Kamis, April 21, 2011

Permainan ini tidak main-main.

Kemunculan modernitas abad ke 17 dan sesudahnya, yang mengacu pada bentuk kehidupan sosial atau organisasi yang bermunculan di Eropa dengan radiasi yang tak terbatas ruang dan waktu. Dengan Pola-pola modernitas—hingga arus teknologi telah membentuk sebuah peradaban baru dengan pelbagai konsekuensinya. Masyarakat tradisional dengan segala ragam activitasnya pun secara langsung ataupun tidak langsung telah menerima suatu perubahan sosial yang terjadi dalam tatanan bermasyarakat. Perubahan-perubahan comunikasi antar individu-individu secara implisit terkadang tak di sadari oleh sebagian masyarakat—arus moderinitas seakan menjadi uforia kemenangan—dengan meninggalkan serangkaian tradisi lama.
Struktur sosial yang telah di sepakati oleh modernitas telah mengubah pola kolektifitas masyarakat menjadi individu-individu. akan tetapi, arus modernitas telah mempercepat sebuah distribusi informasi. Di sini kita bukan menentukan sebuah pilihan antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern. Di sini kita hendaknya menelaah kembali kearifan lokal (Lokal Wisdom) dengan sebuah pendekatan modernitas terhadap ruh-ruh yang telah menjadi emansipatoris dalam kebudayaan tradisioanl atau bahkan menjadi sebuah ancaman cultural yang berdampak terhadap goncangan kebudayaan (Cultural Shock).
Kita bisa mempertegas kebudayaan kita dengan persepektif kita sendiri, karna kita bagian dari kebudayaan tradisional tersebut.
Catatan ringkas saya ini tidak akan mengulas tetang pembukuan suatu tradisi dalam konteks sejarah maupun asal-usulnya. Akan tetapi, saya akan mencoba mendekodifikasi kearifan lokal yang ada di sekeliling kita,dalam ruang lingkup yang secil mungkin seperti desa—yang hingga hari masih menjadi sebuah ingatan koletif kita bersama atau bahkan sudah kita lupakan.
Apa itu sebenarnya budaya? Kita secara gamblang menjawabnya dengan “cipta rasa karsa manusia”. Lalu yang menjadi pertayaan untuk kita reffleksikan kembali apakah kemudian badaya hanya kita pahami sebagai cipta rasa dan karsa atau kognitif manusia saja. Tentu tidak, budaya merupakan manifestasi atas realitas yang kemudian menjadi acuan nilai baik secara individu maupun berasama. dimana nilai-nilai budaya berjalan secara palarel dengan situasi kekinian masyarakat. Akan tetapi, budaya tradisional tidak mampu berdampingan dengan budaya modern sehingga budaya tradisional tenggelam seiring berjalannya waktu. Mengapa? karna kita dengan sengaja atau pun dengan tidak sengaja telah mengamnesiakan diri kita terhadap kebudayaan kita sendiri— kita sampai hari ini pun masih mencari siapa kita, identitas kita telah menjadi kader zaman yang telah hilang dari nilai-nilai budaya.
Di era modernitas saat ini budaya tradisional secara bertahap telah terkuras habis baik itu budayanya secara formal maupun nilainya secara moral. Kita bisa mentilas kembali budaya-budaya yang telah hilang di keruk oleh zaman ini, dari hal yang paling sederhana (subjectif penulis) seperti permainan anak-anak, diantaranya Gasing, pentak umpat (pancit), biji congklak, dampu, lompat tali (yeye), petak jongkok, dan hompipa alaium gambreng.




Permainan tradisional ini ternyata—permainan yang tidak main-main, di dalam permainan tradisional ini ada sebuah tranformasi nilai-nilai sosial. Kita bisa mengulas permainan ini secara rinci,
pertama permainan Dampu, permainan ini biasanya diamainkan oleh anak-anak sekolah baik laki-laki maupun perempuan. Permainan ini tidak membutuhkan peralatan yang harus di beli, cukup di mainkan di

Senin, Maret 28, 2011

skripsi

PERAN WARSIDI DALAM PERITIWA LAMPUNG BERDARAH 1989
A. Latar Belakang Masalah

Siang hari tanggal 6 Februari 1989 rombongan Musyawarah Pimpinan Kabupaten (Muspika) Lampung Tengah di bawah pimpinan Kepala Staf Daerah Militer (Kasdim) Lampung Tengah Mayor E.O. Sinaga pergi ke kampung Cihideung di Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Tengah. Tujuan kedatangannya adalah memaksa Warsidi, pimpinan utama kelompok pengajian di Cihideung, untuk menghentikan kegiatan pengajiannya. Warsidi oleh mereka dituduh melakukan kegiatan subversif untuk mendirikan Negara Islam. Permintaan dan tuduhan itu ditolak, sehingga terjadi bentrokan fisik. Kapten Soetiman tewas dibacok pengikut Warsidi.
Rombongan Muspika Lampung Tengah segera meninggalkan Cihideung. Beberapa jam kemudian, pada malam harinya, aparat keamanan mengepung pemukiman kelompok pengajian Warsidi. Mereka memaksa Warsidi beserta pengikutnya menyerahkan diri dan menyerahkan mayat Soetiman. Karna permintaan ditolak, maka Cihideung dihancurkan sekitar pukul 04.00 tanggal 7 Februari 1989 oleh aparat keamanan. Akibatnya Warsidi beserta sebagian besar pengikutnya meninggal dunia. Sebagian pengikutnya lagi ditangkap di berbagai daerah, seperti Lampung, Padang (Sumatra Barat), Jakarta dan Solo (Jawa Tengah).
Warsidi adalah tokoh utama dalam drama kehidupan para jama’ah yang berani menghadang kekuatan Negara. Warsidi lahir di Desa kecil bernama Sebrang Rowo, kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 14 Maret 1939 . Ayah bernama Marto Pawiro adalah seorang petani, sebagai anak terakhir. kakak-kakaknya bernama: Marjudi, Maryumi, Marsandi, Marsiyah, Marsidi, Marsudi, Suwandi, Dulbahri. dua kakaknya yang terakhir, Suwandi dan Dulbahri, telah meninggal dunia sebelum keluarga mereka boyong ke Lampung Tengah. Ia sekolah Cuma Sekolah Dasar (SD) sampai kelas 5 (tidak tamat.). selanjutnya ia hanya mengaji pada seorang Ustadz Desa bernama Kiai Sirot, disinilah ia mendapatkan dasar-dasar agama dengan baik.
Kabarnya, pada tahun 1965 Maryumi sangat membenci Warsidi, setelah adik kandungnya itu berguru kepada seoarang Kiai bernama Anwaruddin. Pasalnya Warsidi tiba-tiba menjadi aneh. Bahkan, Maryumi dikatakan kafir, setelah ia menasehati agar tidak berguru lagi kepada Anwaruddin.
Di mata Warsidi, Kiai Awaruddin tergolong Ulama besar, berilmu tinggi dan karena itu wajib ditaati kata-katanya. Warsidi memilih meninggalkan Maryumi dan mengikuti kemana Kiai Anwar Pergi. Sejak itu mereka mulai menjauh dan meniti jalan masing-masing.
Anwaruddin adalah seorang guru ngaji di Bandarjaya, Batanghari, Lampung sejak 1965. Pertemuan dua anak manusia ini bukan di tempat pengajian, tetapi di sebuah Mesjid di Bandarjaya. Ketika Warsidi hendak menunaikan sholat, matanya terkesima melihat seseorang yang telah menyelesaikan sholatnya, terkesan sangat khusuk. Warsidi memperkenalkan diri. Dari perkenalan itu ia menyimpulkan, Anwaruddin bukan orang sembarangan. Lebih-lebih setelah Anwaruddin membeberkan kisah hidupnya kepada Warsidi.
Warsidi memutuskan menjadi murid Kiai yang baru ia kenal itu. Seluruh ucapan gurunya juga ingin ia tiru, termasuk prilaku Anwaruddin yang perna membunuh orang kafir. Menurut Anwaruddin, membunuh orang kafir tidak berdosa dan memeranginya ialah perbuatan jihad. Dalam pandangan Kiai pujaan Warsidi itu, pemerintah juga digolongkan sebagai orang kafir.
Warsidi semakin banyak mengetahui pandangan-pandangan gurunya. Misalnya, pemerintahan Thoghud harus diperangi dan diganti dengan pemerintahan Islam. Bagi siapa yang tidak sama dengan pandangannya dan tidak menjalankan syari’at Islam dengan baik, sama dengan kafir. Perpisahan keduanya—ketika sang guru ditangkap dan di penjara karena mencerca Bung Karno yang kala itu masih berkuasa. Selepas dari penjara, Anwaruddin di usir oleh masayarakat karna ucapan dan tingkahlakunya yang tak membuat sejuk umat. Anwaruddin pindah ke Kogan Lima, Lampung Utara. Warsidi bersama Juwariah istrinya, juga ikut boyong ke daerah baru, mengikuti sang guru. Hanya berbekal menjual sepetak tanah, satu-satunya harta, Warsidi menjalani hidup bersama gurunya sebagai seoarang usiran. Akhirnya, kehidupan Warsidi semakin jauh dengan kakak-kakaknya, kecuali Marsudi.
Setahun setelah menjadi orang usiran, Anwaruddin meninggal dunia. Warsidi segera bertindak menggantikan posisi Anwaruddin, termasuk menggantikannya sebagai suami bagi janda sang guru. Sejak itu, Warsidi berubah menjadi Anwar Warsidi. Tambahan ”Anwar” diambil dari nama Anwaruddin, semata-mata agar citra guru besarnya itu melekat dalam dirinya.
Dari hasil perkawinannya dengan Juwariah ia di karunia emapt orang anak, sedangkan dengan Mariam—janda sang guru, ia memperoleh seorang putra yang tak berumur panjang. Beberapa tahun kemudian Mariam pun meninggal dunia.
Setelah kematian gurunya, Warsidi ke Pakuan Aji. Selain karena soal ekonomi, masyarakat juga tak lagi berkenan dengan keberadaan Warsidi dan keluargannya, dikarnakan ajaran Lelampah yang ia ajarkan tak mendapatkan tanggapan positif masyarakat. Ia kemudian pindah ke Labuhan Ratu menjadi buruh Karet di ladang-ladang penduduk sambil terus mengajar ngaji bagi penduduk setempat. Di sanalah ia bertemu Jayus yang kemudian memboyongnya ke Cihideung.
Di Cihideung Warsidi membawa serta Marsudi, satu-satunya kakak yang paling mengerti kondisinya. Bersama Marsudi, dia membangun tempat kegiatan yang bersal dari hibah Jayus, untuk dipersiapkan sebagai pusat pengajian massal. Kini Warsidi sebagai Kiai Cihideung dan banyak santri yang belajar ngaji kepadanya. Masyarakat pun terkesima ketika banyak tamu dari luar kota, keluar masuk Cihideung dan mengaku hendak belajar ngaji ke Kiai Warsidi. Kedatangan orang-orang luar, menarik perhatian masyarakat khususnya Kepala Dusun Talangsari III, Sukidi dan Kepala Desa Desa Rajabasa Lama Amir Puspamega. Mereka meminta Warsidi untuk Melapor. akan tetapi, Warsidi menolak dengan caranya sendiri; persoalan menjadi tambah tegang setelah di datangi Camat Way Jepara Zulkifli Maliki dan Komandan Rayon militer Kapten Soetiman. Keduanya dengan ditemani para stafnya dan pimpinan desa mendatangi Warsidi di Cihideung. Pertemuan berlangsung dalam suasana permusuhan. Conflik pisik tak terhindarkan, alhasil Kapten Soetiman pun tewas.
. Seperti yang saya sebutkan diatas, Peran Warsidi sangatlah penting dalam peristiwa Lampung berdarah 1989. Dikarnakan ia adalah tokoh sentral yang paling berperan dalam peristiwa tersebut.sehingga penulis tertarik untuk membahas lebih mendalam tentang peranannya dalam Peristiwa Lampung Berdarah 1989.


B. Batasan Dan Rumusan Masalah
Penelitian ini memfokuskan pembahasan pada Peran Warsidi Dalam Peristiwa Lampung Berdarah 1989. Yang dimaksudkan dengan peran Warsidi adalah keterlibatan Warsidi dalam peristiwa Lampung Berdarah 1989. Adapun batasan dan rumusan masalah adalah Peristiwa Lampung Berdarah 1989 ini didasarkan bahwa Lampung tahun 1989 terjadi conflik pertikal antara Negara dan Masyarakat.
Untuk itu pelacakan atas peristiwa-peristiwa serta penjabaran permasalahan tersebut, akan dipandu melalui pertanyaan-pertayaan utama sebagai berikut:
1. Bagaimana peran Warsidi dalam peristiwa Lampung Berdarah 1989.
2. Bagaimana sikap Warsidi ketika kedatangan Usroh Abdullah Sungkar ke Lampung
3. Apa yang di lakukan Warsidi ketika berhadapan dengan kekuatan Negara

C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Agar orang-orang mengetahui sejauhmana peran Warsidi dalam peritiwa Lampung Berdarah 1989
2. Agar orang-orang memahami faktor apa sajakah yang melatarbelakangi sikap fundamental Warsidi dalam peristiwa Lampung Berdarah 1989
Adapun Kegunaan Dari Pembahasan Ini
1. Sebagai sumbangan wacana pemikiran tentang seorang tokoh Islam fundamentalis
2. Sebagai sumber informasi dan pengetahuan khususnya bagi mahasiswa sejarah dan bagi masyarakat pada umumunya.
D. Tinjauan Pustaka
Untuk mendukung penelitian ini, penulis menggunakan beberapa literatur yang dapat di jadikan sebagai bahan acuan pokok. Pertama, buku yang berjudul Gerakan Usroh di Indonesia peristiwa lampung berdarah 1989, yang dihimpun oleh Abdul Syukur. Terbitan Ombak, yogyakarta 2003. Buku ini berisikan biografi, dan perjalan hidup Warsidi. Akan tetapi buku ini tak membahas biografinya secara komprehensif. Selain itu, Geger Talangsari serpihan gerakan darul islam, yang dihimpun oleh Widjiono Wasis. Terbitan Balai Pustaka, Jakarta 2001. Buku ini berisikan kronologis peristiwa talangsari. Buku lainya, Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Terbitan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2008. Buku ini berisikan jaringan lokal Usroh Abdullah Sungkar dalam peristiwa lampung berdarah 1989.
Adapun penelitian ini menitik beratkan pada peran Peran Warsidi dalam peristiwa lampung berdarah 1989. Karna penulis belum melihat ada yang membahasnya secara khusus.
E. Landasan Teori
Penelitian ini berusaha mengupas Peran Warsidi Dalam peristiwa Lampung Berdarah 1989. Dalam penelitian ini digunakan teori tindakan sosial, yaitu adanya hubungan antara peristiwa dan tindakan. maksudnya adalah peranan Warsidi Dalam Peristiwa Lampung Berdarah 1989—sehingga terjadi conflik vertikal antara Negara dan Masyrakat.
Pendekatan yang digunakan yaitu behavioral yang merupakan salah satu dari pendekatan ilmu sosial. Teori Behavioral menjelaskan “mengapa orang secara politik bertindak sebagaimana yang dia lakukan, proses dan sistem-sistem politik berfungsi sebagai hasilnya”. teori ini tidak hanya pada peristiwanya, akan tetapi tertuju pada pelaku sejarah dalam situasi yang dihadapi. Persoalan penafsiran tersebut memancarkan suatu tindakan yang menyebutkan suatu kejadian sejarah, baik yang mau diharapkan maupun yang tidak diharapkan, sehingga dari penafsiran tersebut muncul tindakan yang menimbulkan suatu kejadian dan selanjutnya timbul konsekuensi dari tindakannya. Dalam hal ini, tindakan yang di lakukan warsidi Dalam Peristiwa Lampung berdarah 1989 merupakan konsekuensi atas tindakannya.

F.Metode Penelitian
Sejarah merupakan rekontruksi masa lalu yang terkait pada prosedur penelitian ilmiah. dengan demikian untuk memperoleh sejarah yang ilmiah maka diperlukan sebuah metode penelitian.
Sebagai upaya mendapatkan gambaran yang jelas serta terperinci sesuai yang diharapkan, maka penulis menggunakan pendekatan sosiologis. Metode historis yaitu proses menguji dan menganalisa rekaman dan peninggalan masa lampau berdasarkan data yang diperoleh. Analisa secara kritis dan juga penyajian sintesa diharapkan dapat menyajikan kisah sejarah yang dapat di percaya. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

I. Hauristik ( Pengumpulan Data)
Sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber primer dan sumber skunder berupa sumber tertulis atau literer. Penulis tidak menggunakan sumber lisan dikarenakan perbedaan masa dan tempat peristiwa yang jauh, sehingga penulis hanya menggunakan sumber tertulis pencarian sumber tertulis melalui buku-buku sejarah, jurnal-jurnal, skripsi-skripsi, webset dan koran-koran yang berhubungan dengan peran Warsidi dalam peristiwa lampung berdarah 1989. Baik itu, di warnet-warnet, perpustakaan UIN Sunan Kalija, perpustakaan Fakultas adab, perpustakaan kolese ST. Ignatius dan lain-lain.

II. Verifikasi (Kritik Sumber)
Verifikasi yaitu menguji dan menganalisa secara kritis. Verifikasi dilakukan dengan dua cara yaitu kritik eksteren dan interen. Kritik eksteren dilakukan untuk mencari keautentikan sumber. Penulis menguji buku-buku yang dijadikan sumber penelitian. Adapun kritik interen berusaha mencari keabsahan dari informasi yang ada pada sumber tersebut. Disini penulis menguji isi buku-buku yang ditemukan untuk mengetahui isi buku tersebut sesuai dengan fakta sejarah. Dengan verifikasi ini akan diperoleh validitas suatu sumber sejarah.
III. Interpretasi (Penafsiran)
Interpretasi yaitu menafsirkan fakta yang saling berhubungan dari data yang teruji kebenarannya. Dengan interpretasi ini penulis mencoba mengkaitkan beberapa sumber dengan pendekatan Behavioral untuk memudahkan dalam merangkai peristiwa-peristiwa sejarah tentang Peran Warsidi dalam peristiwa Lampung berdarahs 1989. Untuk mendukung penelitian penulis menggunakan teori tindakan sosial untuk menentukan langkah-langkah penulisan sejarah.
IV. Historiografi (Penulisan Sejarah)
Historiografi yaitu langkah akhir dalam penelitian dengan menghubungkan peristiwa satu dengan yang lain sehingga menjadi rangkaian berarti. Historiografi ini merupakan pemaparan hasil penelitian yang telah di lakukan. dalam pemaparan ini peneliti memaparkan penelitian kedalam empat bab.

G.Sistematis Penulisan

Penulis skripsi ini penulis bagi kedalam beberapa bab, tiap-tiap bab terdiri dari beberapa sub-bab dengan keperluan kajian yang akan dilakukan.
Bab pertama, menjelaskan latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematiak pembahasan. Bab ini merupakan alasan mengapa menjadi landasan bagi pembahasan selanjutnya.
Bab kedua, membahas tentang peran Warsidi dalam peristiwa Lampung berdarah 1989, yang meliputi indiologysasi pengikut dan mengambil garis furqaan dalam idiology pemerintah.
Bab ketiga, membahas tentang peran Warsidi dalam peristiwa Lampung berdarah 1989 di Lampung yang meliputi situasi umum lampung dan faktor sosial masyarakatnya.
Bab keempat, membahas peran Warsidi dalam pereistiwa Lampung berdarah 1989, yang meliputi conflik vertikal antara negara dan masyarakat.
Bab kelima, adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran yang diperlukan. Kesimpulan ini untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian yang dilakukan.



H. Daftar Pustaka
Abdurahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah. Cet II. Jakarta. Logos Wacana Ilmu, 1999
Awwas, Irfan S, Trauma Lampung Berdarah Di Balik Manuver Hendro Priyono, Yogyakarta: Wihdah Press, 2000.

Bekker, Anton dan Chares Zubair, Ahmad. Metodepenelitian Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996.
Chaidar. Al, Lampung Bersimah Darah. Madani Press, cet II 2000.
Chilcote, Ronald H. Teori Perbandingan Politik: Penelusuran Paradigma , Jakarta: Pt. Raja Grafindo persada, 2004.
Gottshalk, Louis. Mengerti sejarah, terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press. 1986
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1995
Nordholt sculte henk, Purwanto Bambang, Dan Saptari Ratna, Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.

Syukur, Abdul, Gerakan Usroh Di Indonesia Peristiwa Lampung Berdarah 1989. Yogyakarta: Ombak.2003.
Siswoyo,p. Bambang, Peristiwa Lampung Dan Gerakan Sampalan Islam, Yogyakarta:Mayasari,1989.
Wasis, Widjio, Geger Talangsari Serpihan Gerakan Darul Islam, Jakarta: Balai Pustaka, 2001
http:// Www / /Skripsi Report/Bab-11-1-Tokoh-Peristiwa-Lampung Berdarah 1989/ Update Tanggal 8 januari 2010.
http:// Www /Skripsi Report/Biografi.Htm/ Update Tanggal 9 September 2010.

















RANCANGAN KERANGKA SKRIPSI
Bab I Pendahuluan
A. Latar belakang masalah
B. Batasan dan rumusan masalah
C. Tujuan dan kegunaan penelitian
D. Tinjauan pustaka
E. Landasan teori
F. Metode penelitian
G. Sistematika pembahasan
BAB II Lampung Berdarah Dalam Perspektif Sejarah
A. latar belakang conflik Lampung
B. Motif kedatangan usroh Abdullah Sungkar ke Lampung
C. Dikotomi idiology Islam dan Pancasila
BAB III Peran Warsidi Dalam Peristiwa Lampung Berdarah 1989.
A.Situasi umum Lampung dan sosial masyarakatnya
B. Relasi Warsidi dan Usroh Abdullah Sungkar
BAB IV Warsidi Dan Negara Islam
A. Kronologis conflik Lampung
B. Kelompok pengajian Warsidi dan Islamic Village
BAB V PENUTUP
A.Kesimpulan
B. Saran-saran
Foodnote
Henk Sculte Nordholt, Bambang Purwanto, Dan Ratna Saptari., Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), hlm 217.
Ibid, hlm 217
Bambang P. Siswoyo, Peristiwa Lampung Dan Gerakan Sampalan Islam, (Yogyakarta:Mayasari,1989) hlm 57

Widjio Wasis, Geger Talangsari Serpihan Gerakan Darul Islam, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001) hlm 53
Http:// Www / /Skripsi Report/Bab-11-1-Tokoh-Peristiwa-Lampung Berdarah 1989/ Update Tanggal 8 januari 2010

Irfan S. Awwas, Trauma Lampung Berdarah Di Balik Manuver Hendro Priyono, (Yogyakarta: Wihdah Press, 2000) hlm, 99
Al Chaidar, Lampung Bersimah Darah. (; Madani Press, 2000) hlm 182
, Henk Sculte Nordholt, Bambang Purwanto, Dan Ratna Saptari. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, (Jakarta: Yayasan obor Indonesia, 2008), hlm 225
Http:// Www /Skripsi Report/Biografi.Htm/ Update Tanggal 9 September 2010

Max Webber, mengklasifikasi tindakan sosial kedalam empat tipe, Zwecrational, Wertrational, tindakan efektif, dan tindakan tradisional. Zwectrational berkaitan dengan means and ends, dimana tujuan-tujuan (end) dicapai dengan menggunakan alat atau cara (means), perhitungan yang tepat, dan bersifat matematis. Wertational adalah tindakan nilai dimana orientasi tindakan itu tidak berdasarkan pada alat atau caranya tetapi pada nilai,atau moralitas. Tindakan efektif individu didominasi oleh sisi emosional, dan tindakan tradisional adalah tindakan pada suatu kebiasaan yang dijunjung tinggi, sebagai sistem nilai yang diwariskan dan dipelihara bersama. Baca Antony Gidden, Daniel Beli, etc. Sosiology: Sejarah Dan Berbagai Pemikirannya, terj. Ninik Rochani Syams. (Yogyakarta, kreasi wacana) 2004 halm. 36-37
Ronald H. Chilcote, Teori Perbandingan Politik: Penelusuran Paradigma , (Jakarta: Pt. Raja Grafindo persada, 2004) hlm. 80
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Benteng Budaya, 1995) halm 12
Louis Gottshalk, Mengerti Sejarah, terj. Nugroho Notosusanto, (Jakarta: UI Press. 1986). Hlm 32
Anton Bekker dan Ahmad Chares Zubair, Metode Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm 52
Dudung Abdurrahman, metode penelitian sejarah (Jakarta logos, 1999) hlm. 67

Selasa, Maret 22, 2011

UNTUK DESA

Desa yang resah dan mulai gelisah
Penduduk desa tak merasa
Menjadi ‘desa’
Desa yang tua
Budaya yang semakin retak
Di gertak

Kami menyongkak
Karna ada otak
Untuk memberontak

Desa yang tua
dari manusia
di tanah kelahiran
tanah yang perna
berdarah membentuk mental baja

kelak menjadi raja
agar berkuasa
akan bisa murka dan durhaka

MEREKA

Mereka
Yang datang dari mekah
Membawah sejadah
Agar masuk surga

Mereka
Yang datang dari Amerika
Membawa vodka
Agar masuk neraka

Mereka
Merdeka

KAMU

Kamu yang merantau
Di pulau Krakatau
Bekal yang tak kekal
Bakal….

KAMI

Kami yang berpuisi di negeri Merapi
Tertati-tati mencari jatidiri
Tapi, kami memiliki visi

KITA

Kita bertiga yang beda
Dua besar cerita
Satu gegabah