Rabu, Maret 02, 2011

data skripsi

PERAN WARSIDI DALAM PERITIWA LAMPUNG BERDARAH 1989
A.Latar belakang masalah

Warsidi adalah tokoh yang paling tahu dengan peristiwa Talangsari1989. Dialah tokoh utama dalam drama kehidupan para jama’ah yang berani menghadang kekuatan Negara. Anak bungsu dari empat orang bersaudara ini, lahir di desa Seberang Rawa, Magelang, Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1934.
Warsidi menetap di Lampung pada tahun 1937, ia diajak oleh ayahnya seorang petani bernama Martoprawiro masuk ke kecamatan Batanghari, kemudian menetap di pedukuhan Talangsari III pada bulan Juni 1988 bersama istrinya, Juairiyah dan anaknya. Di pedukuhan inilah Warsidi mengamalkan ilmu spiritual dari aliran Lelampah yang diperolehnya dari gurunya yang bernama Anwaruddin dari Banyumas, Jawa Tengah, kepada masyarakat. Ia mulai mengajarkan ajaran Lelampah ini pada tahun 1966. Karena pengajaran ini maka kemudian masyarakat Lampung mengenalinya sebagai tokoh spiritual. Bersamaan dengan itu pulalah, bakat kepemimpinannya berkembang secara paralel; bakat kharismatiknya yang berkembang itulah dalam waktu singkat ia memperoleh jamaah atau pengikut yang banyak.
Warsidi adalah orang yang lemah-lembut, santun dan sangat mengerti terhadap orang lain. Sikapnya mulai radikal setelah kedatangan beberapa tokoh pemuda aktivis Islam yang memiliki semangat jihad yang menggebu di dadanya. Radikalisasi Warsidi mulai terjadi pada saat ia mendapat pengaruh fundamentalistik dari jama’ah pemuda yang datang dari Jakarta. Sikap furqaan (menarik garis pembeda) dari jamaah pun muncul. Ketika garis demarkasi perbedaan ditarik, maka yang kafir dan yang beriman pun segera kelihatan. Namun perbedaan pandangan dengan Lurah setempatlah yang kemudian menyulut peristiwa ini terjadi. Diawali dengan dipanggilnya Warsidi oleh aparat keamanan, maka hubungan kontradiktif antara jamaah Warsidi dan masyarakat serta aparat militer pun terjadi.

Dari pihak Warsidi mensikapi undangan tersebut dengan caranya sendiri.
Situasi di lampung tengah hingga 1980-an banyak diliput peristiwa ketidakadilan yang memilukan akibat peraturan yang sering berubah, misalnya perubahan keputusan pemerintah yang semula mengizinkan perambahan kawasan Hutan Gunung Balak untuk pemukiman, tetapi membatalkannya setelah kawasan itu sudah menjadi kecamatan Gunung Balak yang terdiri dari 13 desa. Pada tahun 1982 pemerintah menghancurkan 10 desa. Rumah-rumah dirobohkan dan dibakar oleh polisi kehutanan, sehingga tinggal 3 desa, yakni Desa Bandar Agung,Sidorejo, dan Brawijaya atau Majapahit. Tiga desa itu selalu diutak-utik dan akan dibubarkan tetapi masyarakat tetap bertahan. Desa Sidorejo bergabung dengan Kecamatan Jabung,sedangkan Bandar Agung dimasukkan menjadi wilayah Kecamatan Labuhan Maringgai. Hal yang paling menyakitkan penduduk setempat adalah tindakan pilih kasih dari pemerintah. Di satu sisi mengusir penduduk desa yang sudah berusaha payah bercocok tanam, tapi di sisi lain membiarkan orang orang kota untuk memiliki tanah hingga hingga melebihi 20 hektar yang di perbolehkan UU Pokok Agraria.
Latar belakang sosial seperti di uraikan di atas merupakan salah satu faktor yang menyebabkan Warsidi mempunyai sikap politik antipemerintah, terutama terhadap aparat keamanan yang sering digunakan mengusir penduduk. Ia menyaksikan dan mengalami cara-cara pendekatan keagamaan dalam menyelesaikan setiap persoalan tanah di Lampung. Sikap politiknya sesuai dengan yang dimiliki para mantan aktivis gerakan Usroh Sungkar. Kesamaan lainnya adalah pada orientasi pemahaman keagamaannya yang menginginkan pemurnian, sehingga ia menjadi pendukung ajakan para mantan aktivis gerakan Usroh Sungkar untuk menerapkan syari’ah Islam dalam kehidupan sehari-hari



B.Batasan Dan Rumusan Masalah
Penelitian ini memfokuskan pembahasan pada Peran Warsidi Dalam Peristiwa Lampung Berdarah 1989. Yang dimaksudkan dengan peran Warsidi adalah keterlibatan Warsidi dalam peristiwa Lampung Berdarah 1989. Adapun batasan dan rumusan masalah adalah Peristiwa Lampung Berdarah 1989 ini didasarkan bahwa Lampung tahun 1989 terjadi conflik pertikal antara Negara dan Masyarakat.
Untuk itu pelacakan atas peristiwa-peristiwa serta penjabaran permasalahan tersebut, akan dipandu melalui pertanyaan-pertayaan utama sebagai berikut:
1.Bagaimana peran Warsidi dalam peristiwa Lampung berdarah 1989.
2.Bagaimana sikap Warsidi ketika conflik vertikal antara negara dan masyarakat di Lampung tahun 1989
3.Apa yang di lakukan warsidi ketika berhadapan dengan negara

C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.Agar orang-orang mengetahui sejauhmana peran Warsidi dalam peritiwa Lampung Berdarah 1989
2.Agar orang-orang memahami faktor apa sajakah yang melatarbelakangi sikap fundamental warsidi dalam peristiwa lampung berdarah 1989
Adapun kegunaan dari pembahasan ini
1.Sebagai sumbangan wacana pemikiran tentang seorang tokoh fundamentalis
2.Sebagai sumber informasi dan pengetahuan khususnya bagi mahasiswa sejarah dan bagi masyarakat pada umumunya.
D. Tinjauan Pustaka
Untuk mendukung penelitian ini, penulis menggunakan beberapa literatur yang dapat di jadikan sebagai bahan acuan pokok. Pertama, buku yang berjudul



E. Landasan Teori
Penelitian ini berusaha mengupas peran warsidi Dalam peristiwa Lampung berdarah 1989. Dalam penelitian ini digunakan teori tindakan sosial, yaitu adanya hubungan antara peristiwa dan tindakan (...) maksudnya adalah peranan warsidi Dalam Peristiwa Lampung berdarah 1989—sehingga terjadi conflik vertikal antara Negara dan Masyrakat.
Pendekatan yang digunakan yaitu behavioral yang merupakan salah satu dari pendekatan ilmu sosial. Teori Behavioral menjelaskan “mengapa orang secara politik bertindak sebagaimana yang dia lakukan, proses dan sistem-sistem politik berfungsi sebagai hasilnya”(,,,,) teori ini tidak hanya pada peristiwanya, akan tetapi tertuju pada pelaku sejarah dalam situasi yang dihadapi. Persoalan penafsiran tersebut memancarkan suatu tindakan yang menyebutkan suatu kejadian sejarah, baik yang mau diharapkan maupun yang tidak diharapkan, sehingga dari penafsiran tersebut muncul tindakan yang menimbulkan suatu kejadian dan selanjutnya timbul konsekuensi dari tindakannya. Dalam hal ini, tindakan yang di lakukan warsidi Dalam Peristiwa Lampung berdarah 1989 merupakan konsekuensi atas tindakannya.
F.Metode Penelitian
Sejarah merupakan rekontruksi masa lalu yang terkait pada prosedur penelitian ilmiah (...) dengan demikian untuk memperoleh sejarah yang ilmiah maka diperlukan sebuah metode penelitian.
Sebagai upaya mendapatkan gambaran yang jelas serta terperinci sesuai yang diharapkan, maka penulis menggunakan pendekatan sosiologis. Metode historis yaitu proses menguji dan menganalisa rekaman dan peninggalan masa lampau berdasarkan data yang diperoleh (....) analisa secara kritis dan juga penyajian sintesa diharapkan dapat menyajikan kisah sejarah yang dapat di percaya (...) adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
I.Hauristik ( Pengumpulan Data)
Sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber primer dan sumber skunder berupa sumber tertulis atau literer. Penulis tidak menggunakan sumber lisan dikarenakan perbedaan masa dan tempat peristiwa yang jauh, sehingga penulis hanya menggunakan sumber tertulis pencarian sumber tertulis melalui buku-buku sejarah, jurnal-jurnal, skripsi-skripsi, webset dan koran-koran yang berhubungan dengan peran warsidi dalam peristiwa lampung berdarah 1989. Baik itu, di warnet-warnet, perpustakaan UIN Sunan Kalija, perpustakaan Fakultas adab, perpustakaan kolese ST. Ignatius dan lain-lain.
II.Verifikasi (Kritik Sumber)
Verifikasi yaitu menguji dan menganalisa secara kritis. Verifikasi dilakukan dengan dua cara yaitu kritik eksteren dan interen. Kritik eksteren dilakukan untuk mencari keautentikan sumber. Penulis menguji buku-buku yang dijadikan sumber penelitian. Adapun kritik interen berusaha mencari keabsahan dari informasi yang ada pada sumber tersebut. Disini penulis menguji isi buku-buku yang ditemukan untuk mengetahui isi buku tersebut sesuai dengan fakta sejarah. Dengan verifikasi ini akan diperoleh validitas suatu sumber sejarah.
III.Interpretasi (Penafsiran)
Interpretasi yaitu menafsirkan fakta yang saling berhubungan dari data yang teruji kebenarannya. Dengan interpretasi ini penulis mencoba mengkaitkan beberapa sumber dengan pendekatan behavioral untuk memudahkan dalam merangkai peristiwa-peristiwa sejarah tentang peran warsidi dalam peristiwa Lampung berdarahs 1989. Untuk mendukung penelitian penulis menggunakan teori tindakan sosial untuk menentukan langkah-langkah penulisan sejarah.
IV.Historiografi (Penulisan Sejarah)
Historiografi yaitu langkah akhir dalam penelitian dengan menghubungkan peristiwa satu dengan yang lain sehingga menjadi rangkaian berarti. Historiografi ini merupakan pemaparan hasil penelitian yang telah di lakukan (....) dalam pemaparan ini peneliti memaparkan penelitian kedalam empat bab.

G.Sistematis Penulisan
Penulis skripsi ini penulis bagi kedalam beberapa bab, tiap-tiap bab terdiri dari beberapa sub-bab dengan keperluan kajian yang akan dilakukan.
Bab pertama, menjelaskan latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematiak pembahasan. Bab ini merupakan alasan mengapa menjadi landasan bagi pembahasan selanjutnya.
Bab kedua, membahas tentang peran Warsidi dalam peristiwa lampung berdarah 1989, yang meliputi indiologysasi pengikut dan mengambil garis furqaan dalam idiology pemerintah.
Bab ketiga, membahas tentang peran Warsidi dalam peristiwa lampung berdarah 1989 di Lampung yang meliputi situasi umum lampung dan faktor sosial masyarakatnya.
Bab keempat, membahas peran Warsidi dalam pereistiwa Lampung berdarah 1989, yang meliputi conflik vertikal antara negara dan masyarakat.
Bab kelima, adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran yang diperlukan. Kesimpulan ini untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian yang dilakukan.

Daftar Pustaka

Tidak ada komentar: