Senin, Juni 06, 2011

TENTANG MENULIS SAJAK

Ingin aku menulis sajak
Sebab taufiq sudah membuat banyak
Ia bacakan di depan orang beramai-ramai
Sedang aku di sudut terhenyak

Bila aku menulis sajak
Mungkinkah sajak lahir dari kehendak
Sedang “ransang puitik itu”
Tak kunjung muncul dari ketiak

Kalau engkau menulis sajak
Mondar-mandirkah engkau di dalam kamar
Mereka-reka sekian lagak
Atau duduk diam tentang jendela
Sambil menghabiskan rokok satu pak?

Mungkinkah orang menulis sajak
Dari melawat ke banyak negeri
Sambil memili sejumlah nama
Sedang yang sajak tinggal mendesak?

Aku tak ingin menulis sajak
Mendengar musik atau menonton planetarium
Membuat dirku lebih beruntung
Di situ lantas aku berpikir
Sudah kutulis sebuah sajak

(Syu’bah Asa)

KWATRIN


PEREMPUAN ITU ADALAH IBUKU

Perempuan yang bernama kesabaran
Pabila malam menutup pintu-pintu rumah
Masih saja ia duduk menjaga
Anak-anak yang sedang gelisah dalam tidurnya

Perempuan itu adalah ibuku

Perempuan yang menangguhkan segalanya
Bagi impian-impian yang mendatang. Telah memaafkan
Setiap dosa dan kenakalan
Anak-anak sepenjang zaman

Perempuan itu adalah ibuku

Bagi siapa Tuhan menerbitkan
matahari surga. Bagi siapa Tuhan memberikan
singgasanaNya. Dan dengan segala ketulusan
ia membasuh setiap niat busuk anak-anaknya

Dia adalah ibu

(Arifin C. Noer)


YOGYA

Kuda tersipu dengan mata tertutup
Setiap kita adalah bertemu
Beban
Dan kemerdekaan

Kuda tersipu dengan mata tertutup
Setiap kita adalah berpisah
Penjuru
Dipacu salah

(Djajanto Supra)

SENANDUNG TAK BERNAMA


Minggu, Juni 05, 2011

agreements of faith

Watching the world
From our window of life
Can we see all there is
That is real
That is right
To the distance so far
From our true understanding
Making us want more
Making us see less


The fire
Making me clean
Making me fly
Spinning me 'round
Spinning me 'round


The fire within your eyes
This mystic time
I've known before
Once before
The flame within my heart
Agreements made
Are now realized
Like before

Speaking of worlds
Driven far far apart
How the (industry) innocence
Crushes the nature of things
To the point that we lose
All we're trying to gain
Making us want more
Making us see less


The fire
Making us clean
Making us fly
Spinning us 'round
Spinning us 'round


The fire within your eyes
This mystic time
I've known before
Once before
The flame within my heart
Agreements made
Are now realized
Like before


The fire
Making us clean
Making us fly
Spinning us 'round
Spinning us 'round


The (fire) flame
Making us clean (dream)
Making me fly
Spinning me 'round
Spinning me 'round


Agreements of Trust
Agreements of Faith
Agreements of Truth
Agreements of Love
Agreements of Liberty
Agreements set you free
(Kitaro)

WAKTU TERJADI GERHANA

Menjelang dinihari
malam yang pucat
di bawah bulan yang pucat
pelan-pelan menggelap.

Bayangan bumi
diam-diam
merayap
di wajah bulan
yang diam
karena pasti
pada saatnya
gerhana ‘kan berakhir.

Aku terdiam:
Apa gerangan
Yang diam-diam
Merayap dalam hatiku
Yang resah
Dalam diam
Karena tak pasti
Kapan saatnya
Gerhana berakhir?

(Ayatrohaedi)

‘A’


Jumat, Juni 03, 2011

puisi II

PADAMU JUA

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tanggap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu-bukan giliranku
Mati hari bukan kawanku

( Amir Hamzah)

SILHUET
Hening. Sepantun hujan yang risik mengalun di dasar telaga
yang senja
Kau taruh sinar bulan itu di cermin yang sudah dahaga pada
rupamu semenjak lama
Katakan, siapa yang menyuruh bayang-bayangmu
Menyandungkan sepi dan serigala saja
Purnama menyisir bulan, selenting daun pecah, kau hirup
Suaramu
Gerimis mengalir di pipi

(Abdul Hadi)


SEBUAH TAMAN SORE HARI

Dari sayap-sayap burung kecil itu
Berguguran sepi, sepiku
Saat terhenti di sebuah taman kota ini
Daun jatuh di atas bangku, bagai mimpi

Di antara datang dan suatu kali pergi
Beribu lonceng bernyanyi
Kekal sewaktu bercakap kepada hati
Lalu kepada bumi. Di sini aku menanti

(Sapardi Djoko Damono)

DESA KECIL

Pohon besar masih berjajar
Ranting dahan menjadi halte binatang
Datang
Daun-daunya hijau, hijau sekali


sinar dan laut


Kamis, Juni 02, 2011

puisi

Dengan Puisi, Aku

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.

(Taufik Ismail, Tirani dan Benteng, 1983: 62).

MERAH

Aku suka kepada merah
Karena mengingat kepada darah
Yang berteriak ke arah sawang
Merebut terang

Darah mengalir
Waktu lahir
Darah mengalir
Waktu akhir

Darah
Getah bumi
Membeku
Pada aku

Dalam darah
Berbayang
Nyawa
Pucat bagai siang

( Subagio Sastrowardojo).

SAJAK

Jari-jari dalam diri
Bagai akar yang tak pernah berhenti
Menggali bumu, makin dalam
Makin dalam di dalam kelam

Jari-jari yang menulis kata
Makin keras makin keras
Bagai pisau tajam
Mengoyak-ngoyak badan

Mimpi dalam urat-urat diri
Mengalir berdebur-debur
Bagai ombak, bagai gelombang
Tak tahu pulang.

( Wing Kardjo)

PENYAIR

Sebab jiwa menundukkan akhir
Sambutlah kobar perjalanan sedih ini
Berbuah kasih kesegaran dunia
Hidup buruan larut meneriakkan dahaga

Di halaman buku-buku dan huruf yang ramah
Bersumber nasib hari matinya
Dengarlah tempuh tuju tak kepalang tanggung
Merebut tiap tempat padat oleh pengalaman

Marilah berdiri meninjau penyair
Hanya karena ketegasan hidup
Bertanya langsung atas kutub tanahair
Kita pun maklum untuk apa mereka bersujud.

(Mansur Samin, Tonggak 2, hlm. 51-52)

DIMANA, PUISI

Dimana engkau puisi
Kemana engkau pergi
Berulang-ulang kali aku mencari
Seperti ombak laut yang tak nak berhenti

Puisiku terkasih segeralah kembali
Sudah lama sekali kita berpisah
Hati semakin resah
Usia pun bertambah

Oh puisiku, kini aku telah berusia 22 tahun
Tanpa sengaja
Wajah semakin menua
Oh puisi, aku ingin kau mengisi hidupku yang belum mati.

Bersama kata-kata yang menari-nari
Seperti kata nabi-nabi
Yang menjadi-jadi
Kembalilah puisi
Nafasku sesak jika berjarak

(Azkan, 3 Juni 2011)

Selasa, Mei 10, 2011

Bangunan dan Tradisi.

Saya tidak tau dari mana memulai menuliskan sejarah arsitektur-arsitektur mega di dunia, yang jelas setiap bangunan mega memiliki tradisinya sendiri baik itu untuk kemaslahatan rakyatnya hingga kemudoratannya. Dalam konteks kekuasaan bangunan dan kemegahannya merupakan simbolic indentitas penguasa—sebagai legitimasi sebuah tradisi dan peradaban besar penguasa, hingga menjadi memoris pasca kematiannya.
Mungkin banyak sejarahwan yang meneliti besarnya bangunan mega—merupakan besarnya kekuasaaan sang raja. Di sini kita akan terjebak dengan pola pikir positifistik—atau itu adalah fakta sejarah yang tak bisa di ingkari lagi. Baik itu, bangunan yang bercorak posmodernisme maupun yang bercorak modernisme.