang ini.memang benar anekdot “kepala sama hitam hati siapa yang tahu”.
Analoginya;Kalau hanya percaya sama tuhan saja—kasusnya hampir sama donk dengan Robiyatul Adawyah, yang cintanya hanya untuk tuhan saja—sampai-sampai ia tak mau bersuami alias takut membagi cintanya atau selingkuh dari tuhan. (between full and empty)
Jadi menarik jika ngomongin soal cinta, jika bicara cinta kita tidak akan terlepas dari wanita; sebaliknya wanita tidak akan terlepas dari laki-laki. jadinya timbal balik ya (mutualisme) Bagi kawan-kawan yang suka sesama jenis atau satu nusa satu bangsa (homogen)—selamat aja deh jika mendapatkan pasangan masing-masing. Apabila ada comunitas yang mengharamkan pasangan sesama jenis jangan dipercaya—hendaknya kalian percaya sama tuhan saja—jika masih punya tuhan.
Kembali ke cinta, Cinta memang membabibuta tak kenal ruang dan waktu, contohnya saja syeh Puji yang doyan sama anak-anak, doyan atau lapar syeh…ayo ngaku ayo ngaku……!!!!!
Oh ya. kemarin sore saya online (OL) melihat cewek cantik di facebook kebetulan ia online juga, niknya difacebook tertulis Hanna Aren,t lalu saya sapa “hai” saya tunggu beberapa menit “Hai” nya saya tak dibalas-balas, kemudian saya sapa lagi dengan “Hai Hanna Arent” saya tunggu lagi beberapa menit—menunggu balasannya. Eh.eh ternyata tak di balas-balas mungkin malas atau sayanya yang kurang ganteng kali ya. Tapi, kata teman-teman saya “ saya ganteng lho..hehheheheeh” jika Hanna tadi sempat membalas pesan saya “ saya mau mintah nomor hpnya dan langsung menjilid nomornya ke hp saya” benakku.
Comunikasi lewat facebook—mengurangi subtansi comunikasi secara face to face alias mengurangi emosional antara si subjec dan objeck. “ jika si hanna tadi comunikasi face to face sama saya, pasti ia terkapar-kapar mendengarkan rayuan dan gombalnya saya—otomatis dia langsung jatuh cinta sama saya” pikirku. Kok jadi menghayal si.!!!
Manusia itu tak lepas dari menghayal—karna menghayal lah manusia menjadi manusi (homo utopis). Manusia utopis inilah yangh sering dicelotehin kaum marxian—habisnya menghayal melulu si kerjaannya; tapi saya pikir menghayal sudah internalisasi didalam jiwa manusia itu sendiri, so jangan diambil pusing ya kaum marxian..heheheheh
Kau

permainan anak-anak

Permainan ini tidak main-main.

Kemunculan modernitas abad ke 17 dan sesudahnya, yang mengacu pada bentuk kehidupan sosial atau organisasi yang bermunculan di Eropa dengan radiasi yang tak terbatas ruang dan waktu. Dengan Pola-pola modernitas—hingga arus teknologi telah membentuk sebuah peradaban baru dengan pelbagai konsekuensinya. Masyarakat tradisional dengan segala ragam activitasnya pun secara langsung ataupun tidak langsung telah menerima suatu perubahan sosial yang terjadi dalam tatanan bermasyarakat. Perubahan-perubahan comunikasi antar individu-individu secara implisit terkadang tak di sadari oleh sebagian masyarakat—arus moderinitas seakan menjadi uforia kemenangan—dengan meninggalkan serangkaian tradisi lama.
Struktur sosial yang telah di sepakati oleh modernitas telah mengubah pola kolektifitas masyarakat menjadi individu-individu. akan tetapi, arus modernitas telah mempercepat sebuah distribusi informasi. Di sini kita bukan menentukan sebuah pilihan antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern. Di sini kita hendaknya menelaah kembali kearifan lokal (Lokal Wisdom) dengan sebuah pendekatan modernitas terhadap ruh-ruh yang telah menjadi emansipatoris dalam kebudayaan tradisioanl atau bahkan menjadi sebuah ancaman cultural yang berdampak terhadap goncangan kebudayaan (Cultural Shock).
Kita bisa mempertegas kebudayaan kita dengan persepektif kita sendiri, karna kita bagian dari kebudayaan tradisional tersebut.
Catatan ringkas saya ini tidak akan mengulas tetang pembukuan suatu tradisi dalam konteks sejarah maupun asal-usulnya. Akan tetapi, saya akan mencoba mendekodifikasi kearifan lokal yang ada di sekeliling kita,dalam ruang lingkup yang secil mungkin seperti desa—yang hingga hari masih menjadi sebuah ingatan koletif kita bersama atau bahkan sudah kita lupakan.
Apa itu sebenarnya budaya? Kita secara gamblang menjawabnya dengan “cipta rasa karsa manusia”. Lalu yang menjadi pertayaan untuk kita reffleksikan kembali apakah kemudian badaya hanya kita pahami sebagai cipta rasa dan karsa atau kognitif manusia saja. Tentu tidak, budaya merupakan manifestasi atas realitas yang kemudian menjadi acuan nilai baik secara individu maupun berasama. dimana nilai-nilai budaya berjalan secara palarel dengan situasi kekinian masyarakat. Akan tetapi, budaya tradisional tidak mampu berdampingan dengan budaya modern sehingga budaya tradisional tenggelam seiring berjalannya waktu. Mengapa? karna kita dengan sengaja atau pun dengan tidak sengaja telah mengamnesiakan diri kita terhadap kebudayaan kita sendiri— kita sampai hari ini pun masih mencari siapa kita, identitas kita telah menjadi kader zaman yang telah hilang dari nilai-nilai budaya.
Di era modernitas saat ini budaya tradisional secara bertahap telah terkuras habis baik itu budayanya secara formal maupun nilainya secara moral. Kita bisa mentilas kembali budaya-budaya yang telah hilang di keruk oleh zaman ini, dari hal yang paling sederhana (subjectif penulis) seperti permainan anak-anak, diantaranya Gasing, pentak umpat (pancit), biji congklak, dampu, lompat tali (yeye), petak jongkok, dan hompipa alaium gambreng.




Permainan tradisional ini ternyata—permainan yang tidak main-main, di dalam permainan tradisional ini ada sebuah tranformasi nilai-nilai sosial. Kita bisa mengulas permainan ini secara rinci,
pertama permainan Dampu, permainan ini biasanya diamainkan oleh anak-anak sekolah baik laki-laki maupun perempuan. Permainan ini tidak membutuhkan peralatan yang harus di beli, cukup di mainkan di