Jumat, Juni 03, 2011

puisi II

PADAMU JUA

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tanggap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu-bukan giliranku
Mati hari bukan kawanku

( Amir Hamzah)

SILHUET
Hening. Sepantun hujan yang risik mengalun di dasar telaga
yang senja
Kau taruh sinar bulan itu di cermin yang sudah dahaga pada
rupamu semenjak lama
Katakan, siapa yang menyuruh bayang-bayangmu
Menyandungkan sepi dan serigala saja
Purnama menyisir bulan, selenting daun pecah, kau hirup
Suaramu
Gerimis mengalir di pipi

(Abdul Hadi)


SEBUAH TAMAN SORE HARI

Dari sayap-sayap burung kecil itu
Berguguran sepi, sepiku
Saat terhenti di sebuah taman kota ini
Daun jatuh di atas bangku, bagai mimpi

Di antara datang dan suatu kali pergi
Beribu lonceng bernyanyi
Kekal sewaktu bercakap kepada hati
Lalu kepada bumi. Di sini aku menanti

(Sapardi Djoko Damono)

DESA KECIL

Pohon besar masih berjajar
Ranting dahan menjadi halte binatang
Datang
Daun-daunya hijau, hijau sekali


sinar dan laut


Kamis, Juni 02, 2011

puisi

Dengan Puisi, Aku

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.

(Taufik Ismail, Tirani dan Benteng, 1983: 62).

MERAH

Aku suka kepada merah
Karena mengingat kepada darah
Yang berteriak ke arah sawang
Merebut terang

Darah mengalir
Waktu lahir
Darah mengalir
Waktu akhir

Darah
Getah bumi
Membeku
Pada aku

Dalam darah
Berbayang
Nyawa
Pucat bagai siang

( Subagio Sastrowardojo).

SAJAK

Jari-jari dalam diri
Bagai akar yang tak pernah berhenti
Menggali bumu, makin dalam
Makin dalam di dalam kelam

Jari-jari yang menulis kata
Makin keras makin keras
Bagai pisau tajam
Mengoyak-ngoyak badan

Mimpi dalam urat-urat diri
Mengalir berdebur-debur
Bagai ombak, bagai gelombang
Tak tahu pulang.

( Wing Kardjo)

PENYAIR

Sebab jiwa menundukkan akhir
Sambutlah kobar perjalanan sedih ini
Berbuah kasih kesegaran dunia
Hidup buruan larut meneriakkan dahaga

Di halaman buku-buku dan huruf yang ramah
Bersumber nasib hari matinya
Dengarlah tempuh tuju tak kepalang tanggung
Merebut tiap tempat padat oleh pengalaman

Marilah berdiri meninjau penyair
Hanya karena ketegasan hidup
Bertanya langsung atas kutub tanahair
Kita pun maklum untuk apa mereka bersujud.

(Mansur Samin, Tonggak 2, hlm. 51-52)

DIMANA, PUISI

Dimana engkau puisi
Kemana engkau pergi
Berulang-ulang kali aku mencari
Seperti ombak laut yang tak nak berhenti

Puisiku terkasih segeralah kembali
Sudah lama sekali kita berpisah
Hati semakin resah
Usia pun bertambah

Oh puisiku, kini aku telah berusia 22 tahun
Tanpa sengaja
Wajah semakin menua
Oh puisi, aku ingin kau mengisi hidupku yang belum mati.

Bersama kata-kata yang menari-nari
Seperti kata nabi-nabi
Yang menjadi-jadi
Kembalilah puisi
Nafasku sesak jika berjarak

(Azkan, 3 Juni 2011)