Sabtu, Juli 02, 2011

Soal agama

Tidak di sana, tidak di sini, persoalan agama bisa menjadi sensitif. Kali ini yang datang melapor kecopetan benar-benar dari Belanda, seorang wanita, pekerjaannya sebagai lawyer.
Tugas saya memang hanya menerjemahkan baik pertayaan maupun jawaban. Soal nama, umur, pekerjaan, alamat, tak ada masalah. Tapi pas saat menjawab kolom agama, terjadi kesulitan. Karena, nona Belanda ini bersikeras, ia tak punya agama.
“ ini prosedur biasa,” saya mencoba mengatakan dengan hati-hati. “ Nona ‘kan lawyer, saya kira sama saja di Belanda atau di sini.”
“Tulis saja saya tak punya agama”
Petugas yang memeriksa menggelengkan kepala.
Jalan bisa buntu.
“Begini saja, keluarga nona agamanya apa?”
Ia tetap keberatan.
Ini bisa repot. Soalnya, tanya jawab mengenai urutan peristiwa sendiri masih bisa panjang.
Akhirnya, “ Nona Belanda” mengatakan, silakan tulis apa saja di kolom agama, tetapi bukan karena ia yang mengatakan begitu





Hikmah:
Agama tidak untuk menambah beban atau persoalan, baik dalam ajaran maupun praktek.

Minggu, Juni 26, 2011

Copet

Pencobet adalah orang yang mempergunakan kelengahan atau kesembronoan manusia dengan cara-cara yang tidak memaksa. Karena, kalau sudah memaksa namanya menjadi penodong.
Yang saya ceritakan ini adalah pencopet dalam bis kota. mungkin ini juga berhubungan dengan kesempatan yang ada, karena sulit mencopet di dalam pesawat terbang atau dalam mobil pribadi. Situasi juga mendukung terjadinya proses pencopetan. Penumpang berdesakan, sebagian berdiri, di samping pergerakan naik turun, atau mobilitasnya sangat tinggi. Situasi dan prasarana sudah diciptakan oleh masyarakat. Dengan demikian, pencopet tinggal menjalankan operasinya.
Pada suatu siang, seorang pencopet menjalani tugas harian rutin. Dengan sekali pandang, ia bisa menentukan sasaran, sekaligus menciptakan peluang. Kali ini sasarannya bernama plekeyum. Ini bukan nama sebenarnya, umur dirahasiakan, tapi jelas laki-laki, kalau kita lihat jalan ceritanya.
Pencopet yang kita ceritakan tadi langsung menelusupkan tangan ke dalam celana korban. Sret, gitu, sungguh tak disangka tak dinyana, ternyata suku celana Plekeyun berlubang. Sehingga, bukan dompet yang kesenggol, melaikan “burung” plekenyun.
“ ente lepas, ane teriak,” ancam Plekenyun tersenyum-tersenyum, keenakan
Sial bagi pencopet. Ia terpaksa memegangi “burung” plekenyun terus sampai halte terakhir.

(kalau belum lucu juga, ada lanjutannya)


2

KISAH Plekenyun yang memperdayai pencopet itu tersebar luas di kalangan para pencopet, sehingga menimbulkan dendam den gregetan. Salah seorang pencopet dari generasi muda merasa terstantang.
“Saya copet muda. Tunggu saja di halte Jalan Jendral Sudirman. Saya sudah selidiki, Plekenyun ini naik dari terminal Blok M. dalam perjalanan yang singkat, saya sudah bisa ambil dompetnya, saya tidak berjuang untuk diri saya sendiri. Maka, hasilnya akan saya bagi-bagikan kepada kalian semua.” Copet muda memberi semangat pada para pencobet yang lain.
Seperti yang sudah direncanakan, copet muda ini naik dari Terminal Blok M, langsung nempel pada Plekenyun. Ia tak mau sembarang rogoh dari suku kiri atau suku kanan. Tapi, melingkar dari arah belakang.
Sret, gitu.
Tangan masuk, leluasa bangat.
Ternyata Plekenyun juga melubangi suku celana bagian belakang. Tak bisa tidak tangan copet muda menyenggol “burung” Plekenyun
“ente lepas, ane teriak.”
Tentu saja copet muda takut diteriaki “Copet….!! Copet….!!”
Sehingga terpaksa ia pegangi terus. Lebih sial lagi, karena Plekenyun menyuruh copet muda menggerakkan tangan. Menggosok-gosok….
Pencopet lain yang nunggu di halte Jalan Jendral Sudirman tak sabar. Mereka ikut naik. Mereka melihat copet muda masih terus berkutat dengan saku.
Plekenyun malah merem-melek karena keenakan mencapai klimaks. Kemudian, turun, dengan leluasa.
Melihat Plekenyun turun, kawan copet mendekati copet muda.
“Mana hasilnya? Katanya mau dibagi rata?”
“Nih,” Jawab Copet Muda kesal, sambil melap tangannya yang basah ke wajah teman-temannya.

(Kalau masih belum lucu, ada satu lagi lanjutannya)

KELIHAIAN Plekenyun membuat seluruh pencopet resah. Soalnya, kalau ini menjadi trend, berarti akan lebih banyak penumpang dengan saku celana yang berlubang. Ini harus segera diatasi. Kalau tidak, pendapatan rata-rata para pencopet bisa turun di bawah pendapatan minimum. Ini mata rantainya bisa mempengaruhi para backing, juga para asbak atau penadah.
Tentu alasan yang dikemukakan bukan itu, melainkan bahwa sikap Plekenyun merupakan pelecehan seks, menganggu ketertiban umum, dan jelas perbuatannya sangat asusila.
Ada seorang pencopet yang tidak masuk hitungan, karena tangannya pendek. “saya akan balaskan dendam kalian.” Katanya. Ini menarik perhatian, justru karena pencopet lain memilih bisik-bisik.
Copet Si Tangan pendek naik bis yang ditumpangi Plekenyun. Tenang dia. Geser-menggeser, ingsut-beringsut, mendekati Plekenyun yang selalu memilih berdiri, karena perangkapnya libih muda.
“Lumayan ada daun muda,” pikir Plekenyun ketika mulai ditempel. Benar, Copet Si Tangan Pendek langsung beraksi.
Sreeeeeeeet. Tangan masuk. Leluasa
Tapi, ya itu tadi, karena tangannya pendek, tak bisa mengenai “burung” secara langsung, melainkan hanya samapi ke “dua telor” Tak jadi apa. Kan ada pepatah: “ tak ada burung, telor pun jadi”, Pegangnya Kenceng lagi.
“ente lepas, biji meletus.”
Plekenyun sayang biji. Daripada meletus, ia rela berkorban menyerahkan isi dompet yang disimpan di tempat lain. Matanya Merem-melek, tapi kini dalam kesakitan dan khawatir.
Sebelum terminal terdekat, Copet Si Tangan Pendek sudah berhasil memperlihat dompet Plekenyun berikut isinya.
Begitulah akhirnya, pencopet masih bisa menang. Tapi, ada tapinya. Prestasi besar Copet Si Tangan Pendek tetap dirahasiakan. Soalnya, kalau sampai bocor, istilah copet dalam kamus bahasa Indonesia harus diganti dengan tangan pendek. Bukan tangan panjang. Ini berarti biaya yang banyak dan membuka rahasia dunia copet-mencopet. Lebih baik mengorbankan nama Copet Si Tangan Pendek. Lebih hemat, dan semuanya pasti setuju.

(Kalau tetap tidak lucu, ya memang cerita ini ndak ada lucu-lucunya.)
dikutip dari bukunya: ARWENDO ATMOWILOTO