Fantastis
Di satu minggu siang yang panas
Di gereja yang penuh orangnya
Seorang padri muda berdiri di mimbar.
Wajahnya molek dan suci
Matanya molek dan suci
Mata manis seperti mata kelinci
Dan ia mengangkat kedua tangannya
Yang bersih halus bagai leli
Lalu berkata:
“sekarang kita bubaran
Hari ini khotbah tak ada.”
Orang-orang tidak beranjak.
Mereka tetap duduk rapat berdesak.
Ada juga banyak yang berdiri.
Mereka kalau. Tak mau bergerak.
Mata mereka menatap bertanya-tanya.
Mulut mereka menganga
Berhenti berdoa
Tapi ingin benar-benar mendengar.
Kemudian dengan serentak mereka mengesah
Dan berbareng dengan suara aneh dari mulut mereka
Tersebarlah bau keras
Yang perlu dicegah dengan segera.
“lihatlah aku masih muda .
Biarkan aku menjaga sukmaku
Silakan bubar
Ijinkan aku memuliakan kesucian.
Aku akan kembali ke biara
Merenungkan keindahan Illahi.”
Orang-orang kembali mengesah.
Tidak beranjak
Wajah mereka nampak sengsara.
Mata mereka bertanya-tanya.
Mulut mereka menganga.
Sangat butuh mendengar.
“orang-orang ini minta pedoman. Astaga.
Tuhanku, kenapa di saat ini kau tinggalkan daku.
Sebagai sekerompok serigala yang malas dan lapar
Mereka mengangakan mulut mereka.
Udara panas. Dan akau terkencing di celana.
Bapak. Bapak. Kenapa kau tinggalkan daku”
Orang-orang tetap tidak beranjak.
Wajah mereka basah.
Rambut mereka basah.
Seluruh tubuh mereka basah.
Keringat bercucuran di lantai
Karena udara yang panas
Dan kesengsaraan mereka yang tegang.
Baunya busuk luar biasa.
Dan pertanyaan-pertayaan mereka pun berbau busuk juga.
“saudara-saudaraku, para anak bapak di surga.
Inilah Khotbahku
Inilah khotbahku yang pertama
Hidup memang berat.
Gelap dan berat.
Kesengsaraan banyak jumlahnya.
Maka dalam hal ini
Kebijaksanaan hidup adalah ra-ra-ra.
Ra,ra,ra, hum-pa-pa, ra-ra-ra.
Tengoklah kebijaksanaan kadal
Mahluk tuhan yang di cintai-Nya
Meniraplah ke bumi
Karna, lihat:
Sukmamu terjepit di antara batu-batu.
Hijau
Lumutan
Sebagai kadal, ra-ra-ra
Sebagai ketonggeng hum pa-pa.”
Orang-orang serentak bersuara:
Ra-ra-ra. Hum pa-pa
Dengan gemuruh bersuara seluruh isi gereja:
Ra-ra-ra. Hum pa-pa
“kepada kau lelaki yang suka senapan
Yang memasang panji-panji kebenaran di mata bayonet
Aku minta dicamkan
Bahwa lu-lu-lu, la-li-lo-lu
Angkatlah hidupmu tinggi-tinggi
Agar tak kau lihat siapa yang kau pijak
Karna begitulah li-li-li, la-li-lo-lu
Bersihkan darah dari tanganmu
Agar aku tak gemetar
Lalu kita bisa duduk minum teh
Sambil ngomong tentang derita masyarakat
Atau hakikat hidup dan mati.
Hidup penuh sensara dan dosa
Hidup adalah tipu muslihat.
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu
Jadi marilah kita tembak matahari
Kita bidik setepat-tepatnya.”
Dengan gembira orang-orang menyambut bersama
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu
Mereka berdiri. Menghentakkan kaki ke lantai
Berderap serentak dan seirama
Suara mereka bersatu
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu
Hanyut dalam persatuan yang kuat
Mereka berteriak bersama
Persis dan seirama:
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu
“maka kini kita telah hidup kembali
Darah terasa mengalir dengan derasnya
Di kepala. Di leher. Di dada
Di perut. Dan di bagian tubuh lainnya
Lihatlah, oleh hidup jari-jariku gemetar
Darah it bong-bong-bong
Darah hidup bang-bing-bong
Darah hidup bersama bang-bing-bong-bong
Hidup harus beramai-ramai
Darah bergaul dengan darah
Bong-bong-bong. Bang-bing-bong.”
Orang-orang meledakkan gairah hidupnya
Mereka berdiri di atas bangku-bangku gereja
Berderap-derap dengan kaki meraka
Genta-genta, orgel, daun-daun pintu, kaca-kaca jendela,
Semua di palu dan dibunyikan
Dalam satu irama
Diiringi sorak gembira:
Bong-bong-bong. Bang-bing-bong
Cinta harus kita muliakan.
Cinta di belukar
Cinta di toko arab
Cinta di belakang halaman gereja
Cinta itu persatuan dan tra-la-la
Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la
Sebagai rumputan
Kita harus berkembang biak
Dalam persatuan dan cinta
Marilah kita melumatkan diri
Marilah kita bernaung di bawah rumputan
Sebagaimana pedoman kita:
“Tra-la-la. la-la-la, Tra-la-la”
Seluruh isi gereja gemuruh
Mereka mulai menari. Mengikuti satu irama
Mereka saling menggosok-gosokkan tubuh mereka
Lelaki dengan wanita. Lelaki-dengan lelaki
Wanita dengan wanita. Saling menggosok-gosokkan tubuhnya
Ke tembok geraja
Dan dengan suara menggigil yang ganjil
Mereka melengking dengan serempak:
Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la
“melewati nabi musa yang kramat.
Tuhan telah berkata:
Jangan engkau mencuri
Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon
Babu-babu jangan mencuri tulang-tulang ayam goreng
Para pembesar jangan mencuri bensin
Dan gadis jangan mencuri perawannya sendiri
Tentu, bahwa mencuri dan mencuri ada bedanya
Artinya: cha-cha-cha, cha-cha,cha
Semua barang dari tuhan
Harus dibagi bersama
Semua milik bersama
Semua untuk semua
Kita harus bersatu. Kita untuk kita
Cha-cha-cha, cha-cha-cha
Inilah pedomannya”
Sebagai binatang orang-orang bersorak:
Grr-grr-hura. Hura
Cha-cha-cha. Cha-cha-cha
Mereka copoti daun-daun jendela
Meraka ambil semua isi gereja
Candelabara-candelabara. Tirai-tirai. Permadani-permadani.
Barang-barang perak. Dan patung-patung berhiaskan peramata
Cha-cha-cha, begitu nyanyi meraka
Cha-cha-cha, berulang-ulang diserukan
Seluruh gereja rontok
Cha-cha-cha
Binatang-binatang yang basah berkeringat dan deras
Napasnya berlarian kian kemari
Cha-cha-cha. Cha-cha-cha.
Lalu tiba-tiba terdengar lengking jeritan perempuan tua:
“aku lapar. Aku lapar. Lapaaaaar.”
Tiba-tiba semua merasa lapar
Mata mereka menyala
Dan mereka tetap bersuara cha-cha-cha
“sebab sudah mulai lapar
Marilah kita bubaran.
Ayo, bubar. Semua berhenti.”
Cha-cha-cha, kata meraka
Dan mata mereka menyala
“kita bubar
Upacara dan khotbah telah selesai.”
Cha-cha-cha, kata mereka
Mereka tidak berhenti
Mereka mendesak maju
Gereja rusak. Dan mata mereka menyala
“Astaga, ingatlah penderitaan Kristus
Kita semua putra-putranya yang mulia
Lapar harus diatasi dengan kebijaksanaan.”
Cha-cha-cha
Mereka maju menggasak mimbar
Cha-cha-cha
Mereka seret padri itu dari mimbar
Cha-cha-cha
Mereka robek-robek jumlahnya
Cha-cha-cha
Seorang perempuan gemuk mencium mulutnya yang bagus
Seorang perempuan tua menjilati dadanya yang bersih
Dan gadis-gadis menarik kedua kakinya
Cha-cha-cha
Begitulah perempuan-perempuan itu memperkosanya
Beramai-ramai
Cha-cha-cha
Lalu tubuhnya dicincang
Semua orang makan dagingnya. Cha-cha-cha
Dengan persatuan yang kuat mereka berpesta
Mereka minum darahnya
Mereka hisap sungsum tulangnya
Sempurna habis ia dimakan
Tak ada lagi yang sisa
Fantastis.
(Rendra)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar