Konon kabarnya, pada zaman dahulu kerajaan Melayu Jambi pernah diperintah oleh seorang putri yang sangat cantik yang bernama Putri Selaras Pinang Masak. Selain cantik bak bidadari, ia juga seorang putrid yang sakti dan berotak cemerlang. Tidak mengherankan banyak raja-raja yang berminat untuk mempersuntingnya sebagai istri.
Suatu ketika, bekunjunglah seorang panglima perang dari negeri keling (india) bernama Tan Talanai. Ia seorang jagoan yang senantiasa disegani kawan maupun lawannya.
Sungguhpun ia seorang jagoan, Tan Talanai memiliki kelemahan wajahnya buruk dan mudah digoda wanita apalagi wanita yang wajahnya cantik.
Beberapa hari saja berada di Muaro Jambi, ia telah mengetahui bahwa bisana ada seorang putri yang amat cantik wajahnya. Hatinya tergelitik untuk berjumpa dengan Putri tersebut. Akhirnya,Tan Talanai memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk menyelidiki berita tentang Putri yang menggodanya itu.
“Benar, Tuanku,” kata salah seorang anak buahnya.
“Putri itu bernama Putri Selara Pinang Masak, ratu di negeri ini sendiri, kecantikan ratu memeng amat menawan bagi siapa saja yang melihatnya,”lanjut anak buahnya.
“Tutup mulutmu, bentak Tan Talanai,” engkau bukan ku tugaskan untuk melihat kecantikan sang Putri.”
Dalam kerapuhan hatinya, Tan Telanai tampak amat gembira mendengan berita yang disampaikan oleh anak buahnya. Berhari-hari ia merenung untuk menggambarkan kecantikan putrid dalam pikirannya. Ketika godaan itu sudah tak tertahan lagi,Tan Telanai memutuskan untuk secepatnya menjumpai sang Putri di istananya. Kepergian Tan Talanai yang tua dan berwajah buruk itu tidak diikuti seorang pun anak buahnya.
Sesampaikan di istana Muaro Jambi. Putri Selara Pinang Masak amat terkejut melihat tamu yang mengunjungunya. Seorang laki-laki tegap berwajah buruk dan sudah tidak muda lagi, apalagi setelah laki-laki tersebut mengemukakan niatnya untuk meminangnya. Putrid menilai, Tan Telanai bukanlah jodoh yang cocok untuknya.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang diri tamunya, Putri Selara Pinang Masak mengajak main catur ala Kerajaan Melayu. Buah catur yang digunakan sangat berat dan hanya bisa diangkat dengan tangan. Dari permainan itu, ia akan dapat melihat sampai mana kadar laki-laki yang akan meminangnya itu.
Akan tetapi, Putri Selara Pinang Masak amat kecewa. Tan Telanai dapat menggerakkan anak batu catur hanya dengan tiga jari tangan kirinya. Sedangkan Putri Selara Pinang Masak dapat mengangkat dengan lima jari tangan kanannya.
Barulah kali itu Putri bertemu dengan seorang yang mampu mengangkat anak batu caturnya dengan tangan kirinya. Alangkah hebat dan sakti Tan Telanai ini jika demikian. Tidak akan mungkin dapat dihadapi dala peperangan. Kalau dipaksa juga tentulah rakyat akan binasa mkelawan jagoan yang luar biasa ini, bisik Putri Selara Pinang Masak dalam hati.
Setelah merasa berhasil menundukkan Putri, Tan Telanai kembali menanyakan pinangannya. Namun, Putru Selara Pinang Masak belum berani menolak ataupun menerima langsung pinangan tersebut. Ia meminta waktu selama tiga hari untuk mempertimbangkannya.
Esoknya Putri Selara Pinang Masak menyuruh hulubalang menjemput Tan Telanai. Malam tadi ternmyata Putri telah mendapat suatu cara yang amat baik untuk menggagalkan maksud lelaki tak tahu diri yang meminangnya kemarin. Ia yakin, Tan Telanai tidak akan sanggup untuk mengerjakannya. Itulah sebabnya belum lagi sampai tiga hari Putri sudah memenggil Tan Telanai.
“Apakah tuan Putri tidak keliru,: kata Tan Telanai pura-pura menutupi kegembiraan hatinya begitu sampai dihadapan Putri Selara Pinang Masak.
“Bukankah aku di beri waktu tiga hari untuk kembali guna mengetahui jawaban dari Putri?
“Tidak, jawab Putri Selara Pinang Masak geram.
“Kalau demikian ceritakanlah apa maksud Tuan putri memanggilku ,kata Tan Telanai.
“Aku tak ingin membiarkan Tuan berlama-lama dalam penantian sementara jalan telah tampak terbentang. Tidak kah Tuan tahu bahwa aku setuju dengan kehendakmu?”
“Tapi aku mohon Tuan dapat memenuhi permintaanku. Tambah Putri.
Wajah Tan Telanai tampak berseri-seri tanda gembira. Tutur kata tuan putri amat dalam merasuk dihatinya. Namun, ia ingin segera mengunci pendapat wanita yang didambakannya itu.
“Kalau demikian Tuan Putri memerlukan suatu dariku.? Tanya Tan Telanai dengan penuh harapan.
“Tuan memang bijaksana, jawab Putri Selara Pinang Masak lebih untuk jauh menebaknya. ‘kalau Tuan memang ingin memiliki diriku yang serba kekurangan ini, apa salahnya buatkan aku sebuah mahligai untuk kita gunakan untuk tempat kita berbagi suka dan duka setelah kita sah untuk menjadi suami istri nanti.”
Aku tahu maksudmu.” Tuan Putri, kata Tan Telanai sambil tertawa terbahak-bahak, Engkau ingin menguji kemampuanku. Jangankan mahligai tinggi sampai kelangit, gunung emas pun dapat ku persembahkan untukmu.”
Setelah bekata demikian.Tan Telanai berlalu dengan gelak berderai-derai.
“Tunggu, seru Putri Selara Pinang Masak. Tuan harus mengerjakannya mulai pukul dua belas malam dan harus sudah siap mejelang ayam berkokok pertama kali. Kalau Tuan sanggup berbuat demikian barulah berhak memiliki diriku.”
Tan Telanai menoleh kewajah Putri Selara Pinang Masak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tertawanya makin keras pertannda ia yakin akan mampu memenuhi semua apa yang diminta oleh Putri Selara Pinang Masak. Sebaliknya Putri merasa yakin pula, Tan Telanai mustahil dapat mengerjakan dan memenuhi segala persyaratan yang dikemukakannya.
Tepat pukul dua belas malam, Tan Telanai mulai mengerjakan pekerjaannya. Terdengar suara orang amat gaduh dan hiruk-pikuk. Yang bertugas mengangkut batu bata berbaris memenuhi tepi daratan memanjang menghubungkan Negeri Sian dengan Muaro Jambi.bagai garis berkelok-kelok. Batu bata dilempar dari satu tangan ketangan yang lain tak putus, Sebentar saja benda itu telah menumpuk bagaikan gunung tinggi. Entah dari mana gerangan orang banyak itu datang hanya Tan Telanai sendirilah yang tahu. Kaki mereka merusak bibir pantai yang terinjak sehingga timbul genangan laut kecil dan timbul pulau-pulau baru, didatara Muaro Jambi tanah terlekuk dalam, bekas jutaan manusia yang tinggi besar.
Dua tiga jam kemudian, Putri Selara Pinang Masak menugasi hulubalangnya melihat hasil pekerjaan Tan Telanai. Kalu tadi ia yakin kalu Tan Telanai tidak sanggup unruk mengerjakan semua yang dikehendakinya, kini ia mulai merasa waswas. Hilubalang yang ditugasinya melaporkan bahwa Tan Telanai hamper saja dapat merampungkan pekerjaanya.tinggak selebar dulang(baki) saja lagi.
Semua orang ahli pikir dan para cerdik pandai negeri tersebut segera berunding dan bermusyawarah untuk mencari jalan keluar dan kemelut yang sedang dialami oleh Ratu mereka, yaitu Putri Selara Pinang Masak. Suatau cara baru dapat ditemuakan, semua kandang ayam akan ditedengi dengan kelambu buruk dan bagian sebelah timurnya (yang menghadap matahari) kira-kira seratus dari sana arah ketimur juga ditaruh lampu diatas tiang-tiang yang tidak begitu tinggi. Nanti kandang-kandang ayam tadi digebuki sementara sebagian orang disuruh menirukan suara ayam berkokok.
Kata sepakat sudah dicapai, keputusan telah berhasil di ambil. Mulailah mereka melakukan suatu siasat yang sudah masak tersebut dengan cermat dan berhati-hati. Sebentar kemudian, terdengarlah kokok ayam bersahut-sahutan bagai menanti hari yang akan menjelang subuh.
Tan Telanai kaget bukan main. Ia kecewa luar biasa. Dengan marah ditendangnya bangunan mahligai yang hamper selesai itu. Akhirnya Tan Telanai tidak berhasil mempersuntung Putri Selara Pinang Masak karna sebelum mahligai selesai ayam telah berkokok.
Senin, Februari 14, 2011
DAKOTAN
Kotajayo yang sekarang dahulu bernama Mlaka Kecil. Malaka Kecil ini diperintah oleh seorang Katemenggungan yang bernama Sutayuda. Dinamakan Malaka Kecil karena saat itu negeri Malaka sedang ianya. Pedagang Jambi yang mengagumi negeri ini mengabadikan namanya. Untuk itulah kemudian Kotajayo yang sekarang adalah negeri yang diberi julukan Malaka Kecil.
Ternyata hubungan harmonis antar Malaka Kecil dengan Senenanjung Melayu tidak disenangi pihak Belanda yang mendirikan benteng di Muara Bungo Jambi. Belanda memendang hubungan dagang dengan perahu layar ini akan menimbulakanj ancaman terhadap kekuasaanya. Itulah sebab pemerintah belanda melarang hubungan dagang tersebut. Namun, larangan itu tidak dehiraukan sama sekali oleh katemenggungan Sutayuda. Rakyatnya sudah semenjak lama berhubungan langsung dengan kerajaan Malaka. Hubungan dagang antara kedua negeri ini didasari kesamaaan ras dan bahasa. Begitu pula kebudayaanya. Apa salahnya kalau mereka saling berhubungan?.
Pada suatu ketika datanglah utusan Belanda menghadap Temenggung Sutayuda. Utusan ini di terima Temenggung dengan baik. Akan tetapi, ketika para utusan menyampaikan pesan-pesan pemerintah Belanda yang berkedudukan di Jambi, temenggung tampak sangat marah.
“Sampaikan kepada pimpinan kalian”. Kata Sutayuda meradang.” Malaka Kecil tidak berada di bawah siapapun. Kami bebas berniaga dengan siapa saja. Dahulu,sekarang, dan kapan saja negeri kami tetap berdaulat penuh.”
Wajah-wajah yang mengikuti pertemuan itu menjadi sangat tegang. Sementara para pendamping Temenggung kalau tidak ditahan-tahan Sutayuda mungkin sudah menggunakan keris untuk menghabisi utusan Belanda itu. Dipihak lain, para utusan Belanda tanpa sepatah kata pun segera menunggalkan tempat pertemuuan dan menuju kapal mereka sambil berjalan tergopoh-gopoh.
‘Belanda keparat!, desis Sutayuda disamping pendampingnya setelah utusan Belanda dua tiga langkah meninggalkan tempat pertemuan.
“Adakah mungkin semudah itu Belanda memisahkan kita sesame orang melayu? Kalian bersiap-siaplah sekarang, mereka tahu benar menggunakan situasi. Cepat atau lambat belanda pasti akan menyerang negeri kita.
Sikap Temenggung Sutayuda dipandang Belanda sebagai alasan untuk menyerang Malaka Kecil. Belanda segera menyerang dengan mengirimkan pasukan yang dinamakan rakyat tentara hijau. Pasukan tentara hijau ini tergabung dalam armada laut.
Serangan ini dapat ditangkis oleh Malaka Kecil. Konon Temenggung Sutayuda,para hulubalang, dan rakyat negeri Malaka Kecil menggunakan ilmu medu. Berkat ilmu ini, semua tentara belanda,tentara hijau, sakit perut sehingga mundur teratur, Dengan demikian terhindarlah Malaka Kecil dari serangan.
Untuk beberapa lama, negeri Malaka Kecil aman dan tidak mendapat gangguan dari belanda lagi. Namun keadaan yang demikian tidak dapat dipertahankan terus menerus. Dengan kecerdikannya, Belanda berhasil menghasut raja negeri Jawa untuk menyerang malaka kecil.
Mula-mula datang utusan raja Negeri Jawa yang menyampaikan perintah agar Malaka menghetikan perdangan dengan kerajaan Malaka di Semenanjung. Temenggung Sutayuda segera mengetahui bahwa Belanda ada di balik larangan itu. Temenggung Sutayuda tentu saja menolak dengan keras.
Penolakan Temenggung Sutayuda menimbulkan amarah bagi raja Jawa ini. Temenggung pun mengumpulkan para hulubalang serta penesihat-penasihat ketemenggungan. Di hadapan para hulubalang dan penesihat ini, Tumenggung Sutayuda mengemukakan rencana-rencananya.
“Para hulubalang negeri Malaka Kecil, para penasihat serta Nenek mamak,” kata Sutayuda dengan berwubawa, “Tampaknya raja Jawa dalam waktu dekat akan menyerang kita. Untuk melawan serangn tersebut. Aku punya gagasan untuk pertimbangan kita bersama. Kita harus membangun benteng petahanan. Benteng yang akan kita buat itu berupa parit. Pintu masuk kenegeri ini, kita sediakan berupa rawa-rawa belumpur. Dan itulah satu-satunya pintu masuk. Apakah kalian setuju? Atau ada usul lain.?”
Ternyata seluruh rakyat menerima usul tersebut dengan suara bulat. Diumpamakan air maka alirannya sudah bulat dalam suatu pembuluh. Tanpa berlalai-lalai lagi. Dibuatlah pertahanan dan sebuah pintu masuk berupa rawa lumpur. Bila ada yang berani masuk maka maka lumpur yang pekat akan mejebaknya. Bukan hanya manusia, hewan pun akan tidak berdaya kalau masuk kedalam lumpur tersebut.
Tanpa paksaan dan suruhan. Seluruh rakyat bekerja dengan tulus dan ikhlas. Akhirnya, dengan waktu yang singkat parit yang dibuat segera rampung.
Tak berapa lama kemudian, tentara jawa pun datang kesana. Begitu pasukan itu datang, mereka tak langsung menyerbu kedalam Malaka Kecil. Mereka tak berani masuk karena pintu satunya-satunya dihadang oleh rawa berlumpur.
Kemudian tentara Jawa membuat benteng pertahanan di seberang berhadap- hadapan dengan parit negeri Malaka Kecil. Malam harinya, pasukan Jawa selalu saja mendapat serangan pasuka Malaka Kecil. Lama-kelamaan, pasukan jawa menjadi jemu. Disamping mereka tak mungkin melewati rawa berlumpur, gangguan nyamuk, sakit perut dan kelaparan menyebabkan tentara Jawa itu mundur teratur.
Mendengar kabar itu, kerajaan Malaka di semenanjung berengsur-angsur memutuskan hubungan dangang dengan Malaka Kecil.
Orang negeri Malaka Kecil mengubah nama negerinya menjadi Malaka Jaya, mengingat mereka selalu jaya dalam menghadapi dua kali serangan musuh. Akhinya, nama itu di ubah pula menjadi Kotajayo, artinya parit selalu jaya.
Ternyata hubungan harmonis antar Malaka Kecil dengan Senenanjung Melayu tidak disenangi pihak Belanda yang mendirikan benteng di Muara Bungo Jambi. Belanda memendang hubungan dagang dengan perahu layar ini akan menimbulakanj ancaman terhadap kekuasaanya. Itulah sebab pemerintah belanda melarang hubungan dagang tersebut. Namun, larangan itu tidak dehiraukan sama sekali oleh katemenggungan Sutayuda. Rakyatnya sudah semenjak lama berhubungan langsung dengan kerajaan Malaka. Hubungan dagang antara kedua negeri ini didasari kesamaaan ras dan bahasa. Begitu pula kebudayaanya. Apa salahnya kalau mereka saling berhubungan?.
Pada suatu ketika datanglah utusan Belanda menghadap Temenggung Sutayuda. Utusan ini di terima Temenggung dengan baik. Akan tetapi, ketika para utusan menyampaikan pesan-pesan pemerintah Belanda yang berkedudukan di Jambi, temenggung tampak sangat marah.
“Sampaikan kepada pimpinan kalian”. Kata Sutayuda meradang.” Malaka Kecil tidak berada di bawah siapapun. Kami bebas berniaga dengan siapa saja. Dahulu,sekarang, dan kapan saja negeri kami tetap berdaulat penuh.”
Wajah-wajah yang mengikuti pertemuan itu menjadi sangat tegang. Sementara para pendamping Temenggung kalau tidak ditahan-tahan Sutayuda mungkin sudah menggunakan keris untuk menghabisi utusan Belanda itu. Dipihak lain, para utusan Belanda tanpa sepatah kata pun segera menunggalkan tempat pertemuuan dan menuju kapal mereka sambil berjalan tergopoh-gopoh.
‘Belanda keparat!, desis Sutayuda disamping pendampingnya setelah utusan Belanda dua tiga langkah meninggalkan tempat pertemuan.
“Adakah mungkin semudah itu Belanda memisahkan kita sesame orang melayu? Kalian bersiap-siaplah sekarang, mereka tahu benar menggunakan situasi. Cepat atau lambat belanda pasti akan menyerang negeri kita.
Sikap Temenggung Sutayuda dipandang Belanda sebagai alasan untuk menyerang Malaka Kecil. Belanda segera menyerang dengan mengirimkan pasukan yang dinamakan rakyat tentara hijau. Pasukan tentara hijau ini tergabung dalam armada laut.
Serangan ini dapat ditangkis oleh Malaka Kecil. Konon Temenggung Sutayuda,para hulubalang, dan rakyat negeri Malaka Kecil menggunakan ilmu medu. Berkat ilmu ini, semua tentara belanda,tentara hijau, sakit perut sehingga mundur teratur, Dengan demikian terhindarlah Malaka Kecil dari serangan.
Untuk beberapa lama, negeri Malaka Kecil aman dan tidak mendapat gangguan dari belanda lagi. Namun keadaan yang demikian tidak dapat dipertahankan terus menerus. Dengan kecerdikannya, Belanda berhasil menghasut raja negeri Jawa untuk menyerang malaka kecil.
Mula-mula datang utusan raja Negeri Jawa yang menyampaikan perintah agar Malaka menghetikan perdangan dengan kerajaan Malaka di Semenanjung. Temenggung Sutayuda segera mengetahui bahwa Belanda ada di balik larangan itu. Temenggung Sutayuda tentu saja menolak dengan keras.
Penolakan Temenggung Sutayuda menimbulkan amarah bagi raja Jawa ini. Temenggung pun mengumpulkan para hulubalang serta penesihat-penasihat ketemenggungan. Di hadapan para hulubalang dan penesihat ini, Tumenggung Sutayuda mengemukakan rencana-rencananya.
“Para hulubalang negeri Malaka Kecil, para penasihat serta Nenek mamak,” kata Sutayuda dengan berwubawa, “Tampaknya raja Jawa dalam waktu dekat akan menyerang kita. Untuk melawan serangn tersebut. Aku punya gagasan untuk pertimbangan kita bersama. Kita harus membangun benteng petahanan. Benteng yang akan kita buat itu berupa parit. Pintu masuk kenegeri ini, kita sediakan berupa rawa-rawa belumpur. Dan itulah satu-satunya pintu masuk. Apakah kalian setuju? Atau ada usul lain.?”
Ternyata seluruh rakyat menerima usul tersebut dengan suara bulat. Diumpamakan air maka alirannya sudah bulat dalam suatu pembuluh. Tanpa berlalai-lalai lagi. Dibuatlah pertahanan dan sebuah pintu masuk berupa rawa lumpur. Bila ada yang berani masuk maka maka lumpur yang pekat akan mejebaknya. Bukan hanya manusia, hewan pun akan tidak berdaya kalau masuk kedalam lumpur tersebut.
Tanpa paksaan dan suruhan. Seluruh rakyat bekerja dengan tulus dan ikhlas. Akhirnya, dengan waktu yang singkat parit yang dibuat segera rampung.
Tak berapa lama kemudian, tentara jawa pun datang kesana. Begitu pasukan itu datang, mereka tak langsung menyerbu kedalam Malaka Kecil. Mereka tak berani masuk karena pintu satunya-satunya dihadang oleh rawa berlumpur.
Kemudian tentara Jawa membuat benteng pertahanan di seberang berhadap- hadapan dengan parit negeri Malaka Kecil. Malam harinya, pasukan Jawa selalu saja mendapat serangan pasuka Malaka Kecil. Lama-kelamaan, pasukan jawa menjadi jemu. Disamping mereka tak mungkin melewati rawa berlumpur, gangguan nyamuk, sakit perut dan kelaparan menyebabkan tentara Jawa itu mundur teratur.
Mendengar kabar itu, kerajaan Malaka di semenanjung berengsur-angsur memutuskan hubungan dangang dengan Malaka Kecil.
Orang negeri Malaka Kecil mengubah nama negerinya menjadi Malaka Jaya, mengingat mereka selalu jaya dalam menghadapi dua kali serangan musuh. Akhinya, nama itu di ubah pula menjadi Kotajayo, artinya parit selalu jaya.
SI EMPAT MATA DAN SI PAHIT LIDAH
Di suatu daerah di Kerinci Hulu.Hiduplah diu orang pemuda yang sakti yang sangat disegani ploeh masyarakat setempat. Pemuda itu bernama Si Pahit Lidah dan Si Empat Mata. Mereka berdua bersahabat, sehidup semati dan msemakan seminum.bahkan tidurpun dalam semulung (tikar pandan)yang sama.
Si Pahit Lidah pernah mangatakan kepada Si Mata Empat bahwa ia banyak mempunyai ilmu gaib(Kesaktian). Kalau sebuah batu disebut sapi, Misalnya. Maka jadilah batu itu menjadi sapi.kalau seekor kuda itu di sebut kambing maka jadilah ia seekor kambing.begitu jua halnya dengan benda yang lain. Demikianlah kekuatan ucapannya.
Sebaliknya, berkata pula Si Mata Empat.
“Ilmu yang anda miliki belum kita uji keampuhannya.” Berselang beberapa menit, kedua sahabat tadi berperang mulut,lalu diputuskanlah untu membuktikan siapa yang terhebat diantara mereka berdua. Dicarilah tempat tempat bertarung yang tepat dan lapang serta jauh dari keramaian supaya bisa bebas untuk mengadu jotos.
“Baiklah,:kata Si Pahit Lidah. “dimana kita bertarung?.
Si Empat mata pun menunjukkan suatu tempat yang teduh dibawah pohon Enau yang sedang berbuah lebat.
“Nah disini kita akan menguji kekuata, kalau Anda hendak menunjukkan kehebatanmu kata Si Empat Mata.
“Sekarang siapa yang duluan?” kata Si Pahit Lidah.
“Saya terlebih dahulu,” kata Si Mata Empat.
Kemudian Si Mata Empat tidur di bawah pohon Enau. Semantara itu Si Pahit Lidah memanjat pohon enau sambil membawa parang untuk memotong tandan enau yang sedang berbuah lebat agar bisa menimpa Si Mata Empat.
“Kalau saya sudah nelungkup nanti, saya sebutka satu,dua,tiga, lalu anda potong tandan enau agar segera menimpa tubuhku.” Kata Si Mata Empat dengan nada sombong.
Setelah mendengar hitungan Si Mata Empat sampai angka tiga, Si Pahit Lidah pun menebas tandan Enau. Jatuhlah ketanah tandan itu tanpa sedikitpun menimpa tubuh Si Mata Empatkarena ia melihat dengan dua mata belakangnyayang juga dapat melihat. Ia mengelak dan tehindarlah dari kejatuha buah Enau. Ia pun tidak mati.
“Nah,” kata Si Mata Empat,’’ turunlah Anda dan giliran saya yang akan memotong Enau dari atas pohonnya.
Menelungkuplah Si Pahit Lidah di bawah pohon enau. Kemudian Si Mata Empat memanjat pohon. Berhitunglah Si Pahit Lidah sampai hitungan angka ketiga sehingga di potonglah oleh Si Mata Empat tandan enau yang berbuah lebat hingga menimpa tubuh Si Pahit Lidah di bagian kepala.Akibatnya, pecahlah kepala Si Pahit Lidah dan meninggallah dia dibawah pohon enau itu.
Dasar Si Mata Empat tidak berakal yang sehat.Meski sudah tahu Si Pahit Lidah memang lidahnya pahit. Di cobanya juga mengisap-isap lidahnya untuk membuktiakan pahit atau tudak. Begitu pahitnya lidah Si Pahit Lidah, akhirnya Si Mata Empat pun mati kepahitan.
Alhasil, mayat mayat kedua kesatria tadi sama-sama terbaring di bawah pohon tempat gelanggang pertempuran.
Melihat kejadian itu, masyarakat pun menguburkan mayat mereka sekitar lima meter persegi di tempat itu.
Menurut cerita, sampai sekarang rumput tidak bisa tumbuh di atas kuburan keramat tersebut. Konon kabarnya, asal-usul racun dari kuburan itu adalah kuburan dua pendekar yang suka pamer kehebatannya.
Si Pahit Lidah pernah mangatakan kepada Si Mata Empat bahwa ia banyak mempunyai ilmu gaib(Kesaktian). Kalau sebuah batu disebut sapi, Misalnya. Maka jadilah batu itu menjadi sapi.kalau seekor kuda itu di sebut kambing maka jadilah ia seekor kambing.begitu jua halnya dengan benda yang lain. Demikianlah kekuatan ucapannya.
Sebaliknya, berkata pula Si Mata Empat.
“Ilmu yang anda miliki belum kita uji keampuhannya.” Berselang beberapa menit, kedua sahabat tadi berperang mulut,lalu diputuskanlah untu membuktikan siapa yang terhebat diantara mereka berdua. Dicarilah tempat tempat bertarung yang tepat dan lapang serta jauh dari keramaian supaya bisa bebas untuk mengadu jotos.
“Baiklah,:kata Si Pahit Lidah. “dimana kita bertarung?.
Si Empat mata pun menunjukkan suatu tempat yang teduh dibawah pohon Enau yang sedang berbuah lebat.
“Nah disini kita akan menguji kekuata, kalau Anda hendak menunjukkan kehebatanmu kata Si Empat Mata.
“Sekarang siapa yang duluan?” kata Si Pahit Lidah.
“Saya terlebih dahulu,” kata Si Mata Empat.
Kemudian Si Mata Empat tidur di bawah pohon Enau. Semantara itu Si Pahit Lidah memanjat pohon enau sambil membawa parang untuk memotong tandan enau yang sedang berbuah lebat agar bisa menimpa Si Mata Empat.
“Kalau saya sudah nelungkup nanti, saya sebutka satu,dua,tiga, lalu anda potong tandan enau agar segera menimpa tubuhku.” Kata Si Mata Empat dengan nada sombong.
Setelah mendengar hitungan Si Mata Empat sampai angka tiga, Si Pahit Lidah pun menebas tandan Enau. Jatuhlah ketanah tandan itu tanpa sedikitpun menimpa tubuh Si Mata Empatkarena ia melihat dengan dua mata belakangnyayang juga dapat melihat. Ia mengelak dan tehindarlah dari kejatuha buah Enau. Ia pun tidak mati.
“Nah,” kata Si Mata Empat,’’ turunlah Anda dan giliran saya yang akan memotong Enau dari atas pohonnya.
Menelungkuplah Si Pahit Lidah di bawah pohon enau. Kemudian Si Mata Empat memanjat pohon. Berhitunglah Si Pahit Lidah sampai hitungan angka ketiga sehingga di potonglah oleh Si Mata Empat tandan enau yang berbuah lebat hingga menimpa tubuh Si Pahit Lidah di bagian kepala.Akibatnya, pecahlah kepala Si Pahit Lidah dan meninggallah dia dibawah pohon enau itu.
Dasar Si Mata Empat tidak berakal yang sehat.Meski sudah tahu Si Pahit Lidah memang lidahnya pahit. Di cobanya juga mengisap-isap lidahnya untuk membuktiakan pahit atau tudak. Begitu pahitnya lidah Si Pahit Lidah, akhirnya Si Mata Empat pun mati kepahitan.
Alhasil, mayat mayat kedua kesatria tadi sama-sama terbaring di bawah pohon tempat gelanggang pertempuran.
Melihat kejadian itu, masyarakat pun menguburkan mayat mereka sekitar lima meter persegi di tempat itu.
Menurut cerita, sampai sekarang rumput tidak bisa tumbuh di atas kuburan keramat tersebut. Konon kabarnya, asal-usul racun dari kuburan itu adalah kuburan dua pendekar yang suka pamer kehebatannya.
PUTRI RENO PINANG MASAK
Pada zaman dahulu, dibelakang dusun Pasir ada sebuah kerajaan yang bernama Limbungan. Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu bernam Putri Reno Pinang Masak. Putri ini mempunya paras yang cantik dan mempunyai ilmu yang sangat sakti. Tak mengherankan, banyak raja yang ingin menyuntungnya sebangai istri. Namun, tak seorangpun yang berhasil meminangnya, apalagi menikahinya.
Putri ini dipuja-puja oleh seluruh rakyatnya karena berbudi luhur, arif,dan bijaksana. Rakyat yang moskin mendapat jaminan hidup dalam hal makan dan minum dari golongan yang kaya.Sebaliknya yang kaya diberi kesempatan untuk menambah dan mengendalikan kekayaannya. Dengan demikian, terdapat suasana yang harmonis diantara sesame anggota masyarakat negeri Limbungan.
Dalam menjalankan pemerintahannya,Ratu dibantu oleh tiga hulubalang yang dipercayainya. Hulubalang pertama bernama Datuk Raja Penghulu yang terkenal sebagai Hulubalang yang arif dan bijaksana. Hulubalang kedua bernama Datuk Dengar Kitab yang dapat meramal kejadian-kejadian yang akan datang melalui sebuah kitab yang dimilikinya. Hulubalang ketiga bernama Datuk Mangun yang bertugas sebagai panglima perang kerajaan.
Kecantikan Putri Reno Pinang Masak terdengar pula ke telinga Raja Jawa. Kemudian, Raja Jawa itu pun mengirim utusan untuk melamar sang Putri. Ternyata lamaran itu ditolak juga oleh Putri Reno Pinang Masak.
Raja jawa sangat tersinggung karena lamarannya ditolak. Akhirnya, ia nekat mau mempersunting Putri Reno Pinang Masak dengan menggunakan segala cara.
Mendengar berita itu Putri Reno Pinang Masak tidak takut sama sekali. Bahkan ratu sangat gemas dan geram.Ratu memandang gelagat raja jawa tadi sebagai ancaman kedaulatan negerinay.Oleh karena itu, Ratu memanggil ketiga hulubalangnya serta memenggil seluruh peduduk negerinya.
Bersama-sama hulubalang dan segenap rakyatnya maka diaturlah siasat mengahadapi Raja Jawa yang mengancam akan menyerang negeri Limbungan. Akhirnya desepakati bersama bahwa negeri Limbungan diberi parit dan dipagar dengan bamboo berduri.
Dicarilah tumbuhan itu oleh masyarakat kemana-mana.setelah terkumpul banyak, bamboo berduru uti ditaman berlapis-lapis sebagai pagar negeri untuk menghalangi tentara Raja Jawa masuk ke negeri.
Pagar inilah yang dijadikan benteng pertahanan.disatu-satunya pintu masuk ke Limbungan telah menunggu Datuk Mangun beserta anak buahnya.
Pada suatu hari,Raja Jawa besarta tentaranya datang ke negeri ini dengan melewati sebuah gerbang yang telah dijaga oleh hulubalang Datuk Mangun dan anak buahnya. Akibatnya, terjadilah pertempuran yang sangat sengit.
Ternyata tentara Jawa tak kuasa sedikit pun menembus pertahanan Dtuk Mangun yang didampingi oleh prajurit-prajurit serta rakyat negeri Limbungan yang tangguh.Tentara Jawa terpaksa mundur dan memakan banyak korban jiwa.
Melihat tentaranya gagal memasuki Limbungan dan menderita kekalahan besar, Raja Jawa memanggil semua hulubalang dan mengumpulkan semua prajuritnya. Diadakanlah perundingan untuk mencari akal melalui buah pikiran orang banyak. Akhirnya, ditemukanlah sutu akal tipu muslihat, yaitu dikumpulkan semua uang ringgit logam,Uang Logam ini dijadikan peluru yang akan ditembakkan kesetiap rumpun bamboo yang berlapis-lapis tadi.
Selanjutnya, ditembakkan uang itu kepohon bambu secara berulang-ulang sepuas hati tentara Jawa sehingga uang ringgit logan itu beronggokan di cdelah pohon bambu berduri tersebut,kemudian Raja jawa beserta tentaranya pun pulanglah kenegerinya.
Dalam keadaan demikian, Kebetulan ada serang penduduk negeri Limbungan yang tidak sengaja menemukan onggokan uang ringgit logam berada di sepanjang pagar bambu benteng pertahanan. Melihat uang logam yang sangat banyak itu,ia pun berniat memberitahuakan hal tersebut kepada Ratu. Lalu diambilnya beberapa keeping logam sebagai bukti untuk diperlihatkan bepada Ratu di istana.
“Dimana engaku dapatkan ringgit itu, Datuk?” Tanya Ratu penuk keheranan.
“Dibawah rumpun bambu benteng pertahanan kiata Tuanku’’. Jawab pembawa ringgit logam itu agak tergagap. “Bertimbun banyaknya “. Tambahnya.
“Baiklah!” kata ratu pula.” aku yakin datuk tidak berbohong. Mati kiat lihat!.
Benar saja! Ratu menemukan uang logam bertumpukan disela-sela rumpun bambu.setelah dirundingkan dengan semua orang, diputuskanlah untuk mengambil uang logam tersebut.Untuk memudahkan pengambilannya, Pohon-pohon bamboo itupun ditebangi,Uang tersebut diangkut keistana.
Pada saat itu pula, Raja Jawa bersama tentaranya datang menyerbu secara tiba-tiba. Karena benteng pertahanan tidak ada lagi, Pasuka negeru Jawa dengan mudah masuk kenegeri Limbungan. Tentara beserta rakyat limbungan tidak dapat menahan serangan mendadak itu.
Putri Reno Pinang Masak sadar akan kesalahannya.Ia sangat menyesali akan kealpaannya. Dengan rasa menyesal, diam-diam pergilah Ratu seorang diri meninggalkan negeri yang dicintainya. Akhirnya, kerajaan Limbungan takluk di tangan Raja Jawa meski ia tak berhasil mempersunting Ratu yang telah melarikan diri.
Putri ini dipuja-puja oleh seluruh rakyatnya karena berbudi luhur, arif,dan bijaksana. Rakyat yang moskin mendapat jaminan hidup dalam hal makan dan minum dari golongan yang kaya.Sebaliknya yang kaya diberi kesempatan untuk menambah dan mengendalikan kekayaannya. Dengan demikian, terdapat suasana yang harmonis diantara sesame anggota masyarakat negeri Limbungan.
Dalam menjalankan pemerintahannya,Ratu dibantu oleh tiga hulubalang yang dipercayainya. Hulubalang pertama bernama Datuk Raja Penghulu yang terkenal sebagai Hulubalang yang arif dan bijaksana. Hulubalang kedua bernama Datuk Dengar Kitab yang dapat meramal kejadian-kejadian yang akan datang melalui sebuah kitab yang dimilikinya. Hulubalang ketiga bernama Datuk Mangun yang bertugas sebagai panglima perang kerajaan.
Kecantikan Putri Reno Pinang Masak terdengar pula ke telinga Raja Jawa. Kemudian, Raja Jawa itu pun mengirim utusan untuk melamar sang Putri. Ternyata lamaran itu ditolak juga oleh Putri Reno Pinang Masak.
Raja jawa sangat tersinggung karena lamarannya ditolak. Akhirnya, ia nekat mau mempersunting Putri Reno Pinang Masak dengan menggunakan segala cara.
Mendengar berita itu Putri Reno Pinang Masak tidak takut sama sekali. Bahkan ratu sangat gemas dan geram.Ratu memandang gelagat raja jawa tadi sebagai ancaman kedaulatan negerinay.Oleh karena itu, Ratu memanggil ketiga hulubalangnya serta memenggil seluruh peduduk negerinya.
Bersama-sama hulubalang dan segenap rakyatnya maka diaturlah siasat mengahadapi Raja Jawa yang mengancam akan menyerang negeri Limbungan. Akhirnya desepakati bersama bahwa negeri Limbungan diberi parit dan dipagar dengan bamboo berduri.
Dicarilah tumbuhan itu oleh masyarakat kemana-mana.setelah terkumpul banyak, bamboo berduru uti ditaman berlapis-lapis sebagai pagar negeri untuk menghalangi tentara Raja Jawa masuk ke negeri.
Pagar inilah yang dijadikan benteng pertahanan.disatu-satunya pintu masuk ke Limbungan telah menunggu Datuk Mangun beserta anak buahnya.
Pada suatu hari,Raja Jawa besarta tentaranya datang ke negeri ini dengan melewati sebuah gerbang yang telah dijaga oleh hulubalang Datuk Mangun dan anak buahnya. Akibatnya, terjadilah pertempuran yang sangat sengit.
Ternyata tentara Jawa tak kuasa sedikit pun menembus pertahanan Dtuk Mangun yang didampingi oleh prajurit-prajurit serta rakyat negeri Limbungan yang tangguh.Tentara Jawa terpaksa mundur dan memakan banyak korban jiwa.
Melihat tentaranya gagal memasuki Limbungan dan menderita kekalahan besar, Raja Jawa memanggil semua hulubalang dan mengumpulkan semua prajuritnya. Diadakanlah perundingan untuk mencari akal melalui buah pikiran orang banyak. Akhirnya, ditemukanlah sutu akal tipu muslihat, yaitu dikumpulkan semua uang ringgit logam,Uang Logam ini dijadikan peluru yang akan ditembakkan kesetiap rumpun bamboo yang berlapis-lapis tadi.
Selanjutnya, ditembakkan uang itu kepohon bambu secara berulang-ulang sepuas hati tentara Jawa sehingga uang ringgit logan itu beronggokan di cdelah pohon bambu berduri tersebut,kemudian Raja jawa beserta tentaranya pun pulanglah kenegerinya.
Dalam keadaan demikian, Kebetulan ada serang penduduk negeri Limbungan yang tidak sengaja menemukan onggokan uang ringgit logam berada di sepanjang pagar bambu benteng pertahanan. Melihat uang logam yang sangat banyak itu,ia pun berniat memberitahuakan hal tersebut kepada Ratu. Lalu diambilnya beberapa keeping logam sebagai bukti untuk diperlihatkan bepada Ratu di istana.
“Dimana engaku dapatkan ringgit itu, Datuk?” Tanya Ratu penuk keheranan.
“Dibawah rumpun bambu benteng pertahanan kiata Tuanku’’. Jawab pembawa ringgit logam itu agak tergagap. “Bertimbun banyaknya “. Tambahnya.
“Baiklah!” kata ratu pula.” aku yakin datuk tidak berbohong. Mati kiat lihat!.
Benar saja! Ratu menemukan uang logam bertumpukan disela-sela rumpun bambu.setelah dirundingkan dengan semua orang, diputuskanlah untuk mengambil uang logam tersebut.Untuk memudahkan pengambilannya, Pohon-pohon bamboo itupun ditebangi,Uang tersebut diangkut keistana.
Pada saat itu pula, Raja Jawa bersama tentaranya datang menyerbu secara tiba-tiba. Karena benteng pertahanan tidak ada lagi, Pasuka negeru Jawa dengan mudah masuk kenegeri Limbungan. Tentara beserta rakyat limbungan tidak dapat menahan serangan mendadak itu.
Putri Reno Pinang Masak sadar akan kesalahannya.Ia sangat menyesali akan kealpaannya. Dengan rasa menyesal, diam-diam pergilah Ratu seorang diri meninggalkan negeri yang dicintainya. Akhirnya, kerajaan Limbungan takluk di tangan Raja Jawa meski ia tak berhasil mempersunting Ratu yang telah melarikan diri.
PUTRI TANGGUK
Negeri kecil bernama Bunga Tanjung terletak dalam kecamatan danau kerinci.Pada zaman dahulu kala,tinggal disitu seorang perempuan bernama Putri Tangguk.Putri itu sudah bersuami dan dan beranak tujuh orang.Dia bernama Putri Tangguk karena keajaiban yang ada pada dirinya,yakni memiliki sawah hanya seluas tangguk (alat penangkap ikan kira-kira seluas tampah penampi beras).Walaupun demikian,jika dipanen hasil sawah itu banyak sekali.Setiap Putri Tangguk habis menuai padi di sawahnya itu dan meletakkan padinya kedalam ambung (seperti bakul,diletakkan dipunggung dan talinya diletakkan di kepala/ ubun-ubun),padi disawah itu muncul lagi dan menguning masak,dituai lagi muncul lagi,dan begitu seterusnya.Tujuh lumbung padi yang besar-besar sudah penuh padi,hasil ketekunan Putri Tangguk yang bekerja siang malam.Akan tetapi kesibukannya itu telah membuat Putri Tangguk tidak sempat melakukan pekerjaan lain.lupa mandi sampai dakinya biasa dikerok dengan sendok. lupa bersilaturahmi dengan tetangga,dan lupa mengurus anak-anak mereka yang tujuh orang.
Suatu malam,Putru Tangguk berkata pada suaminya,ketika anak-anaksudah tidur,” Kak aku sudah capek menuai padi untuk mengisi lumbung.Anak-anak tidak sempat kita urus,dan dengan tetangga kita seperti terkucil.”
“Jadi bagaimana maksudmu Dinda?” kata si suami.
“Begini Kak. Besik pagi,aku bermaksud memenuhi lumbung kita yang ketujuh itu.”
“Baiklah.besok anak –anak kita ajak membantu.” Jawab suaminya malam itu.
Setelah itu mereka diam sampau tertidur.kebetulan malam itu hujan sangat deras,hujan itu baru berhentu pagi hari setelah beduk subuh.
Putri Tangguk pagi itu berangkat kesawahnya yang Cuma seluas Tangguk bersama suami dan ketujuh orang anaknya.Meskipun mereka berjalan sangat hati-hati,Putri Tangguk terpeleset juga,dia terjatuh dan marah seorang diri.
“Jalan kurang ajar. Biarlah, nanti padi-padi yang kutuai ku serakkan disini sebagai pengantu pasir agar engkau tak licin lagi,”Katanya.
Apa yang diucapkan itu benar-benar dilaksanakannya. hampir semua hasil tuaiannya diserakkan dijalan yang licin itu.sampai jalan itu tidak licin lagi.Hanya sedikit padi yang dibawa pulang dan dimasukkan kedalam lumbung.Benar juga sejak hari itu Putri tangguk tidak pernah lagi pergi kesawah,tidak pernak peduli lagi pada sawahnya yang sebesar Tangguk itu.Sebagai pengisi waktu sehari-hari,Putri tangguk menenun kain. Putri tangguk membuat baju untuk dirinya sendiri anak-anaknya dan untuk suaminya.
Pada suatu hari,ketika asyik bekerja menenun, Putri tangguk lupa memasak di dapur.sampai larut malam, anak-anaknya tertudur semua.Putri tangguk ikut tertidur pula.
Malam harinya,anaknya yang bungsu terbangun.anak itu kelaparan.anak itu berhasil di bujuk dan tertidir lagi,begitu seterusnya secara bergiliran. Namun ketika anaknya yang sulung terbangun.dan minta makan.Putri tangguk bukan membujuk melainkan marah.
‘Kau sudah besar jangan seperti adik-adikmu juga,minta dilayani Emak semua,cari sendiri nasi dalam periuk didapur,kalau tidak ada,ambik beras dikaleng dan masak sendiri,kalau beras dalam kaleng habis ambil di dalam lumbung dan tumbuk sendiri”.
Karena lapar anaknya menuruti kata-kata Putri tangguk,akan tetapi nasi tidak ada,beras juga tudak ada,sedangkan dia malas kelumbung padi.
“Mak , mak.nasi tidak ada,beras pun tidak ada.tolonglah mak tumbukkan dan tampikan padi.
“Aneh. Tadi kuingat masih ada nasi kemarin dalam periuk,masih ada pula beras untuk dua kali bertanak.ada apa pula pencuri masuk? Sudahlah, Tahan saja lapar sampai besok pagi.aku malas menumbuk dan menampi padi malam-malam begini.tidak pantas didengar tetangga,padi-padi pun marah diperlakukan seperti itu.
Sehabis berkata demikian, Putri Tangguk tertidur kagi sebab badannya benar-benar letih karena menenun seharian penuh.anak sulungnya itu juga tertidur.
Keesokan harinya, Matahari bersinar terang dari balik Gunung Kerinci.Suami Putri tangguk membuka lumbung untuk menjemur padi,dan ternganga melihat lumbungnya kosong.Putri tangguk masih punya harapan.Sawahnya adalah gudang padi, Putri Tangguk menarik tangan suaminya dan mereka berlari ke sawah.Sampai di sawah,Putri tangguk sedih dan kecewa.jangankan ada padinya,batang padinya saja tidak ada.yang ada hanay rumput tebal,menutup sawah seluas Tangguk itu.Putri tangguk bersama suaminya pulang kerumah, kakinya terasa berat melangkah, Dalam hatinya, Putri tangguk mencoba merenungi sikap dan perbuatannya selama ini.teringat lah di banhwa dia menganggap bahwa padi itu hanya pasir yang diserakkan dijalan becek agar tidak licin.
“Itulah kesalahanku sampai datang kutukan ini.
“Putri tangguk hanya berkata dalam hati,suaminya tidak tahu. Lalu, pada malam harinya,Putri Tangguk dalam tidurnya bermimpi.Seorang tua menemuinya dan berkata. “Putri tangguk,tepat benar namamu itu ya. Punya sawah selias Tangguk, tapi kalu dipanen padinya bisa mengisi dasar Danau Kerinci sampai kelangit, Sayang, engkau pernah meremehkan padi-padi itu Putri tangguk. Kau serakkan padi-padi itu seperti pasir untuk pelapis jalan licin. Tahukah kau Putri tangguk. Padi yang kau serakkan itu ada setangkai padi hitam? Itu raja kami. Kalau hanya kami yang klau perlakukan seperti itu tidak apalah. Tetapi karena raja kami yang kau perlakukan seperti itu, kami semua marah. Kami tidak akan dating kesini lagi. Masa depanmu Putri tangguk akan sengsara. Anak cucumu akan sengsara. Rezekimu hanya seperti ayam.hasil kerja sehari habis untuk makan sehari. Tidak makan kalau tidak kerja dulu, seperti ayam mengais dulu baru makan. . .”
Orang tua dalam mimpi Putri tangguk kemudian menghilang. Ketika Putri tangguk bangun tidur,hari sudah siang.Ingat mimpinya semalam, ingat nasib yang akan dijalaninya, ingat perbuatan yang sombong menerakkan padi, hatinya sedih .Putri tangguk hanya menangis seorang diri. Ia sangat menyesal.
Suatu malam,Putru Tangguk berkata pada suaminya,ketika anak-anaksudah tidur,” Kak aku sudah capek menuai padi untuk mengisi lumbung.Anak-anak tidak sempat kita urus,dan dengan tetangga kita seperti terkucil.”
“Jadi bagaimana maksudmu Dinda?” kata si suami.
“Begini Kak. Besik pagi,aku bermaksud memenuhi lumbung kita yang ketujuh itu.”
“Baiklah.besok anak –anak kita ajak membantu.” Jawab suaminya malam itu.
Setelah itu mereka diam sampau tertidur.kebetulan malam itu hujan sangat deras,hujan itu baru berhentu pagi hari setelah beduk subuh.
Putri Tangguk pagi itu berangkat kesawahnya yang Cuma seluas Tangguk bersama suami dan ketujuh orang anaknya.Meskipun mereka berjalan sangat hati-hati,Putri Tangguk terpeleset juga,dia terjatuh dan marah seorang diri.
“Jalan kurang ajar. Biarlah, nanti padi-padi yang kutuai ku serakkan disini sebagai pengantu pasir agar engkau tak licin lagi,”Katanya.
Apa yang diucapkan itu benar-benar dilaksanakannya. hampir semua hasil tuaiannya diserakkan dijalan yang licin itu.sampai jalan itu tidak licin lagi.Hanya sedikit padi yang dibawa pulang dan dimasukkan kedalam lumbung.Benar juga sejak hari itu Putri tangguk tidak pernah lagi pergi kesawah,tidak pernak peduli lagi pada sawahnya yang sebesar Tangguk itu.Sebagai pengisi waktu sehari-hari,Putri tangguk menenun kain. Putri tangguk membuat baju untuk dirinya sendiri anak-anaknya dan untuk suaminya.
Pada suatu hari,ketika asyik bekerja menenun, Putri tangguk lupa memasak di dapur.sampai larut malam, anak-anaknya tertudur semua.Putri tangguk ikut tertidur pula.
Malam harinya,anaknya yang bungsu terbangun.anak itu kelaparan.anak itu berhasil di bujuk dan tertidir lagi,begitu seterusnya secara bergiliran. Namun ketika anaknya yang sulung terbangun.dan minta makan.Putri tangguk bukan membujuk melainkan marah.
‘Kau sudah besar jangan seperti adik-adikmu juga,minta dilayani Emak semua,cari sendiri nasi dalam periuk didapur,kalau tidak ada,ambik beras dikaleng dan masak sendiri,kalau beras dalam kaleng habis ambil di dalam lumbung dan tumbuk sendiri”.
Karena lapar anaknya menuruti kata-kata Putri tangguk,akan tetapi nasi tidak ada,beras juga tudak ada,sedangkan dia malas kelumbung padi.
“Mak , mak.nasi tidak ada,beras pun tidak ada.tolonglah mak tumbukkan dan tampikan padi.
“Aneh. Tadi kuingat masih ada nasi kemarin dalam periuk,masih ada pula beras untuk dua kali bertanak.ada apa pula pencuri masuk? Sudahlah, Tahan saja lapar sampai besok pagi.aku malas menumbuk dan menampi padi malam-malam begini.tidak pantas didengar tetangga,padi-padi pun marah diperlakukan seperti itu.
Sehabis berkata demikian, Putri Tangguk tertidur kagi sebab badannya benar-benar letih karena menenun seharian penuh.anak sulungnya itu juga tertidur.
Keesokan harinya, Matahari bersinar terang dari balik Gunung Kerinci.Suami Putri tangguk membuka lumbung untuk menjemur padi,dan ternganga melihat lumbungnya kosong.Putri tangguk masih punya harapan.Sawahnya adalah gudang padi, Putri Tangguk menarik tangan suaminya dan mereka berlari ke sawah.Sampai di sawah,Putri tangguk sedih dan kecewa.jangankan ada padinya,batang padinya saja tidak ada.yang ada hanay rumput tebal,menutup sawah seluas Tangguk itu.Putri tangguk bersama suaminya pulang kerumah, kakinya terasa berat melangkah, Dalam hatinya, Putri tangguk mencoba merenungi sikap dan perbuatannya selama ini.teringat lah di banhwa dia menganggap bahwa padi itu hanya pasir yang diserakkan dijalan becek agar tidak licin.
“Itulah kesalahanku sampai datang kutukan ini.
“Putri tangguk hanya berkata dalam hati,suaminya tidak tahu. Lalu, pada malam harinya,Putri Tangguk dalam tidurnya bermimpi.Seorang tua menemuinya dan berkata. “Putri tangguk,tepat benar namamu itu ya. Punya sawah selias Tangguk, tapi kalu dipanen padinya bisa mengisi dasar Danau Kerinci sampai kelangit, Sayang, engkau pernah meremehkan padi-padi itu Putri tangguk. Kau serakkan padi-padi itu seperti pasir untuk pelapis jalan licin. Tahukah kau Putri tangguk. Padi yang kau serakkan itu ada setangkai padi hitam? Itu raja kami. Kalau hanya kami yang klau perlakukan seperti itu tidak apalah. Tetapi karena raja kami yang kau perlakukan seperti itu, kami semua marah. Kami tidak akan dating kesini lagi. Masa depanmu Putri tangguk akan sengsara. Anak cucumu akan sengsara. Rezekimu hanya seperti ayam.hasil kerja sehari habis untuk makan sehari. Tidak makan kalau tidak kerja dulu, seperti ayam mengais dulu baru makan. . .”
Orang tua dalam mimpi Putri tangguk kemudian menghilang. Ketika Putri tangguk bangun tidur,hari sudah siang.Ingat mimpinya semalam, ingat nasib yang akan dijalaninya, ingat perbuatan yang sombong menerakkan padi, hatinya sedih .Putri tangguk hanya menangis seorang diri. Ia sangat menyesal.
Rabu, Februari 09, 2011
gosh is life
Conflik horizontal idiology yang terjadi dalam satu dasawarsa terakhir ini, yang mengakibatkan kematian segelintiran orang;seakan menjadi hal yang lumrah. Kasus monas, priuk dan temenggung adalah contoh yang berulang kali terjadi di negeri ini seakan menjadi tongkat estapet yang tak berujung. Minimnya pengetahuan terhadap islam itu sendiri menjadikan seseorang malaikat pencabut nyawa. Reagamaisasi dalam konteks indoktrinasi masyarakat, seharusnya merupakan peran “ulama” yang mesti menjelaskan dogma atau dogrin sesuai subtansi islam yang selama ini digambarkan rosulullah.
Selasa, Februari 08, 2011
Bukankah kita adalah botol yang kosong
Yang selalu berbicara masa depan
Ataukah kita botol kosong
Yang terjebak di masa lalu
Lalu kita adalah botol kosong
Yang hidup di dunia saat ini.
Botol kosong memerlukan “imajinatif diri” untuk mengingat
Ke depan dan ke belakang
Dan kita mengisi botol kosong itu
Dengan kekosongan diri kita sendiri
Kita lumpuh terhadap masa depan dan masa lalu
Sehingga kita nyaman dengan ketidak “bergera-an waktu”
Saat ini dan disini
Yang bukan masa lalu dan masa depan
Aku menuliskan diriku pada
Masa lalu, saat ini, dan masa depan.
Yang selalu berbicara masa depan
Ataukah kita botol kosong
Yang terjebak di masa lalu
Lalu kita adalah botol kosong
Yang hidup di dunia saat ini.
Botol kosong memerlukan “imajinatif diri” untuk mengingat
Ke depan dan ke belakang
Dan kita mengisi botol kosong itu
Dengan kekosongan diri kita sendiri
Kita lumpuh terhadap masa depan dan masa lalu
Sehingga kita nyaman dengan ketidak “bergera-an waktu”
Saat ini dan disini
Yang bukan masa lalu dan masa depan
Aku menuliskan diriku pada
Masa lalu, saat ini, dan masa depan.
Langganan:
Postingan (Atom)