Malam ini di dalam kamar yang berukuran 3X4 meter aku termenung dengan berbagai ragam kejadian yang amat membuatku jijik dengan semua peristiwa yang telah fluid dalam realitas ‘kesadaran’ manusia yang berdisiplin. Ke-jijikan—aku kambinghitamkan kepada buku-buku yang berada didalam kamarku ini. Aku kira bukulah yang paling berpengaruh kepada setiap orang untuk mempertegas dirinya dan memperbudak orang lain—dengan pola fikir kesadaran tak terkecuali wahyu tuhan pun sebagai bentuk legitimasi mereka dalam hal ekploitatif. Malam ini aku memaknai buku hanya lah sekumpulan penulis yang memaksakan pemikirannya kepada orang lain (pembaca) dan pembacapun memaksakan bacaannya tadi ke si yang tidak membaca buku tersebut. Lalu bagaimana dengan wahyu—aku tidak akan membahas kodifikasi wahyu ataupun azbabul nuzulnya karna ini bukan wewenangku. Tapi, aku merumuskan ataupun menarik eksploitasi itu dari si pembaca wahyu (ulama)—yang cendrung mempubliskan kekuatanya dengan wahyu tuhan. Bagiku ini adalah teory baru tentang penjajahan (neokolonialisme)—utuk melegitimasikan eksinya si pembuat pikiran dengan pendukung si pembaca.
Aku semakin jijik dengan ilmu poengetahuan—yang hanya berkutat pada si subject yang merumuskan defenisi sosial—sesuai alam realnya saja. Tulisanku ini adalah sebuah fakta besar—yang ada di sekeliling kita, mungkin kita tak secara sadar menghayati persoalan yang saya tuliskan ini—mungkin karna budaya konsumtif kita—yang tidak mengajarkan kita untuk berpikir ulang—dengan akal kita sendiri.
Kejijikan aku dengan buku di latar belakangi dengan fakta empiris—persis sebagaimna yang aku gambarkan dalam catatan kecilku di atas tersebut. Berawal dari universitas yang merupakan sarang ilmu pengetahuan—bagiku hanya sarang eksploitasi kapitalistik—lewat dosen-dosen yang menjadi konsumtif pasif dari apa-apa yang mereka baca—yang ini kemudian mereka paksakan kepada mahasiwa-mahasiswa meraka.
Bagiku dosen hanya lah kaki tangan akalnya yang belum rapi—dengan emosional yang amat labil. Banyak peristiwa ini terjadi di kampus akan tetapi ini adalah sebuah kontiniunitas dari setiap generasi yang tak memahami arti—bagi kesiapan diri yang masih mentah.
Apakah ini yang di namakan universitas, apakah ini yang dinamakan orang berilmu, apakah ada sebuah tranformasi yang otonom? Pertayaan-pertayaan kecil ini amat sangat urgent untuk kita jawab di tengah amnesia kita memahami universitas dan ragam civitas akademikanya. Belum lagi kita mempertayaankan metodelogi mengajar, atau kuriculum univeristas (epistemology). Jika kita mahasiswa kita mesti mempertayakan ulang reuniversitasisasi dalam konteks epistemologi, otologi dan aksiologinya.
Aku adalah orang yang tidur—atas semua ini. Apakah anda juga?
Aku semakin jijik dengan ilmu poengetahuan—yang hanya berkutat pada si subject yang merumuskan defenisi sosial—sesuai alam realnya saja. Tulisanku ini adalah sebuah fakta besar—yang ada di sekeliling kita, mungkin kita tak secara sadar menghayati persoalan yang saya tuliskan ini—mungkin karna budaya konsumtif kita—yang tidak mengajarkan kita untuk berpikir ulang—dengan akal kita sendiri.
Kejijikan aku dengan buku di latar belakangi dengan fakta empiris—persis sebagaimna yang aku gambarkan dalam catatan kecilku di atas tersebut. Berawal dari universitas yang merupakan sarang ilmu pengetahuan—bagiku hanya sarang eksploitasi kapitalistik—lewat dosen-dosen yang menjadi konsumtif pasif dari apa-apa yang mereka baca—yang ini kemudian mereka paksakan kepada mahasiwa-mahasiswa meraka.
Bagiku dosen hanya lah kaki tangan akalnya yang belum rapi—dengan emosional yang amat labil. Banyak peristiwa ini terjadi di kampus akan tetapi ini adalah sebuah kontiniunitas dari setiap generasi yang tak memahami arti—bagi kesiapan diri yang masih mentah.
Apakah ini yang di namakan universitas, apakah ini yang dinamakan orang berilmu, apakah ada sebuah tranformasi yang otonom? Pertayaan-pertayaan kecil ini amat sangat urgent untuk kita jawab di tengah amnesia kita memahami universitas dan ragam civitas akademikanya. Belum lagi kita mempertayaankan metodelogi mengajar, atau kuriculum univeristas (epistemology). Jika kita mahasiswa kita mesti mempertayakan ulang reuniversitasisasi dalam konteks epistemologi, otologi dan aksiologinya.
Aku adalah orang yang tidur—atas semua ini. Apakah anda juga?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar