Minggu, Mei 08, 2011

ASOE

Negara yang banyak gizi ini tak henti-henti mengurusi reshuffle kabinet jilid II. Gayus jilid III dan conflik horizontal idiologi jilid....ntah sudah berapa jilid persoalan negara ini yang terkodifikasi dalam hitam atas putih, mungkin sudah milyaran jilid kali ya..hehheheeh. atau bahkan sengaja tak dijilid seperti kasus perdagangan anak, pembunuhan warga ahmadiyah, century,dan kasus Hak azazi lainya (HAM), negara memang tak ada waktu untuk menjilid kasus-kasus kecil itu—yang tak berdampak kepada distabilitas negara. Lalu bagaimana dengan kasus malesyia yang mencuri batik, reog, hingga menyiksa tenaga kerja indonesia (TKI). Itu hanya pencurian dan penyiksaan kecil lupakan saja itu. Kok malah kamu yang sibuk ngurusin negara, emang dirimu sudah benar….!!!!! Ujar calon-calon mentri yang sebentar lagi di jilid.
Ikan-ikan besar (big fish) seperti calon-calon mentri—yang konon mempunyai kemaslahatan bagi orang lain harus cepat di jilid. Karna si raja mau cepat-cepat pakai tenaganya dan mendukung program yang dirancang oleh sang raja; sedangkan ikan kecil (small fish) tak perlu di jilid karna lagi-lagi tidak ada kemaslahatannya bagi orang lain, bahkan mereka sering disebut pengacau negara (trouble maker). Kasar juga ya negara.
“Negara yang kaya dan hanya untuk orang kaya”—memang benar kata Pak Yanto. Yang sering mangkal di samping polsek margansang, dengan gerobak angkringannya—mulai dari jam dua siang hingga jam dua malam. Ia sering bercerita tentang SSP yang acap kali membengkak—bahkan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang bersubsidi, apalagi rumah sakit yang obatnya membukit—sakit mendengarnya.
“Biaya sekolah sudah murah bahkan rumah sakit ada yang gratis apabila masyarakat miskin mendapat kartu raskin (rasa-in lho orang miskin)” kata pak M. Nuh dan buk…selaku mentri pendidikan dan mentri kesehatan.
Lain lubuk lain ikan; lain orang lain arti. Lalu percaya sama siapa ya? Percaya sama tuhan saja kata ustadz yang sering khutbah jum’at di mesjid An-Nur. “Ngapain juga percaya ama ustadz tersebut;percaya sama tuhan saja” .aneh-aneh saja setiap orang ini.memang benar anekdot “kepala sama hitam hati siapa yang tahu”.
Analoginya;Kalau hanya percaya sama tuhan saja—kasusnya hampir sama donk dengan Robiyatul Adawyah, yang cintanya hanya untuk tuhan saja—sampai-sampai ia tak mau bersuami alias takut membagi cintanya atau selingkuh dari tuhan. (between full and empty)
Jadi menarik jika ngomongin soal cinta, jika bicara cinta kita tidak akan terlepas dari wanita; sebaliknya wanita tidak akan terlepas dari laki-laki. jadinya timbal balik ya (mutualisme) Bagi kawan-kawan yang suka sesama jenis atau satu nusa satu bangsa (homogen)—selamat aja deh jika mendapatkan pasangan masing-masing. Apabila ada comunitas yang mengharamkan pasangan sesama jenis jangan dipercaya—hendaknya kalian percaya sama tuhan saja—jika masih punya tuhan.
Kembali ke cinta, Cinta memang membabibuta tak kenal ruang dan waktu, contohnya saja syeh Puji yang doyan sama anak-anak, doyan atau lapar syeh…ayo ngaku ayo ngaku……!!!!!
Oh ya. kemarin sore saya online (OL) melihat cewek cantik di facebook kebetulan ia online juga, niknya difacebook tertulis Hanna Aren,t lalu saya sapa “hai” saya tunggu beberapa menit “Hai” nya saya tak dibalas-balas, kemudian saya sapa lagi dengan “Hai Hanna Arent” saya tunggu lagi beberapa menit—menunggu balasannya. Eh.eh ternyata tak di balas-balas mungkin malas atau sayanya yang kurang ganteng kali ya. Tapi, kata teman-teman saya “ saya ganteng lho..hehheheheeh” jika Hanna tadi sempat membalas pesan saya “ saya mau mintah nomor hpnya dan langsung menjilid nomornya ke hp saya” benakku.
Comunikasi lewat facebook—mengurangi subtansi comunikasi secara face to face alias mengurangi emosional antara si subjec dan objeck. “ jika si hanna tadi comunikasi face to face sama saya, pasti ia terkapar-kapar mendengarkan rayuan dan gombalnya saya—otomatis dia langsung jatuh cinta sama saya” pikirku. Kok jadi menghayal si.!!!
Manusia itu tak lepas dari menghayal—karna menghayal lah manusia menjadi manusi (homo utopis). Manusia utopis inilah yangh sering dicelotehin kaum marxian—habisnya menghayal melulu si kerjaannya; tapi saya pikir menghayal sudah internalisasi didalam jiwa manusia itu sendiri, so jangan diambil pusing ya kaum marxian..heheheheh
Kau
m marxian ini membagi klafikasi struktural masyarkat menjadi borjuis dan proletar—“jika klafisikasi kelas ini mau di talaq, otomatis revolusi lewat pertentangan antar kelas—komunis—menjadi pinis” ujar dosen yang sering—memberi mata kuliah sosiologi yang salah satu kaum marxian juga. tapi bukankah seharusnya dosen bersipat netral dalam konteks idiology kampus—jadi memberikan ruang kaum “kanan-fundamental” untuk memberikan antitesanya terhadap kritik “kaum kiri” apabila pak dosen yang tak bersifat netral bagaimana menciptakan iklim kelas yang demokratis. “Pak dosen yang terhormat jangan terlalu sering melakukan doktrinisasi”. Ujar mahasiswa yang ikut komunitas Hizbuhtahrir. Bapak dosen seharusnya sebagai mediator saja ya pak, tesis dan antitesis itu—adalah hal kemutlakkan dalam konteks idiology alias bumbu penyedab (khazanah)
Kaum akademisi kampus—acapkali memberikan statement salah-benar dan bahkan memberikan legitimasi “kafir” kepada kaum yang kontras dengan idiology—yang telah mengakar bagi kaum akademisi kampus. Otoritas tuhan—sudah jatuh ketangan kampus. Zaman Marcedes-Benz dan becak ini sudah banyak manusia yang mau jadi tuhan. Jika tuhan banyak otomatis keadilan dan kesejahteraan pasti berjalan—soalnya yang menjaga alam tak lagi satu, tuhan ada dimana-mana, di darat dan di laut.
Tapi di negara setengah presidensil dan setengah parlement ini—dilarang banyak tuhan. Megapa? Mungkin negara kita ini senang dengan kekacauan, pembunuhan. Oleh sebab itu tuhan di larang di negeri setengah jadi ini.
Tuhan sangat abstrak, imanent, transendent—oleh karna itu tuhan tidak akan perna nampak di negeri ini—baik itu lewat prilaku orang yang bertuhan maupun yang tidak bertuhan. negeri ini pun soal bertuhan pun masih binggung. So, wajar jika kemudian kita adalah orang-orang yang tidak jelas.
Saya sebagai warga negara yang bodoh ini ingin mengatakan kepada bapak-bapak kepala negara yang sedang duduk di kursi pemerinthan sambil mengisap eskrim—yang semakin mencair, apabila bapak atau ibuk—menjalankan amat rakyat “ojo neko-neko. Nek kerjo yang jujur;orak ngapusi”

Tidak ada komentar: