Rabu, Oktober 12, 2011

Mengikat Egosentrisme

Manusia merupakan mahluk yang paling unik, aneh dan serba-serbi kemauan karna diproduksi oleh pikirannya sendiri. Dari keunikan inilah kemudian manusia menetapkan ukuran kebenaran pada dirinya sendiri, bukan itu saja ukuran kebenaran bisa menjadi kolektif apabila kelompok atau organisasinya yang menentukan simbolnya untuk kepentingan tertentu (biasanya dilakukan partai politik, ormas-ormas keagamaan dan organisasi lainya.). Artinya kepentingan individu dan kepentingan kelompok—simbolismenya telah diikat oleh egosentrismenya. Kemudian egosentrisme ini menjadi sebuah bentuk perlawanan kepetingan idiologi baik itu per-orangan maupun per-kelompokan. Kepentingannya adalah simbolisasi nilai—lewat ukuran yang bersandar pada kepetingannya sendiri. Sifat egosentrisme ini juga menutupi kita pada kritik diri dan berpikir kemapanan dan kebenaran itu dalam diri kita atau kelompok kita. Dalam konteks politik, kekuasaan, budaya, dan bahkan agama egosentrisme otomatis mengikat simbolnya masing-masing dari serangan oposisi. S
aya akan mencoba menjabarkannya dengan pola kekuasaan kita saat ini. Semisal lembaga-lembaga pemerintahan yang mendapatkan kritikan atau sorotan media cetak ataupun eletronik dan dari masyarakat, terutama masyrakat akademik—untuk mereorganisasi sistem lembaga tersebut, acap kali lembaga selalu mengcounter kembali dengan egosentrimenya yang telah menjadi internal kekuasaan lembaga. Analogi yang lebih kecil semisal ormas-ormas agama sepertri Nahdatul Ulama (NU) Muhammadiyah, otomatis kedua ormas ini egosentrismenya telah mengikat—bisa untuk kepentingan simbol atau bahkan pengukuan pengikut.
Kita sering mendengar ormas-ormas agama selalu mengclaim kebenaran pada tataran kelompoknya masing-masing, bisa untuk muatan politik agama, muatan simbolis ekonomi atau bahkan pada muatan transendentalisme menuju tuhan. Artinya apa egosentrisme merupakan naturalisasi pada individu, kelompok dan organisasi lainya—yang itu merupakan bentuk riil dari setiap kepentingan. Baik itu kepentingan menuju kebaikan maupun menuju kejahatan.1 Egosentrisme kemudian mengikat pada kepentingan…jika ketidak mapanan dalam berindividu dan berkelompok egosentrisme akan menjadikan kelompok atau individu—yang kemudian tidak diharapkan keberadaannya dalam suatu lingkungan sosial maupun lingkungan kekuasaan. Sebenarnya kita bisa menggunakan istilah yang digunakan Jurgen Habermas ada kritik imanen dan kritik transenden. Pola semacam ini yang kemudian bisa menghidupkan demokrasi—dengan pola oposisi.

Tidak ada komentar: