Menulis adalah istilah yang amat sangat keramat bagiku, menulis seperti setan yang bertaring, bertanduk, berkuku tajam, mungkin seperti yang dalam film zombie, devil, vampir, mak erot, hantu ngesot (hitungan kotornya) Semenakutkan itukah..!! ya, bahkan aku membayangkan menulis seperti setan yang sedang mau menggigit leherku dari belakang. Sangat mengerikan persepsi menulis bagiku. Bukan itu saja, menulis bisa memenjarahkan diri kita sendiri, seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer “tulisanmu bakal mengutuki kau sendiri, ia akan menjadi hakim dan jaksamu sekaligus, yang bakal memburu-buru kau seumur hidup”. Engkau tengok saja yang lebih nyata “ Wartawan Radar Bali, Anak Agung Prabangsa yang dibunuh gara-gara menulis jujur untuk dikonsumsi publik—tentang penguasa yang korup, atau Prita Mulyasari yang menuliskan keluh-kesahnya di bloggernya—berujung bui. “Menulis benar, bisa terkapar; menulis salah bisa masuk neraka” pertimbangan ilustratif saya, karna saya tidak bisa menulis. Bagi saya menulis itu menakutkan—karna kita juga takut akan diri sendiri—diri sendiri yang dibuat orang lain. Menulis menciptakan diri kita sendiri, mengapa kita takut dengan orang lain? Karna kita adalah orang lain, ya tentu, karna kita penakut. Takut dengan persepsi kita dan orang lain. Apakah kemudian menulis itu kewajiban setiap individu? Tentu tidak, menulis bukan tanggung jawab atau syari’at yang mesti dijalankan setiap individu. Menulis hanya untuk orang yang bisa menulis dan sadar akan “menuliskannya”, analoginya seperti ini, orang yang membayar zakat (muzakki) otomatis ia sadar akan berbagi terhadap sesamanya, sadar akan tanggung jawabnya sebagai muslim dan sadar akan fungsi kepemilikan, dalam hal ini harta. Artinya apa, menulis sebuah kesadaran teoritik atau ide yang menuntut akan realisasi objektif atau tanggung jawab individu. Baik itu dalam sifat individunya (Egosentrisme) maupun sifat keterbukaan sosial (Open Society). Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kemudian orang yang menulis sadar akan individunya dan sosialnya. Individu dalam arti watak emansipasi maupun watak menerima (Taken For Granted) dan watak defensif sosialnya dalam arti kebebasan publik dan tanggung jawab publik (dalam hal ini isi tulisan).

Menulis sekali lagi saya sebutkan bukan ritual yang tanpa ide berkesadaran tetapi sadar yang “berkonsensus”. Sama seperti agama kita sholat artinya kita sadar (tidak gila) akan ide agama dan dalam ritual agama ada tanggung jawab individu dan tanggung jawab sosial (hablumminallah wa hablumminannas). Analogi saya itu bukan untuk menyamakan menulis itu dengan ritual agama. Ritual agama tentu memiliki syarat atau rukun dalam pemenuhan ritual, sedangkan menulis tidak, yang saya maksudkan di sini adalah kontek sosialnya hampir sama mempunyai orientasi nilai (Oriented Values). Bagaimana kemudian menulis dengan motif menghasut (Agitasi) untuk berbuat jahat sedangkan agama juga menghasut dalam berbuat baik. Saya kemudian menganalogikannya kembali dengan agama yang diinterpretasikan untuk kepentingan politik bentuk dari penghasutan jahat/distorsi. Mungkin kita semua sudah memahami bagaimana agama dipahami sebagai kepentingan politik. Dalam hal ini saya mendeferensiasikannya dengan “agama” dan “pemikir keagamaan”. Artinya agama tetap konsisten dengan nilai universalnya sedangkan pemikir keagamaan belum tentu ada nilai universal dan humanis di dalam memahami agama. Saya memahami sejauh ini kepentingan menulis hampir sama dengan kepentingan agama, sama-sama memiliki value individu dan value sosial. Mengapa tulisan ini saya beri judul “saya tidak bisa menulis” karna saya hingga hari ini belum berkesadaran baik “berkesadaran individu” maupun “berkesadaran sosial”. Bukan itu saja yang saya maksudkan dengan judul “aku tidak bisa menulis” di sini adalah saya juga tidak mengerti dari mana harus memulai sebuah tulisan. Baik itu, opini, esei, karya ilmiah, makalah, cerpen, puisi, seloko, dan gurindam apalagi berbicara tentang teori dan meteloginya. Saya betul-betul angkat tangan. Saran saya bagi orang yang bisa menulis, menulislah dengan ikhlas, tulus, jujur dan bertanggung jawab (Responsible). Baik itu untuk individu maupun public. Dan realisasikan lah apa-apa yang ditulis menjadi sebuah sikap yang pantas untuk disenyumkan, jangan sampai ada istilah “lain di mulut lain di hati”. Sekali lagi bagi siapa yang bisa menuli—menulis itu adalah kamu yang bersikap emansipasi.