Perempuan yang bernama kesabaran
Pabila malam menutup pintu-pintu rumah
Masih saja ia duduk menjaga
Anak-anak yang sedang gelisah dalam tidurnya
Perempuan itu adalah ibuku
Perempuan yang menangguhkan segalanya
Bagi impian-impian yang mendatang. Telah memaafkan
Setiap dosa dan kenakalan
Anak-anak sepenjang zaman
Perempuan itu adalah ibuku
Bagi siapa Tuhan menerbitkan
matahari surga. Bagi siapa Tuhan memberikan
singgasanaNya. Dan dengan segala ketulusan
ia membasuh setiap niat busuk anak-anaknya
Dia adalah ibu
(Arifin C. Noer)
YOGYA
Kuda tersipu dengan mata tertutup
Setiap kita adalah bertemu
Beban
Dan kemerdekaan
Kuda tersipu dengan mata tertutup
Setiap kita adalah berpisah
Penjuru
Dipacu salah
(Djajanto Supra)
SENANDUNG TAK BERNAMA
Apakah dunia bagiku? Mungkin sebuah
Rumah untuk sebentar waktu. Atau mungkin suatu
Daerah pengembaraan asing
Tak ada rumahku, rumah kita. Kita baru bakal masuk kesana
Dan kebahagiaan tiada lain
Selain mencintai rumah ini, mencintai kau
Penghuninya. Moga-moga aku beta terus
Di sini, sesampai waktu
Sedangkan penderitaanku adalah kecemasan seorang
Anak tersesat. Atau kecemasan pengembara yang
Menyandung kutuk
Berjalan dalam kabut
Entah di kampung halam, entah di tempat buangan
(ABRAR YUSRA)
RUMAH TAK BERTALI
Engkau sendiri di pojok sepi
Menuai padi
Utuk mengisi perut setahun ini
Bercengkrama dengan terik matahari dan penyakit darah tinggi
yang sesekali datang berulang tak menentu
rumah
yang kau tinggal setengah hari
mati suri
ada yang pergi, ada yang sekolah, kuliah, dan ada yang masih tidur.
engkau kerja dari pagi hingga sore hari
sendiri
untuk mengisi nasi rumah yang tak berisi
engkau sepi seperti induk burung menunggu anaknya
kini, rumah tak bertali ke mana engkau pergi
putra dan putri
ibu seorang diri
menanti kekasih yang jauh pergi.
Azkan
SAJAK CINTA
Anak adalah bukti bahwa kita pernah bercinta,
pernah saling berbohong, saling menghianati diri.
Saling lebur. Hanya itukah?
Sekarang masih harus setia
mendengarkan suara, apapun juga
sampai tuli; masih harus memandang
beribu warna, sampai buta; masih harus
menjumlah serta mengurangi sederet panjang angka-angka
Di bibirmu masih menyisa ciumanku pertama
Meski sampai saatnya kuucapkan: ya!
Kita tidak selalu harus setia. Sehabis kaumakan
buah apel itu kau pun memberikan sebagian
untukku; aku seperti lazimnya pahlawan-pahlawan besar
menikmati sisa dosa itu.
Hanya itukah? Sekarang harus kita tahankan
terik surya itu, tanpa seorang Bapa.
Sorga ternyata ada dalam dongeng-dogeng saja.
Di leherku masih jelas bekas gigitanmu
dan melahirkan anak-anak kita, bukti bahwa kita
pernah bercinta;
Sampai saatnya nanti aku menjawab
malaikat itu:
ya!
(Sapardi Djoko Damono)
KALIURANG
Dari mula dera sudah terhimpun
bagaimana bisa tahan
dari mula luka sudah menggaris
bagaimana bisa bergirang
air terjun, air berhambur
bunga merah bunga remaja
jalan simpang jalan silang
hijau angin hijau kabut
dingin kabut dingin telaga
hati sepi di mana dicari
Benar, telah lama ku merendam rindu
rindu alam rindu bukit
rindu gelak, jerit pegunungan
rindu kabut rindu danau
Ingin hatinya berhambur
di jalanan memutari ladang
menempel di pecahan gelak
melekat di pecahan warna
di mata buat menghitam
di getar pelupuk redup
embun yang terpijak hijau rumput
membakar merentas telapak kaki
gugur daun
gugur dahan
hangus di telapak tangan
dingin gunung dingin telaga
biru darah biru nafas
tak satu pun tergapai
dari indah bukit, indah gelak
hati sepi ke mana dicari
Anak-anak berlarian
bulat-bulat hatinya
berlepasan gelak dan tangis
serasa menyanyikan
buat apa umur memanjang
hari-hari sepi membenam
buat apa umur menjauh
malam-malam subuh menyumbat
anak hilang ke mana dikenang
buat apa umur ditahan
Gadis-gadis mata hitam
hitam rambut hitam pelupuk
kuning langit
kuning hati
berpancar gelak dan harap
makin mencekam
makin terdengar nyanyian
-jangan lama menahan rindu
kalau hati berpinta
pintalah alam dan siapa pun
kesadaran hampir kuasa
aku melempar kesunyian
melempar diri ke bukit
turun menyanyi dengan anak-anak
berpanggil teman
turut menyanyikan
lagu-lagu pegunungan
-buat apa menyimpan dera
Gugur hati gugur sendiri
Kalu gugur siapa menerima
Tapi itu pun hanya sekejap
kembali pula akhirnya
ke dera semula
ya, begitulah
bila seorang tak jumpakan diri
bila hati tak jumpakan cinta
jika cinta tak pernah sampai
(Kirjomulyo)
TANPA JARAK
Tanpa jarak
Maka entah rapat entah berantara
Tanpa aksara
Maka entah diam entah bicara
Tanpa ketika
Maka entah sebentar entah lama
Tanpa masa
Maka entah kekal entah fana
Tanpa janji
Maka entah berpisah entah bersua.
(Mustofa Bisri)
Pabila malam menutup pintu-pintu rumah
Masih saja ia duduk menjaga
Anak-anak yang sedang gelisah dalam tidurnya
Perempuan itu adalah ibuku
Perempuan yang menangguhkan segalanya
Bagi impian-impian yang mendatang. Telah memaafkan
Setiap dosa dan kenakalan
Anak-anak sepenjang zaman
Perempuan itu adalah ibuku
Bagi siapa Tuhan menerbitkan
matahari surga. Bagi siapa Tuhan memberikan
singgasanaNya. Dan dengan segala ketulusan
ia membasuh setiap niat busuk anak-anaknya
Dia adalah ibu
(Arifin C. Noer)
YOGYA
Kuda tersipu dengan mata tertutup
Setiap kita adalah bertemu
Beban
Dan kemerdekaan
Kuda tersipu dengan mata tertutup
Setiap kita adalah berpisah
Penjuru
Dipacu salah
(Djajanto Supra)
SENANDUNG TAK BERNAMA
Apakah dunia bagiku? Mungkin sebuah
Rumah untuk sebentar waktu. Atau mungkin suatu
Daerah pengembaraan asing
Tak ada rumahku, rumah kita. Kita baru bakal masuk kesana
Dan kebahagiaan tiada lain
Selain mencintai rumah ini, mencintai kau
Penghuninya. Moga-moga aku beta terus
Di sini, sesampai waktu
Sedangkan penderitaanku adalah kecemasan seorang
Anak tersesat. Atau kecemasan pengembara yang
Menyandung kutuk
Berjalan dalam kabut
Entah di kampung halam, entah di tempat buangan
(ABRAR YUSRA)
RUMAH TAK BERTALI
Engkau sendiri di pojok sepi
Menuai padi
Utuk mengisi perut setahun ini
Bercengkrama dengan terik matahari dan penyakit darah tinggi
yang sesekali datang berulang tak menentu
rumah
yang kau tinggal setengah hari
mati suri
ada yang pergi, ada yang sekolah, kuliah, dan ada yang masih tidur.
engkau kerja dari pagi hingga sore hari
sendiri
untuk mengisi nasi rumah yang tak berisi
engkau sepi seperti induk burung menunggu anaknya
kini, rumah tak bertali ke mana engkau pergi
putra dan putri
ibu seorang diri
menanti kekasih yang jauh pergi.
Azkan
SAJAK CINTA
Anak adalah bukti bahwa kita pernah bercinta,
pernah saling berbohong, saling menghianati diri.
Saling lebur. Hanya itukah?
Sekarang masih harus setia
mendengarkan suara, apapun juga
sampai tuli; masih harus memandang
beribu warna, sampai buta; masih harus
menjumlah serta mengurangi sederet panjang angka-angka
Di bibirmu masih menyisa ciumanku pertama
Meski sampai saatnya kuucapkan: ya!
Kita tidak selalu harus setia. Sehabis kaumakan
buah apel itu kau pun memberikan sebagian
untukku; aku seperti lazimnya pahlawan-pahlawan besar
menikmati sisa dosa itu.
Hanya itukah? Sekarang harus kita tahankan
terik surya itu, tanpa seorang Bapa.
Sorga ternyata ada dalam dongeng-dogeng saja.
Di leherku masih jelas bekas gigitanmu
dan melahirkan anak-anak kita, bukti bahwa kita
pernah bercinta;
Sampai saatnya nanti aku menjawab
malaikat itu:
ya!
(Sapardi Djoko Damono)
KALIURANG
Dari mula dera sudah terhimpun
bagaimana bisa tahan
dari mula luka sudah menggaris
bagaimana bisa bergirang
air terjun, air berhambur
bunga merah bunga remaja
jalan simpang jalan silang
hijau angin hijau kabut
dingin kabut dingin telaga
hati sepi di mana dicari
Benar, telah lama ku merendam rindu
rindu alam rindu bukit
rindu gelak, jerit pegunungan
rindu kabut rindu danau
Ingin hatinya berhambur
di jalanan memutari ladang
menempel di pecahan gelak
melekat di pecahan warna
di mata buat menghitam
di getar pelupuk redup
embun yang terpijak hijau rumput
membakar merentas telapak kaki
gugur daun
gugur dahan
hangus di telapak tangan
dingin gunung dingin telaga
biru darah biru nafas
tak satu pun tergapai
dari indah bukit, indah gelak
hati sepi ke mana dicari
Anak-anak berlarian
bulat-bulat hatinya
berlepasan gelak dan tangis
serasa menyanyikan
buat apa umur memanjang
hari-hari sepi membenam
buat apa umur menjauh
malam-malam subuh menyumbat
anak hilang ke mana dikenang
buat apa umur ditahan
Gadis-gadis mata hitam
hitam rambut hitam pelupuk
kuning langit
kuning hati
berpancar gelak dan harap
makin mencekam
makin terdengar nyanyian
-jangan lama menahan rindu
kalau hati berpinta
pintalah alam dan siapa pun
kesadaran hampir kuasa
aku melempar kesunyian
melempar diri ke bukit
turun menyanyi dengan anak-anak
berpanggil teman
turut menyanyikan
lagu-lagu pegunungan
-buat apa menyimpan dera
Gugur hati gugur sendiri
Kalu gugur siapa menerima
Tapi itu pun hanya sekejap
kembali pula akhirnya
ke dera semula
ya, begitulah
bila seorang tak jumpakan diri
bila hati tak jumpakan cinta
jika cinta tak pernah sampai
(Kirjomulyo)
TANPA JARAK
Tanpa jarak
Maka entah rapat entah berantara
Tanpa aksara
Maka entah diam entah bicara
Tanpa ketika
Maka entah sebentar entah lama
Tanpa masa
Maka entah kekal entah fana
Tanpa janji
Maka entah berpisah entah bersua.
(Mustofa Bisri)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar