Selasa, Maret 22, 2011

Untuk Akademisi

Visi misi pasti
Terus berkreasi tanpa henti
Berkonsumsi sepanjang hari
Agar kelak menanti

Engkau yang tak mengerti
Sabar di dunia setengah jadi
Engkau yang mengerti selamat menikmati
Kendati berathati

Terus meneliti
Tanpa henti
Sehingga tak mengerti arti
Dimana diri yang sejati

Dual

Engkau terlalu rendah
Muda dijajah
Engkau terlalu tua
Muda menjajah

Sepila kata bercerita
Membuat sketsa
Derita di alam terbuka

Kamis, Maret 17, 2011

PERAN WARSIDI DALAM PERITIWA LAMPUNG BERDARAH 1989

A. Latar Belakang Masalah

Siang hari tanggal 6 Februari 1989 rombongan Musyawarah Pimpinan Kabupaten (Muspika) Lampung Tengah di bawah pimpinan Kepala Staf Daerah Militer (Kasdim) Lampung Tengah Mayor E.O. Sinaga pergi ke kampung Cihideung di Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Tengah. Tujuan kedatangannya adalah memaksa Warsidi, pimpinan utama kelompok pengajian di Cihideung, untuk menghentikan kegiatan pengajiannya. Warsidi oleh mereka dituduh melakukan kegiatan subversif untuk mendirikan Negara Islam. Permintaan dan tuduhan itu ditolak, sehingga terjadi bentrokan fisik. Kapten Soetiman tewas dibacok pengikut Warsidi.
Rombongan Muspika Lampung Tengah segera meninggalkan Cihideung. Beberapa jam kemudian, pada malam harinya, aparat keamanan mengepung pemukiman kelompok pengajian Warsidi. Mereka memaksa Warsidi beserta pengikutnya menyerahkan diri dan menyerahkan mayat Soetiman. Karna permintaan ditolak, maka Cihideung dihancurkan sekitar pukul 04.00 tanggal 7 Februari 1989 oleh aparat keamanan. Akibatnya Warsidi beserta sebagian besar pengikutnya meninggal dunia. Sebagian pengikutnya lagi ditangkap di berbagai daerah, seperti Lampung, Padang (Sumatra Barat), Jakarta dan Solo (Jawa Tengah).
Warsidi adalah tokoh utama dalam drama kehidupan para jama’ah yang berani menghadang kekuatan Negara. Warsidi lahir di Desa kecil bernama Sebrang Rowo, kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 14 Maret 1939 . Ayah bernama Marto Pawiro adalah seorang petani, sebagai anak terakhir. kakak-kakaknya bernama: Marjudi, Maryumi, Marsandi, Marsiyah, Marsidi, Marsudi, Suwandi, Dulbahri. dua kakaknya yang terakhir, Suwandi dan Dulbahri, telah meninggal dunia sebelum keluarga mereka boyong ke Lampung Tengah. Ia sekolah Cuma Sekolah Dasar (SD) sampai kelas 5 (tidak tamat.). selanjutnya ia hanya mengaji pada seorang Ustadz Desa bernama Kiai Sirot, disinilah ia mendapatkan dasar-dasar agama dengan baik.
Kabarnya, pada tahun 1965 Maryumi sangat membenci Warsidi, setelah adik kandungnya itu berguru kepada seoarang Kiai bernama Anwaruddin. Pasalnya Warsidi tiba-tiba menjadi aneh. Bahkan, Maryumi dikatakan kafir, setelah ia menasehati agar tidak berguru lagi kepada Anwaruddin.
Di mata Warsidi, Kiai Awaruddin tergolong Ulama besar, berilmu tinggi dan karena itu wajib ditaati kata-katanya. Warsidi memilih meninggalkan Maryumi dan mengikuti kemana Kiai Anwar Pergi. Sejak itu mereka mulai menjauh dan meniti jalan masing-masing.
Anwaruddin adalah seorang guru ngaji di Bandarjaya, Batanghari, Lampung sejak 1965. Pertemuan dua anak manusia ini bukan di tempat pengajian, tetapi di sebuah Mesjid di Bandarjaya. Ketika Warsidi hendak menunaikan sholat, matanya terkesima melihat seseorang yang telah menyelesaikan sholatnya, terkesan sangat khusuk. Warsidi memperkenalkan diri. Dari perkenalan itu ia menyimpulkan, Anwaruddin bukan orang sembarangan. Lebih-lebih setelah Anwaruddin membeberkan kisah hidupnya kepada Warsidi.
Warsidi memutuskan menjadi murid Kiai yang baru ia kenal itu. Seluruh ucapan gurunya juga ingin ia tiru, termasuk prilaku Anwaruddin yang perna membunuh orang kafir. Menurut Anwaruddin, membunuh orang kafir tidak berdosa dan memeranginya ialah perbuatan jihad. Dalam pandangan Kiai pujaan Warsidi itu, pemerintah juga digolongkan sebagai orang kafir.
Warsidi semakin banyak mengetahui pandangan-pandangan gurunya. Misalnya, pemerintahan Thoghud harus diperangi dan diganti dengan pemerintahan Islam. Bagi siapa yang tidak sama dengan pandangannya dan tidak menjalankan syari’at Islam dengan baik, sama dengan kafir. Perpisahan keduanya—ketika sang guru ditangkap dan di penjara karena mencerca Bung Karno yang kala itu masih berkuasa. Selepas dari penjara, Anwaruddin di usir oleh masayarakat karna ucapan dan tingkahlakunya yang tak membuat sejuk umat. Anwaruddin pindah ke Kogan Lima, Lampung Utara. Warsidi bersama Juwariah istrinya, juga ikut boyong ke daerah baru, mengikuti sang guru. Hanya berbekal menjual sepetak tanah, satu-satunya harta, Warsidi menjalani hidup bersama gurunya sebagai seoarang usiran. Akhirnya, kehidupan Warsidi semakin jauh dengan kakak-kakaknya, kecuali Marsudi.
Setahun setelah menjadi orang usiran, Anwaruddin meninggal dunia. Warsidi segera bertindak menggantikan posisi Anwaruddin, termasuk menggantikannya sebagai suami bagi janda sang guru. Sejak itu, Warsidi berubah menjadi Anwar Warsidi. Tambahan ”Anwar” diambil dari nama Anwaruddin, semata-mata agar citra guru besarnya itu melekat dalam dirinya.
Dari hasil perkawinannya dengan Juwariah ia di karunia emapt orang anak, sedangkan dengan Mariam—janda sang guru, ia memperoleh seorang putra yang tak berumur panjang. Beberapa tahun kemudian Mariam pun meninggal dunia.
Setelah kematian gurunya, Warsidi ke Pakuan Aji. Selain karena soal ekonomi, masyarakat juga tak lagi berkenan dengan keberadaan Warsidi dan keluargannya, dikarnakan ajaran Lelampah yang ia ajarkan tak mendapatkan tanggapan positif masyarakat. Ia kemudian pindah ke Labuhan Ratu menjadi buruh Karet di ladang-ladang penduduk sambil terus mengajar ngaji bagi penduduk setempat. Di sanalah ia bertemu Jayus yang kemudian memboyongnya ke Cihideung.
Di Cihideung Warsidi membawa serta Marsudi, satu-satunya kakak yang paling mengerti kondisinya. Bersama Marsudi, dia membangun tempat kegiatan yang bersal dari hibah Jayus, untuk dipersiapkan sebagai pusat pengajian massal. Kini Warsidi sebagai Kiai Cihideung dan banyak santri yang belajar ngaji kepadanya. Masyarakat pun terkesima ketika banyak tamu dari luar kota, keluar masuk Cihideung dan mengaku hendak belajar ngaji ke Kiai Warsidi. Kedatangan orang-orang luar, menarik perhatian masyarakat khususnya Kepala Dusun Talangsari III, Sukidi dan Kepala Desa Desa Rajabasa Lama Amir Puspamega. Mereka meminta Warsidi untuk Melapor. akan tetapi, Warsidi menolak dengan caranya sendiri; persoalan menjadi tambah tegang setelah di datangi Camat Way Jepara Zulkifli Maliki dan Komandan Rayon militer Kapten Soetiman. Keduanya dengan ditemani para stafnya dan pimpinan desa mendatangi Warsidi di Cihideung. Pertemuan berlangsung dalam suasana permusuhan. Conflik pisik tak terhindarkan, alhasil Kapten Soetiman pun tewas.
. Seperti yang saya sebutkan diatas, Peran Warsidi sangatlah penting dalam peristiwa Lampung berdarah 1989. Dikarnakan ia adalah tokoh sentral yang paling berperan dalam peristiwa tersebut.sehingga penulis tertarik untuk membahas lebih mendalam tentang peranannya dalam Peristiwa Lampung Berdarah 1989.



B. Batasan Dan Rumusan Masalah
Penelitian ini memfokuskan pembahasan pada Peran Warsidi Dalam Peristiwa Lampung Berdarah 1989. Yang dimaksudkan dengan peran Warsidi adalah keterlibatan Warsidi dalam peristiwa Lampung Berdarah 1989. Adapun batasan dan rumusan masalah adalah Peristiwa Lampung Berdarah 1989 ini didasarkan bahwa Lampung tahun 1989 terjadi conflik pertikal antara Negara dan Masyarakat.
Untuk itu pelacakan atas peristiwa-peristiwa serta penjabaran permasalahan tersebut, akan dipandu melalui pertanyaan-pertayaan utama sebagai berikut:
1. Bagaimana peran Warsidi dalam peristiwa Lampung Berdarah 1989.
2. Bagaimana sikap Warsidi ketika kedatangan Usroh Abdullah Sungkar ke Lampung
3. Apa yang di lakukan Warsidi ketika berhadapan dengan kekuatan negara

C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Agar orang-orang mengetahui sejauhmana peran Warsidi dalam peritiwa Lampung Berdarah 1989
2. Agar orang-orang memahami faktor apa sajakah yang melatarbelakangi sikap fundamental Warsidi dalam peristiwa Lampung Berdarah 1989
Adapun Kegunaan Dari Pembahasan Ini
1. Sebagai sumbangan wacana pemikiran tentang seorang tokoh Islam fundamentalis
2. Sebagai sumber informasi dan pengetahuan khususnya bagi mahasiswa sejarah dan bagi masyarakat pada umumunya.
D. Tinjauan Pustaka
Untuk mendukung penelitian ini, penulis menggunakan beberapa literatur yang dapat di jadikan sebagai bahan acuan pokok. Pertama, buku yang berjudul Gerakan Usroh di Indonesia peristiwa lampung berdarah 1989, yang dihimpun oleh Abdul Syukur. Terbitan Ombak, yogyakarta 2003. Buku ini berisikan biografi, dan perjalan hidup Warsidi. Akan tetapi buku ini tak membahas biografinya secara komprehensif. Selain itu, Geger Talangsari serpihan gerakan darul islam, yang dihimpun oleh Widjiono Wasis. Terbitan Balai Pustaka, Jakarta 2001. Buku ini berisikan kronologis peristiwa talangsari. Buku lainya, Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Terbitan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2008. Buku ini berisikan jaringan lokal Usroh Abdullah Sungkar dalam peristiwa lampung berdarah 1989.
Adapun penelitian ini menitik beratkan pada peran Peran Warsidi dalam peristiwa lampung berdarah 1989. Karna penulis belum melihat ada yang membahasnya secara khusus.



E. Landasan Teori
Penelitian ini berusaha mengupas Peran Warsidi Dalam peristiwa Lampung Berdarah 1989. Dalam penelitian ini digunakan teori tindakan sosial, yaitu adanya hubungan antara peristiwa dan tindakan. maksudnya adalah peranan warsidi Dalam Peristiwa Lampung berdarah 1989—sehingga terjadi conflik vertikal antara Negara dan Masyrakat.
Pendekatan yang digunakan yaitu behavioral yang merupakan salah satu dari pendekatan ilmu sosial. Teori Behavioral menjelaskan “mengapa orang secara politik bertindak sebagaimana yang dia lakukan, proses dan sistem-sistem politik berfungsi sebagai hasilnya”. teori ini tidak hanya pada peristiwanya, akan tetapi tertuju pada pelaku sejarah dalam situasi yang dihadapi. Persoalan penafsiran tersebut memancarkan suatu tindakan yang menyebutkan suatu kejadian sejarah, baik yang mau diharapkan maupun yang tidak diharapkan, sehingga dari penafsiran tersebut muncul tindakan yang menimbulkan suatu kejadian dan selanjutnya timbul konsekuensi dari tindakannya. Dalam hal ini, tindakan yang di lakukan warsidi Dalam Peristiwa Lampung berdarah 1989 merupakan konsekuensi atas tindakannya.
F.Metode Penelitian
Sejarah merupakan rekontruksi masa lalu yang terkait pada prosedur penelitian ilmiah. dengan demikian untuk memperoleh sejarah yang ilmiah maka diperlukan sebuah metode penelitian.
Sebagai upaya mendapatkan gambaran yang jelas serta terperinci sesuai yang diharapkan, maka penulis menggunakan pendekatan sosiologis. Metode historis yaitu proses menguji dan menganalisa rekaman dan peninggalan masa lampau berdasarkan data yang diperoleh. Analisa secara kritis dan juga penyajian sintesa diharapkan dapat menyajikan kisah sejarah yang dapat di percaya. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
I. Hauristik ( Pengumpulan Data)
Sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber primer dan sumber skunder berupa sumber tertulis atau literer. Penulis tidak menggunakan sumber lisan dikarenakan perbedaan masa dan tempat peristiwa yang jauh, sehingga penulis hanya menggunakan sumber tertulis pencarian sumber tertulis melalui buku-buku sejarah, jurnal-jurnal, skripsi-skripsi, webset dan koran-koran yang berhubungan dengan peran Warsidi dalam peristiwa lampung berdarah 1989. Baik itu, di warnet-warnet, perpustakaan UIN Sunan Kalija, perpustakaan Fakultas adab, perpustakaan kolese ST. Ignatius dan lain-lain.
II. Verifikasi (Kritik Sumber)
Verifikasi yaitu menguji dan menganalisa secara kritis. Verifikasi dilakukan dengan dua cara yaitu kritik eksteren dan interen. Kritik eksteren dilakukan untuk mencari keautentikan sumber. Penulis menguji buku-buku yang dijadikan sumber penelitian. Adapun kritik interen berusaha mencari keabsahan dari informasi yang ada pada sumber tersebut. Disini penulis menguji isi buku-buku yang ditemukan untuk mengetahui isi buku tersebut sesuai dengan fakta sejarah. Dengan verifikasi ini akan diperoleh validitas suatu sumber sejarah.
III. Interpretasi (Penafsiran)
Interpretasi yaitu menafsirkan fakta yang saling berhubungan dari data yang teruji kebenarannya. Dengan interpretasi ini penulis mencoba mengkaitkan beberapa sumber dengan pendekatan Behavioral untuk memudahkan dalam merangkai peristiwa-peristiwa sejarah tentang Peran Warsidi dalam peristiwa Lampung berdarahs 1989. Untuk mendukung penelitian penulis menggunakan teori tindakan sosial untuk menentukan langkah-langkah penulisan sejarah.
IV. Historiografi (Penulisan Sejarah)
Historiografi yaitu langkah akhir dalam penelitian dengan menghubungkan peristiwa satu dengan yang lain sehingga menjadi rangkaian berarti. Historiografi ini merupakan pemaparan hasil penelitian yang telah di lakukan. dalam pemaparan ini peneliti memaparkan penelitian kedalam empat bab.

G.Sistematis Penulisan
Penulis skripsi ini penulis bagi kedalam beberapa bab, tiap-tiap bab terdiri dari beberapa sub-bab dengan keperluan kajian yang akan dilakukan.
Bab pertama, menjelaskan latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematiak pembahasan. Bab ini merupakan alasan mengapa menjadi landasan bagi pembahasan selanjutnya.
Bab kedua, membahas tentang peran Warsidi dalam peristiwa Lampung berdarah 1989, yang meliputi indiologysasi pengikut dan mengambil garis furqaan dalam idiology pemerintah.
Bab ketiga, membahas tentang peran Warsidi dalam peristiwa Lampung berdarah 1989 di Lampung yang meliputi situasi umum lampung dan faktor sosial masyarakatnya.
Bab keempat, membahas peran Warsidi dalam pereistiwa Lampung berdarah 1989, yang meliputi conflik vertikal antara negara dan masyarakat.
Bab kelima, adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran yang diperlukan. Kesimpulan ini untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian yang dilakukan.

H. Daftar Pustaka
Abdurahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah. Cet II. Jakarta. Logos Wacana Ilmu, 1999
Awwas, Irfan S, Trauma Lampung Berdarah Di Balik Manuver Hendro Priyono, Yogyakarta: Wihdah Press, 2000.

Bekker, Anton dan Chares Zubair, Ahmad. Metodepenelitian Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996.
Chaidar. Al, Lampung Bersimah Darah. Madani Press, cet II 2000.
Chilcote, Ronald H. Teori Perbandingan Politik: Penelusuran Paradigma , Jakarta: Pt. Raja Grafindo persada, 2004.
Gottshalk, Louis. Mengerti sejarah, terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press. 1986
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1995
Nordholt sculte henk, Purwanto Bambang, Dan Saptari Ratna, Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.

Syukur, Abdul, Gerakan Usroh Di Indonesia Peristiwa Lampung Berdarah 1989. Yogyakarta: Ombak.2003.
Siswoyo,p. Bambang, Peristiwa Lampung Dan Gerakan Sampalan Islam, Yogyakarta:Mayasari,1989.
Wasis, Widjio, Geger Talangsari Serpihan Gerakan Darul Islam, Jakarta: Balai Pustaka, 2001
http:// Www / /Skripsi Report/Bab-11-1-Tokoh-Peristiwa-Lampung Berdarah 1989/ Update Tanggal 8 januari 2010.
http:// Www /Skripsi Report/Biografi.Htm/ Update Tanggal 9 September 2010.








RANCANGAN KERANGKA SKRIPSI
Bab I Pendahuluan
A. Latar belakang masalah
B. Batasan dan rumusan masalah
C. Tujuan dan kegunaan penelitian
D. Tinjauan pustaka
E. Landasan teori
F. Metode penelitian
G. Sistematika pembahasan
BAB II
Peran Warsidi Dalam Peristiwa Lampung Berdarah 1989.
A. latar belakang conflik Lampung
B. Motif kedatangan usroh Abdullah Sungkar ke Lampung
C. Dikotomi idiology islam dan pancasila
BAB III
A.Situasi umum Lampung dan sosial masyarakatnya
B. Relasi warsidi dan Usroh Abdullah Sungkar
BAB IV
A. Kronologis conflik lampung
B. Kelompok pengajian warsidi dan islamic village
BAB V
A.Kesimpulan
B. Saran-saran

Selasa, Maret 15, 2011

JILID

Negara yang banyak gizi ini tak henti-henti mengurusi reshuffle kabinet jilid II. Gayus jilid III dan conflik horizontal idiology jilid...ntah sudah berapa jilid persoalan negara ini yang terkodifikasi dalam hitam atas putih, mungkin sudah milyaran jilid kali ya..hehheheeh. atau bahkan sengaja tak dijilid seperti kasus perdagangan anak, pembunuhan warga ahmadiyah, century,dan kasus Hak azazi lainya (HAM), negara memang tak ada waktu untuk menjilid kasus-kasus kecil itu—yang tak berdampak kepada distabilitas negara.
Ikan-ikan besar (big fish) seperti calon-calon mentri—yang konon mempunyai kemaslahatan bagi orang lain harus cepat dijilid. Karna si raja mau cepat-cepat pakai tenaganya dan mendukung program yang dirancang oleh sang raja; sedangkan ikan kecil (small fish) tak perlu dijilid karna lagi-lagi tidak ada kemaslahatannya bagi orang lain, bahkan mereka sering disebut pengacau negara (trouble maker). Kasar juga ya negara.
“Negara yang kaya dan hanya untuk orang kaya”—memang benar kata Pak Yanto. Ia sering bercerita tentang SSP yang acap kali membengkak—bahkan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang bersubsidi, apalagi rumah sakit yang obatnya membukit—sakit mendengarnya.
“Biaya sekolah sudah murah bahkan rumah sakit ada yang gratis apabila masyarakat miskin mendapat kartu raskin (rasa-in lho orang miskin)” kata pak M. Nuh dan buk…selaku mentri pendidikan dan mentri kesehatan.
Lain lubuk lain ikan; lain orang lain arti. Lalu percaya sama siapa ya? Percaya sama tuhan saja kata ustadz yang sering khutbah jum’at di mesjid An-Nur. “Ngapain juga percaya ama ustadz tersebut;percaya sama tuhan saja” .aneh-aneh saja setiap orang ini.memang benar anekdot “kepala sama hitam hati siapa yang tahu”.
Analoginya;Kalau hanya percaya sama tuhan saja—kasusnya hampir sama donk dengan Robiyatul Adawyah, yang cintanya hanya untuk tuhan saja—sampai-sampai ia tak mau bersuami alias takut membagi cintanya/atau selingkuh dari tuhan. (between full and empty)
Jadi menarik jika ngomongin soal cinta, jika bicara cinta kita tidak akan terlepas dari wanita; sebaliknya wanita tidak akan terlepas dari laki-laki. jadinya timbal balik ya (mutualisme) Bagi kawan-kawan yang suka sesama jenis atau satu nusa satu bangsa (homogen)—selamat aja deh jika mendapatkan pasangan masing-masing. Apabila ada comunitas yang mengharamkan pasangan sesama jenis jangan dipercaya—hendaknya kalian percaya sama tuhan saja—jika masih punya tuhan.
Kembali kecinta, Cinta memang membabibuta tak kenal ruang dan waktu, contohnya saja syeh Puji yang doyan sama anak-anak, doyan atau lapar syeh…ayo ngaku ayo ngaku……!!!!!
Oh ya. kemarin sore saya online (OL) melihat cewek cantik di facebook kebetulan ia online juga, niknya difacebook tertulis Hanna Aren,t lalu saya sapa “hai” saya tunggu beberapa menit “Hai” nya saya tak dibalas-balas, kemudian saya sapa lagi dengan “Hai Hanna Arent” saya tunggu lagi beberapa menit—menunggu balasannya. Eh.eh ternyata tak di balas-balas mungkin malas atau sayanya yang kurang ganteng kali ya. Tapi, kata teman-teman saya “ saya ganteng lho..hehheheheeh” jika Hanna tadi sempat membalas pesan saya “ saya mau mintah nomor hpnya dan langsung menjilid nomornya ke hp saya” benakku.
Comunikasi lewat facebook—mengurangi subtansi comunikasi secara face to face alias mengurangi emosional antara si subjec dan objeck. “ jika si hanna tadi comunikasi face to face sama saya, pasti ia terkapar-kapar mendengarkan rayuan dan gombalnya saya—otomatis dia langsung jatuh cinta sama saya” pikirku. Kok jadi menghayal si.!!!
Manusia itu tak lepas dari menghayal—karna menghayal lah manusia menjadi manusi (homo utopis). Manusia utopis inilah yangh sering dicelotehin kaum marxian—habisnya menghayal melulu si kerjaannya; tapi saya pikir menghayal sudah internalisasi didalam jiwa manusia itu sendiri, so jangan diambil pusing ya kaum marxian..heheheheh
Kaum marxian ini membagi klafikasi struktural masyarkat menjadi borjuis dan proletar—“jika klafisikasi kelas ini mau di talaq, otomatis revolusi lewat pertentangan antar kelas—komunis—menjadi pinis” ujar dosen yang sering—memberi mata kuliah sosiologi yang salah satu kaum marxian juga.tapi bukankah seharusnya dosen bersipat netral dalam konteks idiology kampus—jadi memberikan ruang kaum “kanan-fundamental” untuk memberikan antitesanya terhadap kritik “kaum kiri” apabila pak dosen yang tak bersifat netral bagaimana menciptakan iklim kelas yang demokratis. “Pak dosen yang terhormat jangan terlalu sering melakukan doktrinisasi”. Ujar mahasiswa yang ikut komunitas Hizbuhtahrir. Bapak dosen seharusnya sebagai mediator saja ya pak, tesis dan antitesis itu—adalah hal kemutlakkan dalam konteks idiology.
Kaum akademisi kampus—acapkali memberikan statemen salah-benar dan bahkan memberikan legitimasi “kafir” kepada kaum yang kontras dengan idiology—yang telah mengakar bagi kaum akademisi kampus. Otoritas tuhan—sudah jatuh ketangan kampus. Zaman marcedes-benz dan becak ini sudah banyak manusia yang mau jadi tuhan. Jika tuhan banyak otomatis keadilan dan kesejahteraan pasti berjalan—soalnya yang menjaga alam tak lagi satu, tuhan ada dimana-mana, di darat dan di laut.
Kampus telah menjadi hasil pengukuan idiology—dimana ruang-ruang kebebasan mahasiswa telah di amnesiakan.

Suku Anak Dalam

Engkau tinggal didalam kelam malam
Hutan-hutan sudah mulai jarang
Pemerintah pun memberikan lilin baru
Agar engkau tak menjamuh dan berburuh

Hutan mulai gundul
Digrogoti tuyul

Engkau akan di beri tuhan
Kata ustadz terdekat
Agar engkau dapat zakat

pabrik kelapa sawit akan bangkit
berburuh jadi buruh
di tanah duabelas yang ikhlas
engkau mulai resah
mau bilang apa?

liat

Buk janda
Berbaju merah
Enkau marah malam tadi
Setelah capek me-ngembek
Di tanah gersang
Di siang
Menanam nanas
Dengan panas matahari
Keringat menyengat

Hingga dahaga menyapa
Sebotol kopi
Dan topi memberi semangat lagi
Cangkul pun engkau rangkul
Menggali berkali-kali
Sesekali berhenti
Mengumpulkan nafas yang telah lepas
Tuk mulai legas di tanah yang keras


Tatap merah mulai hilang
Dan malam akan datang
Engkau pun pulang

Aku

Aku bicara tentang aku kepadamu
Kamu mendengar saja, seperti kagum kepadaku
Aku mulai tak berujung
Mengukung halusinasiku kepadamu
Matamu tetap menatap aku pun semakin mantap
Aku tak sadar aku telah samapai ke patung liberty

Aku tak mengerti situasi ini
Tapi, aku masih bercerita
Derita dan dederita
Engkau mulai lesu
Bisu sambil bersandar di rasa seganmu

Detik-detik berbisik seperti jangkrik
Mengkritik malam yang kelam
Aku labil didekat kestabilanmu

Tolong dengar bual-bual yang tak kau kenal ini
Hingga rasa kagummu
Tak kau kenal sendiri
Antara bukti dan janji