Di suatu daerah di Kerinci Hulu.Hiduplah diu orang pemuda yang sakti yang sangat disegani ploeh masyarakat setempat. Pemuda itu bernama Si Pahit Lidah dan Si Empat Mata. Mereka berdua bersahabat, sehidup semati dan msemakan seminum.bahkan tidurpun dalam semulung (tikar pandan)yang sama.
Si Pahit Lidah pernah mangatakan kepada Si Mata Empat bahwa ia banyak mempunyai ilmu gaib(Kesaktian). Kalau sebuah batu disebut sapi, Misalnya. Maka jadilah batu itu menjadi sapi.kalau seekor kuda itu di sebut kambing maka jadilah ia seekor kambing.begitu jua halnya dengan benda yang lain. Demikianlah kekuatan ucapannya.
Sebaliknya, berkata pula Si Mata Empat.
“Ilmu yang anda miliki belum kita uji keampuhannya.” Berselang beberapa menit, kedua sahabat tadi berperang mulut,lalu diputuskanlah untu membuktikan siapa yang terhebat diantara mereka berdua. Dicarilah tempat tempat bertarung yang tepat dan lapang serta jauh dari keramaian supaya bisa bebas untuk mengadu jotos.
“Baiklah,:kata Si Pahit Lidah. “dimana kita bertarung?.
Si Empat mata pun menunjukkan suatu tempat yang teduh dibawah pohon Enau yang sedang berbuah lebat.
“Nah disini kita akan menguji kekuata, kalau Anda hendak menunjukkan kehebatanmu kata Si Empat Mata.
“Sekarang siapa yang duluan?” kata Si Pahit Lidah.
“Saya terlebih dahulu,” kata Si Mata Empat.
Kemudian Si Mata Empat tidur di bawah pohon Enau. Semantara itu Si Pahit Lidah memanjat pohon enau sambil membawa parang untuk memotong tandan enau yang sedang berbuah lebat agar bisa menimpa Si Mata Empat.
“Kalau saya sudah nelungkup nanti, saya sebutka satu,dua,tiga, lalu anda potong tandan enau agar segera menimpa tubuhku.” Kata Si Mata Empat dengan nada sombong.
Setelah mendengar hitungan Si Mata Empat sampai angka tiga, Si Pahit Lidah pun menebas tandan Enau. Jatuhlah ketanah tandan itu tanpa sedikitpun menimpa tubuh Si Mata Empatkarena ia melihat dengan dua mata belakangnyayang juga dapat melihat. Ia mengelak dan tehindarlah dari kejatuha buah Enau. Ia pun tidak mati.
“Nah,” kata Si Mata Empat,’’ turunlah Anda dan giliran saya yang akan memotong Enau dari atas pohonnya.
Menelungkuplah Si Pahit Lidah di bawah pohon enau. Kemudian Si Mata Empat memanjat pohon. Berhitunglah Si Pahit Lidah sampai hitungan angka ketiga sehingga di potonglah oleh Si Mata Empat tandan enau yang berbuah lebat hingga menimpa tubuh Si Pahit Lidah di bagian kepala.Akibatnya, pecahlah kepala Si Pahit Lidah dan meninggallah dia dibawah pohon enau itu.
Dasar Si Mata Empat tidak berakal yang sehat.Meski sudah tahu Si Pahit Lidah memang lidahnya pahit. Di cobanya juga mengisap-isap lidahnya untuk membuktiakan pahit atau tudak. Begitu pahitnya lidah Si Pahit Lidah, akhirnya Si Mata Empat pun mati kepahitan.
Alhasil, mayat mayat kedua kesatria tadi sama-sama terbaring di bawah pohon tempat gelanggang pertempuran.
Melihat kejadian itu, masyarakat pun menguburkan mayat mereka sekitar lima meter persegi di tempat itu.
Menurut cerita, sampai sekarang rumput tidak bisa tumbuh di atas kuburan keramat tersebut. Konon kabarnya, asal-usul racun dari kuburan itu adalah kuburan dua pendekar yang suka pamer kehebatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar