Adalah aku mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, banyak ragam yang hari ini tak membuatku puas dengan model pendidikan yang bergaya semi timur atau semi barat atau bahkan antara posmodernisme dan modernisme. Dualisme yang hingga hari tak pernah membuat karakterku eksis di tengah krisis global saat ini. Namun aku tak juga berhak memilih satu diantara dua kebudayaan tersebut, karna kedua budaya ini jalan berdampingan (I don’t know who are I’am). Aku ingin menjawab dilemma ini dengan pendidkan yang aku tempuh sekarang ini. Akan tetapi, pendidikan kita yang justru tidak memiliki sikap (value oriented), apakah pendidian kita menjadi landasan awal yang menentukan kita hingga saat ini—yang tak memeiliki sikap yang jelas dalam ruang kebudayaan. Ntahlah yang jelas kita hari ini masih menikmati kebudayaan “bangsa” yang masih dilemma, sikap enak kitapun tak memiliki klimaks yang berciri khas.
Di Bangsa yang mengkal ini kita melihat para profesor yang belum tau jati diri mereka sendiri, akan tetapi meraka sudah manancapkan kakinya di patung liberty, disini lah ada sebuah transformasi besar yang tak memiliki makna, antara lompatan satu ke dua. Dunia globalisasi yang penuh informasi tapi kita juga belum mendapatkan informasi tentang diri kita sendiri.
Pendidikan yang berratusan juta karakter ini; menjadikan kita seragam dalam beridiology kebodohan. Apakah kita akan kembali ke zaman dark ages ataukah ini adalah pola neo-kapitalisasi kebudayaan, atau bahkan kita memiliki jalan ketiga terhadap persoalan global, ataukah teori besar kita ini hanya menjadi landasan status sosial kita. Kita hanya menjadi manausia paradoks, dilemma, ambivalensi, di tengah kekenyangan materi kelaparan ruhani.
Yang menjadi persoalan setiap masalah global, telah diberikan ruang (space) dimana mereka merangkup dengan disiplin ilmu mereka sendiri—untuk menjawab pertayaan-pertayaan besar dunia. Diantara mereka banyak dengan jawaban yang adil mulai dari merangkak, berjalan, berlari dan bahkan dekonstruksi sekalipun. Semua jawaban yang mereka jawab, mereka diskursus ulang atau beradu sabung ayam untuk mendapatkan Kerbau jantan. Aku tak tau mengapa itu bisa terjadi, kita hanya hidup di dunia retorika (lidah) di dunia praktek (gigi)—hanya sebuah teory yang akan terrealisasi kiamat nanti.
Aku mahasiswa yang bodoh ini menyandarakan “kebudayaanku” dengan pendidikan secara holistik, aku pun hingga hari ini masih mencari kebudayaan yang sengaja dihilangkan dari diriku oleh pihak-pihak tertentu, ini adalah sebuah fakta besar yang tak kelihatan sama sekali oleh manusia yang sadar, aku juga tidak mau mengkambinghitamkan siapa-siapa dalam hal ini, yang jelas keinginanku di mana ruang keterbukaan (openship) itu ada. Bagi ruang pendidikan seperti kelas atau tempat formal maupun non-formal lainnya mesti membawah angin segar bagi si pembayar. Kelas seharusnya sebagai ruang demokrasi bukan lagi tempat idio
logisasi atau tempat halal haram yang beranak kafir.
Ini adalah sebuah utopia yang jauh dari kenyataan; bahwa ini bukan nyata. Aku bukan kaum utopisme yang hanya menghayalkan permaisuri, ataupun kaum marxisme yang selalu mempersoalankan kelas-kelas sosial—komunisme sebagai jwaban akhir untuk menciptakan masyarakat berkecukupan, atau bahkan kaum romantisme yang hanya memperistiwakan sejarah sebagai alam prasadar yang selalu menjadi acuan moral.
Kita mesti merumuskan apa dan siapa kita? Dengan mendefenisikan ulang identitas kita sebagai manusia—sehingga kita akan mengerti apa itu budaya. Apabila kita hari ini belum menemukan jati diri kita, kita hanya menjadi manusia persimpangan jalan yang tak memeiliki orientasi yang jelas.
Cacatan kecil saya ini merupakan keluh-kesah yang masih basah mengenai budaya kita sendiri—yang menjadi persaoalan saya adalah pendidikan sebagai pilar pembangunan manusia menuju manusia ber-keadaban telah hilang dari jantung pendidikan saat ini. Akan tetapi, kita lari dari kenyataan itu dengan amat sadar atau bahkan kita tidak sadar sama sekali (koma, amnesia dan sakit jiwa) dimana kita dengan sengaja membiarkan kemunafikan, kebohongan, kecurangan hanya demi mencari “aman” atau bahkan kita mendukun ke zhaliman demi ke damaian hidup yang sejahtera.
kita mesti mereffleksikan kembali, muhasabah, imntropeksi diri kita sedang berada dimana. Bagi saya ini adalah persoalan yang sangat urgent, dimana kita mampu mereumuskan teory besar dunia—lewat imu politik, hukum, ekonomi hingga filsafat tapi hingga saat ini kita tidak mampu merumuskan kita sendiri. Disini lah ada lompatan moral dari tangga satu ke tangga tiga, empat hingg tangga seratus.
Apakah ada jawaban sebelum ada pertanyaan; adakah dua sebelum satu. Jika ada jelaskan dengan rasional yang humanity. Kita semua berkutat dengan diri kita sendiri, otak kita yan membuat pabrik mulut dan mata kita yang terkena imbasnya, ini adalah sebuah keperadokkan yang amat sadar; tetapi kita melupakan itu. kita hingga hari ini adalah sebuah kegeneralan, abstrak, yang sangat multi-interpretatif. Bahkan agamapun menjadi legitimasi untuk kita menghalalkan alam sebagai politik kita.
Pendidikan bukan hanya persoalan tranformasi ilmu (learning to know)—melahirkan nilai-nilai moral sosial. pendidikan adalah sebuah ke otonoman diri yang amat sangat luas. pendidikan bukan Seperti para agamawan yang membagi klasifikasi sosial menjadi halal, haram dengan tujuan neraka dan surga, atau seperti para ekonom yang dengan laba dan profitnya. Pendidikan bukan untuk hidup tetapi pendidkan adalah hidup itu sendiri.
Ilvan Ilich perna berkata mengenai pendidikan “bubarkan sekolah untuk menyelamatkan pendidikan” namun aku tak setegas Ilich karna akupun masih kanan dan kiri.
Di Bangsa yang mengkal ini kita melihat para profesor yang belum tau jati diri mereka sendiri, akan tetapi meraka sudah manancapkan kakinya di patung liberty, disini lah ada sebuah transformasi besar yang tak memiliki makna, antara lompatan satu ke dua. Dunia globalisasi yang penuh informasi tapi kita juga belum mendapatkan informasi tentang diri kita sendiri.
Pendidikan yang berratusan juta karakter ini; menjadikan kita seragam dalam beridiology kebodohan. Apakah kita akan kembali ke zaman dark ages ataukah ini adalah pola neo-kapitalisasi kebudayaan, atau bahkan kita memiliki jalan ketiga terhadap persoalan global, ataukah teori besar kita ini hanya menjadi landasan status sosial kita. Kita hanya menjadi manausia paradoks, dilemma, ambivalensi, di tengah kekenyangan materi kelaparan ruhani.
Yang menjadi persoalan setiap masalah global, telah diberikan ruang (space) dimana mereka merangkup dengan disiplin ilmu mereka sendiri—untuk menjawab pertayaan-pertayaan besar dunia. Diantara mereka banyak dengan jawaban yang adil mulai dari merangkak, berjalan, berlari dan bahkan dekonstruksi sekalipun. Semua jawaban yang mereka jawab, mereka diskursus ulang atau beradu sabung ayam untuk mendapatkan Kerbau jantan. Aku tak tau mengapa itu bisa terjadi, kita hanya hidup di dunia retorika (lidah) di dunia praktek (gigi)—hanya sebuah teory yang akan terrealisasi kiamat nanti.
Aku mahasiswa yang bodoh ini menyandarakan “kebudayaanku” dengan pendidikan secara holistik, aku pun hingga hari ini masih mencari kebudayaan yang sengaja dihilangkan dari diriku oleh pihak-pihak tertentu, ini adalah sebuah fakta besar yang tak kelihatan sama sekali oleh manusia yang sadar, aku juga tidak mau mengkambinghitamkan siapa-siapa dalam hal ini, yang jelas keinginanku di mana ruang keterbukaan (openship) itu ada. Bagi ruang pendidikan seperti kelas atau tempat formal maupun non-formal lainnya mesti membawah angin segar bagi si pembayar. Kelas seharusnya sebagai ruang demokrasi bukan lagi tempat idio
logisasi atau tempat halal haram yang beranak kafir.
Ini adalah sebuah utopia yang jauh dari kenyataan; bahwa ini bukan nyata. Aku bukan kaum utopisme yang hanya menghayalkan permaisuri, ataupun kaum marxisme yang selalu mempersoalankan kelas-kelas sosial—komunisme sebagai jwaban akhir untuk menciptakan masyarakat berkecukupan, atau bahkan kaum romantisme yang hanya memperistiwakan sejarah sebagai alam prasadar yang selalu menjadi acuan moral.
Kita mesti merumuskan apa dan siapa kita? Dengan mendefenisikan ulang identitas kita sebagai manusia—sehingga kita akan mengerti apa itu budaya. Apabila kita hari ini belum menemukan jati diri kita, kita hanya menjadi manusia persimpangan jalan yang tak memeiliki orientasi yang jelas.
Cacatan kecil saya ini merupakan keluh-kesah yang masih basah mengenai budaya kita sendiri—yang menjadi persaoalan saya adalah pendidikan sebagai pilar pembangunan manusia menuju manusia ber-keadaban telah hilang dari jantung pendidikan saat ini. Akan tetapi, kita lari dari kenyataan itu dengan amat sadar atau bahkan kita tidak sadar sama sekali (koma, amnesia dan sakit jiwa) dimana kita dengan sengaja membiarkan kemunafikan, kebohongan, kecurangan hanya demi mencari “aman” atau bahkan kita mendukun ke zhaliman demi ke damaian hidup yang sejahtera.
kita mesti mereffleksikan kembali, muhasabah, imntropeksi diri kita sedang berada dimana. Bagi saya ini adalah persoalan yang sangat urgent, dimana kita mampu mereumuskan teory besar dunia—lewat imu politik, hukum, ekonomi hingga filsafat tapi hingga saat ini kita tidak mampu merumuskan kita sendiri. Disini lah ada lompatan moral dari tangga satu ke tangga tiga, empat hingg tangga seratus.
Apakah ada jawaban sebelum ada pertanyaan; adakah dua sebelum satu. Jika ada jelaskan dengan rasional yang humanity. Kita semua berkutat dengan diri kita sendiri, otak kita yan membuat pabrik mulut dan mata kita yang terkena imbasnya, ini adalah sebuah keperadokkan yang amat sadar; tetapi kita melupakan itu. kita hingga hari ini adalah sebuah kegeneralan, abstrak, yang sangat multi-interpretatif. Bahkan agamapun menjadi legitimasi untuk kita menghalalkan alam sebagai politik kita.
Pendidikan bukan hanya persoalan tranformasi ilmu (learning to know)—melahirkan nilai-nilai moral sosial. pendidikan adalah sebuah ke otonoman diri yang amat sangat luas. pendidikan bukan Seperti para agamawan yang membagi klasifikasi sosial menjadi halal, haram dengan tujuan neraka dan surga, atau seperti para ekonom yang dengan laba dan profitnya. Pendidikan bukan untuk hidup tetapi pendidkan adalah hidup itu sendiri.
Ilvan Ilich perna berkata mengenai pendidikan “bubarkan sekolah untuk menyelamatkan pendidikan” namun aku tak setegas Ilich karna akupun masih kanan dan kiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar