IN
any nation, politics will always reflect broader cultural patterns. This has
been said so many times that is has become a truisme. Yet in the Indonesian context nothing remains as obscure
as the definition of political culture.
Indeed, the archbishop of indonesian cultural studies, Clifford Geertz, even
talked of the anarchy of meaning of indonesian political discourse.
Rabu, Januari 25, 2012
Senin, Januari 16, 2012
Rabu, Januari 04, 2012
(Rilke. Diambil dari “Di Dunia Ini, Aku Harus Sendiri, Tapi Tak Sendiri”)
I want to mirror your image to its fullest perfection
Never be blind or too old
To uphold your weighty wavering reflection
I want to unfold.
Jumat, November 11, 2011
THE CULTURAL PROCESS IN YOGYAKARTA.
Discussing the subject, an old professor used the word secularization to describe what was happening to cultural life and the world view of people in Yogyakarta these days. He contrasted development in the city with the outlying area of central and east Java where “people still clung to Mataram”, and tradisional ways and beliefs still held sway.” He thought that personality of the previous sultan, Hamengku Buwono IX, and the hisroritical process that unfolded during his reign, explained to a
Sabtu, Oktober 22, 2011
MENUNGGU MATAHARI
Ia pun pergi ke laut lepas
karna matahari tak mengkiblat
satu jam lagi menunggu tenggelamnya
ia berjalan, di pesisir angin-angin laut;ombak berulangkali berkaki.
Pasir seperti kertas putih sore itu
Ia tulis dan ia lukislah ia
cerita dan sketsa
karna matahari tak mengkiblat
satu jam lagi menunggu tenggelamnya
ia berjalan, di pesisir angin-angin laut;ombak berulangkali berkaki.
Pasir seperti kertas putih sore itu
Ia tulis dan ia lukislah ia
cerita dan sketsa
Kamis, Oktober 20, 2011
PUISI
Di mana engkau puisi
Kemana engkau pergi dari semalam tadi aku mencarimu
Malam-malam,
dan malam sekali hingga siang pun sekali
Berulang-ulang seperti ombak laut itu
Jika jejak langkahmu telah hilang ditabrak ombak
Kemana engkau pergi dari semalam tadi aku mencarimu
Malam-malam,
dan malam sekali hingga siang pun sekali
Berulang-ulang seperti ombak laut itu
Jika jejak langkahmu telah hilang ditabrak ombak
Rabu, Oktober 12, 2011
Mengikat Egosentrisme
Manusia merupakan mahluk yang paling unik, aneh dan serba-serbi kemauan karna diproduksi oleh pikirannya sendiri. Dari keunikan inilah kemudian manusia menetapkan ukuran kebenaran pada dirinya sendiri, bukan itu saja ukuran kebenaran bisa menjadi kolektif apabila kelompok atau organisasinya yang menentukan simbolnya untuk kepentingan tertentu (biasanya dilakukan partai politik, ormas-ormas keagamaan dan organisasi lainya.). Artinya kepentingan individu dan kepentingan kelompok—simbolismenya telah diikat oleh egosentrismenya.
Kemudian egosentrisme ini menjadi sebuah bentuk perlawanan kepetingan idiologi baik itu per-orangan maupun per-kelompokan. Kepentingannya adalah simbolisasi nilai—lewat ukuran yang bersandar pada kepetingannya sendiri. Sifat egosentrisme ini juga menutupi kita pada kritik diri dan berpikir kemapanan dan kebenaran itu dalam diri kita atau kelompok kita.
Dalam konteks politik, kekuasaan, budaya, dan bahkan agama egosentrisme otomatis mengikat simbolnya masing-masing dari serangan oposisi. S
Langganan:
Postingan (Atom)
