BERCERMIN PADA TRADISI LISAN
TENTANG NYANYIAN PANJANG
BUJANG TAN DOMANG
Ignas Kleden
Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang adalah sebuah prosa liris yang sangat panjang, yang secara tradisional di tuturkan secara lisan di antara orang Petalangan, suku asli Riau yang hidup di empat kecamatan di Kabupaten Kampar. Empat kecamatan tersebut adalah Pengkalankuras, Bunut, Langgam dan Kualakampar.
Panjangnya prosa liris dapat di bayangkan setelah direkam oleh Tenas Effendy, dan di terbitkan dalam bentuk buku, hasil kerja sama Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) The Toyota Foundation dan Yayasan Bentang Budaya, tahun 1997. Rekaman di terbitkan dalam dua bahasa , yaitu bahas Petalangan dan terjemahan bahasa Indonesia setebal 715 halaman (format 15,5 cm x24 cm). jadi naskahnya sendiri panjangnya kira-kira 357 halaman, yang secara tradisional di tuturkan secara lengkap oleh penutur yang di kenal sebagai Pembilang Tombo, yang menghapal teks sepanjang itu di luar kepala.
Tombo adalah cerita yang berisikan tradisi suatu suku. Mereka yang tidak mempunyai tombo dianggap tidak jelas asal-usulnya. Di bekas kerajaan Palalawan dahulu terdapat 14 suku orang Petalangan yang memiliki Tombo, yang dapat berbentuk nyanyian panjang yaitu prosa berirama, atau tombo biasa. Sebaliknya, nyanyian panjang atau prosa liris ini ada yang berisikan tombo dan ada pula yang bervariasi isinya. Naskah yang di kumpulkan oleh Tenas Effendy ini merupakan rekaman nyayian panjang yang berisi tombo, yang di teliti di dua desa utama, yaitu Desa Betung, dan Desa Talau. Nyayian Panjang Bujang Tan Domang adalah prosa liris yang berisikan tombo dari suku Monti raja (atau sialang kawan) di Desa betung, kecamatan Pengkalankuras, Kabupaten Kampar. Ada beberapa sebab mengapa tembo ini yang di pilih. Pertama, karena Monti Raja dituakan oleh batin-batin (kepala suku) lainnya. Kedua, tombo Monti Raja, menurut pengakuan para tetua adat, dianggap paling lengkap dibandingkan dengan tombo lainnya. Penghormatan kepada tombo ini nyata, antara lain dari digunakannya nama tokoh utama tombo ini yaitu, Bujang Tan Domang Serail, atau di kenal juga sebagai Datuk Demang Serail, sebagai nama Balai pertemuan di ibu kota Kecamatan Pengkalankuras.
Rekaman seperti ini, dilihat dalam konteks sekarang, mempunyai kepentingan yang jauh lebih luas dari sekedar penelitian filology. Orang-orang muda yang dapat menghapalk tradisi lisan semakin jarang. Dan tradisi terancam punah kalau tidak dilakukan usaha perekaman. Namun, usaha seperti ini buklanlah sekedar ikhtiar melestarikan suatu warisan yang segera hilang, tetapi memberikan pelbagai dimensi baru dalam pengertian dan apresiasi tentang apa yang dikenal sebagai kebudayaan tradisional.
Masuknya modernisasi, dan dikotomi yang biasanya dibuat antara modern dan tradisional, menyebabkan penghargaan tradisi jauh dari yang sepantasnya. Bahkan pemikir kebudayaan di Indonesia sekaliber Sutan Takdir alisjahbana, pernah menyebut kebudayaan tradisional (dengan Borobudur sebagai contoh yang sering diajukannya.) sebagai kebudayaan dari zaman jahiliyah. Penilaian itu, di lihat dalam retrospeksi, lebih menunjukkan kekaguman kepada apa yang dibayangkan sebagai modernitas, dan bukannya suatu pengertian yang memadai tentang kompleksitas dan kekayaan kebudayaan tradisional, yang banyak unsurnya tetap relevan bahkan pada masa yang paling modern pun. Lebih dari itu, semakin disadari berbagai kontradiksi dalam kebudayaan modern, khususnya dalam kebudayaan industry, telah dipecahkan dengan cara yang relative memuaskan, justru dengan cara tradisional.
Nyayian panjang Bujang Tan Domang dapat diambil sebagai sebuah kasus yang menarik dan penting untuk soal ini. Prosa liris ini praktis mempunyai tiga pungsi utama untuk masyarakat Petalangan.
Pertama, ia berfungsi sebagai sebuah sumber sejarah buat suatu suku. Tentu saja sejarah disini tidak patut dipahami sebagai histriografi kritis dan akademis, tetapi sebagai sebuah rujukan yang mencukupi bagi keperluan suatu suku, tentang siapa yang menjadi orang pertama yang datang ke daerah itu dan kemudian menjadi nenek-moyang suatu suku, dari mana asal-usulnya, dan siapa saja yang menjadi keturunannya.
Demikianlah, pemilik tombo ini menganggap diri meraka berasal dari seoarang raja di Kerajaan Johor bernama Raja Alam. Sang raja menikah dengan putri Mayang dan melahir dua putri satu orang putra. Kedua putri bernama Putri Embun Putih dan Putri Lindung Bulan, sedangkan sang putra bernama Bujang Tan Domang. Raja alam dan permaisurinya dilarikan oleh raja Garuda ke kerajaan langit. Ketiga anak baginda pergi mencari orangtua mereka. Putri Embun Putih kemudian dinikahi oleh Raja Patih. Putri lindung Bulan diculik oleh raja Cina. Sementara itu Bujang Tan Domang dalam pengembaraannya berguru dan mencari ilmu kepada segala orang pandai. Dengan kesaktiannya dia berhasil merebut kembali saudarinya, Putri Lindung Bulan dari Cina dan sanggup merebut orang tuanya dari Kerajaan Langit setelah mengalahkan Raja Garuda. Setelah itu Bujang Tan Domang melayari sungai Kampar, mengalahkan beberapa raja zalim, mengunjungi mahluk halus yang disebut Bunyian, memberi nama kepada beberapa tempat yang akan diserah kan kepada keturunannya, memperistri Putri Sri Gading dan akhirnya menetap di Sialang Kawan dan mendirikan kerajaan baru di temapt itu.
Kedua, Tombo ini berfungsi sebagai dokumen hukum. Di dalamnya disebut batas-batas tanah, jenis-jenis tanah dan hutan, hak dan kewajiban yang harus dijalankan oleh anggota suku, dan sangsi terhadap pelbagai pelanggaran. Adapun hutan-hutan yang ada dibagi kedalam empat kelompok. Masing-masingnya adalah Tanah Kampung yang menjadi tempat permukiman, Tanah Peladang yaitu tempat dilakukan peladangan berpindah-pindah, Tanah Dusun yang menjadi tempat berkebun, khususnya untuk tanaman keras dan tanah cadangan untuk tempat tinggal, dan Rimba Larangan yang dalam istilah sekarang dapat disebut hutan lindung, yang tidak boleh digarap. Rimba larangan ini terdapat dua jenis, yaitu Rimba Kepungan sialang yaitu tempat tumbuh pohon Sialang tempat Lebah bersarang, dan Rimba Simpanan tempat hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan, yang menjadi sumber utama untuk obat-obatan tradisional. Dalam istilah sekarang tempat ini dijaga dan dirawat sebagai sumber keanekaragaman hayati (biodiversity.
Pedoman-pedoman tentang penggunaan hutan ditetapkan dengan teliti. Tentang menebang pohon di uraikan apa yang boleh ditebang, seberapa banyak, dan apa yang pantang di tebang.
Tebang tidak merusakkan
Tebang tidak membinasakan
Tebang tidak menghabiskan
Tebang menutup aib malu
Tebang membuat rumah tangga
Membuat balai dengan istana
Membuat madrasah dengan alatnya.
Tentang pantangan dalam menebang dikatakan
Pantang menebang kayu tunggal
Pantang menebanmg kayu berbunga
Pantang menebang kayu berbuah
Pantang menebang kayu seminai
……….
Pantang menebang induk guharu
Pantang menabang induk kemenyan
Pantak menebang induk dammar
………
Kalau menebang berhingga-hingga
Kalau saja pemegang HPH sedikit meluangkan waktu membaca tombo ini sebeluim memulai usahanya, mereka mungkin tidak akan diyakinkan untuk cukup “ menebang berhingga-hingga”, tetapi meraka pasti dapat diyakinkan bahwa penduduk setempat yang sering dianggap bodoh tidak lah sedungu sebagai mana sering diperkirakan, melainkan menyimpan pelbagai kebijaksanaan lingkungan yang kemudian dibela oleh para pejuang lingkungan hidup. Prisnsip-prinsip yang dirumuskan Rio atau dimanapun telah beratus tahun telah dijalankan dengan setia oleh penduduk Petalangan dan mungkin penduduk dalam berbagai komunitas tradisional lainnya.
Ketiga, sebagai “buku hokum” , tombo juga berfungsi sebagai kumpulan ajaran-ajaran moral yang wajb diikuti oleh anggota suku. Istilah asli untuk code of conduc ini dikalangan orang Petalangan adalah Tunjuk Ajar. Yang unik disini ialah bahwa berbagai kelakuan manusi dilukiskan dan diuraikan dalam perbandingan dengan apa yang terdapat dalam alam, yang terlihat pada pohon dan tanaman, atau yang diamati dari tingkah laku binatang-binatang. Mungkin para pemikir modern akan memandang sebelah mata kepada kode etik seperti ini dan menyebut dengan sedikit menghina sebagai suatu naturalisme primitif. Sekalipun demikian, dipandang dari segi lainnya, pandangan ini memberikan suatu alternatif kepada anthropology konvensional yang memberiak tempat yang terlalu utama kepada manusia sebagai mahluk tertinggi dalam alam. Patutlah di ingat dalam kaitan ini bahwa evolusi biologis suka membuktikan bahwa dari hewan yang lebih rendah terhadap perkembangan kemudian muncul perkembangan hewan pada tahap yang lebih tinggi, misalnya pada mamalia, dan selanjutnya muncul mahluk yang sekarang di kenal dengan manusia. Sekalipun demikian, evolusi moral menunjukkan dengan pelbagai bukti nyata (perang duniua, genoside, atau pembunuhan dan kekerasan politik seperti halnya di Indonesia sekarang), bahwa manusia lebih sering merosot menjadi lebih rendah dari pada hewan dalam tingkahla kunya, pada titik itulah, lebih bermafaat melihat manusia dalam solidaritas dengan mahluk-mahluk lainnya di ala mini daripada mengklaim secara angkuh bahwa dialah penguasa yang berhak mengelolah dan mengerjakan segala apa yang ada dalam alam ini menurut akal budinya, yang sering ternyata tidak waras. Tombo orang Petalangan dengan baiknya menunjukkan bahwa tanaman dan pepohonan, hewan melata tau berkaki empat, bisa menjadi “Guru” yang memberikan “Tunjuk Ajar” tentang bagaimana manusia berlaku terhadap sesamanya.
Tengoklah kayu di rimba
Ada yang besar ada yang kecil
Ada yang lurus ada yang bengkok
Ada yang berpilin memanjat kawan
Ada yang dihimpit oleh kayu lain
Ada yang licin ada yang berbongkol
Ada yang tegak ada yang condong
Ada yang hidup ada yang mati
Ada yang berduri ada yang tidak
Ada yang bergetah ada yang tidak
Ada yang berbuah ada yang tidak
……….
Beragam-ragam kayu di rimba
Beragam pula hidup manusia
Keserakahan dan keugaharian dalam hidup dapat di pelajari dengan sempurna dari kelakuan burung enggang dan burung pipit.
Makan jangan menghabiskan
Minum jangan mengeringkan
Makanan enggang tak tertelan oleh pipit
Makanan pipit jangan dihabiskan enggang
Itulah hidup bertenggangan
Hidup senasip sepenangungan
Demikian pula waktu manusia yang ingat diri atau yang menenggang oaring lain dilukiskan dengan plastis dan indah berdasarkan pengamatan terhadap dunia binatang.
Beribu banyak manusia
Beribu pula banyak ragamnya
Begitu pula dengan binatang rimba
Baik juga dibuat contoh
Ada yang garang ada yang penakut
Ada yang memakan emak dan bapak
Ada yang memakan bangkai kawan
Ada yang menggigit ada yang mencatuk
Ada yang mengerkah ada yang membela
Ada yang berkawan ada yang tunggal
…………
Ada yang hidup suka berkubang
Ada pula di atas kayu
Ada yang terbang ada yang merangkak
Bermacam pula perangainya
Begitu pula sifat manusia.
Ini tidak berarti bahwa dalam Tombo tidak ada penunjuk tegas yang langsung di tunjuk tegas yang langsung ditunjukan kepada manusia tanpa rujukan kepada alam. Bila di rasa perlu Tombo menampilkan ketegasan moral dengan artikulasi yang jelas, yang tidak memungkinkan ambivalensi atau salah pengertian. Kritik dan peringatan kepada orang berhati culas dan yang hanya ingat dirinya, dikemukakan tanpa tedeng aling-aling
Orang pendengki mati berdiri
Orang khianat mati terlaknat
Orang pembohong mati tercampak
Orang sombong mati gembung
Orang tamak mati bengkak
Sebaliknya, batas antara keberanian dan kecerobohan, atau pun garis antara sikap-hati-hati dan sikap penakut, atau perbedaan antara kerendahan hati yang sebenarnya dan kepura-puraan ditetapkan dengan relative jelas:
Kalau duduk di tepi-tepi
Tapi jangan ke tepi sangat
Nanti tercampak ke pelimbahan
Kalau bercakap di bawah-bawah
Tapi jangan ke bawah sangat
Nanti mati di pijak gajah
Kalau mandi di hilir-hilir
Tetapi jangan kehilir sangat
Nanti hanyut ditelan gelombang
Seluruh moralitas dank ode etik orang Petalangan ini oleh Tenas Effendy telah diringkas menjadi sepuluh perangkat nilai yang utama.
1. Kerukunan adalah suatu azas dasar . prinsip ini dirumuskan sebagai pedoman yang—untuk situasi politik Indonesia sekarang, dapat dipegang oleh berbagai golongan di tanag air pada saat ini:
Sama saudara pelihara-memelihara
Sama sahabat ingat mengingat
Sama sesuku bantu-membantu
Sama sebangsa rasa-merasa
1. Mufakat merupakan cara untuk mencapai consensus secara demokratis
Kalau tumbuh silang sengketa
Sebelum hukum dijatuhkan
Diusut dahulu baik-baik
Carilah sebab mula asalnya
Tilik duduk dengan tegaknya
Salah besar di perkecil
Salah kecil dihabisi
1. Keadilan dirumuskan sebagai kesanggupan untuk tidak memicingkan mata terhadap kesalahan yang sudah jelas di depan mata.
Menimbang sama beratnya
Menyukat sama takarnya
Mengukur sama panjangnya
1. Memegang adat berarti
Adat dijunjung lembaga disanjung
Pusaka sama dijaga
……….
Kalau hidup tidak beradat
Di situlah tanda akan kiamat.
(sampai disini saya tak dapat menahan diri untuk mengutip adagium dari seorang sejarawan dan sastrawan inggris abad ke-19 Thomas caryle yang berujar “ swerving from our fathers’ rules is calling our fathers fools”
1. Gotong royong, yang dilukiskan sebagai suatu partisipasi aktif baik dalam kelebihan maupun kekurangan.
Kalau berlebih beri-memberi
Kalau kurang isi-mengisi
Kalau sempit sama berhimpit
Kalau lapang sama melenggang
1. Kesetiaan, yang menyebabkan seorang dapat di pegang ucapanya oleh orang lain
Bercakap jangan mengulum lidah
Berkata jangan bercabang lidah
Pepat di luar pepat di dalam
Runcing di luar runcing di dalam.
1. Tahu diri, yaitu kesanggupan untuk menempatkan diri dengan benar dalam hubungan dengan orang lain
Tahu baik dengan buruk
Tahu hak dengan kewajiban
Tahu beban yang kalian pikul
Tahu beban yang kalian bayar.
…….
Tahu hormat pada orang tua
Tahu sayang pada yang muda
Tahu kasih sama sebaya
1. Sikap tidak mencari musuh, yaitu kesanggupan untuk tidak menjelek-jelekkan orang lain.
Buruk orang jangan dicari
Malu orang jangan disingkap
Aib orang jangan dibuka
Kurang orang jangan dijajakan
1. Kerendahan hati, yaitu kesanggupan untuk melihat kelemahan dan keterbatasan diri, dan berusaha mengatasinya.
Bodoh jangan malu berguru
Sesat jangan malu bertanya
Salah cepat meminta maaf
Berdosa cepat memintah ampun
10. Kesabaran dan percaya diri akan membuat seseorang seimbang dalam segala perilakunya.
Teguh pada keyakinan awak
Berfikir dengan jernih
Tegak dengan pemandangan jauh
Duduk dengan hati lapang
Beberapa contoh yang diberikan di sini dapat menunjukkan bagaimana suatu suku yang selama Orde Baru dinyatakan sebagai suku yang amat miskin, mempunyai pedoman kehidupan masyarakat yang demikian rapi, yang secara tradisional, dapat di pastikan, sanggup memberikan kesejahteraan hidup yang relatif merata untuk semua nggota sukunya. Memang, pada tahun 1978 telah di lakukan penelitian tentang penentuan lokasi daerah miskin di Propinsi Riau oleh Derektorat Tata Guna Tanah, Derktoral Jendral Agraria,Departemen Dalam Negeri. Di temukan antara lain bahwa kehidupan penduduk harus di kategorikan sebagai miskin sekali, dengan pendapatan per kepala Rp.29.683. dari tanah suku itu seluas 172.475 ha hanya 4.12 ha yang dianggap sebagai tanah dengan kepemilikan sah. Selebihnya dianggap sebagai tanah Negara.
Persoalan yang tidak pernah diajukan dengan terus terang ialah mengapa penduduk di sana menjadi sedemikian miskin? Jawabannya yang bertahun-tahun didiamkan ialah karena mereka dicopot dari sumber kehidupan ekonomi dan sumber kekayaan budayannyayaitu hutan, sungai, bukit dan tanah-tanah meraka yang harus di serahkan kepada pengusaha perkebunan besar dan pemegang PHP. Usaha Kelapa Sawit yang dikembangkan di Daerah itu, jelas sukar mengintegrasikan penduduk setempat sebagai tenaga kerja karena secara tradisional mereka tidak mengenal tanaman tersebut. Pemerintah daerah telah mencoba menyelamatkan hutan dan member perlindungan kepada alam di sana dengan SI Gubernur Riau No. Kpts. 118/IX/ 1972, pada 18 september 1972, akan tetapi ketetapan itu sama sekali tidak diperhatikan oleh para pengusaha perkebunan.
Akaibatnya penduduk kehilangan hutan mereka, kehilangan tanah dan batas tanah-tanah yang untuk mereka sendiri amat jelas selama ratusan tahun. Bukan itu saja, mereka juga kehilangan referensi utama dari kehidupan budaya dan kehidupan moral mereka. Tidak ada lagi pohon-pohon yang selama itu menjadi petunjuk tentang tingkah laku mereka. Tidak ada lagi burung enggang dan pipit yang selalu memperingatkan meraka tentang bahanyanya keserakahan dan pentingnya keugaharian dalam hidup bermasyarakat meraka. Terjadi pemeralatan secara ekonomi dan sekaligus pemiskinan secara budaya .
Proses itu menyebabkan pula bahwa perhatian kepada tombo menjadi berkurang. Karena batas-batas tanah dan hutan yang disebut dalam tombo dan nyanyian panjang telah diratakan oleh traktor dan alat-alat berat lainnya. Orang tidak dapat lagi mendengar tombok untuk mendapatkan tunjuk ajar karena pohon dan binatang yang menjadi rujukannya sudah kehilangan habitat, mati atu berpindah ketempat lainnya.
Jumat, Desember 03, 2010
kina
KINA.
Ada sebuah cerita rakyat di salah satu Desa di Propinsi Jambi tepatnya di Desa Terusan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. Desa yang 78 km dari pusat pemerintahan Jambi ini, memiliki sebuah cerita rakyat yang puluhan bahkan ratusan tahun masih mewarnai kehidupan masyarakat Terusan sampai saat ini. Desa yang berpenduduk lebih kurang lima ribu jiwa ini, masih mewarisi cerita rakyat sebagai pembelajaran (Education) bagi setiap generasi muda, terutama anak-anak perempuan. agar tetap patuh kepada kedua orang tua, dan sebagai nasihat sekaligus peringatan kepada anak-anak, agar jangan keluar malam— pada waktu yang di larang oleh orang tuanya.
Alkisah, Kina adalah seorang wanita yang cantik, tubuhnya putih, mulus dan tak satu bakat luka pun menenpel di tubuhnya. Conon, sangking cantiknya sejenis mahluk halus (Dewa) menculiknya untuk dijadikan istri.
seperti biasanya masyarakat terusan yang notabenenya petani melakoni rutinitasnya sebagai petani, tak kecuali keluarga kina. Sewaktu Kina bersama keluarganya selesai menanam padi di sawah—mereka pulang dengan menyebrangi sungai Batanghari dengan perahu, sawah keluarga Kina berada di desa seberang. Yang sekarang disebut Terusan Pasar atau Terusan Seberang. ada yang mengatakan isi perahu itu, “tiga orang” dan ada juga yang mengatakan “lima orang”. Yang jelas, Tempat duduk Kina di tengah, di belakang mak (ibu) dan di depan abah (ayah). Posisi Kina sebagai pembuang air dalam perahu tersebut, atau dalam bahasa Terusan disebut Penimbo. Di perjalanan atau lebih tepatnya di tengah sungai Batanghari, tiba-tiba Kina hilang tak tahu kemana, air sungai dalam keadaan tenang—air tak menunjukkan kina jatuh kesungai, karna tak ada bekas gelombang satu pun yang menunjukkan kina jatuh kesungai. Keluarganya pun panik, melihat Kina hilang secara mendadak, dan keluarga pun bergegas menuju ketepi sungai, mereka lalu menceritakan kepada masyarakat, dan perangkat Desa. Mendengar cerita yang disampaikan orangtuanya. Masyarakat pun bergegas mencari Kina yang hilang dengan mistis tersebut.
Hari demi hari dan bulan demi bulan, Kina tak muncul-muncul kepermukaan Batanghari—hulu dan hilir telah masyarakat telusuri untuk mencari jasad Kina, dan tak sedikit masyarakat menggunakan tenaga paranormal atau dukun sakti untuk mengetahui keberadaan kina. Abra-katabra yang di lapaz kan sang dukun—tak kunjung membuahkan hasil—dengan terpaksa masyarakat menghentikan pencarian—karna hilangnya kina bersifat mistis—yang tak bisa di ketahui siapa pun.
Dengan k hilangnya kina secara mendadak dan tak dapat di ketahui, masyarakat pun tak berani keluar rumah di malam hari, terutama anak perempuan.
Dua minggu setelah pencarian masyarakat mendengar isu yang sangat menakutkan, ” Kina menjadi manusia setengah Dewa” isu yang menggemparkan warga kampung ini, berasal dari seorang petani, ia melihat kina ketika ia mau pulang dari sawah sekitar pukul 20.10 malam. Kina memintah bantuan kepada petani tersebut, untuk di potongkan urat nadinya, agar ia bisa menjadi manusia utuh lagi. Mendengar perkataan kina tersebut sang petani tambah gemetaran. Boro-boro sang petani berani memotong urat nadi kina; melihat dan mendengar ucapan kina pun ia sudah gemetaran. Sang petani dengan langkah seribuh bergegas pulang ke rumah. Dan menceritakan perihal yang ia lami kepada masyarakat.
Mendengar isu Kina telah menjadi mahluk halus. Masyarakat pun melarang anak-anaknya untuk keluar rumah di malam hari. Agar tak di temui oleh Kina. Isu ini kian menjadi-jadi. Kina akan menjadi manusia seutuhnya apabila ada yang berani memotong urat nadi yang ada di tangan kanannya. Sebagai tanda lepasnya kina dari cengkraman Dewa atau suaminya, jika urat nadi telahnya telah terpotong ia akan menjadi cantik kembali. Siapa yang berani memotong urat nadi ditangan kanannya konon akan dijadikan suaminya, sebagai balas budi Kina terhadap manusia yang telah berani memotong urat nadinya. Akan tetapi, penduduk sangat ketakutan apabila bersua dengan Kina—muka dan bentuk tubuhnya tak seperti ketika ia masih menjadi manusia dulu. Siapa yang memotong urat nadi Kina, juga akan didatangi suami Kina alias Dewa. Hal ini yang membuat masyarakat tak berani memotong urat nadinya.
Mendengar sosok misterius kina—masyarakat sangat ketakutan terutama anak-anak. orang tua sangat melarang anaknya untuk berpergian dimalam hari—kina akan menemuinya ” ujar orang tua kepada anak-ananya”
Cerita rakyat kina hingga hari ini masih kental di ingatan masyarakat Terusan—bahkan pobhia yang berlebihan ketika mendengar nama ”Kina”.
Dari cerita rakyat di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa ada kearifan lokal yang hingga hari ini masih menjadi pandangan hidup (world view) masyarakat; pandangan seperti ini memberikan efek integritas masyarakat Terusan—bagaimana proses menciptakan keselarasan dan menempatkan setiap peran wanita dalam keluarga.
Cerita rakyat yang selalu di warisi setiap generasi ke generasi ini, memberikan suatu proses pembelajaran yang sangat efektif—dengan menggunakan simbol,ritus, dan analogi sederhana, anak-anak terusan dapat memahaminya dengan sangat mudah, sehingga ia dapat menginternalisasikan cerita ini kedalam kehidupanya—sebagai nasihat diri.
Ada sebuah cerita rakyat di salah satu Desa di Propinsi Jambi tepatnya di Desa Terusan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. Desa yang 78 km dari pusat pemerintahan Jambi ini, memiliki sebuah cerita rakyat yang puluhan bahkan ratusan tahun masih mewarnai kehidupan masyarakat Terusan sampai saat ini. Desa yang berpenduduk lebih kurang lima ribu jiwa ini, masih mewarisi cerita rakyat sebagai pembelajaran (Education) bagi setiap generasi muda, terutama anak-anak perempuan. agar tetap patuh kepada kedua orang tua, dan sebagai nasihat sekaligus peringatan kepada anak-anak, agar jangan keluar malam— pada waktu yang di larang oleh orang tuanya.
Alkisah, Kina adalah seorang wanita yang cantik, tubuhnya putih, mulus dan tak satu bakat luka pun menenpel di tubuhnya. Conon, sangking cantiknya sejenis mahluk halus (Dewa) menculiknya untuk dijadikan istri.
seperti biasanya masyarakat terusan yang notabenenya petani melakoni rutinitasnya sebagai petani, tak kecuali keluarga kina. Sewaktu Kina bersama keluarganya selesai menanam padi di sawah—mereka pulang dengan menyebrangi sungai Batanghari dengan perahu, sawah keluarga Kina berada di desa seberang. Yang sekarang disebut Terusan Pasar atau Terusan Seberang. ada yang mengatakan isi perahu itu, “tiga orang” dan ada juga yang mengatakan “lima orang”. Yang jelas, Tempat duduk Kina di tengah, di belakang mak (ibu) dan di depan abah (ayah). Posisi Kina sebagai pembuang air dalam perahu tersebut, atau dalam bahasa Terusan disebut Penimbo. Di perjalanan atau lebih tepatnya di tengah sungai Batanghari, tiba-tiba Kina hilang tak tahu kemana, air sungai dalam keadaan tenang—air tak menunjukkan kina jatuh kesungai, karna tak ada bekas gelombang satu pun yang menunjukkan kina jatuh kesungai. Keluarganya pun panik, melihat Kina hilang secara mendadak, dan keluarga pun bergegas menuju ketepi sungai, mereka lalu menceritakan kepada masyarakat, dan perangkat Desa. Mendengar cerita yang disampaikan orangtuanya. Masyarakat pun bergegas mencari Kina yang hilang dengan mistis tersebut.
Hari demi hari dan bulan demi bulan, Kina tak muncul-muncul kepermukaan Batanghari—hulu dan hilir telah masyarakat telusuri untuk mencari jasad Kina, dan tak sedikit masyarakat menggunakan tenaga paranormal atau dukun sakti untuk mengetahui keberadaan kina. Abra-katabra yang di lapaz kan sang dukun—tak kunjung membuahkan hasil—dengan terpaksa masyarakat menghentikan pencarian—karna hilangnya kina bersifat mistis—yang tak bisa di ketahui siapa pun.
Dengan k hilangnya kina secara mendadak dan tak dapat di ketahui, masyarakat pun tak berani keluar rumah di malam hari, terutama anak perempuan.
Dua minggu setelah pencarian masyarakat mendengar isu yang sangat menakutkan, ” Kina menjadi manusia setengah Dewa” isu yang menggemparkan warga kampung ini, berasal dari seorang petani, ia melihat kina ketika ia mau pulang dari sawah sekitar pukul 20.10 malam. Kina memintah bantuan kepada petani tersebut, untuk di potongkan urat nadinya, agar ia bisa menjadi manusia utuh lagi. Mendengar perkataan kina tersebut sang petani tambah gemetaran. Boro-boro sang petani berani memotong urat nadi kina; melihat dan mendengar ucapan kina pun ia sudah gemetaran. Sang petani dengan langkah seribuh bergegas pulang ke rumah. Dan menceritakan perihal yang ia lami kepada masyarakat.
Mendengar isu Kina telah menjadi mahluk halus. Masyarakat pun melarang anak-anaknya untuk keluar rumah di malam hari. Agar tak di temui oleh Kina. Isu ini kian menjadi-jadi. Kina akan menjadi manusia seutuhnya apabila ada yang berani memotong urat nadi yang ada di tangan kanannya. Sebagai tanda lepasnya kina dari cengkraman Dewa atau suaminya, jika urat nadi telahnya telah terpotong ia akan menjadi cantik kembali. Siapa yang berani memotong urat nadi ditangan kanannya konon akan dijadikan suaminya, sebagai balas budi Kina terhadap manusia yang telah berani memotong urat nadinya. Akan tetapi, penduduk sangat ketakutan apabila bersua dengan Kina—muka dan bentuk tubuhnya tak seperti ketika ia masih menjadi manusia dulu. Siapa yang memotong urat nadi Kina, juga akan didatangi suami Kina alias Dewa. Hal ini yang membuat masyarakat tak berani memotong urat nadinya.
Mendengar sosok misterius kina—masyarakat sangat ketakutan terutama anak-anak. orang tua sangat melarang anaknya untuk berpergian dimalam hari—kina akan menemuinya ” ujar orang tua kepada anak-ananya”
Cerita rakyat kina hingga hari ini masih kental di ingatan masyarakat Terusan—bahkan pobhia yang berlebihan ketika mendengar nama ”Kina”.
Dari cerita rakyat di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa ada kearifan lokal yang hingga hari ini masih menjadi pandangan hidup (world view) masyarakat; pandangan seperti ini memberikan efek integritas masyarakat Terusan—bagaimana proses menciptakan keselarasan dan menempatkan setiap peran wanita dalam keluarga.
Cerita rakyat yang selalu di warisi setiap generasi ke generasi ini, memberikan suatu proses pembelajaran yang sangat efektif—dengan menggunakan simbol,ritus, dan analogi sederhana, anak-anak terusan dapat memahaminya dengan sangat mudah, sehingga ia dapat menginternalisasikan cerita ini kedalam kehidupanya—sebagai nasihat diri.
Langganan:
Postingan (Atom)
