Senin, Februari 14, 2011

TAN TELANAI

Konon kabarnya, pada zaman dahulu kerajaan Melayu Jambi pernah diperintah oleh seorang putri yang sangat cantik yang bernama Putri Selaras Pinang Masak. Selain cantik bak bidadari, ia juga seorang putrid yang sakti dan berotak cemerlang. Tidak mengherankan banyak raja-raja yang berminat untuk mempersuntingnya sebagai istri.
Suatu ketika, bekunjunglah seorang panglima perang dari negeri keling (india) bernama Tan Talanai. Ia seorang jagoan yang senantiasa disegani kawan maupun lawannya.
Sungguhpun ia seorang jagoan, Tan Talanai memiliki kelemahan wajahnya buruk dan mudah digoda wanita apalagi wanita yang wajahnya cantik.
Beberapa hari saja berada di Muaro Jambi, ia telah mengetahui bahwa bisana ada seorang putri yang amat cantik wajahnya. Hatinya tergelitik untuk berjumpa dengan Putri tersebut. Akhirnya,Tan Talanai memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk menyelidiki berita tentang Putri yang menggodanya itu.
“Benar, Tuanku,” kata salah seorang anak buahnya.
“Putri itu bernama Putri Selara Pinang Masak, ratu di negeri ini sendiri, kecantikan ratu memeng amat menawan bagi siapa saja yang melihatnya,”lanjut anak buahnya.
“Tutup mulutmu, bentak Tan Talanai,” engkau bukan ku tugaskan untuk melihat kecantikan sang Putri.”
Dalam kerapuhan hatinya, Tan Telanai tampak amat gembira mendengan berita yang disampaikan oleh anak buahnya. Berhari-hari ia merenung untuk menggambarkan kecantikan putrid dalam pikirannya. Ketika godaan itu sudah tak tertahan lagi,Tan Telanai memutuskan untuk secepatnya menjumpai sang Putri di istananya. Kepergian Tan Talanai yang tua dan berwajah buruk itu tidak diikuti seorang pun anak buahnya.
Sesampaikan di istana Muaro Jambi. Putri Selara Pinang Masak amat terkejut melihat tamu yang mengunjungunya. Seorang laki-laki tegap berwajah buruk dan sudah tidak muda lagi, apalagi setelah laki-laki tersebut mengemukakan niatnya untuk meminangnya. Putrid menilai, Tan Telanai bukanlah jodoh yang cocok untuknya.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang diri tamunya, Putri Selara Pinang Masak mengajak main catur ala Kerajaan Melayu. Buah catur yang digunakan sangat berat dan hanya bisa diangkat dengan tangan. Dari permainan itu, ia akan dapat melihat sampai mana kadar laki-laki yang akan meminangnya itu.
Akan tetapi, Putri Selara Pinang Masak amat kecewa. Tan Telanai dapat menggerakkan anak batu catur hanya dengan tiga jari tangan kirinya. Sedangkan Putri Selara Pinang Masak dapat mengangkat dengan lima jari tangan kanannya.
Barulah kali itu Putri bertemu dengan seorang yang mampu mengangkat anak batu caturnya dengan tangan kirinya. Alangkah hebat dan sakti Tan Telanai ini jika demikian. Tidak akan mungkin dapat dihadapi dala peperangan. Kalau dipaksa juga tentulah rakyat akan binasa mkelawan jagoan yang luar biasa ini, bisik Putri Selara Pinang Masak dalam hati.
Setelah merasa berhasil menundukkan Putri, Tan Telanai kembali menanyakan pinangannya. Namun, Putru Selara Pinang Masak belum berani menolak ataupun menerima langsung pinangan tersebut. Ia meminta waktu selama tiga hari untuk mempertimbangkannya.
Esoknya Putri Selara Pinang Masak menyuruh hulubalang menjemput Tan Telanai. Malam tadi ternmyata Putri telah mendapat suatu cara yang amat baik untuk menggagalkan maksud lelaki tak tahu diri yang meminangnya kemarin. Ia yakin, Tan Telanai tidak akan sanggup untuk mengerjakannya. Itulah sebabnya belum lagi sampai tiga hari Putri sudah memenggil Tan Telanai.
“Apakah tuan Putri tidak keliru,: kata Tan Telanai pura-pura menutupi kegembiraan hatinya begitu sampai dihadapan Putri Selara Pinang Masak.
“Bukankah aku di beri waktu tiga hari untuk kembali guna mengetahui jawaban dari Putri?
“Tidak, jawab Putri Selara Pinang Masak geram.
“Kalau demikian ceritakanlah apa maksud Tuan putri memanggilku ,kata Tan Telanai.
“Aku tak ingin membiarkan Tuan berlama-lama dalam penantian sementara jalan telah tampak terbentang. Tidak kah Tuan tahu bahwa aku setuju dengan kehendakmu?”
“Tapi aku mohon Tuan dapat memenuhi permintaanku. Tambah Putri.
Wajah Tan Telanai tampak berseri-seri tanda gembira. Tutur kata tuan putri amat dalam merasuk dihatinya. Namun, ia ingin segera mengunci pendapat wanita yang didambakannya itu.
“Kalau demikian Tuan Putri memerlukan suatu dariku.? Tanya Tan Telanai dengan penuh harapan.
“Tuan memang bijaksana, jawab Putri Selara Pinang Masak lebih untuk jauh menebaknya. ‘kalau Tuan memang ingin memiliki diriku yang serba kekurangan ini, apa salahnya buatkan aku sebuah mahligai untuk kita gunakan untuk tempat kita berbagi suka dan duka setelah kita sah untuk menjadi suami istri nanti.”
Aku tahu maksudmu.” Tuan Putri, kata Tan Telanai sambil tertawa terbahak-bahak, Engkau ingin menguji kemampuanku. Jangankan mahligai tinggi sampai kelangit, gunung emas pun dapat ku persembahkan untukmu.”
Setelah bekata demikian.Tan Telanai berlalu dengan gelak berderai-derai.
“Tunggu, seru Putri Selara Pinang Masak. Tuan harus mengerjakannya mulai pukul dua belas malam dan harus sudah siap mejelang ayam berkokok pertama kali. Kalau Tuan sanggup berbuat demikian barulah berhak memiliki diriku.”
Tan Telanai menoleh kewajah Putri Selara Pinang Masak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tertawanya makin keras pertannda ia yakin akan mampu memenuhi semua apa yang diminta oleh Putri Selara Pinang Masak. Sebaliknya Putri merasa yakin pula, Tan Telanai mustahil dapat mengerjakan dan memenuhi segala persyaratan yang dikemukakannya.
Tepat pukul dua belas malam, Tan Telanai mulai mengerjakan pekerjaannya. Terdengar suara orang amat gaduh dan hiruk-pikuk. Yang bertugas mengangkut batu bata berbaris memenuhi tepi daratan memanjang menghubungkan Negeri Sian dengan Muaro Jambi.bagai garis berkelok-kelok. Batu bata dilempar dari satu tangan ketangan yang lain tak putus, Sebentar saja benda itu telah menumpuk bagaikan gunung tinggi. Entah dari mana gerangan orang banyak itu datang hanya Tan Telanai sendirilah yang tahu. Kaki mereka merusak bibir pantai yang terinjak sehingga timbul genangan laut kecil dan timbul pulau-pulau baru, didatara Muaro Jambi tanah terlekuk dalam, bekas jutaan manusia yang tinggi besar.
Dua tiga jam kemudian, Putri Selara Pinang Masak menugasi hulubalangnya melihat hasil pekerjaan Tan Telanai. Kalu tadi ia yakin kalu Tan Telanai tidak sanggup unruk mengerjakan semua yang dikehendakinya, kini ia mulai merasa waswas. Hilubalang yang ditugasinya melaporkan bahwa Tan Telanai hamper saja dapat merampungkan pekerjaanya.tinggak selebar dulang(baki) saja lagi.
Semua orang ahli pikir dan para cerdik pandai negeri tersebut segera berunding dan bermusyawarah untuk mencari jalan keluar dan kemelut yang sedang dialami oleh Ratu mereka, yaitu Putri Selara Pinang Masak. Suatau cara baru dapat ditemuakan, semua kandang ayam akan ditedengi dengan kelambu buruk dan bagian sebelah timurnya (yang menghadap matahari) kira-kira seratus dari sana arah ketimur juga ditaruh lampu diatas tiang-tiang yang tidak begitu tinggi. Nanti kandang-kandang ayam tadi digebuki sementara sebagian orang disuruh menirukan suara ayam berkokok.
Kata sepakat sudah dicapai, keputusan telah berhasil di ambil. Mulailah mereka melakukan suatu siasat yang sudah masak tersebut dengan cermat dan berhati-hati. Sebentar kemudian, terdengarlah kokok ayam bersahut-sahutan bagai menanti hari yang akan menjelang subuh.
Tan Telanai kaget bukan main. Ia kecewa luar biasa. Dengan marah ditendangnya bangunan mahligai yang hamper selesai itu. Akhirnya Tan Telanai tidak berhasil mempersuntung Putri Selara Pinang Masak karna sebelum mahligai selesai ayam telah berkokok.

Tidak ada komentar: