Discussing the subject, an old professor used the word secularization to describe what was happening to cultural life and the world view of people in Yogyakarta these days. He contrasted development in the city with the outlying area of central and east Java where “people still clung to Mataram”, and tradisional ways and beliefs still held sway.” He thought that personality of the previous sultan, Hamengku Buwono IX, and the hisroritical process that unfolded during his reign, explained to a
Jumat, November 11, 2011
Sabtu, Oktober 22, 2011
MENUNGGU MATAHARI
Ia pun pergi ke laut lepas
karna matahari tak mengkiblat
satu jam lagi menunggu tenggelamnya
ia berjalan, di pesisir angin-angin laut;ombak berulangkali berkaki.
Pasir seperti kertas putih sore itu
Ia tulis dan ia lukislah ia
cerita dan sketsa
karna matahari tak mengkiblat
satu jam lagi menunggu tenggelamnya
ia berjalan, di pesisir angin-angin laut;ombak berulangkali berkaki.
Pasir seperti kertas putih sore itu
Ia tulis dan ia lukislah ia
cerita dan sketsa
Kamis, Oktober 20, 2011
PUISI
Di mana engkau puisi
Kemana engkau pergi dari semalam tadi aku mencarimu
Malam-malam,
dan malam sekali hingga siang pun sekali
Berulang-ulang seperti ombak laut itu
Jika jejak langkahmu telah hilang ditabrak ombak
Kemana engkau pergi dari semalam tadi aku mencarimu
Malam-malam,
dan malam sekali hingga siang pun sekali
Berulang-ulang seperti ombak laut itu
Jika jejak langkahmu telah hilang ditabrak ombak
Rabu, Oktober 12, 2011
Mengikat Egosentrisme
Manusia merupakan mahluk yang paling unik, aneh dan serba-serbi kemauan karna diproduksi oleh pikirannya sendiri. Dari keunikan inilah kemudian manusia menetapkan ukuran kebenaran pada dirinya sendiri, bukan itu saja ukuran kebenaran bisa menjadi kolektif apabila kelompok atau organisasinya yang menentukan simbolnya untuk kepentingan tertentu (biasanya dilakukan partai politik, ormas-ormas keagamaan dan organisasi lainya.). Artinya kepentingan individu dan kepentingan kelompok—simbolismenya telah diikat oleh egosentrismenya.
Kemudian egosentrisme ini menjadi sebuah bentuk perlawanan kepetingan idiologi baik itu per-orangan maupun per-kelompokan. Kepentingannya adalah simbolisasi nilai—lewat ukuran yang bersandar pada kepetingannya sendiri. Sifat egosentrisme ini juga menutupi kita pada kritik diri dan berpikir kemapanan dan kebenaran itu dalam diri kita atau kelompok kita.
Dalam konteks politik, kekuasaan, budaya, dan bahkan agama egosentrisme otomatis mengikat simbolnya masing-masing dari serangan oposisi. S
Minggu, Oktober 09, 2011
AKU TIDAK BISA MENULIS
Menulis adalah istilah yang amat sangat keramat bagiku, menulis seperti setan yang bertaring, bertanduk, berkuku tajam, mungkin seperti yang dalam film zombie, devil, vampir, mak erot, hantu ngesot (hitungan kotornya) Semenakutkan itukah..!! ya, bahkan aku membayangkan menulis seperti setan yang sedang mau menggigit leherku dari belakang. Sangat mengerikan persepsi menulis bagiku. Bukan itu saja, menulis bisa memenjarahkan diri kita sendiri, seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer “tulisanmu bakal mengutuki kau sendiri, ia akan menjadi hakim dan jaksamu sekaligus, yang bakal memburu-buru kau seumur hidup”. Engkau tengok saja yang lebih nyata “ Wartawan Radar Bali, Anak Agung Prabangsa yang dibunuh gara-gara menulis jujur untuk dikonsumsi publik—tentang penguasa yang korup, atau Prita Mulyasari yang menuliskan keluh-kesahnya di bloggernya—berujung bui. “Menulis benar, bisa terkapar; menulis salah bisa masuk neraka” pertimbangan ilustratif saya, karna saya tidak bisa menulis. Bagi saya menulis itu menakutkan—karna kita juga takut akan diri sendiri—diri sendiri yang dibuat orang lain. Menulis menciptakan diri kita sendiri, mengapa kita takut dengan orang lain? Karna kita adalah orang lain, ya tentu, karna kita penakut. Takut dengan persepsi kita dan orang lain. Apakah kemudian menulis itu kewajiban setiap individu? Tentu tidak, menulis bukan tanggung jawab atau syari’at yang mesti dijalankan setiap individu. Menulis hanya untuk orang yang bisa menulis dan sadar akan “menuliskannya”, analoginya seperti ini, orang yang membayar zakat (muzakki) otomatis ia sadar akan berbagi terhadap sesamanya, sadar akan tanggung jawabnya sebagai muslim dan sadar akan fungsi kepemilikan, dalam hal ini harta. Artinya apa, menulis sebuah kesadaran teoritik atau ide yang menuntut akan realisasi objektif atau tanggung jawab individu. Baik itu dalam sifat individunya (Egosentrisme) maupun sifat keterbukaan sosial (Open Society). Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kemudian orang yang menulis sadar akan individunya dan sosialnya. Individu dalam arti watak emansipasi maupun watak menerima (Taken For Granted) dan watak defensif sosialnya dalam arti kebebasan publik dan tanggung jawab publik (dalam hal ini isi tulisan).
Menulis sekali lagi saya sebutkan bukan ritual yang tanpa ide berkesadaran tetapi sadar yang “berkonsensus”. Sama seperti agama kita sholat artinya kita sadar (tidak gila) akan ide agama dan dalam ritual agama ada tanggung jawab individu dan tanggung jawab sosial (hablumminallah wa hablumminannas). Analogi saya itu bukan untuk menyamakan menulis itu dengan ritual agama. Ritual agama tentu memiliki syarat atau rukun dalam pemenuhan ritual, sedangkan menulis tidak, yang saya maksudkan di sini adalah kontek sosialnya hampir sama mempunyai orientasi nilai (Oriented Values). Bagaimana kemudian menulis dengan motif menghasut (Agitasi) untuk berbuat jahat sedangkan agama juga menghasut dalam berbuat baik. Saya kemudian menganalogikannya kembali dengan agama yang diinterpretasikan untuk kepentingan politik bentuk dari penghasutan jahat/distorsi. Mungkin kita semua sudah memahami bagaimana agama dipahami sebagai kepentingan politik. Dalam hal ini saya mendeferensiasikannya dengan “agama” dan “pemikir keagamaan”. Artinya agama tetap konsisten dengan nilai universalnya sedangkan pemikir keagamaan belum tentu ada nilai universal dan humanis di dalam memahami agama. Saya memahami sejauh ini kepentingan menulis hampir sama dengan kepentingan agama, sama-sama memiliki value individu dan value sosial. Mengapa tulisan ini saya beri judul “saya tidak bisa menulis” karna saya hingga hari ini belum berkesadaran baik “berkesadaran individu” maupun “berkesadaran sosial”. Bukan itu saja yang saya maksudkan dengan judul “aku tidak bisa menulis” di sini adalah saya juga tidak mengerti dari mana harus memulai sebuah tulisan. Baik itu, opini, esei, karya ilmiah, makalah, cerpen, puisi, seloko, dan gurindam apalagi berbicara tentang teori dan meteloginya. Saya betul-betul angkat tangan. Saran saya bagi orang yang bisa menulis, menulislah dengan ikhlas, tulus, jujur dan bertanggung jawab (Responsible). Baik itu untuk individu maupun public. Dan realisasikan lah apa-apa yang ditulis menjadi sebuah sikap yang pantas untuk disenyumkan, jangan sampai ada istilah “lain di mulut lain di hati”. Sekali lagi bagi siapa yang bisa menuli—menulis itu adalah kamu yang bersikap emansipasi.
Menulis sekali lagi saya sebutkan bukan ritual yang tanpa ide berkesadaran tetapi sadar yang “berkonsensus”. Sama seperti agama kita sholat artinya kita sadar (tidak gila) akan ide agama dan dalam ritual agama ada tanggung jawab individu dan tanggung jawab sosial (hablumminallah wa hablumminannas). Analogi saya itu bukan untuk menyamakan menulis itu dengan ritual agama. Ritual agama tentu memiliki syarat atau rukun dalam pemenuhan ritual, sedangkan menulis tidak, yang saya maksudkan di sini adalah kontek sosialnya hampir sama mempunyai orientasi nilai (Oriented Values). Bagaimana kemudian menulis dengan motif menghasut (Agitasi) untuk berbuat jahat sedangkan agama juga menghasut dalam berbuat baik. Saya kemudian menganalogikannya kembali dengan agama yang diinterpretasikan untuk kepentingan politik bentuk dari penghasutan jahat/distorsi. Mungkin kita semua sudah memahami bagaimana agama dipahami sebagai kepentingan politik. Dalam hal ini saya mendeferensiasikannya dengan “agama” dan “pemikir keagamaan”. Artinya agama tetap konsisten dengan nilai universalnya sedangkan pemikir keagamaan belum tentu ada nilai universal dan humanis di dalam memahami agama. Saya memahami sejauh ini kepentingan menulis hampir sama dengan kepentingan agama, sama-sama memiliki value individu dan value sosial. Mengapa tulisan ini saya beri judul “saya tidak bisa menulis” karna saya hingga hari ini belum berkesadaran baik “berkesadaran individu” maupun “berkesadaran sosial”. Bukan itu saja yang saya maksudkan dengan judul “aku tidak bisa menulis” di sini adalah saya juga tidak mengerti dari mana harus memulai sebuah tulisan. Baik itu, opini, esei, karya ilmiah, makalah, cerpen, puisi, seloko, dan gurindam apalagi berbicara tentang teori dan meteloginya. Saya betul-betul angkat tangan. Saran saya bagi orang yang bisa menulis, menulislah dengan ikhlas, tulus, jujur dan bertanggung jawab (Responsible). Baik itu untuk individu maupun public. Dan realisasikan lah apa-apa yang ditulis menjadi sebuah sikap yang pantas untuk disenyumkan, jangan sampai ada istilah “lain di mulut lain di hati”. Sekali lagi bagi siapa yang bisa menuli—menulis itu adalah kamu yang bersikap emansipasi.
Minggu, September 18, 2011
lomba perahu naga "Desa Pasar Terusan"
Bentuk apresiasi Kepala Desa Pasar Terusan terhadap Lomba Perahu Naga, dengan mengangkat jari tangannya ke arah kamera.
Playboy team vs Ganteng team sedang memacu kekuatan.
Matalalang team vs.....
tenam team...
napasisisik team vs...
amplu team
skripsi juniwati
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lanjut usia merupakan anugerah. Menjadi tua dengan segenap keterbatasan pasti akan dialami oleh seseorang bila ia panjang umur. Di Indonesia, istilah untuk kelompok usia ini belum baku, orang memiliki sebutan yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan istilah usia lanjut ada pula lanjut usia atau jompo dengan padanan kata dalam bahasa Inggris biasa disebut the aged, the elders, older adult, serta senior citizen (Tamher & Noorkasiani, 2009).
Seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan Nasional telah mewujudkan hasil yang positif di berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang medis atau kedokteran sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia dari 60 tahun sampai diatas 70 tahun. Akibatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat (Nugroho, 2000).
Saat ini, diseluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Negara maju seperti Amerika Serikat pertambahan orang lanjut usia ±1000 orang perhari pada tahun 1985 dan diperkirakan 50% dari penduduk berusia di atas 50 tahun sehingga istilah Baby Boom pada masa lalu berganti menjadi “ledakan penduduk lanjut usia” (Nugroho, 2000).
Menurut Kinsella & Tamber (1993) dari data USE Bureau Of The Cencus, Indonesia akan mengalami pertambahan lansia terbesar di seluruh dunia, antara tahun 1990 sampai 2005, yaitu sebesar 414% suatu angka paling tinggi di dunia. Sebagai perbandingan: Kenya 347%, Brazil 255%, India 242%, China 220%, Jepang 129%, Jerman 66%, dan Swedia 33% (Darmojo, 2004).
Pada tahun 2010 penduduk lansia di Indonesia telah mencapai diatas 23,9 juta jiwa (9,77%), pada tahun 2020 akan mencapai 28,8 juta jiwa (11,2%) dari total penduduk di Indonesia. Di tahun 2050 mendatang jumlah lansia di Indonesia akan mencapai 50 juta jiwa (Burhan, 2010). Meningkatnya umur harapan hidup ini dipengaruhi oleh majunya pelayanan kesehatan, menurunnya angka kematian bayi dan anak, perbaikan gizi dan sanitasi, meningkatnya pengawasan terhadap penyakit infeksi (Nugroho, 2008).
Jumlah lansia di Kota Jambi pada tahun 2007 mencapai 39.556 jiwa, dan terdiri dari laki-laki 20.020 jiwa dan perempuan 19.536 jiwa. Pada tahun 2008 jumlah lansia semakin meningkat sehingga mencapai 46.742 jiwa dengan jumlah laki-laki 25.270 jiwa dan perempuan 21.472 jiwa, sedangkan pada tahun 2009 terdapat 47.291 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 24.972 dan perempuan 22.319 jiwa dan diperkirakan pada tahun 2010 akan semakin meningkat (BPS Jambi, 2009).
Secara individu pada usia diatas 55 tahun terjadi proses penuaan secara alamiah. Hal ini akan menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi, dan psikologis (Nugroho, 2000). Faktor psikologis memegang peranan utama terhadap kecenderungan insomnia. Biasanya insomnia disebabkan oleh stres, perubahan hormon, dan kelainan kronis. Insomnia terjadi dalam tiga malam atau lebih dalam seminggu dalam jangka waktu sebulan termasuk insomnia kronis (Rafknowledge, 2004).
Proses menjadi tua menimbulkan berbagai masalah baik secara fisik, biologis, mental maupun sosial. Masalah sehari-hari yang sering ditemukan pada lanjut usia yaitu mudah jatuh, mudah lelah, kekacauan mental akut seperti nyeri dada, sesak nafas pada saat melakukan kerja fisik, berdebar-debar (palpitasi), pembengkakan kaki bagian bawah, nyeri pinggang atau punggung, nyeri pada sendi pinggul, berat badan menurun, sukar menahan buang air seni (sering ngompol), sukar menahan buang air besar, gangguan pada ketajaman penglihatan, gangguan pada pendengaran, gangguan tidur (sulit tidur), keluhan pusing-pusing, perasaan dingin atau kesemutan pada anggota badan, mudah gatal-gatal (Nugroho, 2002).
Kurang tidur dapat membahayakan diri sendiri maupu orang lain. Seseorang yang kurang tidur lalu mengemudi mobil sendiri sering mengalami kecelakaan fatal. Kurang tidur dapat pula mengakibatkan masalah dalam keluarga dan perkawinan, karena kurang tidur dapat membuat orang cepat marah dan lebih sulit diajak bergaul. Bila tidur kurang lelap, maka kita akan merasa letih, lemah dan lesu pada saat bangun. Kehilangan jam tidur meskipun sedikit mempunyai akibat yang negativ terhadap kemampuan konsentrasi, kinerja, produktivitas, keterampilan komunikasi, dan kesehatan secara umum, termasuk sistem gastrointestinal,fungsi kardiovaskuler dan sistem kekebalan tubuh (Edinger dkk, 2000).
Gangguan tidur menyerang 50% orang yang berusia 60 tahun atau lebih yang bertempat tinggal di rumah sendiri dan 66% orang yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang. Gangguan tidur mempengaruhi kualitas hidup dan berhubungan dengan angka mortalitas yang lebih tinggi (Stanley Mickey & Patricia G.B, 2006).
Luce dan Segal dalam Nugroho (2000) mengungkapkan bahwa faktor usia merupakan faktor terpenting yang berpengaruh terhadap kualitas tidur. Telah dikatakan pula bahwa keluhan terhadap kualitas tidur seiring dengan bertambahnya usia. Gangguan tidur pada lansia disebabkan oleh banyak faktor misalnya faktor ekstrinsik (luar) seperti lingkungan yang kurang tenang. Faktor Instrinsik seperti nyeri, gatal-gatal, penyakit tertentu yang membuat gelisah, depresi, kecemasan, dan iritabilitas.
Banyak cara yang dilakukan untuk menanggulangi gangguan tidur, di antaranya dengan terapi perilaku (relaksasi). Terapi relaksasi (perilaku) terbukti efektif dan manjur untuk menanggulangi gangguan tidur. Menurut Lanywati (2001), ada beberapa teknik atau metode terapi tanpa obat yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan tidur adalah metode Bootzin dan metode relaksasi. Pendekatan yang paling banyak dilakukan dari 5 macam relaksasi (relaksasi diafragma, imajinasi, progresif, biofeedback, dan hipnosis) adalah relaksasi progresif (Erna, 2005).
Dari kelima relaksasi tersebut maka Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan kualitas tidur adalah dengan melakukan latihan teknik relaksasi progresif. Dimana teknik relaksasi progresif merupakan salah satu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada cara kerja sistem saraf simpatis dan parasimpatis, dan teknik relaksasi progresif terbukti bisa mengurangi ketegangan dan kecemasan, gangguan tidur atau insomnia (Baitul Alim, 2010). Relaksasi. Relaksasi ini pertama kali dikenalkan oleh Edmun Jacobson, Seorang psikologi dari Chicago yang mengembangkan metode psikologis melawan ketegangan dan kecemasan (Setiyo, 2007).
Hasil penelitian Erliana, Haroen, Susanti (2004) meneliti “Perbedaan tingkat insomnia lansia sebelum dan sesudah latihan teknik relaksasi progresif di Balai Perlindungan Tresna Werdha Ciparay Bandung. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh teknik relaksasi progresif dengan terdapatnya perbedaan tingkat insomnia sebelum dan sesudah teknik relaksasi progresif dengan hasil (pV α < = 0,05). Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi merupakan satu-satunya panti yang terdapat di kota Jambi yang menampung lansia agar mereka mendapatkan perawatan yang layak. Panti ini menampung lansia sebanyak 70 orang yang terdiri dari 35 orang laki-laki dan 35 orang perempuan. Sebagian lansia merupakan lansia terlantar ataupun lansia dari ekonomi kurang mampu sehingga keluarga tidak sanggup merawat lansia (PSTW Jambi, 2011). Survey awal pada tanggal 21 maret 2011 di PSTW Budi Luhur Jambi, dari 5 orang lansia, diantaranya mengeluh kurang puas dengan tidurnya dikarenakan sering terbangun pada malam hari. Tiga dari Lima orang lansia mengatakan dalam sehari hanya tidur 2-4 jam. Pada saat bangun tidur lansia mengatakan badan lemas dan merasa kurang puas dengan tidurnya dan dua di antaranya mengatakan bahwa tidak ada keluhan sama sekali, saat bangun tidurpun mereka merasa segar dan puas dengan tidurnya. Upaya yang dilakukan petugas panti dalam menangani masalah ini adalah memberikan obat tidur. Berdasarkan fakta yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang akan lebih difokuskan pada kualitas tidur, dengan rumusan judul: Pengaruh Teknik Relaksasi Progresif Terhadap Kualitas Tidur Pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Kota Jambi. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penulis merumuskan masalah untuk penelitian ini yaitu apakah teknik relaksasi progresif berpengaruh terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui kualitas tidur sebelum dilakukan teknik relaksasi progresif pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. b. Mengetahui kualitas tidur setelah dilakukan teknik relaksasi progresif pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. c. Mengetahui perbedaan kualitas tidur sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi progresif pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. D. Manfaat Penelitian a. Bagi Panti Tresna Werdha Untuk meningkatkan pengetahuan petugas panti mengenai pengaruh teknik relaksasi progresif tehadap kualitas tidur pada lansia yang mengalami insomnia. b. Bagi Profesi Keperawatan Dapat dijadikan bahan masukan atau pertimbangan untuk melaksanakan teknik relaksasi progresif terhadap lansia yang mengalami gangguan tidur hingga mampu mengoptimalkan peran mandiri perawat. c. Bagi Penelitin Sebagai bahan pengalaman belajar dibidang penelitian dan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan khususnya dalam menerapkan asuhan keperawatan pada lansia yang mengalami gangguan tidur. E. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. Pengolahan data di lakukan dengan analisa univariat & bivariat menggunakan uji T dependen. Penelitian dilakukan di Panti Sosial Trena Werdha Budi Luhur Jambi. Populasi penelitian adalah seluruh lansia yang mengalami penurunan kualitas tidur dengan sampel 28 orang, jenis penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimental yang diggunakan adalah one group pre test and post test desain yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2011. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Lansia 1. Definisi Lansia Menurut WHO dalam Nugroho (2008) usia lanjut merupakan suatu perubahan pada organisme yang mencapai kematangan intrinsik dan bersifat ireversibel serta menunjukan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. 2. Batasan-Batasan Lanjut Usia Menurut WHO dalam Nugroho (2008) ada beberapa batasan dari lanjut usia (Lansia) : a. Usia pertengahan (midle age) antara 45-59 tahun. b. Lanjut usia (elderly) antara 60-74 tahun. c. Lanjut usia tua (old) antara 75-90 tahun. d. Usia sangat Tua (very old) di atas 90 tahun. Menurut Burnside dalam Nugroho Wahyudi (2008) ada empat tahapan lanjut usia, yakni: a. Young Old (usia 60-69 tahun) b. Middle age old ( usia 70-79 tahun) c. Old-old (usia 80-89 tahun) d. Very old-old (usia 90 tahun keatas) Menurut Hurlock dalam Nugroho (2008) perbedaan lanjut usia terbagi dalam beberapa tahap,yakni: a. Early old age (usia 60-70 tahun) b. Advanced old age (usia 70 tahun keatas) 3. Perubahan Fisik Pada Usia Lanjut Nugroho (2008) menjelaskan bahwa perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada usia lanjut meliputi yaitu: a. Sel Jumlah sel menjadi sedikit, ukuran membesar, berkurang jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intra seluler, menurunya proporsi protein di otak, ginjal, darah dan hati, jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel, dan otak akan menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%. b. Sistem Persarafan Berat otak menurun 5-10%, cepatnya menurun hubungan persarafan, lambat dalam respon dan waktu untuk berinteraksi khususnya terhadap stres, mengecilnya saraf panca indera, dan kurang sensitif terhadap sentuhan. c. Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik lebih kurang 35 ºC yang di akibatkan oleh menurunya metabolisme tubuh, keterbatasan reflex menggigil dan tidak mempronduksi panas sehingga aktivitas otot menjadi lemah. d. Sistem Endokrin Produksi semua hormone menurun, fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah, berkurangnya produksi dari ACTH dan LH, menurunnya aktivitas tiroid, menurunnya daya pertukaran zat, menurunnya produksi aldosteroid. e. Sistem Kulit Kulit mengerut, kehilangan jaringan lemak, permukaan kulit kasar dan bersisik, menurunya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun, kulit kepala dan rambut menipis dan berwarna kelabu, kuku jari menjadi keras dan rapuh, kuku kaki tumbuh secara berlebihan seperti tanduk, kelenjar keringat berkurang, kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya. f. Sistem Muskuloskeletal Dengan adanya penurunan sistem muskuloskletal mengakibatkan tulang kehilangan density, makin rapuh, kifosis pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan menjadi terbatas dan pada discus Intervertobralis terjadi penipisan dan serta terjadinya kaku dan pembesaran pada persendian, sedangkan pada tendon terjadi pengerutan, dan mengalami sklerosis dan atrofi serabut otot. Menurut Maryam, dkk (2008) perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia, adalah: 1. Perubahan Fisik a. Sel Jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan cairan intraseluler menurun. b. Kardiovaskuler Katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa darah menurun (menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah perifer sehingga tekanan darah meningkat. c. Respirasi Otot-otot pernapasan kekuatannya menurun dan kaku, elastisitas paru menurun, kapisitas residu meningkat sehingga menarik nafas lebih berat, alveoli melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk menurun, serta terjadi penyempitan pada bronkus. d. Muskuloskeletal Cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk (kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), keram, tremor, tendon mengerut, dan mengalami sklerosis. e. Gastrointestinal Esofagus melebar, asam lambung menurun, lapar menurun, dan peristaltic menurun sehingga daya absorbsi juga ikut menurun. Ukuran lambung mengecil serta fungsi organ aksesori menurun sehingga menyebabkan berkurangnya produksi hormone dan enzim pencernaan. f. Genitourinaria Ginjal: mengecil, aliran darah keginjal menurun, penyaringan di gloromerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan mengonsentrasi urine ikut menurun. g. Vesika Urinaria Otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan retensi urine. Prostat: hipertropi pada 75% lansia. h. Vagina Selaput lendir mongering, dan sekresi menurun. i. Penglihatan Respons terhadap sinar menurun, adaftasi terhadap gelap menurun, akomodasi menurun, lapang pandang menurun, dan katarak. j. Pendengaran Membran timfani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan. k. Endokrin Produksi hormon menurun. l. Kulit Keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Rambut dalam hidung dan telinga menebal. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutih (uban), kelenjar keringat menurun, kuku keras dan rapuh, serta kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk. m. Belajar dan Memori Kemampuan belajar ada namun relatife menurun. Memori (daya ingat) menurun karena proses encoding menurun. n. Inteligensi Secara umum tidak banyak berubah. o. Personality dan Adjustment (pengaturan) Tidak banyak berubah, hampir seperti saat muda. p. Pencapain (Achievement) Sains, filosofi, seni dan musik sangat mempengaruhi. 2. Perubahan Sosial a. Peran Post power syndrome, single women, dan single parent. b. Keluarga (emptiness) Kesendirian, kehampaan. c. Teman Ketika lansia lainnya meninggal, maka muncul perasaan kapan akan meninggal. Berada dirumah terus-menerus akan cepat pikun (tidak berkembang). d. Abuse Kekerasan berbentuk verbal (dibentak), dan nonverbal (dicubit, tidak diberi makan). e. Masalah hukum Berkaitan dengan perlindungan sset dan kekayaan pribadi yang dikumpulkan sejak masih muda. f. Pensiun Kalau menjadi PNS akan ada tabungan (dana pensiun), kalau tidak anak cucu yang akan memberi uang. g. Ekonomi Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok bagi lansia dan income security. h. Rekreasi Untuk ketenangan batin. i. Keamanan Jatuh, terpeleset. j. Transportasi Kebutuhan akan system transportasi yang cocok bagi lansia. k. Politik Kesempatan yang sama untuk terlibat dalam memberikan masukan dalam system politik yang berlaku. l. Pendidikan Berkaitan dengan pengentasan buta aksara dan penempatan untuk tetap belajar sesuai dengan hak asasi manusia. m. Agama Melaksanakan ibadah. n. Panti jompo Merasa dibuang, diasingkan. 3. Perubahan Psikologis Perubahan fsikologis pada lansia meliputi short term memory, frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan keinginan, defresi dan kecemasan. 4. Penyakit Yang Berhubugan dengan Proses Menua Pada Lansia Menurut Stiglitz dalam Nugroho (2008) ada empat penyakit yang sangat erat hubungannya dengan proses menua yakni: a. Gangguan sirkulasi darah, seperti: hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan pembuluh darah diotak, dan ginjal. b. Gangguan metabolisme hormonal, seperti: diabetes militus, dan ketidak seimbangan steroid. c. Gangguan pada persendian seperti: rematik (osteoatritis, gout atritis, rematik atritis, ataupun penyakit kolagen lainnya). d. Berbagai macam neoplasma. 5. Pendekatan Perawatan Lansia Menurut Nugroho (2000), perawatan fisik pada lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yaitu: a. Pendekatan Fisik 1) Klien lansia yang masih aktif, dimana keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain, klien lansia yang masih aktif diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan mulut dan badan, kebersihan rambut dan kuku, kebersihan tempat tidur dan posisi tidurnya, hak makan, cara makan obat, dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi roda atau sebaliknya. 2) Klien lansia yang pasif atau tidak bangun dimana keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan dan sakit. Perawat harus mendekatkan diri dengan lansia, membimbing dengan sabar dan ramah sambil bertanya pada keluhan yang dirasakan, bagaimana tentang tidur, makan, apakah mereka biasa melakukan ibadah dan sebagainya. Sentuhan misalnya dengan menggenggam tangan kadang sangat berarti pada lansia. b. Pendekatan Psikis Perawat berperan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat harus selalu memegang prinsip “Trippel S”, yaitu sabar, simpatik, service. Perawat berperan mengubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan, secara perlahan-lahan dan bertahap, perawat harus mendukung mental lansia agar bis menikmati masa tuanya. Sehingga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu di usahakan agar masa lanjut usia ini dapat merasa puas dan bahagia. c. Pedekatan Sosial Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya perawatan dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Tidak jarang terjadi perselisihan dan perkelahian diantara lanjut usia, hal ini dapat di atasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu mengadakan kontak dengan mereka, senasip dan seperjuangan, dan punya hak dan kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas secara langsung berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia. d. Pendekatan Spiritual Perawat harus memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungan dengan tuhan atau agama yang dianutnya, terutama bila klien lanjut usia dalam keadaan sakit atau mendekati kematian. 6. Permasalahan Lanjut Usia Menurut Mangoenprasodjo (2005) permasalah lanjut usia antara lain: a. Kondisi Mental Secara psikologis , umumnya usia lanjut terdapat penurunan secara kognitif maupun psikomotor. Contohnya, penurunan pemahaman dalam menerima dan kelambanan dalam bertindak. b. Keterasingan (loneliness) Terjadi penurunan kemampuan kepada individu dalam mendengar, melihat, dan aktivitas lainya, sehingga merasa tersisih dari masyarakat. c. Post Power Syndrom Kondisi ini terjadi pada seseorang yang semula mempunyai jabatan pada masih aktif bekerja. Setelah berenti bekerja, merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. d. Masalah Penyakit Selain karena proses fisiologi yang menuju kearah degeneratif, juga banyak di temukan gangguan pada usia lanjut. Antara lain infeksi, jantung dan pembuluh darah, penyakit metabolik/osteoporosis, kurang gizi, penggunaan obar dan alkohol, serta gangguan jiwa terutama depresi dan kecemasan. e. Masalah Ekonomi Penerimaan dan pendapatan pada usia lanjut tidak seperti pada masa produktif, sehingga masah ekonomi merupakan salah satu masalah yang perlu dipahami. Permasalahan tersebut diatas membawa kita pada kesimpulan panjang umur saja tidak berguna bila menderita berbagai macam penyakit serta ketidakmampuan fisik dan mental yang prima untuk menjadi sumber daya manusia yang optimal. B. Konsep Tidur 1. Pengertian Tidur Tidur adalah proses fisiologi yang bersiklus bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan. Tidur merupakan aktivitas yang melibatkan susunan saraf pusat, saraf perifer, endokrin kardiovaskuler, respirasi dan musculoskeletal (Potter & Perry, 2005). Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Tarwoto & Wartonah, 2006). 2. Fisiologi Tidur Normal Tidur didefenisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsangan sensorik atau dengan rangsangan lainnya. Orang dewasa membutuhkan 7½ jam untuk tidur setiap malam. Walaupun demikian, ada beberapa orang yang membutuhkan tidur lebih atau kurang. Tidur normal dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya usia. Seseorang yang berusia muda cenderung tidur lebih banyak bila dibandingkan dengan lansia (Meida, 2002). Menurut Asmadi (2008), seseorang dapat dikategorikan sedang tidur apabila terdapat tanda-tanda sebagai berikut: a. Aktivitas fisik minimal b. Tingkat kesadaran bervariasi c. Terjadi perubahan-perubahan proses fisiologis tubuh d. Penurunan respons terhadap rangsangan dari luar. 3. Jenis-Jenis Tidur Menurut Asmadi (2008), pada hakekatnya tidur dapat diklasifikasikan ke dalam 2 kategori, yaitu: a. Tidur dengan gerakan bola mata cepat (REM-Rapid Eye Movement) Tidur REM merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial. Hal tersebut berarti tidur REM sifatnya nyenyak sekali, namun fisiknya yaitu gerakan kedua bola matanya bersifat sangat aktif. Tidur REM ditandai dengan mimpi, otot-otot kendor, tekanan darah bertambah, gerakan mata cepat (mata cenderung bolak-balik), sekresi lambung meningkat, ereksi penis pada laki-laki, gerakan otot tidak teratur, kecepatan jantung, dan pernapasan tidak teratur sering lebih cepat, serta suhu dan metabolisme meningkat. Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur REM, maka akan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut: a. Cenderung hiperaktif b. Kurang dapat mengendalikan diri dan emosi (emosi labil) c. Nafsu makan bertambah d. Bingung dan curiga b. Tidur dengan gerakan bola mata lambat (NREM-Non Rapid Eye Movement) Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam. Pada tidur NREM gelombang otak lebih lambat di bandingkan pada orang yang sadar atau tidak tidur. Tanda-tanda tidur NREM antara lain: mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah turun, kecepatan pernapasan turun, metabolisme menurun, dan gerakan bola mata lambat. 4. Tahap Tidur Normal Tahapan tidur normal menurut Kaplan dan Sadock (2000), yaitu: Tahap 0 adalah kesadaran penuh dengan mata tertutup, yang terjadi sesaat sebelum tidur. Tonus otot cenderung meningkat, aktivitas alpa meningkat dengan meningkatnya rasa kantuk. Tahap 1 disebut tahap permulaan tidur karena menunjukkan transisi singkat dari sadar menuju tidur. Didapat amplitude rendah, aktivitas beta dan theta lebih lambat (4-7 siklus per detik). Tahap 1 merupakan 5% dari total periode waktu tidur. Tahap 2 didominasi aktivitas theta dan dicirikan dengan sleep spindles adalah ritme gelombang komplek K berbentuk tajam, negative, gelombang EEG tegangan tinggi, diikuti oleh yang lebih lambat. Tahap 2 merupakan 45-55% dari total periode total tidur. Tahap 3 dicirikan 30-50% aktivitas delta tegangan tinggi frekuensi 1-2 per detik. Seperti tahap 2, tonus otot meningkat tetap[I tidak ada gerakan mata. Tahap 4 terjadi saatgelombang delta menyusun >50% rakaman EEG. Tahap 3 dan 4 sering sulit dibedakan dan secara umum disebut slow-wave sleep dan merupakan 15-20% waktu tidur.
Tidur REM menghasilkan pola EEG yang menyerupai NREM tingkat 1, disertai mimpi aktif, tonus otiot sangat rendah, peningkatan aktivitas aktivitas involunter, frekuensi jantung dan nafas tidak teratur, gerakan otot tidak teratur (pada mata menyebabkan gerakan bola mata cepat) dan lebih sulit dibangunkan. Tahap ini merupakan 20-25% dari waktu tidur total dan sering dikenal pula dengan Tidur desynchronizet (Stradding, 1995).
Urutan tahapan tidur selama siklus tidur adalah NREM 1, 2, 3, 4, 3 dan 2, kemudian tahap REM. Pada dewasa muda, tidur REM merupakan 25% waktu tidur total. Dari bangun samapi tahap NREM memerlukan waktu kira-kira 90 menit sebelum periode REM pertama yang disebut sebagai REM latency (Kaplan & Sadock, 2000).
Saklar untuk tidur adalah nucleus ventrolateral (PLPO) di hipotalamus anterior. Area ini akan aktif saat tidur menggunakan neurotransmitter inhibisi GABA dan galanin untuk memulai tidur dengan menghambat daerah rangsangan otak. Neuron Hypocretin di hipotalamus lateral membantu untuk menstabilkan saklar ini. Jatuh tertidur adalah hasil pemutusan fungsional antara batang otak dan thalamus rostal dengan korteks otak (Pinzon, 2010).
Keadaan terbangun menghasilkan peningkatan denyut nadi, tekanan darah dan ventilasi. Stimulus respirasi seperti oklusi saluran nafas, peningkatan resistensi saluran nafas, hipoksia dan hiperkapnia dapat menuntun terbangun dari tidur. Stimulus respirasi yang utama membangunakan adalah derajad usaha pernafasan (Pack, 2008).
5. Kualitas Tidur
Kualitas tidur menunjukan kemampuan individu untuk tetap tidur dan mendapatkan jumlah tidur REM dan NREM yang tepat (George & Kriger, 2008). Kualitas tidur yang buruk atau durasi tidur yang kurang pada lanjut usia bisa mengakibatkan defresi, stroke, penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, arthritis dan hipertensi (Amir, 2008).
Kurang tidur dapat membahayakan diri sendiri sendiri maupun bagi orang sendiri. Seseorang yang kurang tidur sering mengalami kecelakaan yang fatal. Kurang tidur, dapat pula mengakibatkan masalah dalam keluarga dan perkawinan, karena kurang tidur dapat membuat orang cepat marah dan lebih sulit diajak bergaul. Bila tidur kurang lelap, maka kita akan merasa letih, lemah dan lesu pada saat bangun. Kehilangan jam tidur meskipun meskipun sedikit mempunyai akibat yang negativ terhadap kemampuan konsentrasi, kinerja, prodiktivitas, ketrampilan komunikasi, dan kesehatan secara umum, temasuk sistem gastrointestinal, fungsi kardiovaskuler, dan sistem kekebalan tubuh (Endiger dkk, 2000).
Kualitas tidur adalah Penilaian terhadap kualitas tidur yang subjektif, masa laten tidur, lama waktu tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, gangguan obat tidur, dan gangguan di siang hari (Buysee dkk, 1989).
Salah satu aspek utama dari peningkatan kesehatan untuk lansia adalah kualitas tidur untuk memastikan pemulihan fungsi tubuh sampai tingkat fungsional yang optimal dan untuk memastikan keterjagaan disiang hari guna menyelesaikan tugas-tugas dan menikmati suasana hidup yang tinggal (Stanley Mickey & Patricia G. B, 2006).
Kesulitan tidur adalah keluhan tentang kurangnya kualitas tidur yang disebabkan oleh satu dari: sulit memasukan tidur, sering terbangun malam kemudian sulit untuk kembali tidur, bangun terlalu pagi, dan tidur yang tidak nyenyak. Akibat yang ditimbulkan oleh kurangnya tidur pada malam hari seperti kelelahan, kurang gairah, dan kesulitan berkonsentrasi ketika beraktivitas (Edinger dkk, 2000).
Jumlah tidur total tidak berubah sesuai pertambahan usia. Akan tetapi, kualitas tidur kelihatan menjadi berubah pada kebanyakan lansia. Kualitas tidur beragam di antara orang-orang dari semua kelompok usia. Seseorang mungkin merasa cukup beristirahat dengan 4 jam tidur, sementara yang lain mungkin membutuhkan 10 jam. Pada dewasa tua diatas 60 tahun normal tidur sekitar 5-6 jam (Potter & Perry, 2005).
Berikut hal yang dapat menyebabkan gangguan tidur menurut Akoso Tri Budi (2005) yaitu:
1) Higienitas tidur yang kurang secara umum (cuci muka)
2) Kekhawatiran tidak dapat tidur
3) Mengkonsumsi caffeine/obat secara berlebihan
4) Merokok sebelum tidur
5) Tidur siang/sore yang berlebihan
6) Jadwal tidur/bangun yang tidak teratur
Menurut Tarwoto & Wartonah (2006), factor-faktor yang dapat mempengaruhi tidur, yaitu:
a. Penyakit
Seseorang yang mengalami sakit memerlukan waktu tidur yang lebih banyak dari normal. Namun demikian, keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur. Misalnya pada pasien dengan gangguan pernafasan seperti asma, bronkitis, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit persarafan.
b. Lingkungan
Pasien yang biasa tidur pada lingkungan yang tenang dan nyaman, kemudian terjadi perubahan suasana seperti gaduh maka akan menghambat tidurnya.
c. Motivasi
Motivasi dapat mempengaruhi tidur dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap bangun dan waspada menahan kantuk.
d. Kelelahan
tahap REM. Apabila mengalami kelelahan dapat memperpendek periode pertama dari
e. Kecemasan
Pada keadaan cemas seseorang mungkin meningkatkan saraf simpatis sehingga mengganggu tidurnya.
f. Alkohol
Alkohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan minum alkohol dapat mengakibatkan insomnia dan lekas marah.
g. Obat-obatan
Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidur antara lain:
1) Deuretik: menyebabkan insomnia
2) Anti defresan: supresi REM
3) Kafein: meningkatkan saraf simpatis
4) Beta Bloker: menimbulkan insomnia
5) Narkotika: mensupresi REM
Menurut Adesta (2009), ada beberapa langkah sederhana untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur (sleep Hygiene), antara lain:
1. Tidur secukupnya, sesuai waktu yang dibutuhkan untuk beristirahat, jangan tidur berlebihan
2. Berolahraga secara teratur sedikitnya 20 menit setiap hari, palingbaik dilakukan 4-5 jam sebelum waktu tidur. Hindari olahraga berat sebelum tidur.
3. Hindari memaksakan diri sebelum tidur.
4. Tetapkan jadwal tidur dan bangun setiap hari secara teratur (misalnya: tidur jam 10 malam dan bangun jam 5 pagi).
5. Jangan minum minuman berkafein setelah sore (the, kopi, soft drink, dsb). Atau hentikan minum minuman berkafein 8 jam sebelum waktu tidur.
6. Hindari atau kurangi menum alkohol sebelum tidur.
7. Jangan merokok, terutama dimalam hari. Merokok menjelang tidur dapat memicu insomnia. Selain itu, sangat baik untuk mengurangi merokok.
8. Jangan pergi tidur dalam keadaan lapar, namun hindari makan makanan berat dan minum berlebihan sebelum waktu tidur, hentikan makan dan mencamil 1 jam sebelum tidur.
9. Sesuaikan suasana diruangan tidur (penerangan, temperatur, bunyi-bunyian).
10. Jangan pergi tidur bersama dengan kekuatiran anda, usahakan untuk menyelesaikannya sebelum anda pergi tidur.
6. Keterkaitan Antara Tidur dan Penyakit
Tidur adalah masalah yang berhubungan dengan peran dalam sejumlah besar gangguan manusia dan mempengaruhi hampir semua bidang kedokteran. Sebagai contoh, masalah seperti stroke dan serangan asma cenderung terjadi lebih sering pada malam hari, mungkin karena perubahan dalam hormon, denyut jantung, dan karakteristik lain terkait dengan tidur. Tampaknya tidur REM untuk membantu mencegah serangan yang dimulai disalah satu bagian dari otak dan menyebar ke daerah otak lainnya (Nicholas, 2007).
Neuron yang mengontrol tidur berinteraksi erat dengan system kekebalan tubuh. Sebagai orang yang telah kena flu penyakit menular cenderung membuat kita merasa mengantuk. Tidur dapat membantu tubuh menghemat energi dan sumber daya lain yang dibutuhkan system kekebalan tubuh (Nicholas, 2007).
7. Pencegahan Gangguan Tidur Pada Lansia
Pencegahan menurut Stanley Mickey & Patricia G.B, 2006, pencegahan gangguan tidur pada lansia, antara lain:
a. Pencegahan Primer
1) Tidur seperlunya, tetapi tidak berlebihan agar merasa segar dan sehat di hari berikutnya.
2) Waktu bangun yang teratur di pagi hari memperkuat siklus sikardian dan menyebabkan tidur yang teratur.
3) Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memperdalam tidur
4) Bunyi bising yang bersifat kadang-kadang (misalnya bunyi perawat yang melintas) dapat mengganggu tidur sekalipun orang tersebut tidak bangun.
5) Meskipun ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur, namun tidak ada bukti yang menunjukan bahwa kamar yang terlalu dingin dapat membantu tidur.
6) Rasa lapar dapat mengganggu tidur.
7) Pil tidur yang hanya kadang-kadang saja digunakan dapat bersifat menguntungkan, namun penggunaannya yang kronis tidak efektif pada kebanyakan penderita insomnia.
8) Alkohol membantu orang-orang yang tegang untuk tertidur lebih mudah, tetapi tidur tersebut kemudian akan terputus-putus.
9) Orang-orang yang merasa marah dan frustasi karena tidak dapat tidur tidak boleh berusaha terlalu keras untuk tidur tetapi harus menyalakan lampu dan melakukan hal lain yang berbeda.
10) Penggunaan tembakau secara kronis dapat mengganggu tidur.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder meliputi pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh perawat dan pengkajian harus mencakup factor-faktor berikut ini:
1. Seberapa unik lansia tersebut tidur di rumah?
2. Barapa kali lansi tersebut terbangun di malam hari?
3. Kapan lansia tersebut pergi ketempat tidur dan terbangun?
4. Apa jenis lingkungan kamar yang disukai (tenang, usik lembut, lampu remang-remang, gelap, kamar tertutup)
5. Berapa jumlah dan jenis latihan yang di lakukan setiap hari?
6. Apakah posisi yang di sukai ketika berada di tempat tidur?
7. Berapa suhu yang disukainya?
8. Aktivitas apa biasanya dilakukan beberapa jam menjelang tidur?
9. Ritual apa saja yang terjadi menjelang tidur (misalanya kudapan menjelang tidur, menonton televisi, mendengarkan musik)?
10. Seberapa sering bantuan diperlukan jika tidak dapat tidur?
11. Berapa banyak waktu yang di habiskan dalam hobinya?
Seperti biasa, menvalidasi riwayat pengkajian dengan anggota keluarga atau pemberi perawatan merupakan hal yang penting untuk memastikan kekurangan data pengkajian jika pasien dianggap tidak kompeten untuk memberikan laporan sendiri.
c. Pencegahan Tersier
Jika terdapat gangguan seperti apnea tidur yang mengancam kehidupan, kondisi pasien memerlukan rehabilitasi melalui tindakan-tindakan seperti pengangkatan jaringan yang menyumbat mulut dan mempengaruhi jalan napas.
8. Penatalaksanaan Gangguan Tidur
Menurut Duran (1988) dan Regestein (1990) menyarankan beberapa penerapan kebiasaan tidur yang baik, antara lain:
a. Menetapakan rutinitas dan waktu bangun regular yang sama setiap hari.
b. Batasi dan hentikan zat yang bekerja di SSP (kafein, nikotin, alkohol, stimulant.
c. Naik ketempat tidur hanya setelah merasa mengantuk dan bangun dari tempat tidur bila tidak dapat tidur dalam 15 menit dan minum susu sebelum tidur.
d. Hindari tidur sekejap pada siang hari (kecuali menyebabkan tidur malam lebih baik).
e. Dapatkan kebugaran fisik dengan rajin olah raga setiap pagi.
f. Batasi aktivitas di kasur pada aktivitas membantu induksi tidur, hindari stimulasi malam seperti aktifitas berat, ganti televisi, dengan radio, bacaan santai.
g. Kurangi suara keras dan cahaya di tempat tidur.
h. Makan pada waktu yang teratur setiap hari dengan diet seimbang dan batasi lemak, hindari makan besar dalam jumlah besar sebelum tidur.
i. Lakukan relaksasi malam seperti relaksasi progresif.
9. Asuhan Keperawatan Gangguan Tidur
Menurut Perry dan Potter, (2005) adapun asuhan keperawatan pada gangguan tidur adalah sebagai berikut:
A. Pengkajian
1. Data subjektif
a. Kaji Batasan Karakteristik
Untuk menentukan jumlah tidur yang dibutuhkan individu, biarkan dia tidur sampai pagi hari (tanpa alarm jam). Ini harus dilakukan untuk beberapa hari dan jumlah total jam tidur di kalkulasikan dengan jumlah 20-30 menit yang merupakan waktu yang peling dibutuhkan individu untuk tertidur pada umumnya.
b. Kaji faktor-faktor yang berhubungan
1). Interupsi
a) Kebisingan
b) Jadwal perjalanan
c) Kebutuhan untuk berkemih
2). Penggunaan alat bantu atau ritual tidur
a) Mandi air hangat
b) Minum atau makan (susu, anggur)
c) Bantal
d) Posisi
e) Mainan, buku obat-obatan
2. Data Objektif
Kaji batasan karakteristik fisik
a) Gambaran penampilan (pucat, gelap disekitar lingkaran bila mata)
b) Menguap
c) Mengantuk sepanjang hari
e) Penurunan lapang perhatian
f) Peka rangsang
B. Riwayat Tidur
Pengkajian riwayat tidur secara umum dilakukan segera setelah klien memasuki pasilitas perawatan. Ini memungkinkan perawat menggabungkan kepuasan klien dan hal-hal yang ia sukai dalam rencana perawatan. Riwayat tidur ini meliputi:
1. Kebutuhan Tidur yamg biasa
2. Ritual sebelum tidur
3. Penggunaan obat tidur atau obat-obat lainnya
4. Lingkungan tidur
5. Perubahan terkini pada pola tidur
Selain itu, riwayat ini juga harus mencakup berbagai masalah yang ditemui pada kualitas tidur, penyebabnya, kapan pertama sekali masalah tersebut muncul, frekuensinya, pengaruh terhadap keseharian klien, dan bagaimana klien berkoping dengan masalah tersebut.
C. Catatan Tidur
Catatan tidur sangatlah bermanfaat khusus untuk klien yang memiliki masalah tidur sebab catatan ini berisi berbagai informasi penting terkait dengan kualitas tidur klien. Catatan tidur dapat mencakup keseluruhan atau sebagian dari informasi berikut:
1. Jumlah jam tidur per hari
2. Aktivitas yang dilakukan 2-3 jam sebelum tidur
3. Ritual sebelum tidur (mis; minum air, obat tidur).
4. Waktu
5. Adanya masalah yang diyakini klien dapat mengganggu tidurnya.
6. Faktor yang klien yakini memberi pengaruh positif atau negative pada tidurnya.
Kemudian, perawat dapat mengembangkan data tersebut menjadi bagan atau grafik yang berguna untuk mengidentifikasi masalah tidur yang klien alami.
D. Pemariksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi observasi penampilan, perilaku dan tingkat energi klien. Penampilan yang menandakan klien mengalami masalah tidur antara lain adanya lingkaran hitam disekitar mata, konjugtiva kemerahan, kelopak mata bengkak, dll. Sedangkan indikasi perilaku dapat meliputi iritabilitas, gelisah tidak perhatian, bicara lambat, menguap, dll. Di samping itu, klien yang mengalami masalah tidur juga dapat terlihat lemah, letargi, atau lelah akibat kekurangan energi.
E. Pemeriksaan Diagnostik
Tidak dapat diukur secara objektif dengan menggunakan alat yang disebut polisomnografi. Alat ini dapat merekam elekro-ensefalogram (EEG), elekroniogram (EMG), dan elekro-okulogram (EOG) sekaligus. Dengan alat ini kita dapat mengkaji aktivitas klien selama tidur. Aktivitas yang klien lakukan tanpa sadar tersebut bisa jadi merupakan penyebab seringnya klien terjaga dimalam hari.
G. Perencanaan dan Implementasi
Tujuan utama asuhan keperawatan untuk klien dengan gangguan tidur adalah untuk mempertahankan (atau membentuk) pola tidur yang memberikan energi yang cukup untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Sedangkan tujuan lainnya dapat terkait dengan upaya meningkatkan perasaan sejahtera klien atau meningkatkan kualitas tidurnya.
1) Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terjaga di malam hari, sekunder akibat (gangguan transport oksigen, gangguan eliminasi, gangguan metabolisme).
2) Gangguan pola tidur berhubungan dengan aktivitas siang hari yang tidak adekuat.
a. Kriteria hasil
Individu akan melaporkan keseimbangan yang optimal antara istirahat dan aktivitas.
b. Indikator
a. Menjelaskan faktor yang mencegah atau menghambat tidur
b. Mengidentifikasi teknik untuk memudahkan tidur.
c. Intervensi umum
a) Identifikasi faktor yang menyebabkan gangguan tidur (nyeri, takut, stress, ansietas, imobilitas, sering berkemih, lingkungan yang asing, temperature, aktivitas yang tidak adekuat)
b) Kurangi atau hilangkan distraksi lingkungan yang gangguan tidur
c) Gunakan tenpat tidur hanya untuk aktivitas yang terkait dengan tidur
d) Banguanlah di waktu yang biasa, bahkan jika tidur anda tidak nyenyak, hindari berada di tempat tidur setelah terjaga.
d. Rasional
a) tidur akan sulit dilakukan tanpa relaksasi. Lingkungan rumah sakit yang asing dapat menghambat relaksasi.
b) Agar merasa segar, individu biasanya harus menyelesaikan keluhan siklus tidur (70-100 menit) sebanyak 4 sampai 5 kali semalam.
c) Ritual/kebiasaan yang biasa dilakukan dapat meningkatkan relaksasi dan membantu tidur.
d) Kebisingan lingkungan yang tidak dapat dihilangkan atau dikurangi dapat ditutupi dengan bunyi-bunyi yang lembut, (misalnya; kipas angin, musik yang lembut, suara rekaman, ombak pantai)
e) Pola tidur yang tidak teratur dapat mengganggu irama sirkadian snormal kemungkinan menyebabkan sulit tidur.
C. Teknik Relaksasi Progresif
1. Defenisi
Merupakan salah satu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada cara kerja sistem saraf simpatis dan parasimpatis, dan teknik relaksasi progresif terbukti bisa mengurangi ketegangan dan kecemasan, gangguan tidur atau insomnia (Baitul Alim, 2010).
Relaksasi progresif adalah teknik relaksasi otot dalam yang tidak memerlukan imajinasi, ketekunan, atau sigesti (Davis, Eshelman & Mckay, 1995). Menurut Jacobson dalam Coates (1987) teknik relaksasi progresif merupakan penegangan dan pengendoran berbagai otot dasar pada tubuh.
Menurut Davis, Eshelman & Mckay (1995), efektif di lakukannya teknik relaksasi ini yaitu satu atau dua minggu, dengan rentang waktu latihan dua kali 15 menit per hari.
2. Macam-Macam Teknik Relaksasi Progresif
Metode relaksasi terdiri dari beberapa macam, diantaranya ada lima macam relaksasi, yaitua: (1) relaksasi otot progresif (progressive muscle relaxation), (2) pernapasan diafragma, (3) imagery (imajinasi), (4) biofeedback, dan (5) hipnosis (Erna, 2005).
Menurut Alim (2009) ada 2 jenis relaksasi progresif, yaitu:
a. Overt PMR (tense up and letting go)
Secara sadar menegangkan kelompok otot dan kemudian melepaskannya. Seringkali menggunakan 11 kelompok otot.
b. Covert PMR (letting go)
Jenis PMR yang hanya merilekskan kelompok otot tanpa menegangkannya terlebih dahulu. Dapat dipraktekkan sendiri, tanpa latihan seperti jenis overt PMR dan seringkali dikombinasikan dengan autogenic training.
3. Manfaat Relaksasi Progresif
Teknik relaksasi progresif sangat bermamfaat untuk mengatasi masalah ketegangan otot, insomnia, ansietas, defresi, kelelahan, keram otot, nyeri leher dan punggung, darah tinggi, fobia ringan dan gagap (Alim, 2009 & Sustrani, 2005). Menurut Burn dalam Masrukhin Anafi (2009) beberapa keuntungan yang diperoleh dari latihan relaksasi progresif antara lain:
a. Relaksasi akan membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan.
b. Masalah-masalah seperti sakit kepala, insomnia, hipertensi, dapat dikurangi atau di obati dengan teknik relaksasi progresif.
c. Mengurangi tingkat kecemasan
d. Mengurangi kemungkinan gangguan yang berhubungan dengan stress.
e. Mengontrol anticipatory ansiety sebelum situasi yang menimbulkan kecemasan, seperti pertemuan penting, wawancara dan sebagainya.
f. Mengurangi perilaku tertentu yang sering terjadi selama periode stress seperti mengurangi jumlah merokok yang di hisap, konsumsi alcohol, pemakaian obat-obatan dan makan yang berlebihan.
g. Meningkatkan penampilan kerja, sosial dan keterampilan fisik.
h. Kelelahan, aktivitas mental, dan latihan yang tertunda dapat diatasi lebih cepat dengan menggunakan latihan teknik relaksasi progresif.
i. Relaksasi progresif merupakan bantuan untuk menyembuhkan penyakit tertentu dan operasi.
j. Konsekuensi yang terpenting dari teknik relaksasi progresif adalah bahwa tingkat harga diri dan keyakinan diri individu meningkat sebagai hasil control yang meningkat terhadap reaksi stress.
k. Meningkatkan hubungan interpersonal.
l. Ada 3 hal utama yang perlu diperhatikan dalam relaksasi yaitu: pikiran yang tepat, konsentrasi dalam melakukan teknik relaksasi progresif, lingkungan yang tenang. Posisi pasien diatur senyaman mungkin dengan semua bagian tubuh disokong (mis: bantal menyokong leher), persendian fleksi, dan otot-otot tidak tertarik (mis: tangan dan kaki tidak disilangkan).
4. Langkah-Langkah Teknik Relaksasi Progresif
a. Menciptakan suasana yang tenang
b. Minta klien meluruskan tangan dan kaki
c. Gerakan pertama ditujukan untuk melatih otot-otot yang dilakukan dengan cara menggenggam tangan kiri dengan cara membuat kepalan. Klien diminta membuat kepalan ini semakin kuat, sambil merasakan sensasi ketegangan yang terjadi. Pada saat kepalan dilepaskan, klien dipandu untuk merasakan rileks selama 10 detik. Prosedur serupa dilakukan dengan tangan kanan.
d. Gerakan kedua dilakukan dengan cara menekuk kedua lengan kebelakang pada pergelangan tangan sehingga otot-otot di tangan bagian belakang dan lengan bawah menegang, jari-jari menghadap kelangit-langit. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
e. Gerakan yang ketiga adalah untuk melatih otot-otot biceps. Otot-otot biceps adalah otot besar yang terdapat diatas pangkal lengan, gerakan di awali dengan menggenggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan kemudian membawa kepalan kepundak sehingga otot-otot biceps akan menjadi tegang. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
f. Gerakan yang keempat digunakan untik melatih otot-otot bahu, mengangkat otot-otot bahu setinggi-tingginya seakan-akan bahu akan dibawa sehingga menyentuh kedua telinga. Fokus perhatian gerakan ini adalah kontras ketegangan yang terjadi dibahu, punggung atas dan leher. Ketegangan di pertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
g. Gerakan yang kelima adalah gerakan-gerakan yang ditujukan untuk melemaskan otot-otot di wajah. Otot-otot wajah yang dilatih adalah otot-otot dahi, mata, rahang dan mulut. Gerakan untuk dahi dapat dilakukan dengan cara mengerutkan dahi dan alis sampai otot-ototnya terasa dan kulitnya keriput. Gerakan yang di tunjukan untuk mengendurkan otot-otot mata diawali dengan menutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan ketegangan di sekitar mata dan otot-otot yang mengendalikan gerakan mata. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
h. Gerakan ketujuh bertujuan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh otot-otot rahang dengan cara menutup rahang, diikuti dengan mengigit gigi sehingga dirasakan ketegangan di sekitar otot-otot rahang. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik
i. Gerakan yang kedelapan ini dilakukan untuk mengendurkan otot-otot sekitar mulut. Bibir di moncongkan sekuat-kuatnya sehingga dirasakan ketegangan disekitar mulut. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
j. Gerakan yang kesembilan digunakan untuk melatih otot-otot leher bagian belakang maupun leher bagian depan. Gerakan diawali dulu dengan otot leher bagian belakang baru kemudian leher bagian depan. Klien dipandu meletakan kepala sehingga dapat beristirahat, kemudian di minta untuk menekan kepala pada permukaan bantalan kursi sedemikian rupa sehingga klien dapat merasakan ketegangan dibagian leher atas dan puggung atas. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks 10 detik
k. Gerakan kesepuluh bertujuan untuk melatih otot leher bagian depan. Cara membawa kepala kemuka, kemudian klien diminta untuk membenamkan dagu kedadanya. Sehingga dapat merasakan ketegangan di daerah leher bagian muka, ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
l. Gerakan kesebelas bertujuan untuk melatih otot-otot punggung. Gerakan ini dapat dilakukan dengan cara mengangkat tubuh dari sandaran kursi, kemudian punggung dilengkungkan, lalu busungkan dada. Kondisi tegang dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
m. Gerakan keduabelas digunakan untuk melemaskan otot-otot dada, pada gerakan ini, klien diminta untuk menarik nafas panjang untuk mengisi paru-paru dengan udara sebanyak-banyaknya. Posisi ini ditahan selama beberapa saat, sambil merasakan ketegangan dibagian dada dan kemudian turun keperut. Kondisi tegang dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik. Pada saat ketegangan dilepas, klien dapat bernafas normal dengan lega.
n. Gerakan ketiga belas bertujuan untuk melatih otot-otot perut. Gerakan ini dilakukan dengan cara menarik kuat-kuat perut kedalam, kemudian menahannya sampai perut menjadi kencang. Kondisi tegang dipertahankan 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
o. Gerakan keempat belas bertujuan untuk melatih otot-otot paha, dilakukan dengan cara meluruskan kedua belah telapak kaki sehingga otot-otot paha terasa tegang. Gerakan ini dilanjutkan dengan mengunci lutut sedemikian sehingga ketegangan pindah ke otot-otot betis. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kamudian rileks selama 10 detik
5. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan kegiatan relaksasi progresif, yaitu:
a. Jangan terlalu menegangkan otot berlebihan karena dapat melukai diri sendiri.
b. Posisi tubuh lebih nyaman dengan mata tertutup, jangan dengan berdiri.
c. Menegangkan kelompok otot degan dua kali tegangan
d. Melakukan bagian kanan tubuh dua kali, bagian kiri dua kali.
e. Memeriksa apakah klien benar-benar rileks.
f. Terus-menerus memberikan instruksi
g. Memberikan instruksi tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat (Alim, 2010).
D. Kerangka Teori
Bagan : 1.2
Kerangka teori
Input Proses Output
Sumber: Tarwoto & Wartonah (2006) dan Baitul Alim (2010)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu dengan konsep yang lain dari masalah yang diteliti (Notoadmojo, 2007). Kerangka konsep dari penelitian ini menggunakan pendekatan sistem yang terdiri dari input, proses, dan output. Untuk komponen input yang akan diteliti adalah tingkat kualitas tidur pasien sebelum di lakukan latihan teknik relaksasi progresif. Untuk komponen proses yaitu latihan teknik relaksasi progresif. Sedangkan untuk komponen output yang akan diteliti adalah tingkat kualitas tidur sesudah dilakukan teknik relaksasi progresif. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Kerangka Penelitian
Bagan 3.2
Pre Test Treatment Post Test
B. Defenisi Oprasional
Definisi oprasional masing-masing variabel penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Definisi Oprasional
Variabel Definisi Oprasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur
Kualitas tidur Penilaian terhadap kualitas tidur yang terdiri dari beberapa aspek subjektif, masa laten tidur, lama waktu tidur, gangguan tidur, efisiensi tidur, penggunaan obat tidur, dan gangguan di siang hari (Buysse, 1989).
Wawancara
Terpimpin Kuesioner Ordinal Skor
Baik
< 5 Buruk >5
(Buysse dkk, 1989).
Latihan teknik relaksasi progresif Merupakan salah satu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada cara kerja system saraf simpatis dan parasimpatis, dan teknik relaksasi progresif terbukti bisa mengurangi ketegangan dan kecemasan, gangguan tidur atau insomnia (Baitul Alim, 2010).
C. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah:
Ha : Ada pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi.
Ho : Tidak ada pengaruh antara teknik relaksasi progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi.
D. Desain Penelitia
Desain penelitian pre-experimental yang digunakan adalah One group pre test and post test design yaitu pengukuran intensitas kualitas tidur dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum dan sesudah latihan teknik relaksasi progresif.
Rancangan ini dapat di ilustrasikan sebagai berikut :
Keterangan :
01 : Pre test sebelum latihan teknik relaksasi progresif
x : Latihan teknik relaksasi progresif
02 : Post test sesudah latihan teknik relaksasi progresif (Widodo, 2009).
E. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah seluruhan objek penelitian (Arikunto, 2004). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi tahun 2011, yaitu sebanyak 70 orang lansia.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah lansia yang menderita gangguan kualitas tidur yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun besar sampel di tentukan berdasarkan rumus berikut : (Lemesshow, 1997).
Keterangan :
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi dalam penelitian = 70
Z = Derajat kepercayaan 95% maka Z= 0,196
P = Perkiraan proporsi 0,86 maka 1-P = 0,14
d = presisi penelitian 10% (0,1)
a. Kriteria Inklusi:
1) Lansia yang mengalami gangguan tidur
2) Bisa diajak komunikasi verbal
3) Kooperatif (bisa bekerja sama)
4) Bersedia menjadi responden
b. Kriteria Eksklusi
Cuti pada saat dilakukan treatment.
F. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Kota Jambi yang akan dilaksanakan selama 2 minggu pada bulan Agustus. Dalam pelaksanaan waktu 2 minggu dari 28 responden masing-masing responden di latihan relaksasi progresif sebanyak 14 kali.
G. Etika Penelitian
Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut:
(Notoatmodjo, 2010).
a. Informed Consent
Informed consent merupakan bentuk bentuk persetujuan antara peneliti dan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan peneliti, mengetahui dampaknya. Jika subyek bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia, maka pasien harus menghormati hak pasien.
b. Anomity (Tanpa Nama)
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam menggunakan subyek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
b. Kerahasian (Confidentiality)
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dkumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.
H. Teknik Pengumpulan Data
a. Sebelum mengadakan penelitian, penulis mengadakan observasi atau survey awal di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi. Selanjutnya peneliti melakukan pengambilan data di Tata Usaha Panti Sosial Tresna Werdha Busi Luhur Jambi.
b. Sebelum melakukan penelitian, peneliti membuat kontrak dengan pihak Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi dan membuat kontrak dengan lansia tentang teknik relaksasi progresif.
c. Treatment dilaksanakan oleh peneliti dengan dibantu oleh seorang mahasiswa yang telah diberitahu cara teknik relaksasi progresif yang berperan membimbing lansia yang kurang paham atau sukar mengikuti latihan teknik relaksasi progresif pada saat treatment.
I. Prosedur Penelitian
a. Sebelum pelaksanaan latihan relaksasi progresif
1. Tahap pengukuran tingkat kualitas tidur
Setelah mendapat persetujuan, kemudian dilakukan pengukuran tingkat kualitas tidur responden yang dilakukan di wisma masing-masing lansia 2 hari sebelum intervensi dilakukan.
2. Pembagian kelompok
Setelah mendapat data awal mengenai kualitas tidur responden, peneliti membagi responden kedalam 2 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 14 responden dan setiap kelompok dilatih setiap hari selama 2 minggu untuk melakukan latihan teknik relaksasi progresif dimana masing-masing latihan berlangsung selama 20-30 menit untuk satu kali latihan.
3. Pengkondisian responden
a. Peneliti memposisikan tubuh lansia secara nyaman. Lansia diinstruksikan untuk duduk dikursi dengan rileks, dengan kaki dan tangan diluruskan.
b. Dilakukan dengan keadaan konsentrasi, sehingga keadaan rileks lebih dapat dirasakan.
c. Lansia di bimbing untuk melakukan latihan teknik relaksasi progresif dengan penegangan dan pengendoran otot-otot tubuh.
b. Pelaksanaan Latihan Teknik Relaksasi Progresif
1) Tahap persiapan
Peneliti memposisikan tubuh lansia secara nyaman. Lansia di instruksikan untuk duduk di kursi dengan rileks, dengan kaki dan tangan di luruskan.
2) Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini responden melaksanakan latihan teknik relaksasi progresif dengan bimbingan langsung oleh peneliti sendiri.
3) Tahap penutup
Pada tahap ini pasien bersiap-siap untuk istirahat.
c. Sesudah Latihan Teknik Relaksasi Progresif
1) Tahap pengukuran tingkat kualitas tidur
Pengukuran dilakukan di wisma masing-masing lansia setelah dilakukan intervensi latihan teknik relaksasi progresif selama 2 minggu yaitu selama 14 kali latihan teknik relaksasi progresif, hal tersebut dikarenakan latihan teknik relaksasi progresif yang dilaksanakn 20-30 menit, satu kali sehari secara teratur selama 2 minggu dimana masing-masing sesi berlangsung selama 20-30 menit.
2) Tahap Evaluasi
Pada tahapan ini peneliti menanyakan kembali perasaan responden dan menjelaskan bahwa intervensi telah selesai dilakukan.
J. Instrumen Penelitian
Untuk mendapatkan jumlah insomnia pada lansia sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu mengambil data-data lansia yang insomnia di bagian tata usaha karena sebelum melakukan penelitian tentang kualitas tidur terlebih dahulu peneliti harus mengetahui jumlah-jumlah lansia yang mengalami insomnia.. Tapi untuk selanjutnya pada saat pre test and post test peneliti menggunakan pengukuran skala ukur Pittsburgh Sleep Quality Indek (PSQI) karena peneliti hanya mengkaji kualitas tidur. PSQI terdiri dari 18 pertanyaan dengan jawaban yang bernilai 1 (untuk yang mudah) sampai 4 (untuk yang sulit). Dimana jumlah scor > 5 artinya orang tersebut mangalami penurunan kualitas tidur. Skala yang digunakan adalah skala ordinal, mengetahui kualitas tidur responden baik atau buruk.
K. Pengolahan dan Analisa Data
1. Pengolahan data
Setelah data terkumpul dilaksanakan pengolahan data dengan menggunakan rumus yang sesuai dengan pendekatan penelitian atau desain yang digunakan sehingga diperoleh suatu kesimpulan disebut juga dengan analisa data (Nursallam, 2003).
Tahap dalam pengolahan data, yaitu:
1. Editing
Editing atau penyuntingan dilakukan oleh peneliti, sebelum meninggalkan responden, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pengulangan pengisian observasi.
2. Cording
Setelah dilakukan editing, langkah selanjutnya adalah melakukan pengkodean data untuk memudahkan pengolahannya.
3. Tabulation
Merupakan kelanjutan langkah Cording untuk mengelompokkan data kedalam suatu data tertentu menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian.
4. Entry data
Pada tahap ini data yang telah dikumpulkan dilakukan pengolahan terhadap variabel, selanjutnya dibuat tabel distribusi frekuensi dan di entry dengan menggunakan komputer.
5. Cleaning
Tahap ini memastikan kembali bahwa semua data sudah di entry betul-betul data yang tepat dan tidak ada kesalahan sehingga data siap untuk di analisa.
2. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisa ini bertujuan untuk mempermudah interprestasi data dalam bentuk tabel dan uraian dalam bentuk teks, serta untuk mengetahui distribusi frekuensi masing-masing variabel (Arikunto. 2002).
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat di lakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan uji T dependen, tingkat kepercayaan 95% (0,05).
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lanjut usia merupakan anugerah. Menjadi tua dengan segenap keterbatasan pasti akan dialami oleh seseorang bila ia panjang umur. Di Indonesia, istilah untuk kelompok usia ini belum baku, orang memiliki sebutan yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan istilah usia lanjut ada pula lanjut usia atau jompo dengan padanan kata dalam bahasa Inggris biasa disebut the aged, the elders, older adult, serta senior citizen (Tamher & Noorkasiani, 2009).
Seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan Nasional telah mewujudkan hasil yang positif di berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang medis atau kedokteran sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia dari 60 tahun sampai diatas 70 tahun. Akibatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat (Nugroho, 2000).
Saat ini, diseluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Negara maju seperti Amerika Serikat pertambahan orang lanjut usia ±1000 orang perhari pada tahun 1985 dan diperkirakan 50% dari penduduk berusia di atas 50 tahun sehingga istilah Baby Boom pada masa lalu berganti menjadi “ledakan penduduk lanjut usia” (Nugroho, 2000).
Menurut Kinsella & Tamber (1993) dari data USE Bureau Of The Cencus, Indonesia akan mengalami pertambahan lansia terbesar di seluruh dunia, antara tahun 1990 sampai 2005, yaitu sebesar 414% suatu angka paling tinggi di dunia. Sebagai perbandingan: Kenya 347%, Brazil 255%, India 242%, China 220%, Jepang 129%, Jerman 66%, dan Swedia 33% (Darmojo, 2004).
Pada tahun 2010 penduduk lansia di Indonesia telah mencapai diatas 23,9 juta jiwa (9,77%), pada tahun 2020 akan mencapai 28,8 juta jiwa (11,2%) dari total penduduk di Indonesia. Di tahun 2050 mendatang jumlah lansia di Indonesia akan mencapai 50 juta jiwa (Burhan, 2010). Meningkatnya umur harapan hidup ini dipengaruhi oleh majunya pelayanan kesehatan, menurunnya angka kematian bayi dan anak, perbaikan gizi dan sanitasi, meningkatnya pengawasan terhadap penyakit infeksi (Nugroho, 2008).
Jumlah lansia di Kota Jambi pada tahun 2007 mencapai 39.556 jiwa, dan terdiri dari laki-laki 20.020 jiwa dan perempuan 19.536 jiwa. Pada tahun 2008 jumlah lansia semakin meningkat sehingga mencapai 46.742 jiwa dengan jumlah laki-laki 25.270 jiwa dan perempuan 21.472 jiwa, sedangkan pada tahun 2009 terdapat 47.291 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 24.972 dan perempuan 22.319 jiwa dan diperkirakan pada tahun 2010 akan semakin meningkat (BPS Jambi, 2009).
Secara individu pada usia diatas 55 tahun terjadi proses penuaan secara alamiah. Hal ini akan menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi, dan psikologis (Nugroho, 2000). Faktor psikologis memegang peranan utama terhadap kecenderungan insomnia. Biasanya insomnia disebabkan oleh stres, perubahan hormon, dan kelainan kronis. Insomnia terjadi dalam tiga malam atau lebih dalam seminggu dalam jangka waktu sebulan termasuk insomnia kronis (Rafknowledge, 2004).
Proses menjadi tua menimbulkan berbagai masalah baik secara fisik, biologis, mental maupun sosial. Masalah sehari-hari yang sering ditemukan pada lanjut usia yaitu mudah jatuh, mudah lelah, kekacauan mental akut seperti nyeri dada, sesak nafas pada saat melakukan kerja fisik, berdebar-debar (palpitasi), pembengkakan kaki bagian bawah, nyeri pinggang atau punggung, nyeri pada sendi pinggul, berat badan menurun, sukar menahan buang air seni (sering ngompol), sukar menahan buang air besar, gangguan pada ketajaman penglihatan, gangguan pada pendengaran, gangguan tidur (sulit tidur), keluhan pusing-pusing, perasaan dingin atau kesemutan pada anggota badan, mudah gatal-gatal (Nugroho, 2002).
Kurang tidur dapat membahayakan diri sendiri maupu orang lain. Seseorang yang kurang tidur lalu mengemudi mobil sendiri sering mengalami kecelakaan fatal. Kurang tidur dapat pula mengakibatkan masalah dalam keluarga dan perkawinan, karena kurang tidur dapat membuat orang cepat marah dan lebih sulit diajak bergaul. Bila tidur kurang lelap, maka kita akan merasa letih, lemah dan lesu pada saat bangun. Kehilangan jam tidur meskipun sedikit mempunyai akibat yang negativ terhadap kemampuan konsentrasi, kinerja, produktivitas, keterampilan komunikasi, dan kesehatan secara umum, termasuk sistem gastrointestinal,fungsi kardiovaskuler dan sistem kekebalan tubuh (Edinger dkk, 2000).
Gangguan tidur menyerang 50% orang yang berusia 60 tahun atau lebih yang bertempat tinggal di rumah sendiri dan 66% orang yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang. Gangguan tidur mempengaruhi kualitas hidup dan berhubungan dengan angka mortalitas yang lebih tinggi (Stanley Mickey & Patricia G.B, 2006).
Luce dan Segal dalam Nugroho (2000) mengungkapkan bahwa faktor usia merupakan faktor terpenting yang berpengaruh terhadap kualitas tidur. Telah dikatakan pula bahwa keluhan terhadap kualitas tidur seiring dengan bertambahnya usia. Gangguan tidur pada lansia disebabkan oleh banyak faktor misalnya faktor ekstrinsik (luar) seperti lingkungan yang kurang tenang. Faktor Instrinsik seperti nyeri, gatal-gatal, penyakit tertentu yang membuat gelisah, depresi, kecemasan, dan iritabilitas.
Banyak cara yang dilakukan untuk menanggulangi gangguan tidur, di antaranya dengan terapi perilaku (relaksasi). Terapi relaksasi (perilaku) terbukti efektif dan manjur untuk menanggulangi gangguan tidur. Menurut Lanywati (2001), ada beberapa teknik atau metode terapi tanpa obat yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan tidur adalah metode Bootzin dan metode relaksasi. Pendekatan yang paling banyak dilakukan dari 5 macam relaksasi (relaksasi diafragma, imajinasi, progresif, biofeedback, dan hipnosis) adalah relaksasi progresif (Erna, 2005).
Dari kelima relaksasi tersebut maka Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan kualitas tidur adalah dengan melakukan latihan teknik relaksasi progresif. Dimana teknik relaksasi progresif merupakan salah satu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada cara kerja sistem saraf simpatis dan parasimpatis, dan teknik relaksasi progresif terbukti bisa mengurangi ketegangan dan kecemasan, gangguan tidur atau insomnia (Baitul Alim, 2010). Relaksasi. Relaksasi ini pertama kali dikenalkan oleh Edmun Jacobson, Seorang psikologi dari Chicago yang mengembangkan metode psikologis melawan ketegangan dan kecemasan (Setiyo, 2007).
Hasil penelitian Erliana, Haroen, Susanti (2004) meneliti “Perbedaan tingkat insomnia lansia sebelum dan sesudah latihan teknik relaksasi progresif di Balai Perlindungan Tresna Werdha Ciparay Bandung. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh teknik relaksasi progresif dengan terdapatnya perbedaan tingkat insomnia sebelum dan sesudah teknik relaksasi progresif dengan hasil (pV α < = 0,05). Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi merupakan satu-satunya panti yang terdapat di kota Jambi yang menampung lansia agar mereka mendapatkan perawatan yang layak. Panti ini menampung lansia sebanyak 70 orang yang terdiri dari 35 orang laki-laki dan 35 orang perempuan. Sebagian lansia merupakan lansia terlantar ataupun lansia dari ekonomi kurang mampu sehingga keluarga tidak sanggup merawat lansia (PSTW Jambi, 2011). Survey awal pada tanggal 21 maret 2011 di PSTW Budi Luhur Jambi, dari 5 orang lansia, diantaranya mengeluh kurang puas dengan tidurnya dikarenakan sering terbangun pada malam hari. Tiga dari Lima orang lansia mengatakan dalam sehari hanya tidur 2-4 jam. Pada saat bangun tidur lansia mengatakan badan lemas dan merasa kurang puas dengan tidurnya dan dua di antaranya mengatakan bahwa tidak ada keluhan sama sekali, saat bangun tidurpun mereka merasa segar dan puas dengan tidurnya. Upaya yang dilakukan petugas panti dalam menangani masalah ini adalah memberikan obat tidur. Berdasarkan fakta yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang akan lebih difokuskan pada kualitas tidur, dengan rumusan judul: Pengaruh Teknik Relaksasi Progresif Terhadap Kualitas Tidur Pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Kota Jambi. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penulis merumuskan masalah untuk penelitian ini yaitu apakah teknik relaksasi progresif berpengaruh terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui kualitas tidur sebelum dilakukan teknik relaksasi progresif pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. b. Mengetahui kualitas tidur setelah dilakukan teknik relaksasi progresif pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. c. Mengetahui perbedaan kualitas tidur sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi progresif pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. D. Manfaat Penelitian a. Bagi Panti Tresna Werdha Untuk meningkatkan pengetahuan petugas panti mengenai pengaruh teknik relaksasi progresif tehadap kualitas tidur pada lansia yang mengalami insomnia. b. Bagi Profesi Keperawatan Dapat dijadikan bahan masukan atau pertimbangan untuk melaksanakan teknik relaksasi progresif terhadap lansia yang mengalami gangguan tidur hingga mampu mengoptimalkan peran mandiri perawat. c. Bagi Penelitin Sebagai bahan pengalaman belajar dibidang penelitian dan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan khususnya dalam menerapkan asuhan keperawatan pada lansia yang mengalami gangguan tidur. E. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur kota Jambi. Pengolahan data di lakukan dengan analisa univariat & bivariat menggunakan uji T dependen. Penelitian dilakukan di Panti Sosial Trena Werdha Budi Luhur Jambi. Populasi penelitian adalah seluruh lansia yang mengalami penurunan kualitas tidur dengan sampel 28 orang, jenis penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimental yang diggunakan adalah one group pre test and post test desain yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2011. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Lansia 1. Definisi Lansia Menurut WHO dalam Nugroho (2008) usia lanjut merupakan suatu perubahan pada organisme yang mencapai kematangan intrinsik dan bersifat ireversibel serta menunjukan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. 2. Batasan-Batasan Lanjut Usia Menurut WHO dalam Nugroho (2008) ada beberapa batasan dari lanjut usia (Lansia) : a. Usia pertengahan (midle age) antara 45-59 tahun. b. Lanjut usia (elderly) antara 60-74 tahun. c. Lanjut usia tua (old) antara 75-90 tahun. d. Usia sangat Tua (very old) di atas 90 tahun. Menurut Burnside dalam Nugroho Wahyudi (2008) ada empat tahapan lanjut usia, yakni: a. Young Old (usia 60-69 tahun) b. Middle age old ( usia 70-79 tahun) c. Old-old (usia 80-89 tahun) d. Very old-old (usia 90 tahun keatas) Menurut Hurlock dalam Nugroho (2008) perbedaan lanjut usia terbagi dalam beberapa tahap,yakni: a. Early old age (usia 60-70 tahun) b. Advanced old age (usia 70 tahun keatas) 3. Perubahan Fisik Pada Usia Lanjut Nugroho (2008) menjelaskan bahwa perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada usia lanjut meliputi yaitu: a. Sel Jumlah sel menjadi sedikit, ukuran membesar, berkurang jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intra seluler, menurunya proporsi protein di otak, ginjal, darah dan hati, jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel, dan otak akan menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%. b. Sistem Persarafan Berat otak menurun 5-10%, cepatnya menurun hubungan persarafan, lambat dalam respon dan waktu untuk berinteraksi khususnya terhadap stres, mengecilnya saraf panca indera, dan kurang sensitif terhadap sentuhan. c. Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik lebih kurang 35 ºC yang di akibatkan oleh menurunya metabolisme tubuh, keterbatasan reflex menggigil dan tidak mempronduksi panas sehingga aktivitas otot menjadi lemah. d. Sistem Endokrin Produksi semua hormone menurun, fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah, berkurangnya produksi dari ACTH dan LH, menurunnya aktivitas tiroid, menurunnya daya pertukaran zat, menurunnya produksi aldosteroid. e. Sistem Kulit Kulit mengerut, kehilangan jaringan lemak, permukaan kulit kasar dan bersisik, menurunya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun, kulit kepala dan rambut menipis dan berwarna kelabu, kuku jari menjadi keras dan rapuh, kuku kaki tumbuh secara berlebihan seperti tanduk, kelenjar keringat berkurang, kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya. f. Sistem Muskuloskeletal Dengan adanya penurunan sistem muskuloskletal mengakibatkan tulang kehilangan density, makin rapuh, kifosis pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan menjadi terbatas dan pada discus Intervertobralis terjadi penipisan dan serta terjadinya kaku dan pembesaran pada persendian, sedangkan pada tendon terjadi pengerutan, dan mengalami sklerosis dan atrofi serabut otot. Menurut Maryam, dkk (2008) perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia, adalah: 1. Perubahan Fisik a. Sel Jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan cairan intraseluler menurun. b. Kardiovaskuler Katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa darah menurun (menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah perifer sehingga tekanan darah meningkat. c. Respirasi Otot-otot pernapasan kekuatannya menurun dan kaku, elastisitas paru menurun, kapisitas residu meningkat sehingga menarik nafas lebih berat, alveoli melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk menurun, serta terjadi penyempitan pada bronkus. d. Muskuloskeletal Cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk (kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), keram, tremor, tendon mengerut, dan mengalami sklerosis. e. Gastrointestinal Esofagus melebar, asam lambung menurun, lapar menurun, dan peristaltic menurun sehingga daya absorbsi juga ikut menurun. Ukuran lambung mengecil serta fungsi organ aksesori menurun sehingga menyebabkan berkurangnya produksi hormone dan enzim pencernaan. f. Genitourinaria Ginjal: mengecil, aliran darah keginjal menurun, penyaringan di gloromerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan mengonsentrasi urine ikut menurun. g. Vesika Urinaria Otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan retensi urine. Prostat: hipertropi pada 75% lansia. h. Vagina Selaput lendir mongering, dan sekresi menurun. i. Penglihatan Respons terhadap sinar menurun, adaftasi terhadap gelap menurun, akomodasi menurun, lapang pandang menurun, dan katarak. j. Pendengaran Membran timfani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan. k. Endokrin Produksi hormon menurun. l. Kulit Keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Rambut dalam hidung dan telinga menebal. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutih (uban), kelenjar keringat menurun, kuku keras dan rapuh, serta kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk. m. Belajar dan Memori Kemampuan belajar ada namun relatife menurun. Memori (daya ingat) menurun karena proses encoding menurun. n. Inteligensi Secara umum tidak banyak berubah. o. Personality dan Adjustment (pengaturan) Tidak banyak berubah, hampir seperti saat muda. p. Pencapain (Achievement) Sains, filosofi, seni dan musik sangat mempengaruhi. 2. Perubahan Sosial a. Peran Post power syndrome, single women, dan single parent. b. Keluarga (emptiness) Kesendirian, kehampaan. c. Teman Ketika lansia lainnya meninggal, maka muncul perasaan kapan akan meninggal. Berada dirumah terus-menerus akan cepat pikun (tidak berkembang). d. Abuse Kekerasan berbentuk verbal (dibentak), dan nonverbal (dicubit, tidak diberi makan). e. Masalah hukum Berkaitan dengan perlindungan sset dan kekayaan pribadi yang dikumpulkan sejak masih muda. f. Pensiun Kalau menjadi PNS akan ada tabungan (dana pensiun), kalau tidak anak cucu yang akan memberi uang. g. Ekonomi Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok bagi lansia dan income security. h. Rekreasi Untuk ketenangan batin. i. Keamanan Jatuh, terpeleset. j. Transportasi Kebutuhan akan system transportasi yang cocok bagi lansia. k. Politik Kesempatan yang sama untuk terlibat dalam memberikan masukan dalam system politik yang berlaku. l. Pendidikan Berkaitan dengan pengentasan buta aksara dan penempatan untuk tetap belajar sesuai dengan hak asasi manusia. m. Agama Melaksanakan ibadah. n. Panti jompo Merasa dibuang, diasingkan. 3. Perubahan Psikologis Perubahan fsikologis pada lansia meliputi short term memory, frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan keinginan, defresi dan kecemasan. 4. Penyakit Yang Berhubugan dengan Proses Menua Pada Lansia Menurut Stiglitz dalam Nugroho (2008) ada empat penyakit yang sangat erat hubungannya dengan proses menua yakni: a. Gangguan sirkulasi darah, seperti: hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan pembuluh darah diotak, dan ginjal. b. Gangguan metabolisme hormonal, seperti: diabetes militus, dan ketidak seimbangan steroid. c. Gangguan pada persendian seperti: rematik (osteoatritis, gout atritis, rematik atritis, ataupun penyakit kolagen lainnya). d. Berbagai macam neoplasma. 5. Pendekatan Perawatan Lansia Menurut Nugroho (2000), perawatan fisik pada lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yaitu: a. Pendekatan Fisik 1) Klien lansia yang masih aktif, dimana keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain, klien lansia yang masih aktif diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan mulut dan badan, kebersihan rambut dan kuku, kebersihan tempat tidur dan posisi tidurnya, hak makan, cara makan obat, dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi roda atau sebaliknya. 2) Klien lansia yang pasif atau tidak bangun dimana keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan dan sakit. Perawat harus mendekatkan diri dengan lansia, membimbing dengan sabar dan ramah sambil bertanya pada keluhan yang dirasakan, bagaimana tentang tidur, makan, apakah mereka biasa melakukan ibadah dan sebagainya. Sentuhan misalnya dengan menggenggam tangan kadang sangat berarti pada lansia. b. Pendekatan Psikis Perawat berperan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat harus selalu memegang prinsip “Trippel S”, yaitu sabar, simpatik, service. Perawat berperan mengubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan, secara perlahan-lahan dan bertahap, perawat harus mendukung mental lansia agar bis menikmati masa tuanya. Sehingga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu di usahakan agar masa lanjut usia ini dapat merasa puas dan bahagia. c. Pedekatan Sosial Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya perawatan dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Tidak jarang terjadi perselisihan dan perkelahian diantara lanjut usia, hal ini dapat di atasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu mengadakan kontak dengan mereka, senasip dan seperjuangan, dan punya hak dan kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas secara langsung berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia. d. Pendekatan Spiritual Perawat harus memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungan dengan tuhan atau agama yang dianutnya, terutama bila klien lanjut usia dalam keadaan sakit atau mendekati kematian. 6. Permasalahan Lanjut Usia Menurut Mangoenprasodjo (2005) permasalah lanjut usia antara lain: a. Kondisi Mental Secara psikologis , umumnya usia lanjut terdapat penurunan secara kognitif maupun psikomotor. Contohnya, penurunan pemahaman dalam menerima dan kelambanan dalam bertindak. b. Keterasingan (loneliness) Terjadi penurunan kemampuan kepada individu dalam mendengar, melihat, dan aktivitas lainya, sehingga merasa tersisih dari masyarakat. c. Post Power Syndrom Kondisi ini terjadi pada seseorang yang semula mempunyai jabatan pada masih aktif bekerja. Setelah berenti bekerja, merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. d. Masalah Penyakit Selain karena proses fisiologi yang menuju kearah degeneratif, juga banyak di temukan gangguan pada usia lanjut. Antara lain infeksi, jantung dan pembuluh darah, penyakit metabolik/osteoporosis, kurang gizi, penggunaan obar dan alkohol, serta gangguan jiwa terutama depresi dan kecemasan. e. Masalah Ekonomi Penerimaan dan pendapatan pada usia lanjut tidak seperti pada masa produktif, sehingga masah ekonomi merupakan salah satu masalah yang perlu dipahami. Permasalahan tersebut diatas membawa kita pada kesimpulan panjang umur saja tidak berguna bila menderita berbagai macam penyakit serta ketidakmampuan fisik dan mental yang prima untuk menjadi sumber daya manusia yang optimal. B. Konsep Tidur 1. Pengertian Tidur Tidur adalah proses fisiologi yang bersiklus bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan. Tidur merupakan aktivitas yang melibatkan susunan saraf pusat, saraf perifer, endokrin kardiovaskuler, respirasi dan musculoskeletal (Potter & Perry, 2005). Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Tarwoto & Wartonah, 2006). 2. Fisiologi Tidur Normal Tidur didefenisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsangan sensorik atau dengan rangsangan lainnya. Orang dewasa membutuhkan 7½ jam untuk tidur setiap malam. Walaupun demikian, ada beberapa orang yang membutuhkan tidur lebih atau kurang. Tidur normal dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya usia. Seseorang yang berusia muda cenderung tidur lebih banyak bila dibandingkan dengan lansia (Meida, 2002). Menurut Asmadi (2008), seseorang dapat dikategorikan sedang tidur apabila terdapat tanda-tanda sebagai berikut: a. Aktivitas fisik minimal b. Tingkat kesadaran bervariasi c. Terjadi perubahan-perubahan proses fisiologis tubuh d. Penurunan respons terhadap rangsangan dari luar. 3. Jenis-Jenis Tidur Menurut Asmadi (2008), pada hakekatnya tidur dapat diklasifikasikan ke dalam 2 kategori, yaitu: a. Tidur dengan gerakan bola mata cepat (REM-Rapid Eye Movement) Tidur REM merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial. Hal tersebut berarti tidur REM sifatnya nyenyak sekali, namun fisiknya yaitu gerakan kedua bola matanya bersifat sangat aktif. Tidur REM ditandai dengan mimpi, otot-otot kendor, tekanan darah bertambah, gerakan mata cepat (mata cenderung bolak-balik), sekresi lambung meningkat, ereksi penis pada laki-laki, gerakan otot tidak teratur, kecepatan jantung, dan pernapasan tidak teratur sering lebih cepat, serta suhu dan metabolisme meningkat. Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur REM, maka akan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut: a. Cenderung hiperaktif b. Kurang dapat mengendalikan diri dan emosi (emosi labil) c. Nafsu makan bertambah d. Bingung dan curiga b. Tidur dengan gerakan bola mata lambat (NREM-Non Rapid Eye Movement) Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam. Pada tidur NREM gelombang otak lebih lambat di bandingkan pada orang yang sadar atau tidak tidur. Tanda-tanda tidur NREM antara lain: mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah turun, kecepatan pernapasan turun, metabolisme menurun, dan gerakan bola mata lambat. 4. Tahap Tidur Normal Tahapan tidur normal menurut Kaplan dan Sadock (2000), yaitu: Tahap 0 adalah kesadaran penuh dengan mata tertutup, yang terjadi sesaat sebelum tidur. Tonus otot cenderung meningkat, aktivitas alpa meningkat dengan meningkatnya rasa kantuk. Tahap 1 disebut tahap permulaan tidur karena menunjukkan transisi singkat dari sadar menuju tidur. Didapat amplitude rendah, aktivitas beta dan theta lebih lambat (4-7 siklus per detik). Tahap 1 merupakan 5% dari total periode waktu tidur. Tahap 2 didominasi aktivitas theta dan dicirikan dengan sleep spindles adalah ritme gelombang komplek K berbentuk tajam, negative, gelombang EEG tegangan tinggi, diikuti oleh yang lebih lambat. Tahap 2 merupakan 45-55% dari total periode total tidur. Tahap 3 dicirikan 30-50% aktivitas delta tegangan tinggi frekuensi 1-2 per detik. Seperti tahap 2, tonus otot meningkat tetap[I tidak ada gerakan mata. Tahap 4 terjadi saatgelombang delta menyusun >50% rakaman EEG. Tahap 3 dan 4 sering sulit dibedakan dan secara umum disebut slow-wave sleep dan merupakan 15-20% waktu tidur.
Tidur REM menghasilkan pola EEG yang menyerupai NREM tingkat 1, disertai mimpi aktif, tonus otiot sangat rendah, peningkatan aktivitas aktivitas involunter, frekuensi jantung dan nafas tidak teratur, gerakan otot tidak teratur (pada mata menyebabkan gerakan bola mata cepat) dan lebih sulit dibangunkan. Tahap ini merupakan 20-25% dari waktu tidur total dan sering dikenal pula dengan Tidur desynchronizet (Stradding, 1995).
Urutan tahapan tidur selama siklus tidur adalah NREM 1, 2, 3, 4, 3 dan 2, kemudian tahap REM. Pada dewasa muda, tidur REM merupakan 25% waktu tidur total. Dari bangun samapi tahap NREM memerlukan waktu kira-kira 90 menit sebelum periode REM pertama yang disebut sebagai REM latency (Kaplan & Sadock, 2000).
Saklar untuk tidur adalah nucleus ventrolateral (PLPO) di hipotalamus anterior. Area ini akan aktif saat tidur menggunakan neurotransmitter inhibisi GABA dan galanin untuk memulai tidur dengan menghambat daerah rangsangan otak. Neuron Hypocretin di hipotalamus lateral membantu untuk menstabilkan saklar ini. Jatuh tertidur adalah hasil pemutusan fungsional antara batang otak dan thalamus rostal dengan korteks otak (Pinzon, 2010).
Keadaan terbangun menghasilkan peningkatan denyut nadi, tekanan darah dan ventilasi. Stimulus respirasi seperti oklusi saluran nafas, peningkatan resistensi saluran nafas, hipoksia dan hiperkapnia dapat menuntun terbangun dari tidur. Stimulus respirasi yang utama membangunakan adalah derajad usaha pernafasan (Pack, 2008).
5. Kualitas Tidur
Kualitas tidur menunjukan kemampuan individu untuk tetap tidur dan mendapatkan jumlah tidur REM dan NREM yang tepat (George & Kriger, 2008). Kualitas tidur yang buruk atau durasi tidur yang kurang pada lanjut usia bisa mengakibatkan defresi, stroke, penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, arthritis dan hipertensi (Amir, 2008).
Kurang tidur dapat membahayakan diri sendiri sendiri maupun bagi orang sendiri. Seseorang yang kurang tidur sering mengalami kecelakaan yang fatal. Kurang tidur, dapat pula mengakibatkan masalah dalam keluarga dan perkawinan, karena kurang tidur dapat membuat orang cepat marah dan lebih sulit diajak bergaul. Bila tidur kurang lelap, maka kita akan merasa letih, lemah dan lesu pada saat bangun. Kehilangan jam tidur meskipun meskipun sedikit mempunyai akibat yang negativ terhadap kemampuan konsentrasi, kinerja, prodiktivitas, ketrampilan komunikasi, dan kesehatan secara umum, temasuk sistem gastrointestinal, fungsi kardiovaskuler, dan sistem kekebalan tubuh (Endiger dkk, 2000).
Kualitas tidur adalah Penilaian terhadap kualitas tidur yang subjektif, masa laten tidur, lama waktu tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, gangguan obat tidur, dan gangguan di siang hari (Buysee dkk, 1989).
Salah satu aspek utama dari peningkatan kesehatan untuk lansia adalah kualitas tidur untuk memastikan pemulihan fungsi tubuh sampai tingkat fungsional yang optimal dan untuk memastikan keterjagaan disiang hari guna menyelesaikan tugas-tugas dan menikmati suasana hidup yang tinggal (Stanley Mickey & Patricia G. B, 2006).
Kesulitan tidur adalah keluhan tentang kurangnya kualitas tidur yang disebabkan oleh satu dari: sulit memasukan tidur, sering terbangun malam kemudian sulit untuk kembali tidur, bangun terlalu pagi, dan tidur yang tidak nyenyak. Akibat yang ditimbulkan oleh kurangnya tidur pada malam hari seperti kelelahan, kurang gairah, dan kesulitan berkonsentrasi ketika beraktivitas (Edinger dkk, 2000).
Jumlah tidur total tidak berubah sesuai pertambahan usia. Akan tetapi, kualitas tidur kelihatan menjadi berubah pada kebanyakan lansia. Kualitas tidur beragam di antara orang-orang dari semua kelompok usia. Seseorang mungkin merasa cukup beristirahat dengan 4 jam tidur, sementara yang lain mungkin membutuhkan 10 jam. Pada dewasa tua diatas 60 tahun normal tidur sekitar 5-6 jam (Potter & Perry, 2005).
Berikut hal yang dapat menyebabkan gangguan tidur menurut Akoso Tri Budi (2005) yaitu:
1) Higienitas tidur yang kurang secara umum (cuci muka)
2) Kekhawatiran tidak dapat tidur
3) Mengkonsumsi caffeine/obat secara berlebihan
4) Merokok sebelum tidur
5) Tidur siang/sore yang berlebihan
6) Jadwal tidur/bangun yang tidak teratur
Menurut Tarwoto & Wartonah (2006), factor-faktor yang dapat mempengaruhi tidur, yaitu:
a. Penyakit
Seseorang yang mengalami sakit memerlukan waktu tidur yang lebih banyak dari normal. Namun demikian, keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur. Misalnya pada pasien dengan gangguan pernafasan seperti asma, bronkitis, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit persarafan.
b. Lingkungan
Pasien yang biasa tidur pada lingkungan yang tenang dan nyaman, kemudian terjadi perubahan suasana seperti gaduh maka akan menghambat tidurnya.
c. Motivasi
Motivasi dapat mempengaruhi tidur dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap bangun dan waspada menahan kantuk.
d. Kelelahan
tahap REM. Apabila mengalami kelelahan dapat memperpendek periode pertama dari
e. Kecemasan
Pada keadaan cemas seseorang mungkin meningkatkan saraf simpatis sehingga mengganggu tidurnya.
f. Alkohol
Alkohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan minum alkohol dapat mengakibatkan insomnia dan lekas marah.
g. Obat-obatan
Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidur antara lain:
1) Deuretik: menyebabkan insomnia
2) Anti defresan: supresi REM
3) Kafein: meningkatkan saraf simpatis
4) Beta Bloker: menimbulkan insomnia
5) Narkotika: mensupresi REM
Menurut Adesta (2009), ada beberapa langkah sederhana untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur (sleep Hygiene), antara lain:
1. Tidur secukupnya, sesuai waktu yang dibutuhkan untuk beristirahat, jangan tidur berlebihan
2. Berolahraga secara teratur sedikitnya 20 menit setiap hari, palingbaik dilakukan 4-5 jam sebelum waktu tidur. Hindari olahraga berat sebelum tidur.
3. Hindari memaksakan diri sebelum tidur.
4. Tetapkan jadwal tidur dan bangun setiap hari secara teratur (misalnya: tidur jam 10 malam dan bangun jam 5 pagi).
5. Jangan minum minuman berkafein setelah sore (the, kopi, soft drink, dsb). Atau hentikan minum minuman berkafein 8 jam sebelum waktu tidur.
6. Hindari atau kurangi menum alkohol sebelum tidur.
7. Jangan merokok, terutama dimalam hari. Merokok menjelang tidur dapat memicu insomnia. Selain itu, sangat baik untuk mengurangi merokok.
8. Jangan pergi tidur dalam keadaan lapar, namun hindari makan makanan berat dan minum berlebihan sebelum waktu tidur, hentikan makan dan mencamil 1 jam sebelum tidur.
9. Sesuaikan suasana diruangan tidur (penerangan, temperatur, bunyi-bunyian).
10. Jangan pergi tidur bersama dengan kekuatiran anda, usahakan untuk menyelesaikannya sebelum anda pergi tidur.
6. Keterkaitan Antara Tidur dan Penyakit
Tidur adalah masalah yang berhubungan dengan peran dalam sejumlah besar gangguan manusia dan mempengaruhi hampir semua bidang kedokteran. Sebagai contoh, masalah seperti stroke dan serangan asma cenderung terjadi lebih sering pada malam hari, mungkin karena perubahan dalam hormon, denyut jantung, dan karakteristik lain terkait dengan tidur. Tampaknya tidur REM untuk membantu mencegah serangan yang dimulai disalah satu bagian dari otak dan menyebar ke daerah otak lainnya (Nicholas, 2007).
Neuron yang mengontrol tidur berinteraksi erat dengan system kekebalan tubuh. Sebagai orang yang telah kena flu penyakit menular cenderung membuat kita merasa mengantuk. Tidur dapat membantu tubuh menghemat energi dan sumber daya lain yang dibutuhkan system kekebalan tubuh (Nicholas, 2007).
7. Pencegahan Gangguan Tidur Pada Lansia
Pencegahan menurut Stanley Mickey & Patricia G.B, 2006, pencegahan gangguan tidur pada lansia, antara lain:
a. Pencegahan Primer
1) Tidur seperlunya, tetapi tidak berlebihan agar merasa segar dan sehat di hari berikutnya.
2) Waktu bangun yang teratur di pagi hari memperkuat siklus sikardian dan menyebabkan tidur yang teratur.
3) Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memperdalam tidur
4) Bunyi bising yang bersifat kadang-kadang (misalnya bunyi perawat yang melintas) dapat mengganggu tidur sekalipun orang tersebut tidak bangun.
5) Meskipun ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur, namun tidak ada bukti yang menunjukan bahwa kamar yang terlalu dingin dapat membantu tidur.
6) Rasa lapar dapat mengganggu tidur.
7) Pil tidur yang hanya kadang-kadang saja digunakan dapat bersifat menguntungkan, namun penggunaannya yang kronis tidak efektif pada kebanyakan penderita insomnia.
8) Alkohol membantu orang-orang yang tegang untuk tertidur lebih mudah, tetapi tidur tersebut kemudian akan terputus-putus.
9) Orang-orang yang merasa marah dan frustasi karena tidak dapat tidur tidak boleh berusaha terlalu keras untuk tidur tetapi harus menyalakan lampu dan melakukan hal lain yang berbeda.
10) Penggunaan tembakau secara kronis dapat mengganggu tidur.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder meliputi pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh perawat dan pengkajian harus mencakup factor-faktor berikut ini:
1. Seberapa unik lansia tersebut tidur di rumah?
2. Barapa kali lansi tersebut terbangun di malam hari?
3. Kapan lansia tersebut pergi ketempat tidur dan terbangun?
4. Apa jenis lingkungan kamar yang disukai (tenang, usik lembut, lampu remang-remang, gelap, kamar tertutup)
5. Berapa jumlah dan jenis latihan yang di lakukan setiap hari?
6. Apakah posisi yang di sukai ketika berada di tempat tidur?
7. Berapa suhu yang disukainya?
8. Aktivitas apa biasanya dilakukan beberapa jam menjelang tidur?
9. Ritual apa saja yang terjadi menjelang tidur (misalanya kudapan menjelang tidur, menonton televisi, mendengarkan musik)?
10. Seberapa sering bantuan diperlukan jika tidak dapat tidur?
11. Berapa banyak waktu yang di habiskan dalam hobinya?
Seperti biasa, menvalidasi riwayat pengkajian dengan anggota keluarga atau pemberi perawatan merupakan hal yang penting untuk memastikan kekurangan data pengkajian jika pasien dianggap tidak kompeten untuk memberikan laporan sendiri.
c. Pencegahan Tersier
Jika terdapat gangguan seperti apnea tidur yang mengancam kehidupan, kondisi pasien memerlukan rehabilitasi melalui tindakan-tindakan seperti pengangkatan jaringan yang menyumbat mulut dan mempengaruhi jalan napas.
8. Penatalaksanaan Gangguan Tidur
Menurut Duran (1988) dan Regestein (1990) menyarankan beberapa penerapan kebiasaan tidur yang baik, antara lain:
a. Menetapakan rutinitas dan waktu bangun regular yang sama setiap hari.
b. Batasi dan hentikan zat yang bekerja di SSP (kafein, nikotin, alkohol, stimulant.
c. Naik ketempat tidur hanya setelah merasa mengantuk dan bangun dari tempat tidur bila tidak dapat tidur dalam 15 menit dan minum susu sebelum tidur.
d. Hindari tidur sekejap pada siang hari (kecuali menyebabkan tidur malam lebih baik).
e. Dapatkan kebugaran fisik dengan rajin olah raga setiap pagi.
f. Batasi aktivitas di kasur pada aktivitas membantu induksi tidur, hindari stimulasi malam seperti aktifitas berat, ganti televisi, dengan radio, bacaan santai.
g. Kurangi suara keras dan cahaya di tempat tidur.
h. Makan pada waktu yang teratur setiap hari dengan diet seimbang dan batasi lemak, hindari makan besar dalam jumlah besar sebelum tidur.
i. Lakukan relaksasi malam seperti relaksasi progresif.
9. Asuhan Keperawatan Gangguan Tidur
Menurut Perry dan Potter, (2005) adapun asuhan keperawatan pada gangguan tidur adalah sebagai berikut:
A. Pengkajian
1. Data subjektif
a. Kaji Batasan Karakteristik
Untuk menentukan jumlah tidur yang dibutuhkan individu, biarkan dia tidur sampai pagi hari (tanpa alarm jam). Ini harus dilakukan untuk beberapa hari dan jumlah total jam tidur di kalkulasikan dengan jumlah 20-30 menit yang merupakan waktu yang peling dibutuhkan individu untuk tertidur pada umumnya.
b. Kaji faktor-faktor yang berhubungan
1). Interupsi
a) Kebisingan
b) Jadwal perjalanan
c) Kebutuhan untuk berkemih
2). Penggunaan alat bantu atau ritual tidur
a) Mandi air hangat
b) Minum atau makan (susu, anggur)
c) Bantal
d) Posisi
e) Mainan, buku obat-obatan
2. Data Objektif
Kaji batasan karakteristik fisik
a) Gambaran penampilan (pucat, gelap disekitar lingkaran bila mata)
b) Menguap
c) Mengantuk sepanjang hari
e) Penurunan lapang perhatian
f) Peka rangsang
B. Riwayat Tidur
Pengkajian riwayat tidur secara umum dilakukan segera setelah klien memasuki pasilitas perawatan. Ini memungkinkan perawat menggabungkan kepuasan klien dan hal-hal yang ia sukai dalam rencana perawatan. Riwayat tidur ini meliputi:
1. Kebutuhan Tidur yamg biasa
2. Ritual sebelum tidur
3. Penggunaan obat tidur atau obat-obat lainnya
4. Lingkungan tidur
5. Perubahan terkini pada pola tidur
Selain itu, riwayat ini juga harus mencakup berbagai masalah yang ditemui pada kualitas tidur, penyebabnya, kapan pertama sekali masalah tersebut muncul, frekuensinya, pengaruh terhadap keseharian klien, dan bagaimana klien berkoping dengan masalah tersebut.
C. Catatan Tidur
Catatan tidur sangatlah bermanfaat khusus untuk klien yang memiliki masalah tidur sebab catatan ini berisi berbagai informasi penting terkait dengan kualitas tidur klien. Catatan tidur dapat mencakup keseluruhan atau sebagian dari informasi berikut:
1. Jumlah jam tidur per hari
2. Aktivitas yang dilakukan 2-3 jam sebelum tidur
3. Ritual sebelum tidur (mis; minum air, obat tidur).
4. Waktu
5. Adanya masalah yang diyakini klien dapat mengganggu tidurnya.
6. Faktor yang klien yakini memberi pengaruh positif atau negative pada tidurnya.
Kemudian, perawat dapat mengembangkan data tersebut menjadi bagan atau grafik yang berguna untuk mengidentifikasi masalah tidur yang klien alami.
D. Pemariksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi observasi penampilan, perilaku dan tingkat energi klien. Penampilan yang menandakan klien mengalami masalah tidur antara lain adanya lingkaran hitam disekitar mata, konjugtiva kemerahan, kelopak mata bengkak, dll. Sedangkan indikasi perilaku dapat meliputi iritabilitas, gelisah tidak perhatian, bicara lambat, menguap, dll. Di samping itu, klien yang mengalami masalah tidur juga dapat terlihat lemah, letargi, atau lelah akibat kekurangan energi.
E. Pemeriksaan Diagnostik
Tidak dapat diukur secara objektif dengan menggunakan alat yang disebut polisomnografi. Alat ini dapat merekam elekro-ensefalogram (EEG), elekroniogram (EMG), dan elekro-okulogram (EOG) sekaligus. Dengan alat ini kita dapat mengkaji aktivitas klien selama tidur. Aktivitas yang klien lakukan tanpa sadar tersebut bisa jadi merupakan penyebab seringnya klien terjaga dimalam hari.
G. Perencanaan dan Implementasi
Tujuan utama asuhan keperawatan untuk klien dengan gangguan tidur adalah untuk mempertahankan (atau membentuk) pola tidur yang memberikan energi yang cukup untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Sedangkan tujuan lainnya dapat terkait dengan upaya meningkatkan perasaan sejahtera klien atau meningkatkan kualitas tidurnya.
1) Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terjaga di malam hari, sekunder akibat (gangguan transport oksigen, gangguan eliminasi, gangguan metabolisme).
2) Gangguan pola tidur berhubungan dengan aktivitas siang hari yang tidak adekuat.
a. Kriteria hasil
Individu akan melaporkan keseimbangan yang optimal antara istirahat dan aktivitas.
b. Indikator
a. Menjelaskan faktor yang mencegah atau menghambat tidur
b. Mengidentifikasi teknik untuk memudahkan tidur.
c. Intervensi umum
a) Identifikasi faktor yang menyebabkan gangguan tidur (nyeri, takut, stress, ansietas, imobilitas, sering berkemih, lingkungan yang asing, temperature, aktivitas yang tidak adekuat)
b) Kurangi atau hilangkan distraksi lingkungan yang gangguan tidur
c) Gunakan tenpat tidur hanya untuk aktivitas yang terkait dengan tidur
d) Banguanlah di waktu yang biasa, bahkan jika tidur anda tidak nyenyak, hindari berada di tempat tidur setelah terjaga.
d. Rasional
a) tidur akan sulit dilakukan tanpa relaksasi. Lingkungan rumah sakit yang asing dapat menghambat relaksasi.
b) Agar merasa segar, individu biasanya harus menyelesaikan keluhan siklus tidur (70-100 menit) sebanyak 4 sampai 5 kali semalam.
c) Ritual/kebiasaan yang biasa dilakukan dapat meningkatkan relaksasi dan membantu tidur.
d) Kebisingan lingkungan yang tidak dapat dihilangkan atau dikurangi dapat ditutupi dengan bunyi-bunyi yang lembut, (misalnya; kipas angin, musik yang lembut, suara rekaman, ombak pantai)
e) Pola tidur yang tidak teratur dapat mengganggu irama sirkadian snormal kemungkinan menyebabkan sulit tidur.
C. Teknik Relaksasi Progresif
1. Defenisi
Merupakan salah satu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada cara kerja sistem saraf simpatis dan parasimpatis, dan teknik relaksasi progresif terbukti bisa mengurangi ketegangan dan kecemasan, gangguan tidur atau insomnia (Baitul Alim, 2010).
Relaksasi progresif adalah teknik relaksasi otot dalam yang tidak memerlukan imajinasi, ketekunan, atau sigesti (Davis, Eshelman & Mckay, 1995). Menurut Jacobson dalam Coates (1987) teknik relaksasi progresif merupakan penegangan dan pengendoran berbagai otot dasar pada tubuh.
Menurut Davis, Eshelman & Mckay (1995), efektif di lakukannya teknik relaksasi ini yaitu satu atau dua minggu, dengan rentang waktu latihan dua kali 15 menit per hari.
2. Macam-Macam Teknik Relaksasi Progresif
Metode relaksasi terdiri dari beberapa macam, diantaranya ada lima macam relaksasi, yaitua: (1) relaksasi otot progresif (progressive muscle relaxation), (2) pernapasan diafragma, (3) imagery (imajinasi), (4) biofeedback, dan (5) hipnosis (Erna, 2005).
Menurut Alim (2009) ada 2 jenis relaksasi progresif, yaitu:
a. Overt PMR (tense up and letting go)
Secara sadar menegangkan kelompok otot dan kemudian melepaskannya. Seringkali menggunakan 11 kelompok otot.
b. Covert PMR (letting go)
Jenis PMR yang hanya merilekskan kelompok otot tanpa menegangkannya terlebih dahulu. Dapat dipraktekkan sendiri, tanpa latihan seperti jenis overt PMR dan seringkali dikombinasikan dengan autogenic training.
3. Manfaat Relaksasi Progresif
Teknik relaksasi progresif sangat bermamfaat untuk mengatasi masalah ketegangan otot, insomnia, ansietas, defresi, kelelahan, keram otot, nyeri leher dan punggung, darah tinggi, fobia ringan dan gagap (Alim, 2009 & Sustrani, 2005). Menurut Burn dalam Masrukhin Anafi (2009) beberapa keuntungan yang diperoleh dari latihan relaksasi progresif antara lain:
a. Relaksasi akan membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan.
b. Masalah-masalah seperti sakit kepala, insomnia, hipertensi, dapat dikurangi atau di obati dengan teknik relaksasi progresif.
c. Mengurangi tingkat kecemasan
d. Mengurangi kemungkinan gangguan yang berhubungan dengan stress.
e. Mengontrol anticipatory ansiety sebelum situasi yang menimbulkan kecemasan, seperti pertemuan penting, wawancara dan sebagainya.
f. Mengurangi perilaku tertentu yang sering terjadi selama periode stress seperti mengurangi jumlah merokok yang di hisap, konsumsi alcohol, pemakaian obat-obatan dan makan yang berlebihan.
g. Meningkatkan penampilan kerja, sosial dan keterampilan fisik.
h. Kelelahan, aktivitas mental, dan latihan yang tertunda dapat diatasi lebih cepat dengan menggunakan latihan teknik relaksasi progresif.
i. Relaksasi progresif merupakan bantuan untuk menyembuhkan penyakit tertentu dan operasi.
j. Konsekuensi yang terpenting dari teknik relaksasi progresif adalah bahwa tingkat harga diri dan keyakinan diri individu meningkat sebagai hasil control yang meningkat terhadap reaksi stress.
k. Meningkatkan hubungan interpersonal.
l. Ada 3 hal utama yang perlu diperhatikan dalam relaksasi yaitu: pikiran yang tepat, konsentrasi dalam melakukan teknik relaksasi progresif, lingkungan yang tenang. Posisi pasien diatur senyaman mungkin dengan semua bagian tubuh disokong (mis: bantal menyokong leher), persendian fleksi, dan otot-otot tidak tertarik (mis: tangan dan kaki tidak disilangkan).
4. Langkah-Langkah Teknik Relaksasi Progresif
a. Menciptakan suasana yang tenang
b. Minta klien meluruskan tangan dan kaki
c. Gerakan pertama ditujukan untuk melatih otot-otot yang dilakukan dengan cara menggenggam tangan kiri dengan cara membuat kepalan. Klien diminta membuat kepalan ini semakin kuat, sambil merasakan sensasi ketegangan yang terjadi. Pada saat kepalan dilepaskan, klien dipandu untuk merasakan rileks selama 10 detik. Prosedur serupa dilakukan dengan tangan kanan.
d. Gerakan kedua dilakukan dengan cara menekuk kedua lengan kebelakang pada pergelangan tangan sehingga otot-otot di tangan bagian belakang dan lengan bawah menegang, jari-jari menghadap kelangit-langit. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
e. Gerakan yang ketiga adalah untuk melatih otot-otot biceps. Otot-otot biceps adalah otot besar yang terdapat diatas pangkal lengan, gerakan di awali dengan menggenggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan kemudian membawa kepalan kepundak sehingga otot-otot biceps akan menjadi tegang. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
f. Gerakan yang keempat digunakan untik melatih otot-otot bahu, mengangkat otot-otot bahu setinggi-tingginya seakan-akan bahu akan dibawa sehingga menyentuh kedua telinga. Fokus perhatian gerakan ini adalah kontras ketegangan yang terjadi dibahu, punggung atas dan leher. Ketegangan di pertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
g. Gerakan yang kelima adalah gerakan-gerakan yang ditujukan untuk melemaskan otot-otot di wajah. Otot-otot wajah yang dilatih adalah otot-otot dahi, mata, rahang dan mulut. Gerakan untuk dahi dapat dilakukan dengan cara mengerutkan dahi dan alis sampai otot-ototnya terasa dan kulitnya keriput. Gerakan yang di tunjukan untuk mengendurkan otot-otot mata diawali dengan menutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan ketegangan di sekitar mata dan otot-otot yang mengendalikan gerakan mata. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
h. Gerakan ketujuh bertujuan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh otot-otot rahang dengan cara menutup rahang, diikuti dengan mengigit gigi sehingga dirasakan ketegangan di sekitar otot-otot rahang. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik
i. Gerakan yang kedelapan ini dilakukan untuk mengendurkan otot-otot sekitar mulut. Bibir di moncongkan sekuat-kuatnya sehingga dirasakan ketegangan disekitar mulut. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
j. Gerakan yang kesembilan digunakan untuk melatih otot-otot leher bagian belakang maupun leher bagian depan. Gerakan diawali dulu dengan otot leher bagian belakang baru kemudian leher bagian depan. Klien dipandu meletakan kepala sehingga dapat beristirahat, kemudian di minta untuk menekan kepala pada permukaan bantalan kursi sedemikian rupa sehingga klien dapat merasakan ketegangan dibagian leher atas dan puggung atas. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks 10 detik
k. Gerakan kesepuluh bertujuan untuk melatih otot leher bagian depan. Cara membawa kepala kemuka, kemudian klien diminta untuk membenamkan dagu kedadanya. Sehingga dapat merasakan ketegangan di daerah leher bagian muka, ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
l. Gerakan kesebelas bertujuan untuk melatih otot-otot punggung. Gerakan ini dapat dilakukan dengan cara mengangkat tubuh dari sandaran kursi, kemudian punggung dilengkungkan, lalu busungkan dada. Kondisi tegang dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
m. Gerakan keduabelas digunakan untuk melemaskan otot-otot dada, pada gerakan ini, klien diminta untuk menarik nafas panjang untuk mengisi paru-paru dengan udara sebanyak-banyaknya. Posisi ini ditahan selama beberapa saat, sambil merasakan ketegangan dibagian dada dan kemudian turun keperut. Kondisi tegang dipertahankan selama 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik. Pada saat ketegangan dilepas, klien dapat bernafas normal dengan lega.
n. Gerakan ketiga belas bertujuan untuk melatih otot-otot perut. Gerakan ini dilakukan dengan cara menarik kuat-kuat perut kedalam, kemudian menahannya sampai perut menjadi kencang. Kondisi tegang dipertahankan 5-7 detik kemudian rileks selama 10 detik.
o. Gerakan keempat belas bertujuan untuk melatih otot-otot paha, dilakukan dengan cara meluruskan kedua belah telapak kaki sehingga otot-otot paha terasa tegang. Gerakan ini dilanjutkan dengan mengunci lutut sedemikian sehingga ketegangan pindah ke otot-otot betis. Ketegangan ini dipertahankan selama 5-7 detik kamudian rileks selama 10 detik
5. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan kegiatan relaksasi progresif, yaitu:
a. Jangan terlalu menegangkan otot berlebihan karena dapat melukai diri sendiri.
b. Posisi tubuh lebih nyaman dengan mata tertutup, jangan dengan berdiri.
c. Menegangkan kelompok otot degan dua kali tegangan
d. Melakukan bagian kanan tubuh dua kali, bagian kiri dua kali.
e. Memeriksa apakah klien benar-benar rileks.
f. Terus-menerus memberikan instruksi
g. Memberikan instruksi tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat (Alim, 2010).
D. Kerangka Teori
Bagan : 1.2
Kerangka teori
Input Proses Output
Sumber: Tarwoto & Wartonah (2006) dan Baitul Alim (2010)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu dengan konsep yang lain dari masalah yang diteliti (Notoadmojo, 2007). Kerangka konsep dari penelitian ini menggunakan pendekatan sistem yang terdiri dari input, proses, dan output. Untuk komponen input yang akan diteliti adalah tingkat kualitas tidur pasien sebelum di lakukan latihan teknik relaksasi progresif. Untuk komponen proses yaitu latihan teknik relaksasi progresif. Sedangkan untuk komponen output yang akan diteliti adalah tingkat kualitas tidur sesudah dilakukan teknik relaksasi progresif. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Kerangka Penelitian
Bagan 3.2
Pre Test Treatment Post Test
B. Defenisi Oprasional
Definisi oprasional masing-masing variabel penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Definisi Oprasional
Variabel Definisi Oprasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur
Kualitas tidur Penilaian terhadap kualitas tidur yang terdiri dari beberapa aspek subjektif, masa laten tidur, lama waktu tidur, gangguan tidur, efisiensi tidur, penggunaan obat tidur, dan gangguan di siang hari (Buysse, 1989).
Wawancara
Terpimpin Kuesioner Ordinal Skor
Baik
< 5 Buruk >5
(Buysse dkk, 1989).
Latihan teknik relaksasi progresif Merupakan salah satu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada cara kerja system saraf simpatis dan parasimpatis, dan teknik relaksasi progresif terbukti bisa mengurangi ketegangan dan kecemasan, gangguan tidur atau insomnia (Baitul Alim, 2010).
C. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah:
Ha : Ada pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi.
Ho : Tidak ada pengaruh antara teknik relaksasi progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi.
D. Desain Penelitia
Desain penelitian pre-experimental yang digunakan adalah One group pre test and post test design yaitu pengukuran intensitas kualitas tidur dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum dan sesudah latihan teknik relaksasi progresif.
Rancangan ini dapat di ilustrasikan sebagai berikut :
Keterangan :
01 : Pre test sebelum latihan teknik relaksasi progresif
x : Latihan teknik relaksasi progresif
02 : Post test sesudah latihan teknik relaksasi progresif (Widodo, 2009).
E. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah seluruhan objek penelitian (Arikunto, 2004). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi tahun 2011, yaitu sebanyak 70 orang lansia.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah lansia yang menderita gangguan kualitas tidur yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun besar sampel di tentukan berdasarkan rumus berikut : (Lemesshow, 1997).
Keterangan :
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi dalam penelitian = 70
Z = Derajat kepercayaan 95% maka Z= 0,196
P = Perkiraan proporsi 0,86 maka 1-P = 0,14
d = presisi penelitian 10% (0,1)
a. Kriteria Inklusi:
1) Lansia yang mengalami gangguan tidur
2) Bisa diajak komunikasi verbal
3) Kooperatif (bisa bekerja sama)
4) Bersedia menjadi responden
b. Kriteria Eksklusi
Cuti pada saat dilakukan treatment.
F. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Kota Jambi yang akan dilaksanakan selama 2 minggu pada bulan Agustus. Dalam pelaksanaan waktu 2 minggu dari 28 responden masing-masing responden di latihan relaksasi progresif sebanyak 14 kali.
G. Etika Penelitian
Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut:
(Notoatmodjo, 2010).
a. Informed Consent
Informed consent merupakan bentuk bentuk persetujuan antara peneliti dan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan peneliti, mengetahui dampaknya. Jika subyek bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia, maka pasien harus menghormati hak pasien.
b. Anomity (Tanpa Nama)
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam menggunakan subyek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
b. Kerahasian (Confidentiality)
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dkumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.
H. Teknik Pengumpulan Data
a. Sebelum mengadakan penelitian, penulis mengadakan observasi atau survey awal di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi. Selanjutnya peneliti melakukan pengambilan data di Tata Usaha Panti Sosial Tresna Werdha Busi Luhur Jambi.
b. Sebelum melakukan penelitian, peneliti membuat kontrak dengan pihak Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi dan membuat kontrak dengan lansia tentang teknik relaksasi progresif.
c. Treatment dilaksanakan oleh peneliti dengan dibantu oleh seorang mahasiswa yang telah diberitahu cara teknik relaksasi progresif yang berperan membimbing lansia yang kurang paham atau sukar mengikuti latihan teknik relaksasi progresif pada saat treatment.
I. Prosedur Penelitian
a. Sebelum pelaksanaan latihan relaksasi progresif
1. Tahap pengukuran tingkat kualitas tidur
Setelah mendapat persetujuan, kemudian dilakukan pengukuran tingkat kualitas tidur responden yang dilakukan di wisma masing-masing lansia 2 hari sebelum intervensi dilakukan.
2. Pembagian kelompok
Setelah mendapat data awal mengenai kualitas tidur responden, peneliti membagi responden kedalam 2 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 14 responden dan setiap kelompok dilatih setiap hari selama 2 minggu untuk melakukan latihan teknik relaksasi progresif dimana masing-masing latihan berlangsung selama 20-30 menit untuk satu kali latihan.
3. Pengkondisian responden
a. Peneliti memposisikan tubuh lansia secara nyaman. Lansia diinstruksikan untuk duduk dikursi dengan rileks, dengan kaki dan tangan diluruskan.
b. Dilakukan dengan keadaan konsentrasi, sehingga keadaan rileks lebih dapat dirasakan.
c. Lansia di bimbing untuk melakukan latihan teknik relaksasi progresif dengan penegangan dan pengendoran otot-otot tubuh.
b. Pelaksanaan Latihan Teknik Relaksasi Progresif
1) Tahap persiapan
Peneliti memposisikan tubuh lansia secara nyaman. Lansia di instruksikan untuk duduk di kursi dengan rileks, dengan kaki dan tangan di luruskan.
2) Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini responden melaksanakan latihan teknik relaksasi progresif dengan bimbingan langsung oleh peneliti sendiri.
3) Tahap penutup
Pada tahap ini pasien bersiap-siap untuk istirahat.
c. Sesudah Latihan Teknik Relaksasi Progresif
1) Tahap pengukuran tingkat kualitas tidur
Pengukuran dilakukan di wisma masing-masing lansia setelah dilakukan intervensi latihan teknik relaksasi progresif selama 2 minggu yaitu selama 14 kali latihan teknik relaksasi progresif, hal tersebut dikarenakan latihan teknik relaksasi progresif yang dilaksanakn 20-30 menit, satu kali sehari secara teratur selama 2 minggu dimana masing-masing sesi berlangsung selama 20-30 menit.
2) Tahap Evaluasi
Pada tahapan ini peneliti menanyakan kembali perasaan responden dan menjelaskan bahwa intervensi telah selesai dilakukan.
J. Instrumen Penelitian
Untuk mendapatkan jumlah insomnia pada lansia sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu mengambil data-data lansia yang insomnia di bagian tata usaha karena sebelum melakukan penelitian tentang kualitas tidur terlebih dahulu peneliti harus mengetahui jumlah-jumlah lansia yang mengalami insomnia.. Tapi untuk selanjutnya pada saat pre test and post test peneliti menggunakan pengukuran skala ukur Pittsburgh Sleep Quality Indek (PSQI) karena peneliti hanya mengkaji kualitas tidur. PSQI terdiri dari 18 pertanyaan dengan jawaban yang bernilai 1 (untuk yang mudah) sampai 4 (untuk yang sulit). Dimana jumlah scor > 5 artinya orang tersebut mangalami penurunan kualitas tidur. Skala yang digunakan adalah skala ordinal, mengetahui kualitas tidur responden baik atau buruk.
K. Pengolahan dan Analisa Data
1. Pengolahan data
Setelah data terkumpul dilaksanakan pengolahan data dengan menggunakan rumus yang sesuai dengan pendekatan penelitian atau desain yang digunakan sehingga diperoleh suatu kesimpulan disebut juga dengan analisa data (Nursallam, 2003).
Tahap dalam pengolahan data, yaitu:
1. Editing
Editing atau penyuntingan dilakukan oleh peneliti, sebelum meninggalkan responden, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pengulangan pengisian observasi.
2. Cording
Setelah dilakukan editing, langkah selanjutnya adalah melakukan pengkodean data untuk memudahkan pengolahannya.
3. Tabulation
Merupakan kelanjutan langkah Cording untuk mengelompokkan data kedalam suatu data tertentu menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian.
4. Entry data
Pada tahap ini data yang telah dikumpulkan dilakukan pengolahan terhadap variabel, selanjutnya dibuat tabel distribusi frekuensi dan di entry dengan menggunakan komputer.
5. Cleaning
Tahap ini memastikan kembali bahwa semua data sudah di entry betul-betul data yang tepat dan tidak ada kesalahan sehingga data siap untuk di analisa.
2. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisa ini bertujuan untuk mempermudah interprestasi data dalam bentuk tabel dan uraian dalam bentuk teks, serta untuk mengetahui distribusi frekuensi masing-masing variabel (Arikunto. 2002).
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat di lakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan uji T dependen, tingkat kepercayaan 95% (0,05).
Langganan:
Postingan (Atom)
