Rabu, Januari 04, 2012

(Rilke. Diambil dari “Di Dunia Ini, Aku Harus Sendiri, Tapi Tak Sendiri”)


I want to mirror your image to its fullest perfection
Never be blind or too old
To uphold your weighty wavering reflection
I want to unfold.


Jumat, November 11, 2011

THE CULTURAL PROCESS IN YOGYAKARTA.

Discussing the subject, an old professor used the word secularization to describe what was happening to cultural life and the world view of people in Yogyakarta these days. He contrasted development in the city with the outlying area of central and east Java where “people still clung to Mataram”, and tradisional ways and beliefs still held sway.” He thought that personality of the previous sultan, Hamengku Buwono IX, and the hisroritical process that unfolded during his reign, explained to a

Sabtu, Oktober 22, 2011

MENUNGGU MATAHARI

Ia pun pergi ke laut lepas
karna matahari tak mengkiblat
satu jam lagi menunggu tenggelamnya
ia berjalan, di pesisir angin-angin laut;ombak berulangkali berkaki.

Pasir seperti kertas putih sore itu
Ia tulis dan ia lukislah ia
cerita dan sketsa

Kamis, Oktober 20, 2011

PUISI

Di mana engkau puisi
Kemana engkau pergi dari semalam tadi aku mencarimu
Malam-malam,
dan malam sekali hingga siang pun sekali
Berulang-ulang seperti ombak laut itu
Jika jejak langkahmu telah hilang ditabrak ombak

Rabu, Oktober 12, 2011

Mengikat Egosentrisme

Manusia merupakan mahluk yang paling unik, aneh dan serba-serbi kemauan karna diproduksi oleh pikirannya sendiri. Dari keunikan inilah kemudian manusia menetapkan ukuran kebenaran pada dirinya sendiri, bukan itu saja ukuran kebenaran bisa menjadi kolektif apabila kelompok atau organisasinya yang menentukan simbolnya untuk kepentingan tertentu (biasanya dilakukan partai politik, ormas-ormas keagamaan dan organisasi lainya.). Artinya kepentingan individu dan kepentingan kelompok—simbolismenya telah diikat oleh egosentrismenya. Kemudian egosentrisme ini menjadi sebuah bentuk perlawanan kepetingan idiologi baik itu per-orangan maupun per-kelompokan. Kepentingannya adalah simbolisasi nilai—lewat ukuran yang bersandar pada kepetingannya sendiri. Sifat egosentrisme ini juga menutupi kita pada kritik diri dan berpikir kemapanan dan kebenaran itu dalam diri kita atau kelompok kita. Dalam konteks politik, kekuasaan, budaya, dan bahkan agama egosentrisme otomatis mengikat simbolnya masing-masing dari serangan oposisi. S

Minggu, Oktober 09, 2011

AKU TIDAK BISA MENULIS

Menulis adalah istilah yang amat sangat keramat bagiku, menulis seperti setan yang bertaring, bertanduk, berkuku tajam, mungkin seperti yang dalam film zombie, devil, vampir, mak erot, hantu ngesot (hitungan kotornya) Semenakutkan itukah..!! ya, bahkan aku membayangkan menulis seperti setan yang sedang mau menggigit leherku dari belakang. Sangat mengerikan persepsi menulis bagiku. Bukan itu saja, menulis bisa memenjarahkan diri kita sendiri, seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer “tulisanmu bakal mengutuki kau sendiri, ia akan menjadi hakim dan jaksamu sekaligus, yang bakal memburu-buru kau seumur hidup”. Engkau tengok saja yang lebih nyata “ Wartawan Radar Bali, Anak Agung Prabangsa yang dibunuh gara-gara menulis jujur untuk dikonsumsi publik—tentang penguasa yang korup, atau Prita Mulyasari yang menuliskan keluh-kesahnya di bloggernya—berujung bui. “Menulis benar, bisa terkapar; menulis salah bisa masuk neraka” pertimbangan ilustratif saya, karna saya tidak bisa menulis. Bagi saya menulis itu menakutkan—karna kita juga takut akan diri sendiri—diri sendiri yang dibuat orang lain. Menulis menciptakan diri kita sendiri, mengapa kita takut dengan orang lain? Karna kita adalah orang lain, ya tentu, karna kita penakut. Takut dengan persepsi kita dan orang lain. Apakah kemudian menulis itu kewajiban setiap individu? Tentu tidak, menulis bukan tanggung jawab atau syari’at yang mesti dijalankan setiap individu. Menulis hanya untuk orang yang bisa menulis dan sadar akan “menuliskannya”, analoginya seperti ini, orang yang membayar zakat (muzakki) otomatis ia sadar akan berbagi terhadap sesamanya, sadar akan tanggung jawabnya sebagai muslim dan sadar akan fungsi kepemilikan, dalam hal ini harta. Artinya apa, menulis sebuah kesadaran teoritik atau ide yang menuntut akan realisasi objektif atau tanggung jawab individu. Baik itu dalam sifat individunya (Egosentrisme) maupun sifat keterbukaan sosial (Open Society). Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kemudian orang yang menulis sadar akan individunya dan sosialnya. Individu dalam arti watak emansipasi maupun watak menerima (Taken For Granted) dan watak defensif sosialnya dalam arti kebebasan publik dan tanggung jawab publik (dalam hal ini isi tulisan).
Menulis sekali lagi saya sebutkan bukan ritual yang tanpa ide berkesadaran tetapi sadar yang “berkonsensus”. Sama seperti agama kita sholat artinya kita sadar (tidak gila) akan ide agama dan dalam ritual agama ada tanggung jawab individu dan tanggung jawab sosial (hablumminallah wa hablumminannas). Analogi saya itu bukan untuk menyamakan menulis itu dengan ritual agama. Ritual agama tentu memiliki syarat atau rukun dalam pemenuhan ritual, sedangkan menulis tidak, yang saya maksudkan di sini adalah kontek sosialnya hampir sama mempunyai orientasi nilai (Oriented Values). Bagaimana kemudian menulis dengan motif menghasut (Agitasi) untuk berbuat jahat sedangkan agama juga menghasut dalam berbuat baik. Saya kemudian menganalogikannya kembali dengan agama yang diinterpretasikan untuk kepentingan politik bentuk dari penghasutan jahat/distorsi. Mungkin kita semua sudah memahami bagaimana agama dipahami sebagai kepentingan politik. Dalam hal ini saya mendeferensiasikannya dengan “agama” dan “pemikir keagamaan”. Artinya agama tetap konsisten dengan nilai universalnya sedangkan pemikir keagamaan belum tentu ada nilai universal dan humanis di dalam memahami agama. Saya memahami sejauh ini kepentingan menulis hampir sama dengan kepentingan agama, sama-sama memiliki value individu dan value sosial. Mengapa tulisan ini saya beri judul “saya tidak bisa menulis” karna saya hingga hari ini belum berkesadaran baik “berkesadaran individu” maupun “berkesadaran sosial”. Bukan itu saja yang saya maksudkan dengan judul “aku tidak bisa menulis” di sini adalah saya juga tidak mengerti dari mana harus memulai sebuah tulisan. Baik itu, opini, esei, karya ilmiah, makalah, cerpen, puisi, seloko, dan gurindam apalagi berbicara tentang teori dan meteloginya. Saya betul-betul angkat tangan. Saran saya bagi orang yang bisa menulis, menulislah dengan ikhlas, tulus, jujur dan bertanggung jawab (Responsible). Baik itu untuk individu maupun public. Dan realisasikan lah apa-apa yang ditulis menjadi sebuah sikap yang pantas untuk disenyumkan, jangan sampai ada istilah “lain di mulut lain di hati”. Sekali lagi bagi siapa yang bisa menuli—menulis itu adalah kamu yang bersikap emansipasi.

Minggu, September 18, 2011

lomba perahu naga "Desa Pasar Terusan"


Bentuk apresiasi Kepala Desa Pasar Terusan terhadap Lomba Perahu Naga, dengan mengangkat jari tangannya ke arah kamera.




Playboy team vs Ganteng team sedang memacu kekuatan.



Matalalang team vs.....



tenam team...


napasisisik team vs...



amplu team