Lampu-lampu jalan yang panas berbaur dengan angin malam yang dingin, ku telusuri tapak Jogja dengan berbagai ragamnya. Jalan Malioboro penuh dengan pedagang yang beragam cerita di lontarkan pada pembeli, suara mobil dan motor seakan ikut meramaikan kegiatan tawar-menawar tak terkecuali motor buntutku. Sekitar 30 meter jarak mata kedepan menatap bekas-bekas syekaten—yang amat laten budaya jawa yang hingga hari ini masih mereka semarakkan dengan perkumpulan tawar menawar, permainan anak-anak, remaja dan dewasa yang tetap seperti itu standarnya guna menyambut hari kelahiran Rosulullah; itu lah hidup ada penawar dan menawar ada yang hidup dan mati ada kanan dan kiri dan itu lah dialog. (I believe the power of dialogue). Aku masih saja berlari sambil mendengar dan menatap para marhaen dengan becak lugunya yang menjadi kamar tidur yang ditutupi plastik bening. Kaki kanannya menyongkak keluar dan kaki kirinya tunak menegak di papan nafkah, tidur nyeyak pun setia mendampinginya—mimpi ratu adil—menjadi kenyataan di zaman becak dan Mercedes-Benz. dan tak sedikit becak lugunya menjadi security di kala ia tidur di depan toko-toko dan rukoh di jalan Kusumanegara—menggambarkan negara yang tidur tanpa kasur. Anak perawan yang duduk di samping angkringan pakai celana Jeant pendek (Hotpants) yang paha putihnya selalu berpose melawan dinginnya malam; mungkin kedua orang tuanya juga berpose dengan padi yang gagal panen, mesin jahit yang sedang rusak atau bahkan mengemis kesana ke mari untuk memberi imajinasinya nanti. Lepas tawanya yang lugas—begitu indah malam yang menoton berton-ton tertumpuk waktu dengan ragam Jogja, pak tua itu masih duduk manis di depan gorengan angkringan sambil mengunyah nasi kucing dan segelas teh. Sambil bercerita dengan bapak pemilik angkringan, ntah apa yang ia ceritakan, mungkin cerita SBY yang mau naik gaji, atau ulama yang umroh yang ke-4 kalinya atau bahkan curhat-cuhat kecil tentang anaknya yang mau sekolah—tak jadi gara-gara SPP yang membengkak—seprti penyakit kaki gajahnya.
Untuk apa memikirkan bapak tua bangkah itu;ia juga tak perna memikirkan kita, negara juga tak perna memkirkan kita;untuk apa kita memikirkan negara. Akal yang diberi tuhan untuk berpikir—untuk apa kita saling mikir; mikir hanya orang yang punya akal saja yang berhak mikir. Kita tidak punya akal jadi mutlak kita tidak boleh berpikir….
K
embali kejalan aspal; kembali kejalan tuhan ntah kapan. Belok kanan di salah satu simpang Kusumanegara—jalan Tamsis tepatnya, tetasan Om K.H Kihajar Dewantara yang sering berbicara “Tut hurihandayani”—memberi nama, yang tak pernah meredup—seperti pom bensin di kiri jalan yang selalu hidup….
Lampu jalan mengawal perjalanan menitih reality show yang actor utamanya kaum termarginalkan. Baik itu, secara politik, pendidikan, buadaya dan ekonomi. Negara sebagai sutradara yang claim otoriternya menentukan peran sentral. dunia memang panggung sandiwara, mau marah sama siapa? Lupakan saja. Kita hidup memang sudah ditakdirkan untuk dijajah di jadikan objek—buktinya kita hari ini masih mengaminkannya. Atau jika kita mau merdeka dalam arti subjek, kita mesti kuliah di Tamsis ya tepatnya Universitas Islam Indonesia (UII). Agar kelak kita bisa membedakan antara Islam sebagai agama dan Indonesia sebagai negara.
Universitas Islam Indonesia fakultas hukum ini—masih menunjukkan arogansinya—komitmen dengan hukum dan hukuman. Tetapi saya tidak sepakat apabila hukum di indonesia di logokan “law without law” . mungkin UII akan membuat nilai baru dalam dunia hukum—kelak lulusan universitas itu bisa melihat ke atas dan ke bawah adil dan bijaksana dalam perbuatan dan perkataan. Seperti sekarang “hukum benar-benar adil” kata pencuri Ayam yang dituntut 10 tahun penjara itu.
Belok kanan dari perempatan Tamsis, tuan kolonel Sugiono menyapa dengan senyum ramahnya, siapa tuan Kolonel Siogono yang baik dan ramah itu? Ntah lah, aku tak begitu kenal, soalnya ia tak setenar Ruhut sitompul, Gayus Tambunan, Abu Rizal Bakrie dan Ustadz Jepri al Bukhori. Lupakan saja Sugiono itu ia juga tak penting-penting amat.
Mataku menoleh ke kanan dan ke kiri, Kali code berceloteh siang dan malam hari—bekas-bekas lahar dingin masih rutin jalan-jalan menata kali code agar diperhatikan oleh penontong yang hanya—melihatnya sebagai “kali code” sesekali aku teringat dikala siang harinyanya, segerumunan orang melihat lahar dingin yang berlari di sungai code, aku tak mengerti fenomena alam yang ia lihat. Mungkin banyak hikmah yang ia lihat dari lahar dingin dan kali code itu. Aku terlalu buta untuk memahami itu semua. Aku terus menuntun motor buntutku menuju jalan sisingamangaraja, siapa si Sisingamangaraja itu? Mungkin ia adalah penjual singkong (telo).
Untuk apa memikirkan bapak tua bangkah itu;ia juga tak perna memikirkan kita, negara juga tak perna memkirkan kita;untuk apa kita memikirkan negara. Akal yang diberi tuhan untuk berpikir—untuk apa kita saling mikir; mikir hanya orang yang punya akal saja yang berhak mikir. Kita tidak punya akal jadi mutlak kita tidak boleh berpikir….
K
embali kejalan aspal; kembali kejalan tuhan ntah kapan. Belok kanan di salah satu simpang Kusumanegara—jalan Tamsis tepatnya, tetasan Om K.H Kihajar Dewantara yang sering berbicara “Tut hurihandayani”—memberi nama, yang tak pernah meredup—seperti pom bensin di kiri jalan yang selalu hidup….
Lampu jalan mengawal perjalanan menitih reality show yang actor utamanya kaum termarginalkan. Baik itu, secara politik, pendidikan, buadaya dan ekonomi. Negara sebagai sutradara yang claim otoriternya menentukan peran sentral. dunia memang panggung sandiwara, mau marah sama siapa? Lupakan saja. Kita hidup memang sudah ditakdirkan untuk dijajah di jadikan objek—buktinya kita hari ini masih mengaminkannya. Atau jika kita mau merdeka dalam arti subjek, kita mesti kuliah di Tamsis ya tepatnya Universitas Islam Indonesia (UII). Agar kelak kita bisa membedakan antara Islam sebagai agama dan Indonesia sebagai negara.
Universitas Islam Indonesia fakultas hukum ini—masih menunjukkan arogansinya—komitmen dengan hukum dan hukuman. Tetapi saya tidak sepakat apabila hukum di indonesia di logokan “law without law” . mungkin UII akan membuat nilai baru dalam dunia hukum—kelak lulusan universitas itu bisa melihat ke atas dan ke bawah adil dan bijaksana dalam perbuatan dan perkataan. Seperti sekarang “hukum benar-benar adil” kata pencuri Ayam yang dituntut 10 tahun penjara itu.
Belok kanan dari perempatan Tamsis, tuan kolonel Sugiono menyapa dengan senyum ramahnya, siapa tuan Kolonel Siogono yang baik dan ramah itu? Ntah lah, aku tak begitu kenal, soalnya ia tak setenar Ruhut sitompul, Gayus Tambunan, Abu Rizal Bakrie dan Ustadz Jepri al Bukhori. Lupakan saja Sugiono itu ia juga tak penting-penting amat.
Mataku menoleh ke kanan dan ke kiri, Kali code berceloteh siang dan malam hari—bekas-bekas lahar dingin masih rutin jalan-jalan menata kali code agar diperhatikan oleh penontong yang hanya—melihatnya sebagai “kali code” sesekali aku teringat dikala siang harinyanya, segerumunan orang melihat lahar dingin yang berlari di sungai code, aku tak mengerti fenomena alam yang ia lihat. Mungkin banyak hikmah yang ia lihat dari lahar dingin dan kali code itu. Aku terlalu buta untuk memahami itu semua. Aku terus menuntun motor buntutku menuju jalan sisingamangaraja, siapa si Sisingamangaraja itu? Mungkin ia adalah penjual singkong (telo).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar