Alah Ikat Kerno Buatan,Alah Pusako Kerno Mufakat
Artinya: “kalah ikat karna buatan, kalah pusako karno mufakat” sesuatu yang sudah koko (misalnya nilai-nilai adat) yang merupakan milik rakyat dapat saja berubah bila ada usaha mengubah dari pihak-pihak tertentu yang tidak menyukainya. Karna itulah sebaiknya generasi penerus waspada dan tanggap terhadap usaha-usaha yang ingin merusak kekokohan adat Negara dan bangsa ini.
Apo digaduh pengayuh samo di tangan biduk samo di Aek.
Artinya: “apa dirisaukan, pendayung sama di tangan, perahu sama di air”. Maknanya siap menerima apapun yang akan terjadi karna sama-sama dalam keadaan sebanding. Gambaran dari betapa buruknya perselisisihan suami isteri yang sebanding keadaannya dan tak satu pun mau mengalah karna sama-sama berasal dari keluarga kaya.
Menurut runut nan terentang sejak bari, menenpuh jalan nan berambah sejak dulu.
Artinya: “ menurut runut yang terbentang sejak permulaan, menenpuh jalan yang berambah sejak dulu”. Nasihat agar mengikuti pedoman adat yang sudah ada (diwariskan nenek moyang), dinilai baik, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pandang aek pandang lah tubo pandang ikan nan kan binaso.
Artinya: “ pandang air pandanglah tuba, pandang ikan yang akan binasa”. Mencari jodoh hendaklah sebanding. Sebagaimana orang menuba yang harus mengetahui perbandingan. Dosis yang tepat dan akan dipakai agar ikan menjadi “mabuk” tetapi tidak samapi mati.
Naik lah dikungkung dahan turun lah di pasung banir.
Artinya:” naik telah dikungkung dahan turun telah di pasung banir”. Jejaka atau gadis yang telah dewasa dan layak berumahg tangga janganlah dibiarkan hidup membujang berkepanjangan, karena dengan berumah tangga mereka dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi tuhan.
Jatuh di tempat nan rato, ayut di arus nan tonang.
Artinya: “ jatuh di tempat rata, hanyut di arus tenang”. Terjadinya malapetaka kadang di luar perhitungan. Biasanya orang kalau sudah merasa amat sering lengah dan apabila terjadi masalah-masalah yang mendadak akan kesulitan mengatasinya.
Orang kayo bertabur urai, orang mulio bertabur budi.
Artinya: “ orang kaya bertabur emas, orang mulia bertabur budi” orang yang berjiwa mulia dapat lebih memberikan kenikmatan batin kepada orang lain. Sebab, orang yang berbudi luhur selalu terbuka memberikan bantuan pada siapa pun yang memerlukan, entah berupa materi, nasehat, atau pemikiran-pemikiran yang bermamfaat.
Bak membolah botung, sebolah diinjak sebolah gi diangkat tinggi-tinggih.
Artinya: “bagaikan membelah bambu betung,sebelah diinjak sebelah lagi di angkat tinggi-tinggi”. Sering digunakan sebagai padanan terhadap ketidakadilan yang diperbuat oleh penguasa atau pemimpin. Terbukti, ada pihak yang sengaja ditekan (dikalahkan), ada pihak yang sengaja diuntungkan (dimenangkan)
Di mano titik di sano ditampung, di mano patah di sano disisip, di manao terbit di sano dituai.
Artinya: “ di mana menetes di sana ditampung, di mana patah di sana disisip, di mana terbit di sana dituai”. Maknanya, jangan terlalu merisaukan persoalan yang akan terjadi.orang hidup selalu menghadapi persoalan, jadi segala macam persoalan bukan untuk dihindari melainkan untuk diatasi.
Tebing runtuh tepian beranjak, tanjung putus teluk beralih.
Artinay: “ tebing runtuh tepian berpindah, tanjung putus teluk beralih”. Mengingatkan kepada semua orang, bahwa setiap kejadian selalu membawa (mengakibatkan) perubahan. Entah kecil entah besar, entah menyakitkan entah membahagiakan, dan orang harus siap menerima sebagaimana adanya.
Adoit Pulei Batingkak Naik, Adoit Manusio Batingkak Turuang.
Artinya: “kebiasaan pulai meningkat naik, kebiasaan manusia meningkat turun”. Pohon pulau makin tua makin tinggi batangnya dan meninggalkan ruas dan buku. Begitu pula manusia, setiap pergantian generasi selalu meninggalkan sesuatu yang menjadi cirinya. Jadi, maknaperibahasa ini adalah: setiap perubahan selalu meninggalkan cirri tertentu.
Bagurau ku nu pandei, ngambaik tuah ku nu manna, ngambaik cuntauh ku nu sudeih.
Artinya: “ berguru pada yang pandai, mengambil tuah kepada yang menang, mengambil contoh kepada yang sudah”. Berguru, mengambil tuah dan contoh hendaknya hati-hati supaya jangan menemui kekeliruan. Karena itu, dalam mempelajari segala sesuatu sebaiknya dilaksanakan secara langsung kepada ahlinya.
Kalo samo tinggi kayau di rimbo mano pulo tampaik angin lalau (MK).
Artinya: “ kalau sam tinggi kayu di rimba (hutan) mana pula tempat angin lalu”. Tinggi rendah kehidupan bukannya saling mempersulit, melaikan saling mendatangkan mamfaat kepada banyak orang. Kaya miskin, besar kecil,laki perempuan, pemimpin rakyat, pembeli pedagang, semua saling terkait satu sama lain dan akan membetuk struktur kehidupan yang saling menguntungkan.
Puji antak ka kawin umpat antak ka cerai.
Artinya: “ puji menjelang ke kawin umpat menjelang ke cerai”. Biasanya orang akan banyak memberikan pujian sanjung untuk mendapatkan yang diinginkan (perempua yang akan dinikahi), tetapi akan berubah menjadi caci-maki menjelang terjadinya perceraian.
Tuauh aya buleih diklaih ku kaki, tuauh manusio mano tahau.
Artinya: “tua ayam boleh dilihat ke kaki,tua manusia mana tau”. Kelebihan orang pada hakikatnya sukar diketahui, apalagi dilihat dengan mata telanjang. Berbedah dengan ayam, seekor ayam jantan (aduan) baik buruknya sering dinilai dari taji, kontruksi badan, kepala dan juga kakinya.
Jantan bapahang telanjang batino baurai tapau.
Artinya: “ laki-laki berparang telanjang perempuan berurai selendang”. Baik laki-laki ataupun perempuan sudah berani menepuk dada (membanggakan diri) itu tandanya moral sudah sangat menurun karena perilaku seperti itumenunjukkan sikap takabur.
Cupak diisei gantei dililit aduek dituhaak.
Artinya: “ cupak diisi gantang diratakan adat diturut”. Kalau berada di suatu daerah maka kita mesti mengikuti adat kebiasaan daerah tersebut. Maksudnya, orang harus dapat menyesuaikan diri dengan adat kebiasaan di daerah tempat tinggalnya agar diterima sebagai bagian dari masyarakat di sana.
Keruh aek dilir prikso di ulunyo, senak aek di ulu prikso di muaronyo.
Artinya: “keruh air di hilir periksa di hulunya, dalam air di hulu periksa muaranya”. Maknanya, usut semua kejadian dengan cermat sambil meneliti tempat dan sebab musabab terjadinya peristiwa itu.
Ganggang Belut Belangon Panjang, jangan Nak Meluncur Aek Di Papan.
Artinya: “ Ganggang belut belang panjang jangan hendak membuang air di papan”. Air yang ditumpahkan ke papan cepat menjalar ke mana-mana. Kaitan maknanya dengan peribahasa ini adalah, jangan memperpanjang persoalan karena akan mengakibatkan masalah-masalah baru yang lebih luas dan kompleks.
Mutiara Kearifan Nusantara
Penerbit: RIAK (Risert Informasi Dan Arsip Kenegaraan) Mangkuyudan MJ III/216 Yogyakarta.
Imam Budhi Satosa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar