Rabu, Februari 03, 2010

Frofanisasi Agama Dalam Ranah Social


Dalam perubahan-perubahan social yang terjadi

agama diharapkan berdiri paling depan.

Akan tetapi kebanyakan agama jalan ditempat sementara zaman berlari sangat cepat (Running away).

Nilai-nilai humanisme universal agama bukan hanya bentuk spiritual semata yang terrealisasi dalam bentuk penyembahan terhadap tuhan. Akan tetapi, agama mewadahi segala bentuk amalan-amalan—berdampak bagi kemaslahatan ummat—itulah bentuk subtansi dari agama yang riil.

Sejarah membuktikan conflik berkepanjangan umat islam dilatar belakangi politik praksis yang mengakar kepada umat islam. Agama menjadi ajang politisasi —untuk kepentingan golongan tertentu. Bahkan agama sebagai legitamsi untuk menghalalkan gerak-gerik politiknya. Penomena seperti ini yang kemudian masyarakat apatis terhadap persoalan agama yang hari ini terjadi. Etika komunikasi politik yang dibangun para politisi dengan dalil-dalil agama inilah yang kemudian berdampak sistemik dan ketidak percayaan masyarakat lagi terhadap norma-norma yang berlaku dalam agama. Bahkan yang lebih para lagi ketidak perecayaan ini mengakibatkan munculnnya aliran-aliran baru—yang itu bisa menjembatani keresahan yang terjadi pada dirinya. Seperti, Lia eden, Santo Aji, dan masih banyak lagi—kondisi fluktuasi yang diberikan agamawan kepada masyarakat

jika kita berromantisme sejarah yang terjadi abad pertengahan Eropa atau yang lebih dikenal dengan abad kegelapan (Dark Age), ilmu pengetahuan hanya dimonopoli kaum gereja tanpa ada penyebarluasan gagasan kepada masyarakat. Kemudian muncul keresahan ilmuan-ilmuan yang menentang hegemoni gereja, seperti Nikolaus Kopernikus, Johanes Kepler dan Galileo Galilei—inilah mulai sejarah sekulerisme Eropa. Ilmu hanya dimiliki kaum gereja dengan membawah symbol-simbol agama—tidak mengakar kepada kepentingan rakyat.

Lain halnya yang terjadi di Amerika abad ke-17 dan 18. ketika ada proses tranformasi secara radikal yang dilakuka aliran Puritanisme—untuk mengembalikan azas-azas agama yang sebenarnya (salafl)—dan tidak menerimah arus modern atau perubahan zaman yang terjadi. Inilah yang kemudian melatarbelakangi masyarakat tak percaya terhadap agama. Seperti aliran Deisme yang tak percaya sama sekali terhadap agama, Agama sebagai pengrusak tatanan ketuhanan. akan tetapi, mereka percaya terhadap tuhan. Hampir sama yang terjadi di timur, kaum Wahabbi yang dimotori oleh Muhammad Wahab. Kaum ini juga tidak menerimah arus modern, mereka mengangap pintu ijtihad telah tertutup. Aliran ini menganjurkan kita untuk kembali ke tradisionalisme agama yang dicetuskan Nabi tanpa melihat konteks social yang terjadi.

Dengan progresnya perubahan-perubahan zaman—ajaran agama dalam bahasa zaman akan membuat ajaran agama menjadi hapalan suci yang barang kali amat dikuasai alias luar kepala tetapi tidak mengakar pada kepentingan social yang kongkrit.

Dalam perubahan-perubahan social yang terjadi agama diharapkan berdiri di ujung paling depan. Akan tetapi kebanyakan agama jalan ditempat sementara zaman berlari sangat cepat (Running away). Pake speedy nyusul..hehehehe

Developer Dan Kyai

Kemarin saya baca buku poto copy sejarah pergerakkan Indonesia..Buku kolot tersebut hampir selesai saya baca, saya tidak tau benar atau salah isi buku tersebut karna, tidak ada label penerbit dan nama penulisnya. Lembar demi lembar saya baca. namun yang paling membuat saya kaget ketika saya memasuki paragraf ke 3 lembaran ketuju kebetulan buku poto copynya juga tidak punya halaman (hehehe). Menceritakan mahasiswa Surabya yang meng-advokasi tanah rakyat yang diserobot Developer—menjadi tidak bisa berbuat apa-apa ketika develop menggunakan kekuatan Kharisma Kyai untuk menjalankan rencananya—dari masyarakat agraris ke masyrakat industrialisasi eksploitatif.

Jika pertiwa itu benar-benar terjadi hanya satu kata yang saya ucapkan kepada Kyai tersebut. (bajingan) Dengan membawah symbol-simbol agama merka sangat mudah mengekploitasi masyarkat.

Kyai Dan Bid’ah Agama

Kemarin malam saya pinjam majalah Gong teman, tepatnya hari rabu malam kamis tanggal 13 Januari 2010. majalah Gong tersebut menceritakan tetang kebudayaan masyarakat yang kian hari kian meredup karna arus modernisasi yang dihantam masyarakat global—seharusnya ada filter masyarakat local untuk penghambat arus globalisasi dalam konteks budaya. Eh..eh..eh Bagaimana mau menjaga budaya masyarakat (cultural survival) ternyata Kyai-kyai local ikut-ikutan mengharamkan budaya masyarakat setempat dengan Bid’ah agama Seperti yang terjadi di Banyuwangi ritual Sedekah Bumi. Ulamanya berujar “ sedakah bumi itu pemborosan dan juga syirik agama kita tidak pernah mengajarkan seperti itu” artinya apa, ulama juga tidak memahami yang mana space agama dan yang mana space budaya.

Kebetulan saya juga perna menjadi santri di pondok pasantren di Jambi. Saya tau sedikt tentang agama alias tak bodoh-bodoh amat (Lagak lho kayak ilmuan aja.) secara etimologis kata Ulama itu berasal dari kata alama-yu’allimu yang artinya Orang yang berilmu, lalu kok bisa mengharamkan budaya masyarakat atau bahkan ilmu nya mendalam (agama) tapi idak meluas (multidisipliner).

“Al-Quran merupakan ajaran yang validitas kebenarannya dalam segala bidang. Dalam metodelogy interpretasi Al-Quran—seharusnya diperlukan teory kontemporer untuk memahami seluk beluk Al-Quran tersebut.

Adanya pemahaman kontemporer terhadap Al-Quran—tidak akan menyebabkan pemikiran kaum muslimin membusuk dan bahkan terhindar dari fanatisme terhadap mazhab. Al-Qur’an selalu berdialektika dengan social masyarakat.

Humanus (Manusiawi) Bukan Sekedar Species-Nya Melainkan Genius-Nya

Tidak ada komentar: