Jumat, Desember 03, 2010

bujang tan domang

BERCERMIN PADA TRADISI LISAN

TENTANG NYANYIAN PANJANG

BUJANG TAN DOMANG

Ignas Kleden

Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang adalah sebuah prosa liris yang sangat panjang, yang secara tradisional di tuturkan secara lisan di antara orang Petalangan, suku asli Riau yang hidup di empat kecamatan di Kabupaten Kampar. Empat kecamatan tersebut adalah Pengkalankuras, Bunut, Langgam dan Kualakampar.

Panjangnya prosa liris dapat di bayangkan setelah direkam oleh Tenas Effendy, dan di terbitkan dalam bentuk buku, hasil kerja sama Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) The Toyota Foundation dan Yayasan Bentang Budaya, tahun 1997. Rekaman di terbitkan dalam dua bahasa , yaitu bahas Petalangan dan terjemahan bahasa Indonesia setebal 715 halaman (format 15,5 cm x24 cm). jadi naskahnya sendiri panjangnya kira-kira 357 halaman, yang secara tradisional di tuturkan secara lengkap oleh penutur yang di kenal sebagai Pembilang Tombo, yang menghapal teks sepanjang itu di luar kepala.

Tombo adalah cerita yang berisikan tradisi suatu suku. Mereka yang tidak mempunyai tombo dianggap tidak jelas asal-usulnya. Di bekas kerajaan Palalawan dahulu terdapat 14 suku orang Petalangan yang memiliki Tombo, yang dapat berbentuk nyanyian panjang yaitu prosa berirama, atau tombo biasa. Sebaliknya, nyanyian panjang atau prosa liris ini ada yang berisikan tombo dan ada pula yang bervariasi isinya. Naskah yang di kumpulkan oleh Tenas Effendy ini merupakan rekaman nyayian panjang yang berisi tombo, yang di teliti di dua desa utama, yaitu Desa Betung, dan Desa Talau. Nyayian Panjang Bujang Tan Domang adalah prosa liris yang berisikan tombo dari suku Monti raja (atau sialang kawan) di Desa betung, kecamatan Pengkalankuras, Kabupaten Kampar. Ada beberapa sebab mengapa tembo ini yang di pilih. Pertama, karena Monti Raja dituakan oleh batin-batin (kepala suku) lainnya. Kedua, tombo Monti Raja, menurut pengakuan para tetua adat, dianggap paling lengkap dibandingkan dengan tombo lainnya. Penghormatan kepada tombo ini nyata, antara lain dari digunakannya nama tokoh utama tombo ini yaitu, Bujang Tan Domang Serail, atau di kenal juga sebagai Datuk Demang Serail, sebagai nama Balai pertemuan di ibu kota Kecamatan Pengkalankuras.

Rekaman seperti ini, dilihat dalam konteks sekarang, mempunyai kepentingan yang jauh lebih luas dari sekedar penelitian filology. Orang-orang muda yang dapat menghapalk tradisi lisan semakin jarang. Dan tradisi terancam punah kalau tidak dilakukan usaha perekaman. Namun, usaha seperti ini buklanlah sekedar ikhtiar melestarikan suatu warisan yang segera hilang, tetapi memberikan pelbagai dimensi baru dalam pengertian dan apresiasi tentang apa yang dikenal sebagai kebudayaan tradisional.

Masuknya modernisasi, dan dikotomi yang biasanya dibuat antara modern dan tradisional, menyebabkan penghargaan tradisi jauh dari yang sepantasnya. Bahkan pemikir kebudayaan di Indonesia sekaliber Sutan Takdir alisjahbana, pernah menyebut kebudayaan tradisional (dengan Borobudur sebagai contoh yang sering diajukannya.) sebagai kebudayaan dari zaman jahiliyah. Penilaian itu, di lihat dalam retrospeksi, lebih menunjukkan kekaguman kepada apa yang dibayangkan sebagai modernitas, dan bukannya suatu pengertian yang memadai tentang kompleksitas dan kekayaan kebudayaan tradisional, yang banyak unsurnya tetap relevan bahkan pada masa yang paling modern pun. Lebih dari itu, semakin disadari berbagai kontradiksi dalam kebudayaan modern, khususnya dalam kebudayaan industry, telah dipecahkan dengan cara yang relative memuaskan, justru dengan cara tradisional.

Nyayian panjang Bujang Tan Domang dapat diambil sebagai sebuah kasus yang menarik dan penting untuk soal ini. Prosa liris ini praktis mempunyai tiga pungsi utama untuk masyarakat Petalangan.

Pertama, ia berfungsi sebagai sebuah sumber sejarah buat suatu suku. Tentu saja sejarah disini tidak patut dipahami sebagai histriografi kritis dan akademis, tetapi sebagai sebuah rujukan yang mencukupi bagi keperluan suatu suku, tentang siapa yang menjadi orang pertama yang datang ke daerah itu dan kemudian menjadi nenek-moyang suatu suku, dari mana asal-usulnya, dan siapa saja yang menjadi keturunannya.

Demikianlah, pemilik tombo ini menganggap diri meraka berasal dari seoarang raja di Kerajaan Johor bernama Raja Alam. Sang raja menikah dengan putri Mayang dan melahir dua putri satu orang putra. Kedua putri bernama Putri Embun Putih dan Putri Lindung Bulan, sedangkan sang putra bernama Bujang Tan Domang. Raja alam dan permaisurinya dilarikan oleh raja Garuda ke kerajaan langit. Ketiga anak baginda pergi mencari orangtua mereka. Putri Embun Putih kemudian dinikahi oleh Raja Patih. Putri lindung Bulan diculik oleh raja Cina. Sementara itu Bujang Tan Domang dalam pengembaraannya berguru dan mencari ilmu kepada segala orang pandai. Dengan kesaktiannya dia berhasil merebut kembali saudarinya, Putri Lindung Bulan dari Cina dan sanggup merebut orang tuanya dari Kerajaan Langit setelah mengalahkan Raja Garuda. Setelah itu Bujang Tan Domang melayari sungai Kampar, mengalahkan beberapa raja zalim, mengunjungi mahluk halus yang disebut Bunyian, memberi nama kepada beberapa tempat yang akan diserah kan kepada keturunannya, memperistri Putri Sri Gading dan akhirnya menetap di Sialang Kawan dan mendirikan kerajaan baru di temapt itu.

Kedua, Tombo ini berfungsi sebagai dokumen hukum. Di dalamnya disebut batas-batas tanah, jenis-jenis tanah dan hutan, hak dan kewajiban yang harus dijalankan oleh anggota suku, dan sangsi terhadap pelbagai pelanggaran. Adapun hutan-hutan yang ada dibagi kedalam empat kelompok. Masing-masingnya adalah Tanah Kampung yang menjadi tempat permukiman, Tanah Peladang yaitu tempat dilakukan peladangan berpindah-pindah, Tanah Dusun yang menjadi tempat berkebun, khususnya untuk tanaman keras dan tanah cadangan untuk tempat tinggal, dan Rimba Larangan yang dalam istilah sekarang dapat disebut hutan lindung, yang tidak boleh digarap. Rimba larangan ini terdapat dua jenis, yaitu Rimba Kepungan sialang yaitu tempat tumbuh pohon Sialang tempat Lebah bersarang, dan Rimba Simpanan tempat hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan, yang menjadi sumber utama untuk obat-obatan tradisional. Dalam istilah sekarang tempat ini dijaga dan dirawat sebagai sumber keanekaragaman hayati (biodiversity.

Pedoman-pedoman tentang penggunaan hutan ditetapkan dengan teliti. Tentang menebang pohon di uraikan apa yang boleh ditebang, seberapa banyak, dan apa yang pantang di tebang.

Tebang tidak merusakkan

Tebang tidak membinasakan

Tebang tidak menghabiskan

Tebang menutup aib malu

Tebang membuat rumah tangga

Membuat balai dengan istana

Membuat madrasah dengan alatnya.

Tentang pantangan dalam menebang dikatakan

Pantang menebang kayu tunggal

Pantang menebanmg kayu berbunga

Pantang menebang kayu berbuah

Pantang menebang kayu seminai

……….

Pantang menebang induk guharu

Pantang menabang induk kemenyan

Pantak menebang induk dammar

………

Kalau menebang berhingga-hingga



Kalau saja pemegang HPH sedikit meluangkan waktu membaca tombo ini sebeluim memulai usahanya, mereka mungkin tidak akan diyakinkan untuk cukup “ menebang berhingga-hingga”, tetapi meraka pasti dapat diyakinkan bahwa penduduk setempat yang sering dianggap bodoh tidak lah sedungu sebagai mana sering diperkirakan, melainkan menyimpan pelbagai kebijaksanaan lingkungan yang kemudian dibela oleh para pejuang lingkungan hidup. Prisnsip-prinsip yang dirumuskan Rio atau dimanapun telah beratus tahun telah dijalankan dengan setia oleh penduduk Petalangan dan mungkin penduduk dalam berbagai komunitas tradisional lainnya.

Ketiga, sebagai “buku hokum” , tombo juga berfungsi sebagai kumpulan ajaran-ajaran moral yang wajb diikuti oleh anggota suku. Istilah asli untuk code of conduc ini dikalangan orang Petalangan adalah Tunjuk Ajar. Yang unik disini ialah bahwa berbagai kelakuan manusi dilukiskan dan diuraikan dalam perbandingan dengan apa yang terdapat dalam alam, yang terlihat pada pohon dan tanaman, atau yang diamati dari tingkah laku binatang-binatang. Mungkin para pemikir modern akan memandang sebelah mata kepada kode etik seperti ini dan menyebut dengan sedikit menghina sebagai suatu naturalisme primitif. Sekalipun demikian, dipandang dari segi lainnya, pandangan ini memberikan suatu alternatif kepada anthropology konvensional yang memberiak tempat yang terlalu utama kepada manusia sebagai mahluk tertinggi dalam alam. Patutlah di ingat dalam kaitan ini bahwa evolusi biologis suka membuktikan bahwa dari hewan yang lebih rendah terhadap perkembangan kemudian muncul perkembangan hewan pada tahap yang lebih tinggi, misalnya pada mamalia, dan selanjutnya muncul mahluk yang sekarang di kenal dengan manusia. Sekalipun demikian, evolusi moral menunjukkan dengan pelbagai bukti nyata (perang duniua, genoside, atau pembunuhan dan kekerasan politik seperti halnya di Indonesia sekarang), bahwa manusia lebih sering merosot menjadi lebih rendah dari pada hewan dalam tingkahla kunya, pada titik itulah, lebih bermafaat melihat manusia dalam solidaritas dengan mahluk-mahluk lainnya di ala mini daripada mengklaim secara angkuh bahwa dialah penguasa yang berhak mengelolah dan mengerjakan segala apa yang ada dalam alam ini menurut akal budinya, yang sering ternyata tidak waras. Tombo orang Petalangan dengan baiknya menunjukkan bahwa tanaman dan pepohonan, hewan melata tau berkaki empat, bisa menjadi “Guru” yang memberikan “Tunjuk Ajar” tentang bagaimana manusia berlaku terhadap sesamanya.

Tengoklah kayu di rimba

Ada yang besar ada yang kecil

Ada yang lurus ada yang bengkok

Ada yang berpilin memanjat kawan

Ada yang dihimpit oleh kayu lain

Ada yang licin ada yang berbongkol

Ada yang tegak ada yang condong

Ada yang hidup ada yang mati

Ada yang berduri ada yang tidak

Ada yang bergetah ada yang tidak

Ada yang berbuah ada yang tidak

……….

Beragam-ragam kayu di rimba

Beragam pula hidup manusia



Keserakahan dan keugaharian dalam hidup dapat di pelajari dengan sempurna dari kelakuan burung enggang dan burung pipit.

Makan jangan menghabiskan

Minum jangan mengeringkan

Makanan enggang tak tertelan oleh pipit

Makanan pipit jangan dihabiskan enggang

Itulah hidup bertenggangan

Hidup senasip sepenangungan



Demikian pula waktu manusia yang ingat diri atau yang menenggang oaring lain dilukiskan dengan plastis dan indah berdasarkan pengamatan terhadap dunia binatang.

Beribu banyak manusia

Beribu pula banyak ragamnya

Begitu pula dengan binatang rimba

Baik juga dibuat contoh

Ada yang garang ada yang penakut

Ada yang memakan emak dan bapak

Ada yang memakan bangkai kawan

Ada yang menggigit ada yang mencatuk

Ada yang mengerkah ada yang membela

Ada yang berkawan ada yang tunggal

…………

Ada yang hidup suka berkubang

Ada pula di atas kayu

Ada yang terbang ada yang merangkak

Bermacam pula perangainya

Begitu pula sifat manusia.

Ini tidak berarti bahwa dalam Tombo tidak ada penunjuk tegas yang langsung di tunjuk tegas yang langsung ditunjukan kepada manusia tanpa rujukan kepada alam. Bila di rasa perlu Tombo menampilkan ketegasan moral dengan artikulasi yang jelas, yang tidak memungkinkan ambivalensi atau salah pengertian. Kritik dan peringatan kepada orang berhati culas dan yang hanya ingat dirinya, dikemukakan tanpa tedeng aling-aling

Orang pendengki mati berdiri

Orang khianat mati terlaknat

Orang pembohong mati tercampak

Orang sombong mati gembung

Orang tamak mati bengkak

Sebaliknya, batas antara keberanian dan kecerobohan, atau pun garis antara sikap-hati-hati dan sikap penakut, atau perbedaan antara kerendahan hati yang sebenarnya dan kepura-puraan ditetapkan dengan relative jelas:

Kalau duduk di tepi-tepi

Tapi jangan ke tepi sangat

Nanti tercampak ke pelimbahan

Kalau bercakap di bawah-bawah

Tapi jangan ke bawah sangat

Nanti mati di pijak gajah

Kalau mandi di hilir-hilir

Tetapi jangan kehilir sangat

Nanti hanyut ditelan gelombang

Seluruh moralitas dank ode etik orang Petalangan ini oleh Tenas Effendy telah diringkas menjadi sepuluh perangkat nilai yang utama.

1. Kerukunan adalah suatu azas dasar . prinsip ini dirumuskan sebagai pedoman yang—untuk situasi politik Indonesia sekarang, dapat dipegang oleh berbagai golongan di tanag air pada saat ini:

Sama saudara pelihara-memelihara

Sama sahabat ingat mengingat

Sama sesuku bantu-membantu

Sama sebangsa rasa-merasa

1. Mufakat merupakan cara untuk mencapai consensus secara demokratis

Kalau tumbuh silang sengketa

Sebelum hukum dijatuhkan

Diusut dahulu baik-baik

Carilah sebab mula asalnya

Tilik duduk dengan tegaknya

Salah besar di perkecil

Salah kecil dihabisi

1. Keadilan dirumuskan sebagai kesanggupan untuk tidak memicingkan mata terhadap kesalahan yang sudah jelas di depan mata.

Menimbang sama beratnya

Menyukat sama takarnya

Mengukur sama panjangnya

1. Memegang adat berarti

Adat dijunjung lembaga disanjung

Pusaka sama dijaga

……….

Kalau hidup tidak beradat

Di situlah tanda akan kiamat.

(sampai disini saya tak dapat menahan diri untuk mengutip adagium dari seorang sejarawan dan sastrawan inggris abad ke-19 Thomas caryle yang berujar “ swerving from our fathers’ rules is calling our fathers fools”



1. Gotong royong, yang dilukiskan sebagai suatu partisipasi aktif baik dalam kelebihan maupun kekurangan.

Kalau berlebih beri-memberi

Kalau kurang isi-mengisi

Kalau sempit sama berhimpit

Kalau lapang sama melenggang

1. Kesetiaan, yang menyebabkan seorang dapat di pegang ucapanya oleh orang lain

Bercakap jangan mengulum lidah

Berkata jangan bercabang lidah

Pepat di luar pepat di dalam

Runcing di luar runcing di dalam.

1. Tahu diri, yaitu kesanggupan untuk menempatkan diri dengan benar dalam hubungan dengan orang lain

Tahu baik dengan buruk

Tahu hak dengan kewajiban

Tahu beban yang kalian pikul

Tahu beban yang kalian bayar.

…….

Tahu hormat pada orang tua

Tahu sayang pada yang muda

Tahu kasih sama sebaya

1. Sikap tidak mencari musuh, yaitu kesanggupan untuk tidak menjelek-jelekkan orang lain.

Buruk orang jangan dicari

Malu orang jangan disingkap

Aib orang jangan dibuka

Kurang orang jangan dijajakan

1. Kerendahan hati, yaitu kesanggupan untuk melihat kelemahan dan keterbatasan diri, dan berusaha mengatasinya.

Bodoh jangan malu berguru

Sesat jangan malu bertanya

Salah cepat meminta maaf

Berdosa cepat memintah ampun

10. Kesabaran dan percaya diri akan membuat seseorang seimbang dalam segala perilakunya.

Teguh pada keyakinan awak

Berfikir dengan jernih

Tegak dengan pemandangan jauh

Duduk dengan hati lapang

Beberapa contoh yang diberikan di sini dapat menunjukkan bagaimana suatu suku yang selama Orde Baru dinyatakan sebagai suku yang amat miskin, mempunyai pedoman kehidupan masyarakat yang demikian rapi, yang secara tradisional, dapat di pastikan, sanggup memberikan kesejahteraan hidup yang relatif merata untuk semua nggota sukunya. Memang, pada tahun 1978 telah di lakukan penelitian tentang penentuan lokasi daerah miskin di Propinsi Riau oleh Derektorat Tata Guna Tanah, Derktoral Jendral Agraria,Departemen Dalam Negeri. Di temukan antara lain bahwa kehidupan penduduk harus di kategorikan sebagai miskin sekali, dengan pendapatan per kepala Rp.29.683. dari tanah suku itu seluas 172.475 ha hanya 4.12 ha yang dianggap sebagai tanah dengan kepemilikan sah. Selebihnya dianggap sebagai tanah Negara.

Persoalan yang tidak pernah diajukan dengan terus terang ialah mengapa penduduk di sana menjadi sedemikian miskin? Jawabannya yang bertahun-tahun didiamkan ialah karena mereka dicopot dari sumber kehidupan ekonomi dan sumber kekayaan budayannyayaitu hutan, sungai, bukit dan tanah-tanah meraka yang harus di serahkan kepada pengusaha perkebunan besar dan pemegang PHP. Usaha Kelapa Sawit yang dikembangkan di Daerah itu, jelas sukar mengintegrasikan penduduk setempat sebagai tenaga kerja karena secara tradisional mereka tidak mengenal tanaman tersebut. Pemerintah daerah telah mencoba menyelamatkan hutan dan member perlindungan kepada alam di sana dengan SI Gubernur Riau No. Kpts. 118/IX/ 1972, pada 18 september 1972, akan tetapi ketetapan itu sama sekali tidak diperhatikan oleh para pengusaha perkebunan.

Akaibatnya penduduk kehilangan hutan mereka, kehilangan tanah dan batas tanah-tanah yang untuk mereka sendiri amat jelas selama ratusan tahun. Bukan itu saja, mereka juga kehilangan referensi utama dari kehidupan budaya dan kehidupan moral mereka. Tidak ada lagi pohon-pohon yang selama itu menjadi petunjuk tentang tingkah laku mereka. Tidak ada lagi burung enggang dan pipit yang selalu memperingatkan meraka tentang bahanyanya keserakahan dan pentingnya keugaharian dalam hidup bermasyarakat meraka. Terjadi pemeralatan secara ekonomi dan sekaligus pemiskinan secara budaya .

Proses itu menyebabkan pula bahwa perhatian kepada tombo menjadi berkurang. Karena batas-batas tanah dan hutan yang disebut dalam tombo dan nyanyian panjang telah diratakan oleh traktor dan alat-alat berat lainnya. Orang tidak dapat lagi mendengar tombok untuk mendapatkan tunjuk ajar karena pohon dan binatang yang menjadi rujukannya sudah kehilangan habitat, mati atu berpindah ketempat lainnya.

kina

KINA.
Ada sebuah cerita rakyat di salah satu Desa di Propinsi Jambi tepatnya di Desa Terusan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. Desa yang 78 km dari pusat pemerintahan Jambi ini, memiliki sebuah cerita rakyat yang puluhan bahkan ratusan tahun masih mewarnai kehidupan masyarakat Terusan sampai saat ini. Desa yang berpenduduk lebih kurang lima ribu jiwa ini, masih mewarisi cerita rakyat sebagai pembelajaran (Education) bagi setiap generasi muda, terutama anak-anak perempuan. agar tetap patuh kepada kedua orang tua, dan sebagai nasihat sekaligus peringatan kepada anak-anak, agar jangan keluar malam— pada waktu yang di larang oleh orang tuanya.
Alkisah, Kina adalah seorang wanita yang cantik, tubuhnya putih, mulus dan tak satu bakat luka pun menenpel di tubuhnya. Conon, sangking cantiknya sejenis mahluk halus (Dewa) menculiknya untuk dijadikan istri.




seperti biasanya masyarakat terusan yang notabenenya petani melakoni rutinitasnya sebagai petani, tak kecuali keluarga kina. Sewaktu Kina bersama keluarganya selesai menanam padi di sawah—mereka pulang dengan menyebrangi sungai Batanghari dengan perahu, sawah keluarga Kina berada di desa seberang. Yang sekarang disebut Terusan Pasar atau Terusan Seberang. ada yang mengatakan isi perahu itu, “tiga orang” dan ada juga yang mengatakan “lima orang”. Yang jelas, Tempat duduk Kina di tengah, di belakang mak (ibu) dan di depan abah (ayah). Posisi Kina sebagai pembuang air dalam perahu tersebut, atau dalam bahasa Terusan disebut Penimbo. Di perjalanan atau lebih tepatnya di tengah sungai Batanghari, tiba-tiba Kina hilang tak tahu kemana, air sungai dalam keadaan tenang—air tak menunjukkan kina jatuh kesungai, karna tak ada bekas gelombang satu pun yang menunjukkan kina jatuh kesungai. Keluarganya pun panik, melihat Kina hilang secara mendadak, dan keluarga pun bergegas menuju ketepi sungai, mereka lalu menceritakan kepada masyarakat, dan perangkat Desa. Mendengar cerita yang disampaikan orangtuanya. Masyarakat pun bergegas mencari Kina yang hilang dengan mistis tersebut.
Hari demi hari dan bulan demi bulan, Kina tak muncul-muncul kepermukaan Batanghari—hulu dan hilir telah masyarakat telusuri untuk mencari jasad Kina, dan tak sedikit masyarakat menggunakan tenaga paranormal atau dukun sakti untuk mengetahui keberadaan kina. Abra-katabra yang di lapaz kan sang dukun—tak kunjung membuahkan hasil—dengan terpaksa masyarakat menghentikan pencarian—karna hilangnya kina bersifat mistis—yang tak bisa di ketahui siapa pun.
Dengan k hilangnya kina secara mendadak dan tak dapat di ketahui, masyarakat pun tak berani keluar rumah di malam hari, terutama anak perempuan.
Dua minggu setelah pencarian masyarakat mendengar isu yang sangat menakutkan, ” Kina menjadi manusia setengah Dewa” isu yang menggemparkan warga kampung ini, berasal dari seorang petani, ia melihat kina ketika ia mau pulang dari sawah sekitar pukul 20.10 malam. Kina memintah bantuan kepada petani tersebut, untuk di potongkan urat nadinya, agar ia bisa menjadi manusia utuh lagi. Mendengar perkataan kina tersebut sang petani tambah gemetaran. Boro-boro sang petani berani memotong urat nadi kina; melihat dan mendengar ucapan kina pun ia sudah gemetaran. Sang petani dengan langkah seribuh bergegas pulang ke rumah. Dan menceritakan perihal yang ia lami kepada masyarakat.
Mendengar isu Kina telah menjadi mahluk halus. Masyarakat pun melarang anak-anaknya untuk keluar rumah di malam hari. Agar tak di temui oleh Kina. Isu ini kian menjadi-jadi. Kina akan menjadi manusia seutuhnya apabila ada yang berani memotong urat nadi yang ada di tangan kanannya. Sebagai tanda lepasnya kina dari cengkraman Dewa atau suaminya, jika urat nadi telahnya telah terpotong ia akan menjadi cantik kembali. Siapa yang berani memotong urat nadi ditangan kanannya konon akan dijadikan suaminya, sebagai balas budi Kina terhadap manusia yang telah berani memotong urat nadinya. Akan tetapi, penduduk sangat ketakutan apabila bersua dengan Kina—muka dan bentuk tubuhnya tak seperti ketika ia masih menjadi manusia dulu. Siapa yang memotong urat nadi Kina, juga akan didatangi suami Kina alias Dewa. Hal ini yang membuat masyarakat tak berani memotong urat nadinya.
Mendengar sosok misterius kina—masyarakat sangat ketakutan terutama anak-anak. orang tua sangat melarang anaknya untuk berpergian dimalam hari—kina akan menemuinya ” ujar orang tua kepada anak-ananya”
Cerita rakyat kina hingga hari ini masih kental di ingatan masyarakat Terusan—bahkan pobhia yang berlebihan ketika mendengar nama ”Kina”.
Dari cerita rakyat di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa ada kearifan lokal yang hingga hari ini masih menjadi pandangan hidup (world view) masyarakat; pandangan seperti ini memberikan efek integritas masyarakat Terusan—bagaimana proses menciptakan keselarasan dan menempatkan setiap peran wanita dalam keluarga.
Cerita rakyat yang selalu di warisi setiap generasi ke generasi ini, memberikan suatu proses pembelajaran yang sangat efektif—dengan menggunakan simbol,ritus, dan analogi sederhana, anak-anak terusan dapat memahaminya dengan sangat mudah, sehingga ia dapat menginternalisasikan cerita ini kedalam kehidupanya—sebagai nasihat diri.

Minggu, Agustus 22, 2010

peribahasa melayu

Alah Ikat Kerno Buatan,Alah Pusako Kerno Mufakat
Artinya: “kalah ikat karna buatan, kalah pusako karno mufakat” sesuatu yang sudah koko (misalnya nilai-nilai adat) yang merupakan milik rakyat dapat saja berubah bila ada usaha mengubah dari pihak-pihak tertentu yang tidak menyukainya. Karna itulah sebaiknya generasi penerus waspada dan tanggap terhadap usaha-usaha yang ingin merusak kekokohan adat Negara dan bangsa ini.
Apo digaduh pengayuh samo di tangan biduk samo di Aek.
Artinya: “apa dirisaukan, pendayung sama di tangan, perahu sama di air”. Maknanya siap menerima apapun yang akan terjadi karna sama-sama dalam keadaan sebanding. Gambaran dari betapa buruknya perselisisihan suami isteri yang sebanding keadaannya dan tak satu pun mau mengalah karna sama-sama berasal dari keluarga kaya.
Menurut runut nan terentang sejak bari, menenpuh jalan nan berambah sejak dulu.
Artinya: “ menurut runut yang terbentang sejak permulaan, menenpuh jalan yang berambah sejak dulu”. Nasihat agar mengikuti pedoman adat yang sudah ada (diwariskan nenek moyang), dinilai baik, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pandang aek pandang lah tubo pandang ikan nan kan binaso.
Artinya: “ pandang air pandanglah tuba, pandang ikan yang akan binasa”. Mencari jodoh hendaklah sebanding. Sebagaimana orang menuba yang harus mengetahui perbandingan. Dosis yang tepat dan akan dipakai agar ikan menjadi “mabuk” tetapi tidak samapi mati.
Naik lah dikungkung dahan turun lah di pasung banir.
Artinya:” naik telah dikungkung dahan turun telah di pasung banir”. Jejaka atau gadis yang telah dewasa dan layak berumahg tangga janganlah dibiarkan hidup membujang berkepanjangan, karena dengan berumah tangga mereka dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi tuhan.


Jatuh di tempat nan rato, ayut di arus nan tonang.
Artinya: “ jatuh di tempat rata, hanyut di arus tenang”. Terjadinya malapetaka kadang di luar perhitungan. Biasanya orang kalau sudah merasa amat sering lengah dan apabila terjadi masalah-masalah yang mendadak akan kesulitan mengatasinya.
Orang kayo bertabur urai, orang mulio bertabur budi.
Artinya: “ orang kaya bertabur emas, orang mulia bertabur budi” orang yang berjiwa mulia dapat lebih memberikan kenikmatan batin kepada orang lain. Sebab, orang yang berbudi luhur selalu terbuka memberikan bantuan pada siapa pun yang memerlukan, entah berupa materi, nasehat, atau pemikiran-pemikiran yang bermamfaat.
Bak membolah botung, sebolah diinjak sebolah gi diangkat tinggi-tinggih.
Artinya: “bagaikan membelah bambu betung,sebelah diinjak sebelah lagi di angkat tinggi-tinggi”. Sering digunakan sebagai padanan terhadap ketidakadilan yang diperbuat oleh penguasa atau pemimpin. Terbukti, ada pihak yang sengaja ditekan (dikalahkan), ada pihak yang sengaja diuntungkan (dimenangkan)
Di mano titik di sano ditampung, di mano patah di sano disisip, di manao terbit di sano dituai.
Artinya: “ di mana menetes di sana ditampung, di mana patah di sana disisip, di mana terbit di sana dituai”. Maknanya, jangan terlalu merisaukan persoalan yang akan terjadi.orang hidup selalu menghadapi persoalan, jadi segala macam persoalan bukan untuk dihindari melainkan untuk diatasi.
Tebing runtuh tepian beranjak, tanjung putus teluk beralih.
Artinay: “ tebing runtuh tepian berpindah, tanjung putus teluk beralih”. Mengingatkan kepada semua orang, bahwa setiap kejadian selalu membawa (mengakibatkan) perubahan. Entah kecil entah besar, entah menyakitkan entah membahagiakan, dan orang harus siap menerima sebagaimana adanya.





Adoit Pulei Batingkak Naik, Adoit Manusio Batingkak Turuang.
Artinya: “kebiasaan pulai meningkat naik, kebiasaan manusia meningkat turun”. Pohon pulau makin tua makin tinggi batangnya dan meninggalkan ruas dan buku. Begitu pula manusia, setiap pergantian generasi selalu meninggalkan sesuatu yang menjadi cirinya. Jadi, maknaperibahasa ini adalah: setiap perubahan selalu meninggalkan cirri tertentu.
Bagurau ku nu pandei, ngambaik tuah ku nu manna, ngambaik cuntauh ku nu sudeih.
Artinya: “ berguru pada yang pandai, mengambil tuah kepada yang menang, mengambil contoh kepada yang sudah”. Berguru, mengambil tuah dan contoh hendaknya hati-hati supaya jangan menemui kekeliruan. Karena itu, dalam mempelajari segala sesuatu sebaiknya dilaksanakan secara langsung kepada ahlinya.
Kalo samo tinggi kayau di rimbo mano pulo tampaik angin lalau (MK).
Artinya: “ kalau sam tinggi kayu di rimba (hutan) mana pula tempat angin lalu”. Tinggi rendah kehidupan bukannya saling mempersulit, melaikan saling mendatangkan mamfaat kepada banyak orang. Kaya miskin, besar kecil,laki perempuan, pemimpin rakyat, pembeli pedagang, semua saling terkait satu sama lain dan akan membetuk struktur kehidupan yang saling menguntungkan.

Puji antak ka kawin umpat antak ka cerai.
Artinya: “ puji menjelang ke kawin umpat menjelang ke cerai”. Biasanya orang akan banyak memberikan pujian sanjung untuk mendapatkan yang diinginkan (perempua yang akan dinikahi), tetapi akan berubah menjadi caci-maki menjelang terjadinya perceraian.
Tuauh aya buleih diklaih ku kaki, tuauh manusio mano tahau.
Artinya: “tua ayam boleh dilihat ke kaki,tua manusia mana tau”. Kelebihan orang pada hakikatnya sukar diketahui, apalagi dilihat dengan mata telanjang. Berbedah dengan ayam, seekor ayam jantan (aduan) baik buruknya sering dinilai dari taji, kontruksi badan, kepala dan juga kakinya.
Jantan bapahang telanjang batino baurai tapau.
Artinya: “ laki-laki berparang telanjang perempuan berurai selendang”. Baik laki-laki ataupun perempuan sudah berani menepuk dada (membanggakan diri) itu tandanya moral sudah sangat menurun karena perilaku seperti itumenunjukkan sikap takabur.
Cupak diisei gantei dililit aduek dituhaak.
Artinya: “ cupak diisi gantang diratakan adat diturut”. Kalau berada di suatu daerah maka kita mesti mengikuti adat kebiasaan daerah tersebut. Maksudnya, orang harus dapat menyesuaikan diri dengan adat kebiasaan di daerah tempat tinggalnya agar diterima sebagai bagian dari masyarakat di sana.
Keruh aek dilir prikso di ulunyo, senak aek di ulu prikso di muaronyo.
Artinya: “keruh air di hilir periksa di hulunya, dalam air di hulu periksa muaranya”. Maknanya, usut semua kejadian dengan cermat sambil meneliti tempat dan sebab musabab terjadinya peristiwa itu.
Ganggang Belut Belangon Panjang, jangan Nak Meluncur Aek Di Papan.
Artinya: “ Ganggang belut belang panjang jangan hendak membuang air di papan”. Air yang ditumpahkan ke papan cepat menjalar ke mana-mana. Kaitan maknanya dengan peribahasa ini adalah, jangan memperpanjang persoalan karena akan mengakibatkan masalah-masalah baru yang lebih luas dan kompleks.

Mutiara Kearifan Nusantara
Penerbit: RIAK (Risert Informasi Dan Arsip Kenegaraan) Mangkuyudan MJ III/216 Yogyakarta.
Imam Budhi Satosa

Jumat, Juli 16, 2010

Termehek-mehek

Kemarin sore saya menonton acara reality show disalah satu stasiun televisi swasta. Acara Mintah Tolong. Setelah saya menonton acara tersebut, muncul pertanyaan mengenai acara itu. Acara minta tolong itu pemeran utamanya anak miskin dan memintah pertolongan kepada orang miskin pula, yang menjadi pertanyaan saya mengapa harus orang miskin dan yang memolong orang miskin pula, mengapa tak orang kaya saja yang menjadi penolongnya? Dalam hati saya menjawab; membius penonton dengan moral atau empati public—amat sangat mendatangkan keuntungan. Bahkan bukan orang miskin saja yang menjadi lahan eksploitasi dalam melakoni perannya—agama pun menjadi lahan bisnis yang sangat menguntungkan—dengan terikan ayat-ayat suci. Konsumerisme agama dengan genre-genre baru yang memukau—mendatangkan untung besar.
Menyoal tentang industri media dewasa ini—yang kian hari tak mengenal etika—ukuran moral dilihat dari kaca mata binis. Ketidak tahuan masyarakat—tentang media sekaligus mengaminkan acara yang elok—yang intrumennya dengan pembuaian iklan-iklan—melahirkan legitimitas kolektif. jika tak kolektif atau mayoritas dianggap ketinggalan zaman. Saya menganalogikan degan islam mayoritas penduduk negeri ini—perbedaan interpretasi al-Quran pasti mendapat cap kfir karna bertentangan dengan interpretasi mayoritas atau kolektif…hheheehehe. Kembali kepada inti pembahasan mengenai media, saya teringat Pertanyaan yang dituliskan oleh Agus Sudibyo dalam Majalah Prisma, Edisi Senjakala Kapitalisme Dan Krisis Demokrasi. Bagaimana hubungan antara media dan masyarakat? Apakah masyarakat hanya cukup menjadi penonton pasif bagi industry media? Apakah benar hubungan media dan masyarakat sekedar hubungan produsen dan konsumen? Pertanyaan itu menjadilah sangat urgent untuk dijawab oleh kita semua. Di tengah kedangkalan diskursus mengenai media dan masyarakat saat ini.
Bentukan komunikasi public dalam hal ini media dan masyarakat teory Habermas tentang masyarakat merupakan bentuk partisipatoris untuk menjawab pertayaan-pertanyaan diatas, dalam bukunya The Theory of Comunicative Action. Habermas memandang Evolusi social sebagai differensiasis social yang melahirkan dua entitas; system dan dunia kehidupan. Pertama, dunia kehidupan adalah mengenai kepercayaan, keyakinan moral dan pandangan dunia yang mendasari proses komunikasi. Rasionalitas kehidupan adalah rasionalitas comunicatif, singkatnya setiap individu tumbuh kedewasaan emosionalnya dengan proses interaksi dan komunikasi satu dengan yang lainnya (realitas social). Kedua, system adalah pelbagai intitusi yang mengatur peraturan-peraturan social. Kompleksitas masyarakat mengisaratkan adanya tematisasi, sistematisasi dan regulasi—sehingga melahirkan ulitarianism public yang berkeadilan dan egaliter. Realitas system: berkaitan dengan rasionalitas sasaran, yakni proses menjalankan kehidupan bersama dalam keberaturan. “sistem” merujuk pada system ekonomi dan birokrasi-pemerintahan. Sedangakan konsep “dunia kehidupan” mencakup subjektif, objektif dan social—merujuk pada ranah budaya, masyarakat individualitas. Dengan defferensiasi sedemikian rupa—kompleksitas system dan rasionalitas dunia kehidupan berkembang bersama dan saling berkaitan.
Dalam konteks Indonesia sekarang kenyataannya system dan rasionalitas kehidupan tidak pernah memberikan jawaban adanya keterkaitan kedua entitas itu, rasionalitas comunicatif diganti menjadi rasionalitas sasaran. Persoalan ini mengisaratkan bahwa tujuan-tujuan comunikasi public dalam hal ini media—benar-benar hubungan konsumen dan produsen. Artinya media hanya berbicara profit- laba. Tanpa pernah berpikir membagun karakter (karakter building) dan mencerdaskan kehidupan Bangsa, dan yang lebih paranya lagi adalah program-program penyiaran menjadi alat pembodohan massal bagi masyarakat. Seperti acara Sinetron, horor, realty show, ajang calon para bintang dan masih banyak lagi. Setingan pemodal benar-benar menciptakan fragmentaris sosial.
Jelaslah bahwa, suasif media melakukan pemerkosaan terhadap masyarakat—yang amat rentan terdistorsi—karna dilatar belakangi “logika produktif”. Mestinya tidak semua media penyiaran diserahkan kepada imperative-imperatif bisnis dan idiologisasi (pemarintah).
Kita mesti mendefenisikan ulang kata imperatif bisnis dan idiologisasi, jika imperatif bisnis adalah kapital dan kapital jelas tak mau rugi; kemudian kata idiologisasi, dalam konteks komunikasi public (media) adalah pemerintah dan pemrintah adalah birokrasi yang korup. Lalu bagaimana regulasi komunikasi paublic jika swasta dan negara memiliki kepentingan-kepentingan dari setiap aspek pembehasan. Dari setiap kepentingan—untuk mencapainya, pelbagai cara yang dilakukan tanpa melihat efek yang akan ditimbulkan dari kepentingan-kepentingan tersebut.
Seharusnya beberapa aspek pengaturan penyiaran diserahkan kepada perspektif masyarakat dengan diskursus—yang melahirkan legitimed. Exsistensi media dalam bermasyarakat—merupakan bentuk dari cumunikasi public, bukan hanya sekedar figurasi, reality-show dan talk-show yang sepenuhnya mewarnai komunikasi masyarakat dengan cara ekonomi pasar (uang) dan birokrasi-pemerintahan.

Rabu, Februari 03, 2010

6 Dan 9 Hari Poligami


Malam itu telingaku di pekakkan dengan suara jeritan manusia yang mengeluhkan kesakitan kepada Dokter. Ntah apa yang di keluhkannya. Semut dan Kecoak bermain dialas putih lambang kedinginan itu, gedung yang di hiasi simbol ormas islam diwarnai teriakkan Kalamullah logo sakit mu; sehat lupakan nikmat-Nya, baik buruk mu tak ku hiraukan scenario hidupmu. Pukul menunjukkan 2.20 detik-detik mendongengkan cerita memaksa mataku untuk segera tidur; pensil dan buku selalu mengajak ku untuk bermain hingga huruf-huruf menjadi hidup. Ku abaikan suara teriakan kesakitan manusia yang mendogengkan perasaannya pada manusia yang menemaninya—iblis-iblis kesakitan merayap ke sekujur badan.

Majalah Tempo 18-24 Desember 2006 edisi khusus hari Ibu dengan bertema Bukan Perempuan Biasa, menemaniku menghabiskan kesunyian. Aku tak tahu manusia aneh itu tak terdengar lagi keluh kesah nya. Mungkin sudah mendapatkan celotehan mujarap dari Dokter—atau nyeyak dengan perjalanan mimpi nya menengok keindahan patung liberty.

Suara Azan memanggil ku untuk melepaskan pensil dan majalah itu—setan sedang duduk disamping ku tertawa dengan tingkah ku yang benar menurut hukum baiknya. Pukul 6.10 mata mulai tak bersahabat mengajakku menemaninya melihat artis seksi Julia Perez, ku lihat muka saudara ku tidur dengan lambang kesakitan, membuat mata ini segan menjadi egois

Buk Murjimah keluar dari tabir biru skat-skat pembatas kamar. Senyum setia seorang istri di bagi-bagi keruang public. Ku lihat Mu’kenah di tagan halusnya, tangan kesempuraan seorang istri merawat suami yang mengadopsi struk dan jantung. Sebelum ia menjalan kan ritualnya sebagai muslimah, ia bercerita padaku “ sebelumnya suami saya 6 hari di rumah sakit ini dan sekarang masuk lagi, sudah memasuki hari ke 9”. Ia bergegas sholat subuh waktu mengejarnya bak kuda liar, ku lihat ia berdo’a, ntah apa yang di kontrak antara ia dengan Tuhan-Nya.

Ku ingat majalah Tempo yang ku baca semalam “Dalam Jebakan Sistem Maskulin” tulisan Nursyahbani Katjasungkana. “ secara normatif, kaum perempuan kita terjapit. Undang-Undang perkawinan bahkan memberikan peluang kepada suami untuk berpoligami sampai empat istri, jika istri tak mampu melahirkan anak, sakit terus-menerus sehingga tak dapat memberikan pelayanan seksual serta tak mampu menjadi ibu dan istri yang baik, menurut ukuran suami dan pengadilan”.

Ku teringat Buk Murjimah yang sebaliknya terjadi dalam arus rumah tangga nya. Tuntutan sebagi seorang istri tak pernah dilayangkannya. Agustus 1900 R.A. Kartini pernah menulis surat kepada Nyonya Abendanon “ sebagai manusia sorang diri saya tak mampu melawan kejahatan berukuran raksasa itu, dan yang-aduh, alangkah kejamnya, dilindungi oleh ajaran Islam dan dihidupi oleh kebodohan perempuan, kurbannya”. Aku binggung seakan-akan islam tidak mengajarkan ke-adil-an, atau Islam hanya di interfretasikan sebagai jawaban dari kebutuhan kaum Adam.

“Apakah adil itu cicak yang kita tangkap selalu ekornya”.

Frofanisasi Agama Dalam Ranah Social


Dalam perubahan-perubahan social yang terjadi

agama diharapkan berdiri paling depan.

Akan tetapi kebanyakan agama jalan ditempat sementara zaman berlari sangat cepat (Running away).

Nilai-nilai humanisme universal agama bukan hanya bentuk spiritual semata yang terrealisasi dalam bentuk penyembahan terhadap tuhan. Akan tetapi, agama mewadahi segala bentuk amalan-amalan—berdampak bagi kemaslahatan ummat—itulah bentuk subtansi dari agama yang riil.

Sejarah membuktikan conflik berkepanjangan umat islam dilatar belakangi politik praksis yang mengakar kepada umat islam. Agama menjadi ajang politisasi —untuk kepentingan golongan tertentu. Bahkan agama sebagai legitamsi untuk menghalalkan gerak-gerik politiknya. Penomena seperti ini yang kemudian masyarakat apatis terhadap persoalan agama yang hari ini terjadi. Etika komunikasi politik yang dibangun para politisi dengan dalil-dalil agama inilah yang kemudian berdampak sistemik dan ketidak percayaan masyarakat lagi terhadap norma-norma yang berlaku dalam agama. Bahkan yang lebih para lagi ketidak perecayaan ini mengakibatkan munculnnya aliran-aliran baru—yang itu bisa menjembatani keresahan yang terjadi pada dirinya. Seperti, Lia eden, Santo Aji, dan masih banyak lagi—kondisi fluktuasi yang diberikan agamawan kepada masyarakat

jika kita berromantisme sejarah yang terjadi abad pertengahan Eropa atau yang lebih dikenal dengan abad kegelapan (Dark Age), ilmu pengetahuan hanya dimonopoli kaum gereja tanpa ada penyebarluasan gagasan kepada masyarakat. Kemudian muncul keresahan ilmuan-ilmuan yang menentang hegemoni gereja, seperti Nikolaus Kopernikus, Johanes Kepler dan Galileo Galilei—inilah mulai sejarah sekulerisme Eropa. Ilmu hanya dimiliki kaum gereja dengan membawah symbol-simbol agama—tidak mengakar kepada kepentingan rakyat.

Lain halnya yang terjadi di Amerika abad ke-17 dan 18. ketika ada proses tranformasi secara radikal yang dilakuka aliran Puritanisme—untuk mengembalikan azas-azas agama yang sebenarnya (salafl)—dan tidak menerimah arus modern atau perubahan zaman yang terjadi. Inilah yang kemudian melatarbelakangi masyarakat tak percaya terhadap agama. Seperti aliran Deisme yang tak percaya sama sekali terhadap agama, Agama sebagai pengrusak tatanan ketuhanan. akan tetapi, mereka percaya terhadap tuhan. Hampir sama yang terjadi di timur, kaum Wahabbi yang dimotori oleh Muhammad Wahab. Kaum ini juga tidak menerimah arus modern, mereka mengangap pintu ijtihad telah tertutup. Aliran ini menganjurkan kita untuk kembali ke tradisionalisme agama yang dicetuskan Nabi tanpa melihat konteks social yang terjadi.

Dengan progresnya perubahan-perubahan zaman—ajaran agama dalam bahasa zaman akan membuat ajaran agama menjadi hapalan suci yang barang kali amat dikuasai alias luar kepala tetapi tidak mengakar pada kepentingan social yang kongkrit.

Dalam perubahan-perubahan social yang terjadi agama diharapkan berdiri di ujung paling depan. Akan tetapi kebanyakan agama jalan ditempat sementara zaman berlari sangat cepat (Running away). Pake speedy nyusul..hehehehe

Developer Dan Kyai

Kemarin saya baca buku poto copy sejarah pergerakkan Indonesia..Buku kolot tersebut hampir selesai saya baca, saya tidak tau benar atau salah isi buku tersebut karna, tidak ada label penerbit dan nama penulisnya. Lembar demi lembar saya baca. namun yang paling membuat saya kaget ketika saya memasuki paragraf ke 3 lembaran ketuju kebetulan buku poto copynya juga tidak punya halaman (hehehe). Menceritakan mahasiswa Surabya yang meng-advokasi tanah rakyat yang diserobot Developer—menjadi tidak bisa berbuat apa-apa ketika develop menggunakan kekuatan Kharisma Kyai untuk menjalankan rencananya—dari masyarakat agraris ke masyrakat industrialisasi eksploitatif.

Jika pertiwa itu benar-benar terjadi hanya satu kata yang saya ucapkan kepada Kyai tersebut. (bajingan) Dengan membawah symbol-simbol agama merka sangat mudah mengekploitasi masyarkat.

Kyai Dan Bid’ah Agama

Kemarin malam saya pinjam majalah Gong teman, tepatnya hari rabu malam kamis tanggal 13 Januari 2010. majalah Gong tersebut menceritakan tetang kebudayaan masyarakat yang kian hari kian meredup karna arus modernisasi yang dihantam masyarakat global—seharusnya ada filter masyarakat local untuk penghambat arus globalisasi dalam konteks budaya. Eh..eh..eh Bagaimana mau menjaga budaya masyarakat (cultural survival) ternyata Kyai-kyai local ikut-ikutan mengharamkan budaya masyarakat setempat dengan Bid’ah agama Seperti yang terjadi di Banyuwangi ritual Sedekah Bumi. Ulamanya berujar “ sedakah bumi itu pemborosan dan juga syirik agama kita tidak pernah mengajarkan seperti itu” artinya apa, ulama juga tidak memahami yang mana space agama dan yang mana space budaya.

Kebetulan saya juga perna menjadi santri di pondok pasantren di Jambi. Saya tau sedikt tentang agama alias tak bodoh-bodoh amat (Lagak lho kayak ilmuan aja.) secara etimologis kata Ulama itu berasal dari kata alama-yu’allimu yang artinya Orang yang berilmu, lalu kok bisa mengharamkan budaya masyarakat atau bahkan ilmu nya mendalam (agama) tapi idak meluas (multidisipliner).

“Al-Quran merupakan ajaran yang validitas kebenarannya dalam segala bidang. Dalam metodelogy interpretasi Al-Quran—seharusnya diperlukan teory kontemporer untuk memahami seluk beluk Al-Quran tersebut.

Adanya pemahaman kontemporer terhadap Al-Quran—tidak akan menyebabkan pemikiran kaum muslimin membusuk dan bahkan terhindar dari fanatisme terhadap mazhab. Al-Qur’an selalu berdialektika dengan social masyarakat.

Humanus (Manusiawi) Bukan Sekedar Species-Nya Melainkan Genius-Nya