Sabtu, Juli 02, 2011

Soal agama

Tidak di sana, tidak di sini, persoalan agama bisa menjadi sensitif. Kali ini yang datang melapor kecopetan benar-benar dari Belanda, seorang wanita, pekerjaannya sebagai lawyer.
Tugas saya memang hanya menerjemahkan baik pertayaan maupun jawaban. Soal nama, umur, pekerjaan, alamat, tak ada masalah. Tapi pas saat menjawab kolom agama, terjadi kesulitan. Karena, nona Belanda ini bersikeras, ia tak punya agama.
“ ini prosedur biasa,” saya mencoba mengatakan dengan hati-hati. “ Nona ‘kan lawyer, saya kira sama saja di Belanda atau di sini.”
“Tulis saja saya tak punya agama”
Petugas yang memeriksa menggelengkan kepala.
Jalan bisa buntu.
“Begini saja, keluarga nona agamanya apa?”
Ia tetap keberatan.
Ini bisa repot. Soalnya, tanya jawab mengenai urutan peristiwa sendiri masih bisa panjang.
Akhirnya, “ Nona Belanda” mengatakan, silakan tulis apa saja di kolom agama, tetapi bukan karena ia yang mengatakan begitu





Hikmah:
Agama tidak untuk menambah beban atau persoalan, baik dalam ajaran maupun praktek.

Minggu, Juni 26, 2011

Copet

Pencobet adalah orang yang mempergunakan kelengahan atau kesembronoan manusia dengan cara-cara yang tidak memaksa. Karena, kalau sudah memaksa namanya menjadi penodong.
Yang saya ceritakan ini adalah pencopet dalam bis kota. mungkin ini juga berhubungan dengan kesempatan yang ada, karena sulit mencopet di dalam pesawat terbang atau dalam mobil pribadi. Situasi juga mendukung terjadinya proses pencopetan. Penumpang berdesakan, sebagian berdiri, di samping pergerakan naik turun, atau mobilitasnya sangat tinggi. Situasi dan prasarana sudah diciptakan oleh masyarakat. Dengan demikian, pencopet tinggal menjalankan operasinya.
Pada suatu siang, seorang pencopet menjalani tugas harian rutin. Dengan sekali pandang, ia bisa menentukan sasaran, sekaligus menciptakan peluang. Kali ini sasarannya bernama plekeyum. Ini bukan nama sebenarnya, umur dirahasiakan, tapi jelas laki-laki, kalau kita lihat jalan ceritanya.
Pencopet yang kita ceritakan tadi langsung menelusupkan tangan ke dalam celana korban. Sret, gitu, sungguh tak disangka tak dinyana, ternyata suku celana Plekeyun berlubang. Sehingga, bukan dompet yang kesenggol, melaikan “burung” plekenyun.
“ ente lepas, ane teriak,” ancam Plekenyun tersenyum-tersenyum, keenakan
Sial bagi pencopet. Ia terpaksa memegangi “burung” plekenyun terus sampai halte terakhir.

(kalau belum lucu juga, ada lanjutannya)


2

KISAH Plekenyun yang memperdayai pencopet itu tersebar luas di kalangan para pencopet, sehingga menimbulkan dendam den gregetan. Salah seorang pencopet dari generasi muda merasa terstantang.
“Saya copet muda. Tunggu saja di halte Jalan Jendral Sudirman. Saya sudah selidiki, Plekenyun ini naik dari terminal Blok M. dalam perjalanan yang singkat, saya sudah bisa ambil dompetnya, saya tidak berjuang untuk diri saya sendiri. Maka, hasilnya akan saya bagi-bagikan kepada kalian semua.” Copet muda memberi semangat pada para pencobet yang lain.
Seperti yang sudah direncanakan, copet muda ini naik dari Terminal Blok M, langsung nempel pada Plekenyun. Ia tak mau sembarang rogoh dari suku kiri atau suku kanan. Tapi, melingkar dari arah belakang.
Sret, gitu.
Tangan masuk, leluasa bangat.
Ternyata Plekenyun juga melubangi suku celana bagian belakang. Tak bisa tidak tangan copet muda menyenggol “burung” Plekenyun
“ente lepas, ane teriak.”
Tentu saja copet muda takut diteriaki “Copet….!! Copet….!!”
Sehingga terpaksa ia pegangi terus. Lebih sial lagi, karena Plekenyun menyuruh copet muda menggerakkan tangan. Menggosok-gosok….
Pencopet lain yang nunggu di halte Jalan Jendral Sudirman tak sabar. Mereka ikut naik. Mereka melihat copet muda masih terus berkutat dengan saku.
Plekenyun malah merem-melek karena keenakan mencapai klimaks. Kemudian, turun, dengan leluasa.
Melihat Plekenyun turun, kawan copet mendekati copet muda.
“Mana hasilnya? Katanya mau dibagi rata?”
“Nih,” Jawab Copet Muda kesal, sambil melap tangannya yang basah ke wajah teman-temannya.

(Kalau masih belum lucu, ada satu lagi lanjutannya)

KELIHAIAN Plekenyun membuat seluruh pencopet resah. Soalnya, kalau ini menjadi trend, berarti akan lebih banyak penumpang dengan saku celana yang berlubang. Ini harus segera diatasi. Kalau tidak, pendapatan rata-rata para pencopet bisa turun di bawah pendapatan minimum. Ini mata rantainya bisa mempengaruhi para backing, juga para asbak atau penadah.
Tentu alasan yang dikemukakan bukan itu, melainkan bahwa sikap Plekenyun merupakan pelecehan seks, menganggu ketertiban umum, dan jelas perbuatannya sangat asusila.
Ada seorang pencopet yang tidak masuk hitungan, karena tangannya pendek. “saya akan balaskan dendam kalian.” Katanya. Ini menarik perhatian, justru karena pencopet lain memilih bisik-bisik.
Copet Si Tangan pendek naik bis yang ditumpangi Plekenyun. Tenang dia. Geser-menggeser, ingsut-beringsut, mendekati Plekenyun yang selalu memilih berdiri, karena perangkapnya libih muda.
“Lumayan ada daun muda,” pikir Plekenyun ketika mulai ditempel. Benar, Copet Si Tangan Pendek langsung beraksi.
Sreeeeeeeet. Tangan masuk. Leluasa
Tapi, ya itu tadi, karena tangannya pendek, tak bisa mengenai “burung” secara langsung, melainkan hanya samapi ke “dua telor” Tak jadi apa. Kan ada pepatah: “ tak ada burung, telor pun jadi”, Pegangnya Kenceng lagi.
“ente lepas, biji meletus.”
Plekenyun sayang biji. Daripada meletus, ia rela berkorban menyerahkan isi dompet yang disimpan di tempat lain. Matanya Merem-melek, tapi kini dalam kesakitan dan khawatir.
Sebelum terminal terdekat, Copet Si Tangan Pendek sudah berhasil memperlihat dompet Plekenyun berikut isinya.
Begitulah akhirnya, pencopet masih bisa menang. Tapi, ada tapinya. Prestasi besar Copet Si Tangan Pendek tetap dirahasiakan. Soalnya, kalau sampai bocor, istilah copet dalam kamus bahasa Indonesia harus diganti dengan tangan pendek. Bukan tangan panjang. Ini berarti biaya yang banyak dan membuka rahasia dunia copet-mencopet. Lebih baik mengorbankan nama Copet Si Tangan Pendek. Lebih hemat, dan semuanya pasti setuju.

(Kalau tetap tidak lucu, ya memang cerita ini ndak ada lucu-lucunya.)
dikutip dari bukunya: ARWENDO ATMOWILOTO

Selasa, Juni 21, 2011

Anak Televisi

Setiap hari kami saksikan ke sadisan
Di luar logika,
Juga pertikaian yang tak selesai
Diiringi goyang bor patah-patah,
Gosip para selebriti
Serta gentayangan para hantu
Setiap jamnya

Kami larut dalam kisah cinta
Anak sekolah berseragam putih merah
Putih biru dan putih abu-abu
Sambil menertawakan si Yoyo, Cecep,
Sin Chan dan bidadari
Lalu sibuk mendukung bintang baru
Lewat SMS
Dari pagi sampai malam
Kami menghapal televisi
Kami karna kelicikan, darah,
goyangan, dan semua jenis hantu
sambil mendebukan buku-buku

di sekolah guru bertanya
tentang cita-cita
dan sambil menguap panjang
kami menjawab
kami ingin jadi orang
paling berguna bagi negeri ini
seperti yang pernah di nasihatkan
orang tua, guru, pejabat, politisi,
ulama, dan selebriti kami
di televisi.

(faiz)

Senin, Juni 20, 2011

Tepat pukul 1.31, "selamat tidur malam" engkau tidak sendiri, dingin, sunyi dan kelam masih menemanimu.
dan "selamat malam tidur" engkau tidak sendiri, mimpi-mimpi masih bercerita di beranda rumahmu
menanti siang kembali.




aku pun segera tidur hanya sekedar membantu menghabiskan usia
{azkan}

SURAT DARI IBU

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
Pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
Dan matahari pagi menyinar daun-daunan
Dalam rimba dan padang hijau
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
Dan warna senja belum kemerah-merahan
Menutup pintu waktu lampu

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!




Kembali pulang, anakku sayang
Kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat
Kita akan bercerita
“tentang cinta dan hidupmu pagi hari”

(Asrul Sani)

Jumat, Juni 17, 2011

Khotbah

Fantastis
Di satu minggu siang yang panas
Di gereja yang penuh orangnya
Seorang padri muda berdiri di mimbar.
Wajahnya molek dan suci
Matanya molek dan suci
Mata manis seperti mata kelinci
Dan ia mengangkat kedua tangannya
Yang bersih halus bagai leli
Lalu berkata:
“sekarang kita bubaran
Hari ini khotbah tak ada.”

Orang-orang tidak beranjak.
Mereka tetap duduk rapat berdesak.
Ada juga banyak yang berdiri.
Mereka kalau. Tak mau bergerak.
Mata mereka menatap bertanya-tanya.
Mulut mereka menganga
Berhenti berdoa
Tapi ingin benar-benar mendengar.
Kemudian dengan serentak mereka mengesah
Dan berbareng dengan suara aneh dari mulut mereka
Tersebarlah bau keras
Yang perlu dicegah dengan segera.

“lihatlah aku masih muda .
Biarkan aku menjaga sukmaku
Silakan bubar
Ijinkan aku memuliakan kesucian.
Aku akan kembali ke biara
Merenungkan keindahan Illahi.”

Orang-orang kembali mengesah.
Tidak beranjak
Wajah mereka nampak sengsara.
Mata mereka bertanya-tanya.
Mulut mereka menganga.
Sangat butuh mendengar.

“orang-orang ini minta pedoman. Astaga.
Tuhanku, kenapa di saat ini kau tinggalkan daku.
Sebagai sekerompok serigala yang malas dan lapar
Mereka mengangakan mulut mereka.
Udara panas. Dan akau terkencing di celana.
Bapak. Bapak. Kenapa kau tinggalkan daku”

Orang-orang tetap tidak beranjak.
Wajah mereka basah.
Rambut mereka basah.
Seluruh tubuh mereka basah.

Keringat bercucuran di lantai
Karena udara yang panas
Dan kesengsaraan mereka yang tegang.
Baunya busuk luar biasa.
Dan pertanyaan-pertayaan mereka pun berbau busuk juga.

“saudara-saudaraku, para anak bapak di surga.
Inilah Khotbahku
Inilah khotbahku yang pertama
Hidup memang berat.
Gelap dan berat.
Kesengsaraan banyak jumlahnya.
Maka dalam hal ini
Kebijaksanaan hidup adalah ra-ra-ra.
Ra,ra,ra, hum-pa-pa, ra-ra-ra.
Tengoklah kebijaksanaan kadal
Mahluk tuhan yang di cintai-Nya
Meniraplah ke bumi
Karna, lihat:
Sukmamu terjepit di antara batu-batu.
Hijau
Lumutan
Sebagai kadal, ra-ra-ra
Sebagai ketonggeng hum pa-pa.”


Orang-orang serentak bersuara:
Ra-ra-ra. Hum pa-pa
Dengan gemuruh bersuara seluruh isi gereja:
Ra-ra-ra. Hum pa-pa

“kepada kau lelaki yang suka senapan
Yang memasang panji-panji kebenaran di mata bayonet
Aku minta dicamkan
Bahwa lu-lu-lu, la-li-lo-lu
Angkatlah hidupmu tinggi-tinggi
Agar tak kau lihat siapa yang kau pijak
Karna begitulah li-li-li, la-li-lo-lu
Bersihkan darah dari tanganmu
Agar aku tak gemetar
Lalu kita bisa duduk minum teh
Sambil ngomong tentang derita masyarakat
Atau hakikat hidup dan mati.
Hidup penuh sensara dan dosa
Hidup adalah tipu muslihat.
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu
Jadi marilah kita tembak matahari
Kita bidik setepat-tepatnya.”

Dengan gembira orang-orang menyambut bersama
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu
Mereka berdiri. Menghentakkan kaki ke lantai
Berderap serentak dan seirama
Suara mereka bersatu
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu
Hanyut dalam persatuan yang kuat
Mereka berteriak bersama
Persis dan seirama:
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu

“maka kini kita telah hidup kembali
Darah terasa mengalir dengan derasnya
Di kepala. Di leher. Di dada
Di perut. Dan di bagian tubuh lainnya
Lihatlah, oleh hidup jari-jariku gemetar

Darah it bong-bong-bong
Darah hidup bang-bing-bong
Darah hidup bersama bang-bing-bong-bong
Hidup harus beramai-ramai
Darah bergaul dengan darah
Bong-bong-bong. Bang-bing-bong.”

Orang-orang meledakkan gairah hidupnya
Mereka berdiri di atas bangku-bangku gereja
Berderap-derap dengan kaki meraka
Genta-genta, orgel, daun-daun pintu, kaca-kaca jendela,
Semua di palu dan dibunyikan
Dalam satu irama
Diiringi sorak gembira:
Bong-bong-bong. Bang-bing-bong

Cinta harus kita muliakan.
Cinta di belukar
Cinta di toko arab
Cinta di belakang halaman gereja
Cinta itu persatuan dan tra-la-la
Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la
Sebagai rumputan
Kita harus berkembang biak
Dalam persatuan dan cinta
Marilah kita melumatkan diri
Marilah kita bernaung di bawah rumputan
Sebagaimana pedoman kita:
“Tra-la-la. la-la-la, Tra-la-la”
Seluruh isi gereja gemuruh
Mereka mulai menari. Mengikuti satu irama
Mereka saling menggosok-gosokkan tubuh mereka
Lelaki dengan wanita. Lelaki-dengan lelaki
Wanita dengan wanita. Saling menggosok-gosokkan tubuhnya
Ke tembok geraja
Dan dengan suara menggigil yang ganjil
Mereka melengking dengan serempak:
Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la

“melewati nabi musa yang kramat.
Tuhan telah berkata:
Jangan engkau mencuri
Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon
Babu-babu jangan mencuri tulang-tulang ayam goreng
Para pembesar jangan mencuri bensin
Dan gadis jangan mencuri perawannya sendiri
Tentu, bahwa mencuri dan mencuri ada bedanya
Artinya: cha-cha-cha, cha-cha,cha
Semua barang dari tuhan
Harus dibagi bersama
Semua milik bersama
Semua untuk semua
Kita harus bersatu. Kita untuk kita
Cha-cha-cha, cha-cha-cha
Inilah pedomannya”

Sebagai binatang orang-orang bersorak:
Grr-grr-hura. Hura
Cha-cha-cha. Cha-cha-cha
Mereka copoti daun-daun jendela
Meraka ambil semua isi gereja
Candelabara-candelabara. Tirai-tirai. Permadani-permadani.
Barang-barang perak. Dan patung-patung berhiaskan peramata
Cha-cha-cha, begitu nyanyi meraka
Cha-cha-cha, berulang-ulang diserukan

Seluruh gereja rontok
Cha-cha-cha
Binatang-binatang yang basah berkeringat dan deras
Napasnya berlarian kian kemari
Cha-cha-cha. Cha-cha-cha.
Lalu tiba-tiba terdengar lengking jeritan perempuan tua:
“aku lapar. Aku lapar. Lapaaaaar.”
Tiba-tiba semua merasa lapar
Mata mereka menyala
Dan mereka tetap bersuara cha-cha-cha

“sebab sudah mulai lapar
Marilah kita bubaran.
Ayo, bubar. Semua berhenti.”

Cha-cha-cha, kata meraka
Dan mata mereka menyala

“kita bubar
Upacara dan khotbah telah selesai.”

Cha-cha-cha, kata mereka
Mereka tidak berhenti
Mereka mendesak maju
Gereja rusak. Dan mata mereka menyala

“Astaga, ingatlah penderitaan Kristus
Kita semua putra-putranya yang mulia
Lapar harus diatasi dengan kebijaksanaan.”
Cha-cha-cha
Mereka maju menggasak mimbar
Cha-cha-cha
Mereka seret padri itu dari mimbar
Cha-cha-cha
Mereka robek-robek jumlahnya
Cha-cha-cha
Seorang perempuan gemuk mencium mulutnya yang bagus
Seorang perempuan tua menjilati dadanya yang bersih
Dan gadis-gadis menarik kedua kakinya
Cha-cha-cha
Begitulah perempuan-perempuan itu memperkosanya
Beramai-ramai
Cha-cha-cha
Lalu tubuhnya dicincang
Semua orang makan dagingnya. Cha-cha-cha
Dengan persatuan yang kuat mereka berpesta
Mereka minum darahnya
Mereka hisap sungsum tulangnya
Sempurna habis ia dimakan
Tak ada lagi yang sisa
Fantastis.

(Rendra)

Me-Materialkan Tuhan Lewat Sistem Setan

Jika agama yang kita pahami selama ini sebagai regulasi atau tata tertip, antara mahluk dan mahluk, mahluk dan sang pencipta, yang telah ditentukan—lewat doktrin atau dogma-dogma yang telah termaktub dalam kitab-kitab suci (Verses). Pemehaman kita terhadap agama dan kelolaan diri sebagai leader (khalifah)—dengan kekuatan-kekuatan pemikiran atau kepekaan sosial telah diajarkan se-ideal mungkin lewat agama. Agama telah mencakup semua jabawan atas zaman, dengan formulasi “idiloginya”, jika agama tak mampu menjawab pertayaan zaman, saya kira agama hingga hari tidak amat sangat relevan menjadi acuan nilai (value oriented). Yang menjadi pertanyaan kita sekarang, adakah jawaban agama terhadap persoalan sosial,politik, ekonomi, dengan perubahan iklim zaman? saya kira jawaban itu telah dijawab sesuai kepentingan interpretator-interpretator—dengan kepentingan “simbolisme” sebagai legitimasi pengikatan budaya kolektif. Kepentingan-kepentingan ulama dan penguasa menterjemahkan agama menjadi sebuah tindakan politik agitasi lewat lembaga yang mereka pegang.
lembaga-lembaga ini yang kemudian menjadi acuan masyarakat sebagai regulasi sosial dengan norma-norma yang telah dikonsensus lewat ijtihad—sebagai nilai-nilai sosial, ekonomi, politik, hingga agama.
Jika kita amati secara seksama dewasa ini lembaga-lembaga administratif negara dan sistemnya—ada sebuah proses mematerialkan nilai-nilai sosial tersebut.
Sistem-sistem sosial yang dihasilkan lewat lembaga-lembaga sosial—memeterilkan sebuah yang tak bersifat materil. Kita bisa melihatnya dalam kasus penerimaan calon pegawai negeri sipil (Cpns) , calon gubernur (Cagub), calon presiden (Capres) hingga lembaga agama dan hukum yang melahirkan sistem. sebelum masuk ke dalam lembaga pemerintahan negara seseorang bisa menyuap atau menggeser nama seseorang dari hasil keputusan birokrasi, atau membeli setiap kepala seharga 20 ribu rupiah hal ini biasanya di lakukan para politisi sewaktu kempaye atau pemilihan kepala daerah (pilkadal). Di sisni ada sebuah materailisasi seistem-sistem sosial, dengan mencidrai “demokrasi”. Terutama nilai-nilai sosial ini kemudian menjadi sebuah materil atas kepentingan-kepentingan golongan tertentu. Kedua sumpah birokrasi yang biasanya di ucapkan dengan nama tuhan sebelum dilantik, dengan perjanjian nilai-nilai yang telah disepakati acap kali di langgar. biasanya dengan korupsi, tidak menjalankan amanat yang telah dicantumkan dalam konsesus birokrasi, hingga nepotisme.


Dari hasil sistem dan struktur yang dibentuk oleh pemerintah ini kemudian menjadi konsensus publik yang sah—di sini saya kira ada sebuah paroses kebijakan afirmatif terhadap ruang publik lewat birokrator. Biasanya perbuatan seperti ini masih mendapatkan citra baik di masayarakat dengan status sosial birokrasi. Biasanya orang yang tergabung dalam birokrasi—dalam pandangan masyarakat status sosial yang lebih tinggi dari pada orang non-birokrasi. Walaupun proses pencapaiannya secara tidak jujur curang atau menipu, dalam hal ini masih dihormati oleh masyarakat dari ada orang non-birokrasi yang mencuri ayam misalnya, distingtif seperti ini lebih menguntungkan orang pemerintahan dari pada non pemerintah. status sosial yang diciptakan oleh sistem-birokrasi—mengubah opini masyarakat terhadap birokrator. Walaupun ini adalah sebuah tesis yang abstrac, tapi ini ada dalam masyarakat kita.
Jika kita kaji secara historis status sosial adalah sebuah tranformasi kolonial Belanda terhadap masyarakat pribumi pada waktu itu, misalnya lembaga keagamaan Piesterraad yang didirikan Belanda (1882) atau sekarang boleh dikatakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), orang-orang yang termasuk dalam lembaga Piesterraad pada waktu itu digolongkan menjadi kaum priyayi. Atau kita bisa melihat kasus ini lebih lanjut dalam bukunya Mitsuo Nakamura “The Crescent Arises Over The Bayan Tree” di sini diceritakan adanya proses priyayisasi anak-anak pedagang batik Kota Gede (Yogyakarta) ketika menyelesaikan studinya—mereka tidak mau lagi menjadi pedagang, tetapi menjadi pegawai (priyayi) di karnakan status sosialnya meninggi—akhirnya ada pembagian klasifikasi status sosial pegawai halus (birokrasi) dan pegawai kasar ( kuli dan tani).
Watak-watak kolonial ini kemudian menjadi tradisi turun-temurun yang diwariskan Belanda terhadap negeri ini. Sistem dan struktur persis sama apa yang dilakukan Belanda terhadap bangsa ini. Bahkan pandangan kaum Cornell Orthodoxy, yang menyatakan sistem dan birokrasi pasca kemerdekaan merupakan replikasi langsung pemerintah kolonial Belanda terutama Orde Baru dan reformasi saat ini.
Pandangan seperti ini adalah sebuah materillisasi, yang hingga hari ini kita anut sebagai acuan nilai kolektif, dan pandangan yang bersipat adil dan jujur dengan dilandaskan nilai agama telah hilang dari sistem dan struktur sosial masyarakat. Di sini saya kira ada sebuah proses deagamaisasi tatanan sosial masyarakat lewat sistem dan struktur sosial.
Bahkan analisis Kuntowijoyo dalam bukunya “Paradigma Interpretasi Untuk Aksi” menyinggung atau lebih tepat meramal Indonesia akan menuju sebuah negara sekuler lewat modernisasi; persis sama dengan bangsa Eropa pasca Rinaissans. Agama telah di tinggalkan—karna revolusi pengetahuan dan modernisasi.
Artinya apa, nilai-nilai agama dan sosial kolektif telah hilang dari tatanan masyarakat, baik itu di sengaja maupun tak sengaja, pada akhirnya acuan pengaduan masyarakat tidak lagi ke tuhan melainkan kepada manusia—sebagai penyelamat diri.
Sistem yang mematerilkan tuhan ini, akan menjadi sebuah tongkat estapet yang tak akan berhenti, jika tidak ada inisiatif untuk mengubah ke sistem yang lebih humanis. Apabila sistem telah berubah saya kira akan ada ruang demokrasi yang palarel sesuai perjalanan waktu.