Ingin aku menulis sajak
Sebab taufiq sudah membuat banyak
Ia bacakan di depan orang beramai-ramai
Sedang aku di sudut terhenyak
Bila aku menulis sajak
Mungkinkah sajak lahir dari kehendak
Sedang “ransang puitik itu”
Tak kunjung muncul dari ketiak
Kalau engkau menulis sajak
Mondar-mandirkah engkau di dalam kamar
Mereka-reka sekian lagak
Atau duduk diam tentang jendela
Sambil menghabiskan rokok satu pak?
Mungkinkah orang menulis sajak
Dari melawat ke banyak negeri
Sambil memili sejumlah nama
Sedang yang sajak tinggal mendesak?
Aku tak ingin menulis sajak
Mendengar musik atau menonton planetarium
Membuat dirku lebih beruntung
Di situ lantas aku berpikir
Sudah kutulis sebuah sajak
(Syu’bah Asa)
KWATRIN
Semalam suntuk suara napasmu merayap di dinding lalu
Terjatuh satu demi satu di lantai
Pagi hari kau bangun dan tercium olehmu bau yang mengingatkanmu akan sesuatu yang kini bukan lagi milikmu
Kaubuka jendela:
cahaya matahari meloncat ke dalam dan nampak olehmu
Seperti ada yang satu demi satu bangkit dari lantai
Menjelma semacam gas namum masih kaudengar engahnya
Mendaki berkas-berkas sinar matahari
DI BERANDA INI ANGIN TAK KEDENGARAN LAGI
Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar musim mendesak ke arah kita
Di piano bernyanyi baris dari Rubayat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba
Aku pun tahu: sepi kita semula
Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
Mengekalkan yang esok mungkin tak ada
(Goenawan Mohamad)
Sebab taufiq sudah membuat banyak
Ia bacakan di depan orang beramai-ramai
Sedang aku di sudut terhenyak
Bila aku menulis sajak
Mungkinkah sajak lahir dari kehendak
Sedang “ransang puitik itu”
Tak kunjung muncul dari ketiak
Kalau engkau menulis sajak
Mondar-mandirkah engkau di dalam kamar
Mereka-reka sekian lagak
Atau duduk diam tentang jendela
Sambil menghabiskan rokok satu pak?
Mungkinkah orang menulis sajak
Dari melawat ke banyak negeri
Sambil memili sejumlah nama
Sedang yang sajak tinggal mendesak?
Aku tak ingin menulis sajak
Mendengar musik atau menonton planetarium
Membuat dirku lebih beruntung
Di situ lantas aku berpikir
Sudah kutulis sebuah sajak
(Syu’bah Asa)
KWATRIN
Semalam suntuk suara napasmu merayap di dinding lalu
Terjatuh satu demi satu di lantai
Pagi hari kau bangun dan tercium olehmu bau yang mengingatkanmu akan sesuatu yang kini bukan lagi milikmu
Kaubuka jendela:
cahaya matahari meloncat ke dalam dan nampak olehmu
Seperti ada yang satu demi satu bangkit dari lantai
Menjelma semacam gas namum masih kaudengar engahnya
Mendaki berkas-berkas sinar matahari
DI BERANDA INI ANGIN TAK KEDENGARAN LAGI
Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar musim mendesak ke arah kita
Di piano bernyanyi baris dari Rubayat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba
Aku pun tahu: sepi kita semula
Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
Mengekalkan yang esok mungkin tak ada
(Goenawan Mohamad)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar