PADAMU JUA
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tanggap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu-bukan giliranku
Mati hari bukan kawanku
( Amir Hamzah)
SILHUET
Hening. Sepantun hujan yang risik mengalun di dasar telaga
yang senja
Kau taruh sinar bulan itu di cermin yang sudah dahaga pada
rupamu semenjak lama
Katakan, siapa yang menyuruh bayang-bayangmu
Menyandungkan sepi dan serigala saja
Purnama menyisir bulan, selenting daun pecah, kau hirup
Suaramu
Gerimis mengalir di pipi
(Abdul Hadi)
SEBUAH TAMAN SORE HARI
Dari sayap-sayap burung kecil itu
Berguguran sepi, sepiku
Saat terhenti di sebuah taman kota ini
Daun jatuh di atas bangku, bagai mimpi
Di antara datang dan suatu kali pergi
Beribu lonceng bernyanyi
Kekal sewaktu bercakap kepada hati
Lalu kepada bumi. Di sini aku menanti
(Sapardi Djoko Damono)
DESA KECIL
Pohon besar masih berjajar
Ranting dahan menjadi halte binatang
Datang
Daun-daunya hijau, hijau sekali
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tanggap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu-bukan giliranku
Mati hari bukan kawanku
( Amir Hamzah)
SILHUET
Hening. Sepantun hujan yang risik mengalun di dasar telaga
yang senja
Kau taruh sinar bulan itu di cermin yang sudah dahaga pada
rupamu semenjak lama
Katakan, siapa yang menyuruh bayang-bayangmu
Menyandungkan sepi dan serigala saja
Purnama menyisir bulan, selenting daun pecah, kau hirup
Suaramu
Gerimis mengalir di pipi
(Abdul Hadi)
SEBUAH TAMAN SORE HARI
Dari sayap-sayap burung kecil itu
Berguguran sepi, sepiku
Saat terhenti di sebuah taman kota ini
Daun jatuh di atas bangku, bagai mimpi
Di antara datang dan suatu kali pergi
Beribu lonceng bernyanyi
Kekal sewaktu bercakap kepada hati
Lalu kepada bumi. Di sini aku menanti
(Sapardi Djoko Damono)
DESA KECIL
Pohon besar masih berjajar
Ranting dahan menjadi halte binatang
Datang
Daun-daunya hijau, hijau sekali

