Minggu, Juni 05, 2011

agreements of faith

Watching the world
From our window of life
Can we see all there is
That is real
That is right
To the distance so far
From our true understanding
Making us want more
Making us see less


The fire
Making me clean
Making me fly
Spinning me 'round
Spinning me 'round


The fire within your eyes
This mystic time
I've known before
Once before
The flame within my heart
Agreements made
Are now realized
Like before

Speaking of worlds
Driven far far apart
How the (industry) innocence
Crushes the nature of things
To the point that we lose
All we're trying to gain
Making us want more
Making us see less


The fire
Making us clean
Making us fly
Spinning us 'round
Spinning us 'round


The fire within your eyes
This mystic time
I've known before
Once before
The flame within my heart
Agreements made
Are now realized
Like before


The fire
Making us clean
Making us fly
Spinning us 'round
Spinning us 'round


The (fire) flame
Making us clean (dream)
Making me fly
Spinning me 'round
Spinning me 'round


Agreements of Trust
Agreements of Faith
Agreements of Truth
Agreements of Love
Agreements of Liberty
Agreements set you free
(Kitaro)

WAKTU TERJADI GERHANA

Menjelang dinihari
malam yang pucat
di bawah bulan yang pucat
pelan-pelan menggelap.

Bayangan bumi
diam-diam
merayap
di wajah bulan
yang diam
karena pasti
pada saatnya
gerhana ‘kan berakhir.

Aku terdiam:
Apa gerangan
Yang diam-diam
Merayap dalam hatiku
Yang resah
Dalam diam
Karena tak pasti
Kapan saatnya
Gerhana berakhir?

(Ayatrohaedi)

‘A’


Pagi ini-ini pagi, jari-jari menekan-nekan tombol-tombol kibot-kibot komputer-komputer.
Berulangulang-ulangberulang terusmenerus-menerusterus
Hingga huruf-hurufnya hilang setengah hari, setiap pagi.
Duduk di kursi dengan ditemani secangkir kopi

Engkau menulis puisi yang tak jadi-jadi
Menulis esai yang tak selesai-selesai
Menulis makalah yang selesai juga, ‘takut kena marah’

“Jangan buat dosen marah;nanti kamu dapat A”
Kata temanmu yang rajin kuliah
Cita-citamu dulu yang mau mengubah dunia lupakan saja
Dunia sudah berubah-rubah, seperti para politisi ketika berkata-kata

Tapi, tapi apa?
Kamu harus lapang dada, kamu bukan penguasa.

(Azkan)
LAGU NELAYAN SELAT MADURA

Sayup-sayup sampai
Meningkah gelombang kesepian malam:
Ahai laut Jawa, selat malaka
Ahai gelombang angin buritan
Dengarlah dendang durjana
Lelaki tua putra Madura:

Malampun larut
Ikan tidur di dasar laut
Hatipun gundah
Anak cucuku di Jakarta

Bulan terang bulan purnama
Dua mata di sampingnya
Lelaki ini lahir di Sumatra
Di mana itu kuburan bunda?

Ahai gelombang larut
Lelaki ini kawin laut
Jika berhenti detak jantungnya
Pulau manakan dipilihnya?

Pulau pandan jauh di tengah
Pulau Madura ujung Jawa
Ahai, jika berhenti detak jantungnya
Di dasar laut liang kuburnya

(Djawastin Hasugian)

Tidak ada komentar: